
Edward berdiri kaku dengan wajah yang tertunduk takut. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepala nya didepan Kenzo yang kini tengah menatap nya dengan tajam. Dia merasa begitu canggung sekarang setelah kedapatan tengah berpelukan dengan Clara tadi.
Kenzo baru saja tiba dirumah sakit itu setelah sebelum nya dia menjemput Alena terlebih dahulu. Sedangkan kapten Stone masih berada didalam perjalanan menuju rumah sakit saat ini setelah tadi dia menerima laporan terlebih dahulu dari agen yang ditugaskan nya untuk mengusut kasus ini.
"Clara, kau tidak apa apa kan. Apa ada yang terluka?" Tanya Alena yang langsung berlari mendapati Clara yang sejak kedatangan mereka langsung terdiam dan tidak berani menatap kakak nya
Clara menggeleng pelan dan menatap Alena dengan wajah yang terlihat sembab karena menangis sedari tadi
"Aku baik baik saja, tapi kakak mu terluka gara gara menyelematkan aku" jawab Clara begitu merasa bersalah
Alena langsung memeluk sahabat nya itu dengan erat, mata nya juga berkaca kaca karena dia juga begitu khawatir dengan keadaan kakak nya saat ini.
"Jangan begitu. Kak Rey pasti baik baik saja" ucap Alena yang terlihat menahan tangis nya saat ini. Dia melepaskan pelukan nya dari Clara dan menoleh pada Kenzo yang sedang menatap tajam Edward
"Apa mereka orang orang Mike, En?" Tanya Alena pada Kenzo yang langsung menoleh kearah nya, pandangan mata Kenzo langsung melembut menatap Alena.
"Sedang diselidiki" jawab Kenzo
Alena langsung terduduk dikursi tunggu itu. Pandangan nya tertunduk nanar. Hati nya begitu resah saat ini.
"Bagaimana jika mereka memang suruhan Mike. Mereka sudah berani menganggu Clara sekarang, ini semua karena aku" lirih Alena yang mulai menangis ditempat nya
"Alena" Clara langsung duduk dan merangkul pundak Alena yang terlihat bergetar karena dia mulai menangis. Alena benar benar takut jika memang Mike yang mengusik orang orang terdekat nya. Alena takut jika mereka akan celaka karena ulah Mike.
"Alena, semua pasti baik baik saja. Tenanglah, Jangan berfikir yang tidak tidak" ucap Kenzo menatap Alena yang tengah menangis dalam rangkulan Clara. Namun dia langsung menatap Kenzo dengan lekat.
"Bagaimana aku tidak berfikir yang macam macam En. Kalian diganggu sejak kehadiran ku. Kemarin kau yang hampir celaka karena Mike, dan sekarang Clara, lalu kakak ku terbaring didalam sana. Bagaimana aku harus tenang sekarang!" seru Alena yang kembali menangis dengan kuat, dia langsung menangkup wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Semua gara gara aku. Huuuuuuu" Isak Alena begitu pilu. Dia benar benar merasa sebagai pembawa sial bagi orang orang terdekat nya sekarang. Karena dia, mereka semua dalam bahaya. Mike memang keterlaluan, dan Alena sangat membenci nya.
Edward terlihat menarik nafas nya dengan pelan. Sungguh hari nya dipenuhi dengan drama, baru saja tadi Clara yang menangis kuat hingga membuat jantung nya hampir lepas, dan sekarang malah bergantian dengan Alena.
"Kenapa kau masih disini?" Tanya Kenzo dengan tatapan tajam nya membuat Edward langsung terkesiap kaget menatap Kenzo
"Pergi" usir Kenzo
"Baik king, permisi" ucap Edward, dia segera beranjak dari tempat nya namun kembali terhenti karena panggilan dari Kenzo lagi
"Bawa Clara pulang, dia perlu istirahat" ucap Kenzo lagi dan Edward langsung membalikan tubuh nya menatap Clara yang terlihat keberatan
"Kakak, aku masih ingin disini. Aku ingin menemani Alena. Aku juga harus memastikan keadaan Reymond " ucap Clara pada Kenzo yang hanya berwajah datar itu
"Pergilah Clara. Besok kau bisa kembali lagi" kata Kenzo tanpa ingin dibantah
"Kakak!" Seru Clara kesal
Kenzo langsung menatap Edward yang langsung mengangguk mengerti. Dia segera mendekati Clara dan sedikit membungkukkan tubuh nya didepan gadis itu.
"Mari nona" ajak Edward, namun Clara masih menatap kakak nya dengan pandangan memelas nya
"Pulang" ucap Kenzo lagi. Dan mau tidak mau Clara terpaksa harus menuruti nya. Dia menatap Alena yang masih menangis saat ini, lalu kembali menatap kearah pintu ruang operasi Reymond yang belum terbuka sejak tadi.
Clara menghela nafas nya perlahan dan langsung beranjak dari duduk nya
"Kabari aku jika ada apa apa" ucap Clara pada Kenzo yang hanya mengangguk datar.
Sekali lagi Clara menoleh kearah Alena, dan dia langsung meninggalkan gadis itu tanpa berkata apapun. Karena untuk saat ini, mungkin hanya Kenzo yang mampu menenangkan Alena.
Dan memang begitulah kenyataan nya, setelah Clara dan Edward pergi, Kenzo langsung duduk disamping Alena. Dia menarik Alena kedalam pelukan nya, dan mendekap tubuh Alena dengan erat, membuat gadis itu semakin menangis terisak.
"Semua gara gara aku En. Kalian celaka karena aku" gumam Alena dengan suara yang terdengar penuh, Isak tangis nya masih terdengar jelas ditelinga Kenzo.
Kenzo menarik nafas nya perlahan, dia masih diam membiarkan Alena menumpahkan segala keresahan hati nya. Tangan nya terus mengusap lembut punggung gadis itu.
"Aku takut, aku takut Mike berbuat yang lebih berbahaya lagi. Aku takut dia kembali menyerang kita" kata Alena lagi, tangan nya meremas baju Kenzo dengan kuat, bahkan kini tubuh nya sudah berkeringat karena menahan Isak tangis yang memang tidak dapat ditahan nya.
"Alena" panggil Kenzo dengan begitu lembut
"Aku takut" gumam Alena lagi
"Alena dengarkan aku" kata Kenzo mengangkat dagu Alena agar menatap nya. Wajah Alena benar benar sembab dan kusut. Air mata nya terus membanjiri wajah nya yang begitu lembut dimata Kenzo.
"Bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu seperti ini. Mike memang keterlaluan. Dia begitu terobsesi padamu sehingga apapun akan dilakukan nya. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri Alena" ucap Kenzo menatap lekat mata Alena
"Tapi memang karena aku Mike ada" ungkap Alena
Kenzo menghapus air mata diwajah nya dengan begitu lembut, dia langsung tersenyum tipis menatap Alena. Tangan nya menggenggam erat tangan Alena yang terlihat mendingin itu.
"Ada atau tidak ada nya Mike. Aku akan tetap celaka. Mereka pasti juga akan menjatuhkan ku dengan menggunakan Clara maupun orang terdekatku yang lain. Kau tidak tahu cerita yang sebenar nya. Bukan karena dirimu Alena, percayalah" ungkap Kenzo
"Jika aku mengatakan nya, maukah kau untuk merahasiakan nya, terutama pada ayahmu" pinta Kenzo. Alena sedikit mengernyitkan alis nya, namun dia langsung mengangguk pelan.
"Kau pasti sudah tahu jika aku adalah seorang mafia bukan?" Tanya Kenzo dan Alena langsung mengangguk, meski saat ini jantung nya mulai berdetak lebih kencang. Meski dia bodoh, tapi dia sudah tahu kenapa Enzo meminta nya untuk merahasiakan cerita ini pada ayah nya yang adalah seorang agen.
"Aku memiliki musuh yang ingin merebut apa yang aku punya. Aku memiliki musuh yang ingin menghancurkan kekuasaan ku, baik sebagai Kenzo Barrent ataupun sebagai kepala klan mafia. Dan kau tahu siapa dia?" Tanya Kenzo dan Alena langsung menggeleng dengan wajah polos nya
"Dia adalah Thomas. Kakak kandung Mike" ungkap Kenzo membuat Alena langsung melebarkan mata nya mendengar itu
"Kakak Mike??" Tanya Alena begitu terkejut. Kenzo langsung mengangguk, tangan nya kembali mengusap wajah Alena yang sembab dan merapikan rambut nya yang berantakan.
"Jadi, ada atau tidak ada nya dirimu, aku pasti akan berurusan juga dengan mereka. Jangan terus terusan menyalahkan dirimu. Kita mempunyai musuh yang sama. Jika kau lemah dan cengeng seperti ini, bagaimana kita akan menang melawan mereka?" Ucap Kenzo dengan senyum nya.
Bibir Alena terlihat bergetar menatap Kenzo, dia kembali memeluk pria itu dengan erat
"Maafkan aku, aku benar benar khawatir, apalagi mengetahui jika Clara juga diganggu oleh Mike" ungkap Alena
"Tidak apa apa. Semua pasti akan segera berlalu" ucap Kenzo
Alena melepaskan pelukan nya dan kembali menatap Kenzo.
"Apa kau tidak bisa bekerja sama dengan daddy En? Bukan kah itu bisa lebih aman?" Tanya Alena pada Kenzo yang langsung tersenyum dan menggeleng
"Mafia dan agen. Apa bisa disatukan?" Tanya Kenzo pula. Alena langsung tertunduk dan menghela nafas nya dengan berat. Benar juga, mereka seperti api dan minyak, tidak mungkin bersatu, yang ada malah akan saling bermusuhan. Apalagi Alena tahu jika ayah nya adalah abdi negara yang bertugas untuk menangkap mafia mafia kelas kakap dinegara ini.
"Apa semua mafia itu kejam? Apa semua mafia itu sampah negara? Bagaimana kalau Daddy akan menangkap mu juga?" Tanya Alena dengan wajah yang kini berubah menjadi panik. Namun Kenzo malah terkekeh pelan dengan pertanyaan Alena, karena saat ini dipandangan mata nya Alena benar benar sangat polos.
"Tidak juga, tidak semua mafia merupakan sampah negara. Tapi semua mafia memang kejam karena mereka tidak akan segan segan membunuh siapapun yang berani mengusik mereka" ungkap Kenzo membuat Alena langsung bergeser dan menatap Kenzo dengan ngerih
"Kau pernah membunuh orang?" Tanya Alena dengan suara yang tertahan
"Kau takut?" Tanya Kenzo pula
Alena terlihat mengerjap ngerjapkan mata nya menatap Kenzo.
"En, aku tidak takut asal kau tidak melakukan nya didepan ku. Tapi aku takut jika Daddy tahu, dia pasti akan menangkap mu" ucap Alena begitu khawatir
"Tidak akan, kapten Stone tidak akan berani menangkap ku" jawab Kenzo
"Tapi jika dia tahu, dia pasti akan menangkap mu" sahut Alena
"Maka dari itu kau harus merahasiakan nya" kata Kenzo dengan senyum lucu nya melihat raut wajah Alena yang begitu cemas. Padahal dia sendiri saja tidak memperdulikan itu.
"Baiklah, aku berjanji untuk tidak berkata apapun pada Daddy. Tapi berjanjilah untuk menjadi mafia yang baik" pinta Alena dengan wajah polos nya, membuat Kenzo benar benar gemas melihat nya
"Iya" sahut Kenzo.
"Kau harus menepati nya" tuding Alena dan Kenzo langsung mengangguk dengan senyum nya. Bagaimana mungkin menjadi mafia yang baik, dan memang nya ada mafia yang baik, Alena benar benar begitu lugu. Bagaimana jika dia tahu dunia Kenzo dulu nya sewaktu masih bergabung dengan mafia black rose, yang setiap hari hanya berkutat dengan darah dan senjata, mungkin dia akan mati berdiri melihat itu.
Perhatian mereka seketika langsung teralih pada pintu ruangan yang terbuka. Dan dapat mereka lihat seorang dokter dan perawat keluar dari dalam ruangan itu. Alena langsung berlari kearah mereka.
"Dokter, bagaimana kakak saya?" Tanya Alena dengan cepat, dokter itu terlihat tersenyum meski wajah nya terlihat lelah. Dia menoleh kearah Kenzo dan menundukan sedikit tubuh nya pada pria itu yang kini telah berdiri dibelakang Alena.
"Kakak anda baik baik saja nona. Meski peluru nya menembus cukup dalam, namun beruntung nya tidak mengenai organ vital didalam perut nya. Saat ini dia sedang beristirahat dan anda bisa melihat nya setelah nanti dia dipindahkan keruang perawatan" ungkap dokter lelaki itu.
Alena langsung dapat bernafas dengan lega mendengar nya.
"Terimakasih dokter" ucap Alena
"Sama sama nona. Jika begitu saya permisi nona, Tuan Kenzo" ucap dokter itu dan mereka hanya mengangguk saja melihat nya.
Tidak lama setelah kepergian dokter itu, Kapten Stone tiba disana. Dia sedikit berlari mendapati Kenzo dan Alena yang masih berdiri didepan pintu ruang operasi
"Bagaimana keadaan Reymond?" Tanya kapten Stone langsung
"Dia baik baik saja kapten. Hanya luka tembak dibagian pinggang nya" ungkap Kenzo
"Hanya luka tembak, oh astaga. Dia bahkan takut dengan jarum suntik" gumam kapten Stone terlihat begitu getir
"Takut jarum suntik?" Tanya Alena sedikit heran
"Ya, dan Daddy rasa dia pasti begitu menderita saat ini" ucap nya lagi.
"Ya ampun kakak" lirih Alena begitu prihatin. Sedangkan Kenzo langsung menghela nafas jengah mendengar nya. Bisa bisa nya seorang pria takut jarum suntik, pantas saja Reymond terlihat begitu pucat dan gemetaran sewaktu ditempat kejadian.
Seperti nya dia menemukan kembaran Cristian saat ini, dan sial nya itu adalah kakak Alena.