ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Efek Samping Serum Dan Racun



Kenzo langsung menoleh kearah pintu saat tiba tiba pintu dibuka oleh dokter Richard. Dia masuk bersama Edward dan juga profesor Brian.


Kenzo begitu lega melihat kedatangan pria tua itu yang sudah sejak tadi dia tunggu. Begitu juga dengan kapten Stone.  Edward hanya mengantarkan profesor Brian kedalam setelah itu dia langsung pergi lagi, entah kemana, tapi Kenzo tahu tujuan nya.


"Selamat malam king" sapa profesor Brian


"Akhirnya kau datang, ku mohon selamatkan dia" pinta Kenzo yang langsung beranjak dan menyingkir, membiarkan profesor Brian dan dokter Richard memeriksa Alena.


Tanpa berkata apapun profesor Brian tampak memeriksa keadaan Alena yang sudah seperti mayat. Kenzo benar benar tegang dan begitu khawatir. Apalagi melihat wajah profesor Brian yang begitu datar dan tampak begitu serius, beberapa kali wajahnya mengernyit dan berekpresi seperti terkejut dan juga tegang.


"Sudah berapa kali kau melakukan kejut jantung dan menyuntikkan cairan penahan rasa sakit itu?" tanya profesor Brian pada dokter Richard. Tangan nya mengeluarkan beberapa botol serum dari dalam tas kecil nya yang dia bawa sejak tadi.


"Kejut jantung baru sekali, tapi suntikan itu mungkin sudah ada tiga atau empat kali. Tubuhnya tidak dapat menahan rasa sakit lebih lama, jadi aku tidak punya pilihan lain" jawab dokter Richard


Profesor Brian tampak menghela nafas nya dan memperhatikan wajah Alena yang begitu pucat. Bahkan saat dia menyibak sedikit baju dibagian leher nya, dada Alena tampak sudah membiru sebagian.


"King" panggil profesor Brian pada Kenzo. Kenzo langsung mendekat dan berdiri dibelakang nya


"Saya memang membawa serum yang bisa menawarkan racun nya. Tapi racun itu sudah menyebar diseluruh tubuh nona dan membuat beberapa organ vital dan sarafnya juga terganggu. Kita sudah begitu terlambat untuk memberikan penawar ini. Dan yang ingin saya tanyakan adalah apa anda siap dengan resiko nya?" tanya profesor Brian tanpa ingin menatap wajah Kenzo yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana raut nya.


"Apa maksudmu?" tanya Kenzo tidak mengerti. Suara nya bahkan terasa begitu berat dan tercekat diantara kerongkongan nya. Dia benar benar takut sekarang. Apalagi kapten Stone yang berdiri tidak jauh dari mereka, dia sudah tidak dapat berbicara apapun lagi sekarang, yang dia harapkan hanya keselamatan Alena.


Profesor Brian berbalik badan dan memandang wajah Kenzo begitu serius, membuat dokter Richard dan juga kapten Stone juga ikut tegang karena begitu penasaran dengan apa yang akan terjadi pada Alena.


"Jika saya menyuntikkan serum ini ketubuhnya, nyawa nona Alena mungkin saja bisa diselamatkan. Tapi yang pasti serum ini juga memiliki efek samping karena harus bertabrakan dengan racun yang cukup berbahaya yang ada ditubuh nona Alena sekarang. Saya sudah menyelidiki racun apa yang masuk kedalam tubuh nona, dan saya hanya bisa membuat serum ini sekarang, serum dengan dosis yang cukup tinggi" ungkap Profesor Brian


"Efek samping" gumam Kenzo dan prosfesor Brian langsung mengangguk


"Walaupun nona Alena sembuh, tapi jantung nya tetap akan bermasalah untuk seumur hidupnya, jantung nya tidak akan kuat seperti biasa lagi, jantung nya sudah pasti lemah, kecuali dia mendapatkan donor jantung yang cocok, itu juga sangat beresiko. Karena racun ini sudah membuat semua fungsi organ vital dan sarafnya juga ikut melemah" ungkap profesor Brian.


Kenzo langsung tertunduk dengan getir mendengar ungkapan ini. Sungguh, apa tidak ada hal yang bisa membuat Alena nya kembali? Dia sudah cukup menderita selama ini.


"Dan jika nona Alena sadar nanti, ada kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan"


deg


deg


deg


Jantung Kenzo seperti terhantam sesuatu yang sangat berat mendengar itu. Lutut nya langsung lemas dan dia bahkan terperangah memandang wajah profesor Brian. Kapten Stone bahkan langsung terduduk dikursi nya mendengar kenyataan pahit itu.


"Kau...kau bercanda kan" lirih Kenzo begitu berat


Namun profesor Brian hanya menggeleng pelan dan iba, seperti nya king nya sangat terpukul mendengar ini


"Hanya kemungkinan king. Masih ada harapan untuk nona Alena sembuh seperti sedia kala. Semua tergantung bagaimana dia menahan rasa sakitnya selama dua hari ini. Semoga prediksi saya tentang kelumpuhan itu keliru, tapi untuk jantung nya, saya sudah memastikan nya jika itu memang tidak bisa ditolong lagi" jawab profesor Brian begitu menyesal


Kenzo menoleh pada Alena yang terbaring diatas ranjang. Dia tidak ingin kehilangan gadis ini. Alena adalah matahari nya, Alena adalah cinta nya. Mau bagaimana pun dia nanti, Kenzo berjanji akan selalu ada untuknya, meskipun Alena tidak akan bisa melakukan apapun lagi untuk seumur hidupnya. Kenzo tidak perduli itu, yang dia inginkan hanyalah melihat senyum Alena lagi, itu sudah cukup. Namun untuk kehilangan, sungguh Kenzo tidak akan sanggup.


"Lakukanlah, aku hanya ingin dia tetap hidup. Apapun yang terjadi padanya nanti, aku akan tetap menerimanya" kata Kenzo dengan sepenuh hatinya, meski nada suara nya terdengar begitu getir, bahkan matanya terlihat berkaca kaca


Kapten Stone memandang Kenzo dengan begitu pedih, tidak tahu sedalam apa cinta Kenzo untuk putrinya. Tapi malam ini, dia tahu jika tidak ada orang lain yang bisa mencintai Alena seperti Kenzo yang mencintainya.


Profesor Brian mengangguk, dan kembali mengeluarkan serum dari dalam tas kecilnya. Serum yang tampak berbeda dari serum yang lain. Serum itu bewarna merah dan terlihat begitu kental, seperti darah namun berbeda.


Dia menyuntikkan serum itu kelengan Alena, sedikit demi sedikit hingga satu botol serum habis dan masuk kedalam tubuh Alena. Tidak lama, hanya hitungan menit, Kenzo dapat melihat jika tubuh Alena tampak mengeluarkan keringat yang begitu banyak. Tubuhnya tampak bergerak atau lebih tepatnya bergetar seperti menahan sesuatu. Sesekali dada Alena bergerak untuk mengambil nafas yang mungkin terasa berat untuk nya.


Tangan Alena bergerak dan saling menggenggam erat, dia seperti sadar, tapi matanya tetap terpejam dengan rapat. Kenzo langsung memandang profesor Brian yang kembali menyuntikkan serum bewarna bening kelengan nya.


Kenzo langsung mendekat dan memperhatikan Alena yang memang terlihat sedang menahan sakit didalam ketidaksadaran nya. Profesor Brian memundurkan langkah nya dan membiarkan Kenzo mendekat.


"Tuan bisa memberikan sugesti untuk nya, siapa tahu dia bisa bersemangat untuk melawan rasa sakitnya. Racun dan serum yang bekerja bersamaan bisa mengakibatkan gagal jantung, apalagi jantung nona yang memang sudah melemah." ujar profesor Brian


Kenzo langsung meraih tangan Alena, membantu gadis itu melawan rasa sakitnya seperti tadi. Dan tampak nya Alena memang tahu jika ada seseorang yang menggenggam tangan nya. Dia menggenggam tangan itu dengan erat dan bergetar . Hanya lenguhan kesakitan yang keluar dari mulut nya. Kenzo mendekatkan wajahnya pada telinga Alena, membisikkan sesuatu disana.


"Kuatlah Alena, kuat untukku. Kau pasti bisa"


"Ayo berjuang sekali lagi, kau kuat. Kau pasti bisa" bisik Kenzo terus menerus


Namun Kenzo mengernyit saat merasakan jika genggaman tangan Alena melemah dan suara dokter Richard yang membuat jantung Kenzo kembali berdenyut sakit


"Detak jantung nya menghilang prof" seru dokter Richard panik


Professor Brian langsung beralih kesisi dokter Richard memperhatikan detak jantung Alena yang memang tampak hilang dan berdengung nyaring dilayar monitor, dia kembali memandang Kenzo yang tampak menggeleng dan terus menerus membisikkan sesuatu ditelinga gadis itu


"Alena aku mohon Alena, aku mohon bertahan lah, bertahan lah sayang..." pinta Kenzo begitu penuh harap, dia takut, dia tidak rela jika Alena pergi secepat ini


"Aku mencintaimu Alena. Aku mencintaimu, aku tidak mengizinkan mu pergi secepat ini. Tidak Alena jangan pergi, aku mohon bangunlah sayang....bangun....." suara Kenzo begitu berat tercampur dengan isak tangis nya, bahkan dokter Richard dan profesor Brian juga begitu sedih melihat king Aldrego yang terkenal kuat dan berkuasa itu begitu terpuruk saat ini


Kapten Stone menangis meraung ditempatnya, dia menangkup wajah nya dengan kedua tangan nya. Hatinya sangat sakit, dia tidak siap jika kehilangan sekarang, dia benar benar berharap Alena masih bisa berkumpul dengan mereka. Mereka baru saja bertemu sebentar


"Alena jangan pergi, kau sudah berjanji untuk tidak pergi. Aku mohon, bertahan lah, kau kuat Alena" pinta Kenzo lagi, dia menangis seraya mencium dahi Alena begitu lama, menumpahkan segala harapan dan doa untuk mengembalikan Alenanya


"Aku tidak sanggup jika harus kehilangan lagi, aku tidak sanggup" isak Kenzo begitu pilu, tangan dan tubuhnya bergetar dengan hebat menahan gejolak perasaan yang begitu besar. Rasa takut, rasa hancur semua terasa tidak bisa dia redam


"Aku mencintaimu...." bisik Kenzo lagi, dia benar benar tidak rela jika Alena nya pergi, dia tidak akan pernah rela


Tapi dia langsung terkesiap dan melihat genggaman tangan nya, dimana tangan Alena terasa bergerak kembali


"Alena, kau bisa, ayo lawan, kau kuat. Kau gadis yang kuat" kata Kenzo begitu menggebu. Dia bahkan mengusap wajah Alena yang masih terpejam dan detak jantung dilayar monitor mulai muncul kembali. Dokter Richard dan profesor Brian tampak menghela nafas lega. Begitu pula dengan kapten Stone, dia bahkan langsung beranjak dan mendekat melihat Alena yang kembali bernafas


"Alena, kau bisa nak. Ayo bangun" pinta kapten Stone pula


"Bangunlah, kami menunggumu, kita akan menikah setelah ini. Jangan buat aku takut" kata Kenzo lagi


Genggaman tangan Alena semakin kuat dan itu membuat Kenzo dapat tersenyum kembali dan membalas genggamnn tangan Alena.


"Aku mencintai mu Alena, sangat mencintaimu" bisik Kenzo dan kembali mencium dahi Alena yang sudah menghangat kembali.


Profesor Brian langsung memeriksa kembali keadaan Alena, dan akhirnya dia bisa bernafas dengan lega


"Dia sudah berhasil melewati masa kritisnya king" ungkap professor Brian


Kenzo menarik nafasnya dalam dalam, mengusap kasar wajahnya. Pandangan matanya kini terlihat menajam kembali memandang Alena. Tatapan mata seorang King Aldrego yang ingin membunuh dan mencincang habis musuh musuhnya.


Dia memandang Alena sejenak, dan kemudian melepaskan genggaman tangan itu.


Kenzo memandang kapten Stone yang menatapnya dengan heran, begitu pula dengan dokter Richard


"Aku akan pergi, aku titip Alena" ucap nya yang langsung beranjak ingin keluar


"Kau mau kemana?" tanya Kapten Stone


"Menghabisi orang yang sudah membuat Alena menderita" jawab Kenzo dengan begitu tajam dan menggeram


Kapten Stone terdiam memandang kepergian Kenzo, entah apa yang akan dilakukan pria itu, tapi yang pasti akan ada nyawa nya yang melayang malam ini.