
Matahari sudah keluar dari tempat peraduan nya, sinar jingga itu menyelinap masuk kedalam kamar dimana Alena masih tertidur dengan nyaman. Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi ini, bahkan udara juga sudah begitu terasa menyengat.
Alena mulai bergerak dan membuka mata nya yang masih begitu berat. Rasa kantuk benar benar mendera nya, mungkin karena dia tidur hampir pagi malam tadi.
Alena mengerjap ngerjapkan mata nya dan beralih melihat jam beker kecil diatas meja.
"Emmh sudah jam tujuh, kenapa cepat sekali" gumam Alena dengan suara yang terdengar begitu serak
Alena kembali memejamkan mata, namun tiba tiba dia terkesiap dan membuka mata nya dengan lebar. Tubuh nya langsung mengarah kesamping dimana tempat disebelah nya sudah kosong. Bukan kah malam tadi dia tidur bersama Kenzo, lalu kemana pria itu?
Alena langsung duduk dengan pandangan bingung, dia ingat benar jika malam tadi dia tidur dalam dekapan Kenzo yang juga tertidur bersama nya. Tapi pagi ini pria itu sudah menghilang lagi.
"Kemana dia, apa sudah pergi?" gumam Alena. Dia menyibakkan selimut dan berjalan menuju kamar mandi, membuka pintu dan melihat kedalam dimana kamar mandi yang ternyata juga kosong.
Alena menghela nafas kesal dengan wajah yang cemberut, dia kembali menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuh nya disana.
"Cepat sekali" ucap Alena begitu lesu. Mata nya menangkap sesuatu diatas meja, satu tangkai mawar merah yang dia dapatkan dari seorang badut yang mengajak nya menari malam tadi.
Senyum Alena langsung mengembang ketika ingat bagaimana mereka melalui malam yang penuh dengan kenangan indah. Menikmati pesta kembang api, berkeliling jembatan tua, mengikuti acara karnaval, dan yang pasti bisa melihat senyum dan tawa Kenzo yang begitu lepas. Apalagi bisa bermalam bersama pria itu, meski sekejap, namun Alena benar benar sangat bahagia.
Wajah Alena seketika merona saat mengingat apa yang dilakukan Kenzo malam tadi, dia langsung meraba bibir nya dengan wajah yang semakin berbinar dan merona. Rasa hangat dan lembut bibir seksi itu masih begitu terasa membuat dia menjadi salah tingkah sendiri. Tangan nya langsung menangkup kedua pipi nya dengan tawa kecil yang begitu geli, dia takut, tapi dia juga begitu menikmati.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu langsung membuat tawa Alena terhenti. Dia langsung memasang wajah datar kembali, jangan sampai karena kegilaan nya, rencana Kenzo menjadi berantakan.
Alena langsung berjalan menuju pintu, dia tahu itu pasti Lian yang mencari nya.
Alena langsung membuka pintu, dan benar saja Lian yang datang kekamar mencari nya, wajah gadis itu terlihat lega memandang Alena.
"Ah nona, ternyata anda, saya kira ada pencuri yang masuk" ucap Lian
"Pencuri" gumam Alena , dia kembali masuk kedalam kamar dan duduk ditempat tidur nya diikuti oleh Lian yang berdiri dihadapan Alena
"Pintu butik tidak terkunci, Jhon juga tidak nampak, saya kira ada pencuri yang masuk kedalam butik malam tadi. Tapi ternyata nona, kenapa nona tidur disini?" tanya Lian
Alena tampak terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus dikatakan nya pada Lian.
"Emm.... Aku merindukan suasana butik dimalam hari, jadi aku memutuskan untuk tidur disini, lagi pula butik tidak jauh dari rumah Clara" jawab Alena dengan senyum canggung nya, dia begitu bingung jika harus berbohong selalu, tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin jika dia bilang dia bermalam bersama Kenzo disini, apa kata dunia nantinya.
"Kenapa nona tidak mengabari saya, saya bisa menemani nona disini" ucap Lian lagi namun Alena segera menggeleng dan tersenyum manis menatap Lian
"Tidak apa apa aku hanya ingin sendiri" jawab Alena. Bagaimana mungkin mengabari, jika untuk memegang ponsel nya saja dia lupa semalam
"Semalam saya sudah berulang kali menghubungi nona, tapi nona tidak menjawab nya. Apa ponsel nona tertinggal?" tanya Lian lagi, namun Alena segera menggeleng
"Tidak, sejak tiba dirumah Clara aku memang tidak memegang ponsel hingga pagi ini, ponsel ku didalam tas" jawab Alena dengan wajah polos nya. Lian langsung menghela nafas panjang mendengar nya, membuat Alena memandang Lian dengan aneh
"Apa ada sesuatu?" tanya Alena dan Lian langsung mengangguk, apa nona nya ini lupa batin Lian heran
"Bukan kah saya sudah mengingatkan nona jika semalam sore Nona Rebecca akan datang dan ingin bertemu dengan nona" jawab Lian
Alena terlihat melebarkan mata dan menepuk sekilas dahi nya, dia benar benar lupa tentang itu
"Astaga Lian, aku benar benar lupa" sahut Alena begitu tidak enak
"Lalu bagaimana, pasti nona Rebecca kecewa" kata Alena lagi
"Saya bilang jika anda ada keperluan mendadak, namun dia bilang akan datang lagi pagi ini. Saya sudah khawatir jika nona juga tidak masuk hari ini, nona Rebecca terlihat begitu ingin bertemu dengan anda" ungkap Lian
"Maafkan aku Lian, aku benar benar lupa waktu semalam, kau tahu lah jika bersama Clara semua menjadi terlupakan" dalih Alena, padahal bukan hanya bersama Clara saja dia menghabiskan waktu semalam.
"Tidak apa apa nona, sebaik nya nona mandi dan bersiap siap, saya akan menyiapkan sarapan untuk anda. Saya rasa tidak lama lagi nona Rebecca akan datang" ucap Lian dan Alena langsung mengangguk
"Baiklah, terimakasih banyak Lian, dan maaf sudah merepotkan mu" sahut Alena yang langsung beranjak kekamar mandi setelah menepuk sekilas bahu Lian.
Lian menatap aneh nona nya itu. Dua hari ini Alena benar benar sudah ceria seperti dulu lagi, apalagi pagi ini, wajah nya benar benar berbinar cerah, seperti orang yang sedang jatuh cinta saja, fikir Lian.
Padahal memang iya, Alena sedang jatuh cinta untuk yang kesekian kali nya pada tuan Amerika dengan sejuta pesona itu. Jatuh cinta terus dan terus tanpa henti, apalagi ketika dia bisa menikmati hari bersama Enzo nya, Alena seakan mampu menyerahkan seluruh hidup dan mati nya pada seorang Kenzo Barrent.
Satu jam kemudian Alena sudah rapi dan terlihat begitu segar dengan tampilan kegemaran nya, dress pendek dengan warna cerah, secerah hati nya saat ini.
Alena menuruni anak tangga dengan begitu riang, bahkan dia terdengar benyanyi nyanyi kecil disana, membuat Lian dan karyawan nya lagi lagi saling pandang heran.
Alena berjalan kemeja kerja nya, dimana sudah ada segelas kopi dan apple pie kesukaan nya. Lian tahu saja dia memang sudah lapar, apa lagi hari memang sudah siang. Alena langsung meminum kopi dan memakan kue nya sembari memeriksa kembali catatan butik nya semalam. Meski dia sempat hiatus selama dua minggu, namun Lian dan karyawan yang lain mampu menghandle butik dengan baik.
Tidak lama setelah Alena menghabiskan sarapan nya, pintu butik terdengar terbuka, dan dapat Alena lihat seorang wanita cantik bertubuh tinggi dan sangat seksi masuk kedalam dengan gaya nya yang begitu anggun. Alena sampai membuka sedikit mulut nya melihat wanita itu. Lian terlihat menghampiri wanita itu dan menyapa nya dengan ramah.
Alena langsung berdiri saat Lian membawa wanita itu menuju meja nya.
"Nona, ini nona Rebecca yang ingin bertemu dengan anda" ucap Lian pada Alena
"Oh, halo nona, selamat datang dibutik kami" sapa Alena sembari menjulurkan tangan nya pada Rebecca yang tersenyum dan menjabat tangan Alena
"Terimakasih, saya begitu senang akhirnya bisa bertemu dengan anda setelah beberapa kali kemari" ucap Rebecca
Alena tampak tertawa canggung mendengar nya
"Maafkan saya nona, semalam sore saya ada keperluan terdesak yang tidak bisa ditinggalkan, maaf jika membuat waktu anda terbuang karena saya" kata Alena tak enak
"Tidak masalah, saya juga tidak begitu sibuk" sahut Rebecca dengan gaya nya yang begitu elegan
"Ah, ayo silahhkan duduk nona" ajak Alena menunjuk sofa didepan meja kerja nya. Rebecca hanya mengangguk dan berjalan menuju sofa, dia langsung menghempaskan bokong nya yang padat dan sintal disofa itu, Alena juga ikut duduk dihadapan wanita itu. Sedangkan Lian sudah pergi melakukan pekerjaan nya.
Alena melirik penampilan Rebecca yang benar benar sempurna sebagai seorang wanita. Kulit nya yang mulus, putih bersih dan tubuh nya yang begitu sempurna, membuat siapapun pasti akan jatuh hati pada wanita ini. Pantas saja Kenzo bisa dekat dengan Rebecca, jika penampilan nya memang sesuai dengan kriteria seorang Kenzo Barrent. Apalagi dengan pakaian yang kurang bahan seperti ini, dress ketat yang hampir menampakan seluruh kaki dan paha mulus nya. Ah, Alena tidak bisa membayangkan bagaimana penampilan nya jika dikantor, apa seperti ini juga? Jika iya, pasti mata Enzo nya sudah ternoda setiap hari.
"Nona Alena" panggil Rebecca. Alena langsung terkesiap dan memandang Rebecca yang menatap nya dengan heran
"Anda melamun?" tanya Rebecca namun Alena segera menggeleng dan berusaha tersenyum untuk menghilangkan fikiran kotor nya barusan.
"Bagaimana apa anda bisa membuat kan saya sebuah gaun malam yang pas untuk tubuh saya, saya dengar butik ini memakai rancangan yang mengikuti trend zaman sekarang namun juga tetap elegan" ungkap Rebecca.
Alena langsung mengangguk antusias. Lupakan masalah Kenzo, saat ini fikirkan nama baik butik nya terlebih dahulu.
"Tentu nona, anda bisa bilang pada saya gaun seperti apa yang anda inginkan, saya akan coba merancang nya sebaik mungkin" jawab Alena
"Tapi bisakah siap dalam waktu seminggu, saya ingin memakai nya untuk acara bergengsi diagensi nanti nya" tanya Rebecca. Alena langsung terkesiap kaget mendengar nya, seminggu? Mana mungkin bisa, apa lagi untuk sekelas Rebecca, pasti akan memakan waktu yang lama, salah sedikit bisa fatal akibat nya.
"Seminggu? Bagaimana bisa" gumam Alena pada Rebecca yang terlihat mendengus
"Saya dengar jika anda juga salah satu peserta yang mengikuti ajang di Agensi saya bukan. Jadi seharus nya anda tidak ragu untuk membuat gaun dalam waktu seminggu. Hanya gaun malam, dan saya juga tidak meminta yang rumit. Saya hanya ingin yang elegan dan berkelas, tentu nya pas ditubuh indah saya" ungkap Rebecca begitu angkuh. Alena begitu jengah mendengar nya.
"Saya hanya ingin tampil sempurna sebagai pendamping presdir, sebenar nya saya sudah memesan gaun ditempat lain, tapi belum ada yang pas, jadi saya ingin mencoba gaun dibutik anda" ungkap Rebecca lagi. Tentu saja Alena semakin tidak menentu hati nya mendnegar kata pendamping keluar dari mulut Rebecca. Hanya sekretaris tapi sudah seangkuh ini, batin Alena kesal
"Tapi bukankah presdir belum kembali?" tanya Alena yang sedikit melenceng dari topik pembicaraan
"Ya, meskipun dia belum kembali, tapi saya tetap harus tampil sempurna. Entah dimana dia sekarang, tapi saya berharap dia akan kembali ke agensi. Saya yakin dia hanya menghilang sebentar" jawab Rebecca
"Anda terlalu yakin nona" sahut Alena terdengar tidak suka, namun Rebecca hanya tertawa sinis sembari memainkan kuku kuku nya
"Saya sudah mengenal presdir sejak lama, hanya saya wanita yang bisa berada disamping nya. Jadi saya tahu bagaimana dia, dia orang hebat, dan tidak akan mungkin mati dengan mudah. Saya yakin dia akan kembali dan menemui saya suatu hari nanti" ungkap Rebecca begitu angkuh
'Cih, percaya diri sekali' batin Alena mulai kesal
"Apa anda menjalin hubungan dengan presdir?" tanya Alena, tangan nya saling meremas dibawah meja, jangan sampai dia membalik meja ini dengan jawaban Rebecca nanti
"Tidak" jawab Rebecca membuat Alena langsung bernafas dengan lega
"Tapi saya percaya, jika hanya saya yang akan menjadi pasangan nya nanti" lagi lagi Rebecca berbicara dengan senyum angkuh nya membuat Alena benar benar ingin membalikkan meja didepan nya sekarang. Wanita ini kenapa begitu menyebalkan, apa dia tidak tahu jika Alena adalah orang yang sudah dijanjikan hidup bersama oleh Kenzo. Sepertinya Rebecca terlalu banyak bermimpi.
Alena menarik nafas nya dalam dalam dan tersenyum terpaksa melihat Rebecca
"Ah iya, kenapa kita jadi membahas presdir. Lebih baik kita membahas bagaimana gaun yang anda inginkan" kata Alena, dia sudah muak melihat wanita ini, cantik, tapi tidak tahu diri. Lihat saja suatu hari nanti jika dia bisa menikah dengan Kenzo, Alena akan mentertawakan kesedihan nya.
"Oh benar juga, saya jadi lupa tempat jika membahas tentang presdir" jawab Rebecca dengan tawa kecil yang seperti disengaja, membuat Alena semakin terbakar hati nya.