ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Kalah Dengan Takdir



Hari sudah begitu larut, namun Alena belum juga bisa memejamkan mata. Pikirannya selalu tertuju pada Kenzo yang belum tiba di mansion hingga saat ini.


Dia baru saja menyelesaikan satu rancangannya tadi, dan Lian sudah kembali ke apartemen sore tadi.


Saat ini Alena sedang duduk disofa ruang tamu mansion mewah itu sembari membaca sebuah majalah fashion dunia. Sesekali tangannya menutup mulut yang menguap karena mengantuk.


Entah sudah berapa kali bibi Khoi datang dan memintanya untuk beristirahat. Namun Alena sama sekali belum ada beranjak dari sana.


Senyum Alena terlihat mengembang saat melihat foto Clara disalah satu halaman majalah itu. Sangat cantik dan seksi.


"Ah, aku merindukannya. Entah bagaimana kabar Clara, besok aku akan meminta Enzo untuk menyuruhnya kemari," gumam Alena seorang diri.


Dia kembali membolak balikan majalah itu, hingga suara pintu yang terbuka membuat fokusnya teralih.


Alena langsung berdiri dan melihat siapa yang datang. Ternyata Edward yang membukakan pintu itu untuk Kenzo.


Senyum Alena langsung merekah melihat orang yang ditunggunya sejak tadi akhirnya pulang juga.


Namun, Kenzo yang sedikit terkesiap melihat Alena ada disana dan menyambutnya pulang dengan senyum yang sangat manis.


"En, akhirnya kau pulang juga!" seru Alena. Diq segera berlari kearah Kenzo yang menatapnya hanya dengan tatapan datar.


"Kau belum tidur?" Tanya Kenzo dan Alena langsung menggeleng.


"Aku menunggumu," jawab Alena.


Kenzo langsung mengernyit dan menatap Edward yang masih berdiri disana.


"Saya permisi king," ucap Edward dan Kenzo hanya mengangguk saja.


"Untuk apa menungguku?" Tanya Kenzo sembari berjalan kearah sofa dan Alena yang mengikutinya.


"Aku khawatir padamu, hari sudah larut tapi kau belum pulang," jawab Alena dengan wajah yang begitu polos dimata Kenzo. Mata biru indah dengan kelopak mata yang bulat itu begitu menggemaskan di matanya.


"Aku banyak pekerjaan Alena, dan aku baik baik saja, aku juga bukan anak kecil yang harus selalu dikhawatirkan," ucap Kenzo sembari membuka jas yang melekat ditubuhnya.


"Kau ini, aku hanya takut Mike berbuat sesuatu pada mu," dengus Alena dengan bibir yang mengerucut kesal.


Namun tiba tiba, Alena langsung terbelalak kaget saat melihat lengan Kenzo yang berdarah dibalik kemeja putih itu.


"En !! Lengan mu berdarah!!" Alena berteriak dan langsung beralih untuk melihat lengan Kenzo.


"Hanya luka kecil," sahut Kenzo, dia menepis lembut tangan Alena dari lengannya.


"Ini pasti sakit, darahnya juga begitu banyak. Kenapa bisa terluka, apa karena Mike?" Tanya Alena begitu panik, dia menatap Kenzo dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Tidak, aku hanya kurang berhati hati." jawab Kenzo


"Pasti sakit kan?" tanya Alena lagi, dia sudah menahan Isak tangisnya sekarang. Dan tentu saja itu membuat Kenzo mengernyit bingung. Kenapa Alena malah ingin menangis?


"Tidak Alena, ini bukan apa apa," sahut Kenzo.


"Tapi darahnya banyak. Aku akan mengobatinya, " Alena yang segera berlari kearah dapur dengan cepat. Terdengar teriakan nya yang panik dan memanggil bibi Khoi.


Kenzo hanya menggeleng dan menghela nafas lelah. Ditengah malam seperti ini Alena berteriak teriak seperti itu hingga membuat seluruh pelayan dirumah terbangun karenanya.


'gadis itu benar benar. Aku yang terluka dia yang menangis' batin Kenzo begitu heran.


Dia meraba luka bekas lesatan peluru dari Jesica tadi. Bukan luka yang serius, dan tidak terasa sama sekali.


Ya, untungnya anak buahnya datang tepat waktu tadi , sehingga mereka bisa dengan cepat pergi dari sana.


Saat Mike dan Jesica ingin menembak Kenzo, disaat itu pula Jack bersama anggota mereka datang dan menyerang mereka membabi buta. Hingga fokus Mike dan Jesica teralihkan dan Kenzo bersama Edward langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Kenzo sengaja pergi lebih dulu karena tidak ingin Jesica mengetahui siapa dia yang sebenarnya. Jika Jesica tahu, nama baiknya bisa hancur sebagai seorang Presdir. Dan Kenzo tidak ingin itu terjadi. Dia ingin menghancurkan mereka sebagai king Aldrego, bukan sebagai Kenzo Barrent.


Lamunan Kenzo langsung buyar saat Alena datang dengan membawa kotak obat, dan bibi Khoi yang membawa sebuah wadah berisi air dan sebuah handuk kecil.


Dia meletakan peralatan itu diatas meja didepan Kenzo. Sedangkan Kenzo hanya menatapnya dengan bingung.


"Untuk apa?" Tanya Kenzo hingga membuat Alena langsung berdecak kesal, sedangkan bibi Khoi langsung menundukkan kepalanya.


"Nona meminta ini tuan, dia ingin membersihkan luka anda," jawab bibi Khoi tanpa berani menatap wajah Kenzo.


Kenzo kembali menghela nafas panjang.


"Pergilah," usirnya pada bibi Khoi. Dan wanita paruh baya itu langsung beranjak dari tempatnya.


"Alena, kau tidak perlu repot repot begini," Kini Kenzo menatap Alena yang masih terlihat sendu dan mulai menyiapkan alat alatnya.


"Kau terluka En, apa salahnya jika aku ingin mengobati." gerutu Alena.


"Ini hanya luka kecil Alena," kata Kenzo lagi.


"Luka kecil jika tidak diobati akan infeksi nantinya. Sudah lah, kau ini kenapa menyebalkan sekali. Buka kemeja mu," pinta Alena pada Kenzo.


Lagi lagi Kenzo hanya bisa menghela nafas, dia pasrah dan membuka kemejanya hingga menampakan tubuh kekarnya yang begitu menggoda.


Alena tertegun sejenak melihatnya, tubuh Kenzo begitu seksi meski hanya dibalut dengan kaos singlet bewarna hitam. Lengan nya begitu kekar dan dadanya yang begitu bidang membuat fantasi Alena langsung terbang melayang.


"Kau hanya mau melihat ku atau mengobati ku hmm?" Suara Kenzo membuat Alena langsung terkesiap dan salah tingkah. Dia tersenyum getir dan merutuki otaknya yang malah mengulah.


"Eh, i iya" Alena langsung mengambil handuk kecil diatas meja dan merendamnya sebentar dengan air yang telah disediakan oleh bibi Khoi.


Alena benar benar tidak bisa berpaling dari pesona Kenzo. Padahal dulunya dia sudah setiap hari melihat tubuh gagah itu, tapi sekarang rasanya pesona Kenzo benar benar membuatnya semakin meleleh saja.


"Kau sengaja kan," ucap Kenzo, dia menatap sinis Alena yang tengah mengusap pelan lengan Kenzo itu, namun tangannya terhenti dan balas menatap wajah Kenzo yang seperti menggodanya.


"Sengaja apa?" Tanya Alena sedikit ketus.


"Sengaja meminta ku untuk melepaskan pakaian ku agar kau bisa memandang tubuh indah ku ini." jawab Kenzo


"Enak saja, aku berniat baik tapi kau malah berfikiran buruk tentang ku," gerutu Alena begitu kesal, bahkan wajahnya menekuk dengan bibir yang mengerucut kesal.


Kenzo langsung tersenyum tipis melihat wajah kesal itu, baginya Alena sangat menggemaskan, apalagi dengan bibir merah muda itu. Ah, fantasinya kembali melayang dengan rasa manis dari bibir Alena.


"Luka nya dalam, ini pasti sakit," gumam Alena yang terus membersihkan luka itu. Sesekali wajahnya meringis seolah merasakan betapa perihnya luka itu.


"Tidak sakit," sahut Kenzo yang masih asik memandangi wajah Alena.


"Tidak sakit bagaimana, kau ini. Aku yang melihatnya saja sudah tahu jika ini begitu sakit," gerutu Alena


"Aku sudah pernah merasakan sakit yang lebih dari ini Alena, jadi luka seperti ini bukan apa apa untukku." ungkap Kenzo.


Alena tertegun, dia mendongak dan memandang wajah Kenzo yang juga menatap kearahnya.


Mata cokelat indah itu selalu bisa membuat jantung Alena bergemuruh hebat. Dia langsung menunduk kembali dan membersihkan luka Kenzo dengan kapas yang sudah diberi cairan alkohol. Mengusapnya dengan begitu lembut, hingga Kenzo mampu merasakan kelembutan itu, seperti kelembutan hati Alena.


"Apa yang kau cari sehingga kau selalu mendapatkan luka En?" Tanya Alena tanpa ingin menatap wajah Kenzo.


"Pertama kali aku menemukan mu kau terluka parah, bahkan nyaris tidak tertolong, sekarang kau terluka lagi. Sebenarnya apa yang kau lakukan selain menjadi seorang Presdir?" Tanya Alena dan kali ini dia menatap wajah Kenzo yang ternyata masih menatapnya.


"Tidak ada," jawab Kenzo begitu singkat.


Alena langsung berdecak sinis,


"Mustahil, kau begitu misterius. Aku yakin penjahat bertopeng itu memang wujud asli mu yang tidak diketahui dunia bukan," ungkap Alena.


Kenzo langsung tertawa kecil mendengarnya. Tawa yang sudah lama tidak dilihat Alena.


"Jika itu memang benar, kenapa? Apa itu masalah untuk mu?" Tanya Kenzo pula


Alena langsung menggeleng dan kembali mengobati luka itu dengan obat yang telah tersedia.


"Jadi kau memang seorang penjahat?" Tanya Alena lagi


"Tidak juga," jawab Kenzo


"Lalu, kenapa kau selalu memakai topeng?" tanya Alena lagi


"Kau tidak perlu tahu," jawab Kenzo . Alena langsung terdiam dan menatapnya dengan senyum getir


Dia mengangguk sekilas dan kembali pada luka Kenzo.


"Ya, aku memang tidak perlu tahu." gumam Alena sembari membalut luka itu dengan perban.


Kenzo tersenyum tipis dan masih terus memandang wajah cantik yang rautnya telah berubah menjadi sendu.


"Jika kau tahu aku yakin kau akan takut dekat dengan ku," ungkap Kenzo. Alena mendongak dan menatap Kenzo dengan kernyitan didahinya. Namun hanya sekilas, dia kembali melanjutkan membalut perban di lengan Kenzo.


"Jika pun kau seorang mafia, aku akan tetap menyukai mu," jawab Alena begitu jujur. Kenzo langsung mendengus dan menggeleng pelan dengan senyum tipisnya.


"Kau terlalu jujur Alena," gumamnya hingga membuat Alena langsung tertawa kecil. Dia telah selesai dengan pengobatannya sekarang.


"Siapa yang tidak suka dengan mu wahai Presdir Kenzo Barrent, tuan Amerika dengan sejuta pesona. Jutaan wanita bahkan seluruh wanita didunia ini aku yakin semuanya menyukai mu," ucap Alena.


Kenzo yang mengangguk dan tersenyum tipis.


"Ya ,kau benar. Aku memang digilai banyak wanita," jawab nya begitu angkuh , membuat Alena langsung berdecak sinis.


"Lalu untuk apa kau menjadi penjahat bertopeng jika semua sudah kau miliki?" Tanya Alena, dia menatap lekat wajah Kenzo yang kini sudah bersandar disofa. Terlihat jelas raut lelah diwajah tampan itu.


"Aku mencari kebahagiaan," jawab Kenzo singkat tanpa menoleh pada Alena.


Alena langsung tertegun dan mengerjapkan matanya sekilas.


"Apa kau menemukan nya?" Tanya Alena


"Aku pernah menemukan nya, tapi dia pergi." Jawab Kenzo. Kini matanya terpejam, pikirannya melayang seperti sedang mencari bayangan yang jauh disana.


"Kau tidak bisa memperjuangkannya bukan," terka Alena. Kenzo langsung tersenyum tipis mendengar itu.


"Ya, aku kalah dengan takdir." jawabnya.


"Kau belum kalah, kau hanya berhenti berjuang. Takdir mu bukan dengan kebahagiaan itu. Ada kebahagiaan lain yang sedang menanti mu ditempat yang lain." Ungkap Alena


Kenzo langsung membuka matanya, dia menoleh pada Alena yang duduk disampingnya.


"Kau tidak mengerti Alena," ucap Kenzo.


Alena langsung melengoskan wajahnya


"Apa yang tidak aku mengerti. Kau berbicara kehilangan, aku sudah pernah mengalaminya. Kau berbicara tentang kesendirian, aku tahu bagaimana rasanya. Kau berbicara tentang takdir yang tidak memihak padamu, bagaimana dengan ku, yang hampir setiap hari mencoba melawan takdir, hingga takdir itu mampu membawaku kepadamu." ungkap Alena begitu dalam, membuat Kenzo langsung tertegun. Mereka saling menatap dengan pandangan mata yang penuh arti.


"En, tidak ada yang tahu bagaimana takdir membawa kita. Kau sudah berjuang mati matian untuk mendapatkan takdir mu, namun kau kalah. Tapi bukan berarti kau menyerah dan hanya bertumpu pada takdir yang bukan untuk mu. Jalan mu masih panjang, dan jangan biarkan kekalahan mu membuat kau menghalangi kebahagiaan lain datang kedalam hidupmu." ungkapan Alena begitu dalam hingga mampu menusuk relung hati Kenzo.


Kenzo langsung mendengus senyum dan duduk dengan tegak kembali. Dia menatap Alena dengan tatapan yang begitu dalam hingga membuat Alena merasa canggung sekarang.


"Ya, aku memang berhenti berjuang, karena aku pernah kalah. Tapi aku hanya berhenti berjuang untuk takdir yang bukan milik ku Alena." Sahut Kenzo membuat Alena mengernyit bingung


"Aku tidak ingin kalah darimu, kau seorang gadis muda yang penuh semangat. Dan darimu aku belajar, jika hidup memang harus diperjuangkan bagaimana pun caranya." Ucap Kenzo, dan kali ini Alena yang tersenyum bahkan wajahnya tersipu malu sekarang.


"Aku beruntung bertemu dengan mu. Ya, walaupun terkadang kau begitu cengeng dan menyebalkan." ucap Kenzo, dan kali ini Alena menatapnya dengan kesal.


"Kau itu memuji atau mengejek ku ha?" tanya Alena dengan wajah kesalnya membuat Kenzo langsung tertawa kecil.


"Dua dua nya," sahut Kenzo sembari mengusap pucuk kepala Alena . Tentu saja perlakuannya itu membuat Alena membeku ditempatnya.


"Tidurlah. dan terimakasih," ucap Kenzo. Dan setelah mengatakan itu, dia langsung beranjak dan pergi meninggalkan Alena yang masih menatapnya tidak berkedip.


'kau pria yang baik. aku berharap kebahagiaan selalu menghampirimu' batin Alena dengan mata yang berkaca kaca.