
Malam ini Alena dan Kenzo sedang duduk berdua dibalkon kamar mereka, duduk seraya memandang taman belakang mansion yang dipenuhi oleh lampu taman yang temaram dan ditemani oleh segelas teh hijau yang masih hangat.
Mereka baru saja selesai makan malam bersama dengan kapten Stone dan juga dokter Richard. Juga tuan rumah mansion ini, Jorge. Cristian dan Angel sudah kembali kerumah utama, karena besok Cristian harus bekerja, sedangkan Angel tidak bisa pergi terlalu lama karena kakak iparnya baru saja melahirkan.
Tapi mereka berjanji akan sering datang dan membawa twins baby untuk menghibur rasa kesiapan Alena disini.
Alena duduk bersandar didada Kenzo, dengan tubuh yang bergulung dengan selimut. Dia masih merasa lemas disekujur tubuhnya. Tidak tahu apa yang terjadi, Kenzo dan ayahnya selalu menyembunyikan keadaan dia yang sebenarnya.
"En..." panggil Alena
"Ya" sahut Kenzo. Dia menunduk dan membenarkan selimut Alena yang sedikit merosot.
"Jika kita menikah nanti, kau ingin punya anak berapa?" tanya Alena
Kenzo langsung tersenyum mendengar itu.
"Satu saja" jawab Kenzo seraya mengusap wajah Alena dengan lembut
"Kenapa cuma satu?" tanya Alena yang mendongak dan memandang wajah tampan itu.
"Karena aku tidak suka berbagi" jawab Kenzo
Alena mendengus dan duduk dengan tegak disamping Kenzo
"Kau cemburu pada anakmu sendiri" ucap Alena
Kenzo mendengus senyum dan menggeleng
"Aku hanya ingin kau selalu memperhatikan dan mencintaiku. Jika mempunyai banyak anak, pasti perhatian mu akan terbagi" ungkap Kenzo
Alena langsung tertawa kecil mendengar nya
"Aku pasti akan selalu mencintaimu En, walau sebanyak apapun anak yang kita miliki" ucap Alena
Namun Kenzo langsung menggeleng dengan cepat.
"No, cukup satu. Aku tidak ingin mempunyai banyak anak. Aku hanya ingin kau mencintaiku saja" ujar Kenzo yang kembali menarik Alena kedalam pelukan nya
Alena tersenyum seraya mengusap dada bidang yang begitu nyaman itu.
"En..." panggil Alena lagi
Kenzo menunduk dan memandang Alena
"Terimakasih untuk semua nya" ucap Alena seraya memandang wajah tampan itu dengan lekat
Kenzo mengecup sekilas bibir Alena dengan lembut
"Seharusnya aku yang berterimakasih padamu" kata Kenzo membuat Alena langsung mengernyit
"Terimakasih telah mencintaiku dan mengisi hari hariku yang membosankan. Aku begitu beruntung bertemu dengan mu" ungkap Kenzo
"Benarkah?" tanya Alena dengan senyum nya
"Ya, bertemu dengan mu adalah anugrah terindah dalam hidupku. Kau mampu membuat ku mengerti arti cinta yang sesungguh nya. Kau selalu bisa membuat hari ku lebih bewarna Alena" ungkap Kenzo
Alena mendengus senyum dan kembali memeluk tubuh Kenzo
"Gadis cengeng yang selalu membuat ku pusing dengan tingkah nya, gadis cerewet yang selalu membuat ku kesal dengan semua perkataan nya" ungkap Kenzo seraya mengusap lembut pucuk kepala Alena
"Kau tidak akan pernah menemukan gadis seperti ku dimana pun" kata Alena
"Ya, maka dari itu, aku ingin kau selalu ada di sampingku selama aku hidup" jawab Kenzo seraya memandang nanar taman belakang mansion black rose.
"Apa...jika aku tidak ada kau akan sedih?" tanya Alena membuat Kenzo langsung tertegun dan memandang jauh taman belakang itu.
Alena mengernyit saat Kenzo hanya diam, namun pelukan nya yang semakin kuat, hingga membuat Alena sedikit sesak.
Alena langsung mendongak dan memandang Kenzo, namun dia langsung terkesiap saat melihat wajah Kenzo yang sudah memerah dan menahan air matanya.
"En..." panggil Alena seraya menangkup wajah tampan itu
"Alena.. berjanjilah padaku untuk tetap bertahan dan kuat, berjanjilah untuk sembuh dan hidup bersama ku" pinta Kenzo dengan penuh perasaan, bahkan begitu terasa sampai kehati Alena
"Aku... aku tidak akan sanggup jika kehilangan lagi Ale" kata Kenzo lagi. Matanya semakin berair sekarang.
Alena terdiam memandang Kenzo. Kenapa perkataan ini lagi yang dia dengar? Apa kondisi nya memang begitu buruk? Kenapa Kenzo menangis lagi??? Kenapa Kenzo begitu bersedih lagi???
"Aku mohon berjanjilah untuk kuat dan berjuang sekali lagi" kini Kenzo meraih tangan Alena dan menggenggam nya dengan kuat.
Alena bahkan dapat merasakan jika genggaman tangan itu penuh keraguan dan ketakutan yang mendalam. Dan sungguh, Alena tidak bisa melihat Kenzo yang seperti ini. Kenzo adalah pria yang kuat, Kenzo adalah seorang pemimpin klan mafia, tapi kenapa dia bisa menangis hanya karena gadis lemah sepertinya.???
Alena tersenyum dan mengusap air mata yang mulai mengalir diwajah tampan itu. Dia tahu ini memang bukan hal yang baik. Entah apa yang akan terjadi malam ini, tapi sepertinya Kenzo dan ayahnya sudah memutuskan sesuatu.
Alena tahu mereka pasti menyembunyikan tentang keadaan nya agar dia tidak bersedih, tapi Kenzo dan ayah nya tidak tahu jika Alena sebenarnya sudah menduga jika kondisi nya memang tidak baik baik saja.
"Aku pasti kuat" ucap Alena dengan senyum yang terlihat getir. Melihat Kenzo yang seperti ini, sungguh dia sebenarnya begitu takut. Takut jika dia tidak akan bisa bertahan lebih lama, apalagi dia merasa jika jantung nya semakin lama semakin melemah.
"Berjanjilah, aku sungguh tidak ingin kehilangan dirimu" pinta Kenzo yang semakin menggenggam erat tangan Alena
"Aku berjanji, aku sudah pernah bilang bukan. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu En" jawab Alena
Kenzo kembali memeluk Alena dan menyembunyikan kepala nya diceruk leher gadis itu. Menyembunyikan air mata yang tidak bisa dia tahan. Dia begitu takut, dia takut dengan keputusan nya malam ini.
Tapi Alena tahu, jika Kenzo begitu sedih dan cemas. Dia tahu meski mereka menyembunyikan nya. Bahkan ayahnya terlihat begitu berbeda malam ini, wajah nya lesu dan begitu sedih. Alena tidak tahu apa yang terjadi, tapi semua pasti bersangkutan dengan nyawanya.
"Jangan sedih, jika kau sedih seperti ini, bagaimana aku akan kuat. Kau kan kekuatan ku" ujar Alena seraya mengusap kepala Kenzo dengan lembut, bahkan dia juga menahan tangis nya sekuat mungkin. Hati nya tidak sekuat itu, dia takut dengan keadaan nya, tapi dia juga bersedih melihat ayah dan kekasih nya yang seperti ini. Mereka sudah cukup banyak berjuang untuk dirinya, dan sekarang, Alena yang harus berjuang untuk kesembuhan nya. Meski terasa tidak mungkin,.tapi dia begitu berharap bisa hidup lebih lama dan bahagia bersama orang orang yang dia cintai.
Alena tidak sanggup jika membuat Enzo nya bersedih lagi, Alena juga tidak bisa melihat ayahnya bersedih karena harus berpisah dengan nya yang baru beberapa bulan bertemu.
Tuhan... bisakah mereka hidup bahagia tanpa kesakitan lagi
"Jangan menangis" pinta Alena
Kenzo menggeleng namun terus menyembunyikan wajah dileher Alena
Alena tersenyum dan melepaskan pelukan nya. Memandang wajah Kenzo dengan lekat dan mengusap air mata diwajah tampan itu
"Aku akan kuat jika kau kuat" ucap Alena
"Kau harus berjanji" kata Kenzo lagi
Alena mengangguk dan tersenyum.
Alena mengecup bibir Kenzo sejenak dan kembali mengusap wajah nya dengan lembut
"Aku mencintaimu Alena" ucap Kenzo
"Aku juga mencintaimu En..." balas Alena
Hingga suara ketukan pintu membuat mereka langsung menoleh keasal suara
"Mereka sudah datang" gumam Kenzo
"Gendong" pinta Alena dengan manja
Kenzo mendengus senyum dan langsung mengecup sekilas bibir pucat Alena. Dan setelah itu dia mengangkat Alena kedalam gendongan nya dan membawa Alena masuk kedalam kamar.
Alena memandang nanar wajah tampan itu. Wajah Kenzo datar seperti biasa, tapi Alena bisa merasakan detak jantung nya yang bergemuruh saat ini.
Kenzo merebahkan Alena diatas tempat tidur, dan membantu Alena untuk duduk dan bersandar dikepala ranjang seiring dengan masuk nya Professor Brian, dokter Richard dan juga kapten Stone.
Meski sudah berusaha tersenyum, tapi wajah mereka semua terlihat begitu tegang, dan tentu saja itu membuat Alena semakin merasa takut.
"Kau belum mengantuk kan nak" tanya kapten Stone berbasa basi, meski dari nada suara nya saja sudah bisa dilihat jika dia juga tegang dan takut.
"Belum dad" jawab Alena dengan senyum manis nya seperti biasa.
Kini Alena memandang kearah Professor Brian yang mulai mengeluarkan jarum suntik dan juga botol serum nya. Alena menghela nafasnya melihat itu, dia sudah sangat bosan dengan tusukan benda kecil itu setiap hari. Tapi sepertinya malam ini benda itu bisa membuat semua lelaki yang ada didalam kamar ini tampak tegang dan begitu serius.
Apa yang terjadi?
Professor Brian memandang Kenzo dengan lekat
"King, saya tanya sekali lagi. Apa anda yakin dengan langkah ini?" tanya Professor Brian begitu serius
Kenzo yang ada disebelah Alena tampak terdiam dan menarik nafasnya yang terasa begitu berat. Dia memejamkan matanya sejenak, namun langsung terbuka saat merasakan tangan nya yang digenggam oleh Alena.
Kenzo memandang Alena yang kini tersenyum padanya
"Apapun pilihan mu, itu pasti yang terbaik" ucap Alena begitu lembut
Kenzo tersenyum dan langsung memeluk Alena dengan erat. Dia takut sebenarnya, dia sangat takut jika pilihan nya ini salah, tapi tidak ada jalan lain. Semua sama beresiko nya.
"Maafkan aku Alena, maafkan aku, lagi lagi pilihan ku membuat mu harus merasakan sakit" gumam Kenzo
Alena mengusap punggung Kenzo dengan lembut, meski takut tapi melihat wajah Kenzo dan ayahnya yang seperti ini, Alena harus bisa kuat.
"Aku percaya padamu" ucap Alena
Kenzo melepaskan pelukan nya, dan memandang Alena yang masih tersenyum dan mengangguk.
Dia kini memandang kapten Stone dan Professor Brian bergantian, lalu kemudian mengangguk dengan pelan
"Lakukan lah" ujar Kenzo
Semua wajah yang ada didalam sana kembali tegang. Apalagi saat Professor Brian mulai mengeluarkan serum itu dan memasukan nya kedalam alat suntik.
Alena memandang ngerih pada cairan yang bewarna merah pekat seperti darah itu. Jika yang bewarna merah muda saja sudah membuat nya sakit, bagaimana dengan yang ini????
Dokter Richard memandang Alena dan Kenzo bergantian. Ini adalah pilihan yang sulit, semoga usaha ini bisa berhasil, karena jika tidak, maka nyawa Alena tidak akan tertolong lagi.
Kenzo langsung naik keatas tempat tidur dan merangkul bahu Alena saat Professor Brian mendekat kearah mereka dan ingin menyuntikkan serum itu. Dia tidak akan membiarkan Alena merasakan kesakitan itu sendiri.
Suasana didalam kamar itu menjadi sunyi senyap, hanya debaran jantung mereka semua yang terdengar bergemuruh hebat. Bahkan karena tegang dan gugupnya, tangan Professor Brian tampak sedikit bergetar saat ingin menyuntikkan serum itu dilengan Alena.
Mata Alena langsung terpejam saat benda dingin dan runcing itu mulai menusuk kulit tipis nya. Kenzo meraih wajah Alena dan menyembunyikan nya kedadanya. Mereka semua begitu tegang melihat itu, dan terus memperhatikan ekspresi Alena.
Alena meringis saat perlahan lahan cairan itu mulai menyebar mengikuti peredaran darah nya.
Apalagi saat jarum itu dicabut, rasa sakit mulai merayap. Tangan nya yang berada didalam genggaman tangan Kenzo mulai bereaksi dan menggenggam erat tangan Kenzo. Bahkan semakin lama Kenzo dapat merasakan jika genggaman tangan itu semakin menguat.
Alena menarik nafasnya dalam dalam dan duduk dengan tegak. Wajah nya mulai memucat,.nafasnya juga mulai tersengal, bahkan keringat dingin sudah mulai merembes keluar. Karena sungguh, rasa sakit ini sama seperti ketika dia merasakan efek racun itu, bahkan lebih parah.
Alena memandang ayahnya yang nampak begitu sedih, dan kembali menoleh pada Kenzo yang masih memandang nya dengan lekat.
"Kau pasti kuat" bisik Kenzo begitu lirih
Alena mencoba tersenyum, namun genggaman tangan nya juga semakin menguat,.bahkan bukan lagi menggenggam melainkan meremas.
"Euugh" lenguh nya dengan nafas yang mulai terputus. Bahkan Alena sudah bergerak dengan gelisah sekarang. Matanya beberapa kali memejam dengan rapat, bahkan giginya menggeretak menahan rasa sakit yang semakin lama semakin menggigit.
"En.." panggil Alena yang sudah mulai mengejang dan menggeliat dalam rengkuhan Kenzo
"Aku disini Ale. Bertahan lah" pinta Kenzo terus menerus
Alena menggeleng pelan dengan mata yang terpejam kuat, dia merebahkan kepalanya di dada Kenzo dengan nafas yang benar benar sesak.
Dokter Richard sudah siaga dengan alat bantu pernafasan ditangan nya. Sedangkan kapten Stone tampak memalingkan wajahnya. Dia benar benar tidak sanggup dengan kesakitan Alena.
"En... " panggil Alena lagi. Air mata mulai keluar dari matanya. Bahkan keringat sudah membanjiri wajah dan tubuhnya.
Efek serum ini benar benar membuat Alena begitu merasakan sakit yang luar biasa.
"Bertahan lah sayang, kau kuat" bisik Kenzo
"Tolong.... tolong ..katakakan...." nafas Alena benar benar sesak dan begitu tidak berdaya,
"Tolong katakan kau... mencintaiku" pinta Alena dengan suara yang terputus putus.
Mata Kenzo terpejam pedih, sungguh demi apapun dia begitu sakit melihat Alena yang seperti ini
"Aku mencintai Alena...
"Aku mencintai mu...
"Sangat mencintaimu....
"Aaaahhh ....." teriakan Alena benar benar kuat, dia sudah tidak tahan lagi untuk menahan nya
"Alena aku mohon bertahanlah" pinta Kenzo yang masih berusaha menangkan Alena , namun Alena terus menggeliatkan tubuhnya menahan rasa sakit yang tidak terkira.
"Sakit En.....euugghhh" geram nya seraya semakin menggenggam tangan Kenzo, bahkan kuku nya sudah tertancap dikulit Kenzo sekarang
"Bertahanlah untukku. Aku mencintaimu Ale. aku mencintaimu" bisik Kenzo terus menerus
Alena terus menggelinjang hebat, bahkan semua orang tampak begitu tegang dan cemas melihat ini
"Proff, bagaimana ini?" tanya kapten Stone yang begitu tidak tega melihat putrinya kesakitan seperti ini.
"Berdoalah kapten,.serum nya sedang bekerja" kata profesor Brian yang tidak melepaskan pandangan nya pada Alena sejak tadi.
"Aaaahhh saakiit....." teriak Alena namun Kenzo juga terus menerus membisikan kata kata cinta ditelinga gadis itu. Seakan memberikan kekuatan agar Alena bisa bertahan
Cukup lama Alena menderita menahan sakit, hingga perlahan lahan dia mulai tenang dan hanya menyisakan nafas yang tersengal dan wajah yang pucat Pasih
"En..." panggil Alena begitu lemah, matanya sudah terpejam,.bahkan kepala nya tersandar didada Kenzo
"Aku disini Ale" ucap Kenzo seraya menahan tangis pedih nya
"Jangan pergi" bisik Alena
"Tidak akan" jawab Kenzo dengan cepat. Dan setelah mengatakan itu, Alena langsung terkulai lemah dan tidak lagi sadarkan diri dengan keadaan yang begitu memilukan.