ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Tingkah Rebecca



Setelah dari agensi dan disambut baik oleh semua staff staff nya. Kenzo kembali lagi bekerja seperti biasa. Melihat bagaimana perkembangan perusahaan selama dia tinggal dua bulan ini. Yah, cukup stabil, meski beberapa waktu lalu menjelang kompetisi ada beberapa kendala.


Sedangkan Clara, adiknya itu tentu saja sudah pulang setelah acara selesai. Bahkan dia tidak betah lagi ada diperusahaan setelah Kenzo masuk. Memang menyebalkan. Clara berkata jika dia akan rajin masuk ke agensi jika Alena sudah sehat nanti. Tapi.... entah lah, jika memikirkan itu, Kenzo merasa dia tidak mungkin untuk membiarkan Alena bekerja lagi bukan. Tubuhnya sudah tidak sehat lagi, dan organ terpenting nya yang sudah tidak baik baik saja. Tentu saja Kenzo tidak akan membiarkan Alena bekerja. Tapi jika dilarang, apa mungkin???


Menjadi desainer terkenal adalah impian Alena sejak dulu. Sejak pertama kali mereka bertemu. Dan kini langkah Alena sudah cukup jauh, jika Kenzo melarang nya begitu saja, itu hanya akan membuat nya sedih. Tapi jika membiarkan nya terus melangkah, apa itu baik????


Kenzo yang sedang memeriksa berkas berkas nya tampak terhenti dan menghela nafasnya yang tiba tiba jadi mengingat tentang Alena sekarang.


Apa yang harus dia lakukan setelah menikahi gadis itu??


Tentu kebahagiaan Alena adalah hal yang paling utama untuknya. Tapi jika Alena ingin terus berkarya, bagaimana???


Kenzo mengernyit, mengetuk ngetuk pena yang ada ditangan nya keatas meja. Sepertinya dia harus melakukan sesuatu. Ya, dia harus berbicara dengan professor Brian mengenai keadaan Alena. Semoga saja ada cara untuk membuat kesehatan nya pulih kembali. Apapun akan dia lakukan untuk gadis nya itu. Kenzo tidak ingin kehilangan Alena dengan cepat. Masih banyak impian yang ingin dia bangun bersama Alenanya.


Tok tok tok


Pintu yang terketuk membuat lamunan Kenzo seketika buyar. Dan dapat dia lihat jika Rebecca yang masuk dengan membawa beberapa dokumen ditangan nya.


Wanita itu terlihat tersenyum anggun seperti biasa, namun hari ini dia seperti terus saja mencari perhatian Kenzo. Ada apa sebenarnya??? Apa Rebecca masih terkejut dengan kehadiran nya???


"Presdir, ini beberapa dokumen yang menunggu persetujuan dari anda. Tuan Edward yang tidak masuk beberapa hari lalu membuat semua janji kerjasama dengan perusahaan lain sedikit terbengkalai. Mereka tidak percaya dengan nona Clara" ungkap Rebecca seraya meletakan dokumen itu diatas meja Kenzo. Dia membungkuk cukup lama hingga gundukan sintal itu terpampang nyata dimata Kenzo.


"Baiklah, apa ada lagi?" tanya Kenzo dengan tampang yang datar dan dingin


Rebecca menghela nafasnya perlahan dan kembali menegakkan tubuhnya memandang Kenzo dengan lekat


"Besok pagi ada rapat dengan pihak Universal studio" ungkap Rebecca dan Kenzo hanya mengangguk seraya membuka dokumen yang dibawa oleh Rebecca tadi. Dan itu membuat Rebecca sedikit kesal, karena Kenzo terus saja mengabaikan nya


"Presdir" panggil Rebecca dengan ragu


"Hmm" gumam Kenzo yang matanya masih fokus kedokumen


"Anda menghilang kemana dua bulan ini. Perusahaan hampir kacau karena berita itu" tanya Rebecca yang masih berusaha untuk mencari perhatian Kenzo


"Bukankah tadi sudah ku katakan" jawab Kenzo


"Tapi..."


"Rebecca" panggil Kenzo yang langsung menghentikan ucapan Rebecca


"Terimakasih sudah bekerja dengan baik selama aku tidak ada. Aku akan memberikan bonus untuk mu nanti" ucap Kenzo memandang Rebecca


Mata Rebecca langsung berbinar mendengar itu. Fikiran nya sudah menjalar ke hal hal yang menyenangkan


"Bonus presdir?" tanya nya lagi dan Kenzo langsung mengangguk


"Makan malam bersama" tabak Rebecca dengan tidak tahu malu nya.


Kenzo langsung mengernyit memandang aneh Rebecca


"Makan malam?" gumam Kenzo


"Ya, bukan kah begitu. Saya pasti dengan senang hati menerima nya presdir" jawab Rebecca begitu menggebu


"Tidak, aku sibuk. Aku hanya akan mengirimkan bonus dua bulan gaji untuk mu" jawab Kenzo yang langsung mematahkan harapan Rebecca. Bahkan Kenzo dapat melihat wajah sekretarisnya itu yang kecewa. Tapi bagaimana mungkin makan malam, yang benar saja. Tidak penting untuk nya.


"Jika kau sudah mengerti kau boleh keluar dan selesaikan pekerjaan mu" usir Kenzo


Rebecca menggeram dalam hati. Namun dia hanya mengangguk pasrah dengan wajah kesalnya


"Baik presdir, terimakasih atas kebaikan anda" jawab Rebecca yang langsung berlalu keluar dengan hati yang cukup kesal karena lagi lagi dia masih tidak bisa mendekati tuan Amerika itu


Sementara Kenzo hanya menggeleng jengah melihat Rebecca. Wanita itu hanya takut dengan Edward, dan semoga saja tangan kanan nya itu cepat pulih dan membantu nya kembali diperusahaan.


....


Dimansion Kenzo....


Edward yang sedang dinantikan kesembuhan nya kini memang sudah mulai membaik. Infus ditangan nya baru saja dibuka oleh dokter Richard. Dan kini dia sedang mendengarkan berbagai nasehat dan saran dokter Richard yang terdengar membosankan.


"Aku tahu, kau bisa pergi" usir Edward, bahkan dokter Richard belum selesai memberi peringatan


"Baiklah tuan, sekali lagi saya ingatkan jangan lupa meminum obat anda" dokter Richard menunjuk butiran obat yang terbengkalai dan belum diminum oleh pria batu ini.


"hmm" gumam Edward dengan malas


Dokter Richard menghela nafas nya dan langsung keluar meninggalkan Edward. Bukan tanpa alasan dia meminta pria batu itu untuk menghabiskan obat obatan itu. Dokter Richard sudah begitu bosan berada diruang bawah tanah ini. Dia butuh udara segar. Setiap hari hanya berkutat dengan ruang bawah tanah dan Edward cukup membuat nya stress. Tidak lama mungkin dia yang akan sakit. Keluar sedikit saja,Kenzo pasti akan marah karena dia tidak suka Edward diabaikan. Tapi sungguh, mengurus Edward seperti mengurus batu bernafas. Sangat sulit. Tapi beruntungnya dia ada Clara yang sering datang ketempat ini untuk memaksa Edward meminum obatnya, jika tidak dokter Richard pasti akan benar benar stress. Tidak tahu apa hubungan mereka, yang jelas, semakin lama dokter Richard semakin tahu jika mereka lebih dari seorang pengawal dan nona muda.


"Selamat sore nona" sapa dokter Richard yang membungkukkan sedikit tubuhnya


"Selamat sore dokter. bagaimana keadaan pria batu itu?" tanya Clara langsung. Dan dari raut wajah dokter Richard, Clara tahu jika telah terjadi sesuatu


"Anda bisa membantu saya untuk meminta tuan Ed menghabiskan obat nya bukan?" pinta dokter Richard


Clara langsung tertawa dan mengangguk


"Apa dia membuang obat nya lagi?" tebak Clara


"Sungguh saya menyerah nona" ucap dokter Richard begitu lesu


Clara langsung menepuk bahu dokter Richard dan mengangguk


"Tenang saja, saya akan memaksa nya nanti, jangan khawatir. Anda akan terbebas dari kurungan ini secepatnya" ungkap Clara


"Yah, saya berharap begitu" jawab dokter Richard


Clara tertawa dan langsung berlalu menuju ruangan Edward meninggalkan dokter Richard


Tanpa mengetuk lagi, Clara langsung membuka pintu itu. Dan dapat dia lihat jika Edward sedang memainkan ponsel nya diatas ranjang. Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun saat melihat Clara , Edward langsung tersenyum tipis. Dan tentu saja itu lagi lagi membuat Clara aneh


Clara meletakan paper bag yang dibawa nya keatas meja dan dia bisa melihat jika obat obatan itu memang masih utuh dan tidak tersentuh sejak semalam.


"Kenapa kau susah sekali untuk memakan obatmu" tanya Clara memandang Edward yang kini beranjak dan duduk disisi tempat tidur


Edward melirik sekilas kearah obatnya dan dia hanya mengangguk acuh saja. Memang dia tidak suka, lalu harus bagaimana


Clara menggeleng dan mengeluarkan makanan yang dia bawa. Edward mengernyit melihat itu. Jangan sampai sup asparagus lagi. Namun dia sedikit lega karena yang dibawa Clara adalah sandwich dengan isian daging dan kelihatan nya masih hangat.


"Hei, kau terlihat lega melihat ini" tebak Clara


"Ya, saya kira nona akan memberi saya makan sup sayur itu terus menerus" jawab Edward


Clara langsung tertawa dan menyerahkan sepotong sandwich pada Edward.


"Biar sehat dan otak mu jernih jika memakan sayur" jawab Clara, dia kembali menyodorkan sandwichnya namun Edward malah hanya diam dan mematung memandang nya


"Kenapa?" tanya Clara


"Saya tidak mau" jawab Edward


"Kau harus makan. Kau juga harus meminum obat mu" ujar Clara lagi


"Tangan saya masih sakit" ungkap Edward dengan senyum tipis nya


Mata Clara langsung memicing mendengar itu


"Alasan, kau bahkan bisa bermain ponsel dengan baik. Lagi pula infusmu sudah dicabut" dengus Clara. Namun Edward hanya diam dan menggeleng pelan


Clara menghela nafas sejenak dan menyodorkan tangan nya kemulut Edward. Edward melirik nya sekilas dan langsung tersenyum. Dia membuka mulutnya dan ingin melahap sandwich itu namun tiba tiba Clara malah mengarahkan nya kembali kemulut nya dan melahapnya sendiri, membuat Edward terperangah dan langsung tersenyum memandang Clara yang nampak terbahak


"Kau modus kan" tuding Clara seraya mengunyah sandwich nya


Edward mendengus senyum dan meraih lengan Clara yang nampak terkejut. Dia langsung melahap sandwich yang ada ditangan Clara dengan cepat. Dan kini gantian Clara yang terperangah


"Ed...curang" seru Clara


Edward tertawa seraya mengunyah sandwich itu dengan penuh kemenangan. Clara menggeleng dan ikut tertawa, dia benar benar senang melihat Edward tertawa, Hal yang paling langka didunia.


"Dasar kau ini, itu bekas bibirku" ucap Clara


"Itu yang enak" jawab Edward


"What" seru Clara dengan mata yang melebar


Dan Edward kembali tertawa melihat wajah Clara yang begitu menggemaskan. Jika saja tidak ada batasan diantara mereka, mungkin Edward sudah akan mencium nya saat ini


"Saya bercanda" jawab Edward


Clara mendengus dan kembali menyodorkan sisa sandwich itu kemulut Edward. Dan Edward dengan senang hati melahapnya.


"Enak??" tanya Clara


Dan Edward langsung mengangguk sekali