ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Edward Yang Hampir Mati



Nyonya Monic memandang heran kedalam kamar Clara yang tampak kosong dan sepi. Hanya ada dua bayi yang sedang tertidur dengan begitu lelap diatas ranjang nya. Dan juga seorang pelayan pribadi Clara yang tertidur dikursi disamping ranjang.


Tapi Clara sama sekali tidak ada disana.


"Dimana Clara?" tanya Angel yang juga baru masuk kedalam kamar untuk melihat anak anak nya.


"Entah lah, tadi dia ada disini untuk menidurkan Michael dan Michella. Tapi kemana dia, apa kekamar mandi?" gumam Nyonya Monica yang segera masuk dan mendekati pelayan Clara yang terbangun dan terkesiap kaget melihat kedatangan mereka


"Nyonya" sapa pelayan itu


"Dimana Clara?" tanya nyonya Monic langsung


"Tadi nona bilang dia ingin keluar sebentar. Ada yang ingin dilihat nya. Sudah ada satu jam yang lalu" jawab pelayan itu


"Satu jam yang lalu" gumam nyonya Monic begitu heran. Hari sudah begitu larut seperti ini namun Clara malah pergi. Apa yang sedang dicari nya. Hati nyonya Monic langsung cemas memikirkan putrinya itu


"Mungkin dia memang ada keperluan nyonya" ucap Angel yang duduk diatas tempat tidur Clara. Dimana anak anak nya berada. Angel menduga jika Clara pasti kembali kemansion Kenzo. Tapi dia juga tidak tahu apa yang dilakukan nya disana. Apa dia melihat Alena?


"Anak itu memang terlalu liar" gumam nyonya Monica. Dia menoleh pada Angel dan Cristian yang sudah masuk kedalam kamar itu juga.


"Kalian bisa tidur disini saja Rose. Clara tidak akan pulang. Tapi jika ingin yang lebih luas saya sudah menyiapkan kamar disebelah" ujar Nyonya Monica.


Angel tersenyum dan menggeleng


"Tidak perlu nyonya, kami tidur disini saja. Terima kasih banyak" jawab Angel


"Jangan sungkan. Kalian beristirahatlah. Jika perlu sesuatu, kalian bisa memanggil pelayan disini. Mereka ada didepan untuk mengurus keperluan kalian" ucap nyonya Monica lagi


"Baiklah terimakasih" jawab Angel


Nyonya Monic tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian segera keluar bersama pelayan Clara. Meninggalkan Angel dan Cristian untuk beristirahat didalam kamar Clara. Kamar yang sepertinya memang sangat jarang ditempati oleh gadis itu.


Cristian langsung merebahkan dirinya dan mencium kedua anak nya dengan lembut.


"Jangan sampai mereka bangun Cris" ucap Angel yang juga ikut merebahkan dirinya disamping anak anak mereka. Dia juga sudah sangat lelah dan ingin sekali beristirahat. Sudah lama tidak bertarung dan mengerahkan seluruh tenaga nya, membuat tubuhnya benar benar terasa kaku dan sakit dibeberapa bagian. Atau karena pengaruh usia dan juga kemampuan yang sudah lama tidak dia asah?


"Tenang baby, tidur lah. Kau pasti lelah" ujar Cristian


"Ya, aku memang sudah sangat mengantuk" jawab Angel


Cristian tersenyum dan mengusap sekilas wajah Angel


"Kau pasti begitu bersemangat tadi. Aku benar benar takut kau terluka" ungkap Cristian


"Tidak akan. Bukankah aku sudah berjanji padamu" jawab Angel


"Aku tahu. Aku hanya khawatir. Aku berharap ini pertarungan kalian yang terakhir" pinta Cristian membuat Angel tersenyum dan mengangguk..


"Aku juga berharap begitu" balas Angel


...


Sementara dimansion Kenzo.


Clara tampak berjalan tergesa gesa melewati setiap lorong yang ada diruang bawah tanah.


Ruangan itu begitu sepi dengan suasana yang tampak temaram, karena lampu dibeberapa bagian tampak dimatikan oleh penjaga yang ada disana.


Clara menoleh kesana kemari mencari dimana keberadaan pria itu dirawat. Langkah kaki nya terdengar menggema melewati ruangan kosong yang ada disana.


Hati nya cemas, karena tadi dia belum sempat melihat keadaan pria itu. Pria yang selalu menjaga nya setiap waktu, namun kini dia malah tidak tahu bagaimana keadaan nya.


Untung saja Kenzo dan orang orang nya bisa mengatasi musuh yang masuk dan mencoba menyerang mereka. Clara benar benar takut jika mansion ini hancur dan mereka semua akan celaka. Fikiran bodoh nya sudah berfikiran yang tidak tidak tadinya.


Maka dari itu, setelah menidurkan anak anak Angel dan memastikan mereka aman dimansion utama, Clara langsung pergi lagi kemansion Kenzo. Dia mendapat kabar jika keadaan sudah membaik dan bisa dikuasai kembali. Jadi dia memutuskan untuk melihat keadaan Edward yang dirawat disini.


Langkah kaki Clara langsung terhenti dan dia hampir saja terjungkal kebelakang saat tiba tiba pintu ruangan terbuka dan memunculkan seseorang dengan pakaian serba putih nya ditempat yang gelap seperti ini. Orang itu memandang Clara dengan heran, namun sedetik kemudian dia langsung membungkukkan tubuhnya pada Clara yang tampak mendengus dan meraba dada nya yang hampir meledak


"Dokter Richard, kau mengejutkan ku saja" kata Clara kesal


"Maaf nona. Tapi sedang apa nona disini? bukan kah nona Alena sudah dipindahkan kemansion?" tanya dokter Richard dengan begitu heran


"Aku mau mencari Edward. Dimana dia?" tanya Clara langsung


"Tuan Ed" gumam dokter Richard. Ekspresi nya seketika berubah, dan Clara memandang nya dengan heran


"Dimana dia, kata kakak ku dia ada disini. Apa dia terluka parah?" tanya Clara lagi


"Tuan Ed, belum bisa dijenguk nona" jawab Dokter Richard. Wajah nya tampak merasa sedih, dan Clara semakin penasaran dengan itu. Apa yang telah terjadi pada Edward sebenar nya?


"Kenapa memang nya. Apa yang terjadi padanya? Kenapa pula tidak bisa dijenguk?" tanya Clara begitu menggebu . Bahkan dia terlihat seperti begitu mencemaskan pria itu, dan memang itu yang sebenar nya terjadi.


"Tuan Ed mengalami luka yang cukup parah. Tulang kaki nya patah, kepala nya cidera bahkan nyaris mengalami pendarahan diotak, dan juga luka tembak disekitar dada nya membuat kondisi tuan Ed saat ini masih belum stabil" ungkapan dokter Richard, langsung membuat Clara mematung dan terperangah tidak percaya.


Dia menggeleng pelan memandang dokter Richard. Separah itukah Edward. Apa yang sudah terjadi sebenarnya, kenapa dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


"Anda serius dokter? Separah itu?" tanya Clara kembali, berusaha untuk menepis rasa takut yang ada didalam hatinya.


Dokter Richard mengangguk dengan iba. Apalagi melihat wajah Clara yang tampak begitu terkejut dan bersedih


"Aku ingin melihat nya" pinta Clara. Namun dokter Richard langsung menggeleng


"Keadaan tuan Ed begitu lemah nona. Dia masih belum bisa dijenguk, detak jantung nya bahkan belum stabil" ungkap dokter Richard


"Aku mohon, aku tidak akan menganggu nya. Aku hanya ingin melihat nya sebentar" pinta Clara lagi. Bahkan kini matanya sudah berkaca


"Tapi nona" dokter Richard terlihat keberatan, karena memang kondisi Edward begitu buruk. Bahkan sudah sejak semalam saat Edward dibawa ketempat ini dia sudah tidak yakin jika pria itu akan selamat.


"Aku mohon dokter. Ayolah. Aku hanya ingin melihat" pinta Clara lagi.


Melihat wajah sedih Clara, dokter Richard menjadi tidak tega. Karena dia tahu, jika adik Kenzo ini memang orang yang paling dekat dengan Edward si pria batu itu sejak dulu.


"Tapi hanya sebentar nona. Anda juga tidak boleh berada terlalu dekat dengan dia. Keadaan nya benar benar lemah" ucap dokter Richard yang langsung memutar tubuh nya dan membuka pintu ruangan itu dengan lebar.


Clara tersenyum dan mengangguk. Dia langsung berjalan masuk kedalam ruangan tempat Edward dirawat. Namun belum berapa langkah kaki nya melangkah masuk, dia langsung dihadapkan dengan pemandangan yang benar benar menyakitkan mata dan hati nya. Bagaimana tidak, pria batu yang dia kenal sebagai pria yang paling menyebalkan didunia itu terlihat terbujur lemah dengan wajah pucat nya. Banyak selang dan alat alat yang terpasang diseluruh tubuh Edward. Dan sungguh, hati Clara benar benar tidak menentu sekarang. Apa ini Edward yang selalu melindungi nya dulu? Apa ini Edward si pria batu tanpa ekspresi berlebihan nya? Apa ini Edward yang selalu melindungi nya dari apapun? Tapi.... kenapa dia malah menjadi seperti ini. Seluruh tubuh nya penuh luka. Selang tertanam dihidung dan dimulut nya. Bahkan beberapa kabel juga terpasang didada nya.


"Edward" gumam Clara. Dan tanpa terasa, air mata mulai mengalir diwajah nya


"Saya tinggal nona. Berdoa lah, semoga tuan Edward bisa sadar kembali. Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana keadaan nya. Anda bisa lihat sendiri . Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan nyawanya " ungkap Dokter Richard yang segera berlalu keluar meninggalkan Clara disana.


Clara segera menggeleng pedih mendengar itu


"Tidak mungkin" gumam nya yang langsung berjalan mendekat kearah Edward yang terbaring begitu lemah. Langkah kaki Clara begitu lunglai melihat pria tangguh itu kini malah tidak berdaya. Kenapa Kenzo tidak memberi tahu nya sejak semalam, kenapa dia membiarkan Edward sendirian disini


Dan sungguh, Clara tidak bisa menahan laju air mata nya. Dia begitu sedih melihat keadaan Edward yang seperti ini. Meskipun Edward menyebalkan dan selalu membuat nya marah. Tapi bagaimanapun Edward adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya.


Sejak dia remaja, selalu Edward yang melindungi nya. Selalu pria itu yang memasang badan jika dia dimarahi oleh orang tua nya. Selalu Edward, dan Edward. Bagaimana mungkin dia tidak sedih melihat Edward yang seperti ini


"Ed...." panggil Clara begitu lirih. Sebisa mungkin dia menahan Isak tangis nya yang ingin sekali menangis meraung membayangkan bagaimana sakit nya alat alat itu menghujam tubuh kekar Edward


"Kenapa kau bisa terluka separah ini ha. Dasar bodoh" gumam Clara seraya mengusap kasar air matanya. Memandang Edward yang tetap diam. Hanya bunyi monitor pendeteksi detak jantung nya yang menemani Clara didalam sana.


"Bukan kah kau hebat. Tapi kenapa bisa terluka separah ini.... hiks" Clara mulai tidak bisa menahan Isak tangis nya. Dia langsung terduduk dikursi yang ada disamping ranjang itu


"Kalau kau terluka seperti ini, bagaimana dengan ku. Siapa yang akan menjagaku nanti" kata Clara yang menangis tertunduk seraya memegangi dadanya yang sesak karena tangisan nya


"Kak Ken sekarang sudah ada Alena. Lalu aku dengan siapa kalau kau pergi" ucap Clara lagi. Dia menangis tertahan dan kembali memandang Edward yang sudah seperti mayat hidup itu. Wajah batu yang biasanya begitu datar dan dingin, kini terlihat begitu lemah dan tidak berdaya.


"Kau pasti bangun kan Ed. Kau harus tetap hidup. Kalau kau mati aku tidak akan memaafkan mu" ancam Clara. Dia sudah seperti berbicara pada sebongkah mayat sekarang. Tapi sungguh, dia begitu takut jika Edward akan benar benar pergi. Edward sudah seperti kakak kedua baginya. Edward juga bagian terpenting dalam kehidupan nya setelah Kenzo.


"Ed....".panggil Clara. Tangan nya sedikit bergetar saat mengusap lengan kekar itu. Lengan kekar yang juga ada beberapa bekas luka disana


"Bangunlah. Aku takut melihat mu seperti ini" ucapan Clara begitu lirih ditengah tengah Isak tangis nya


"Aku... aku berjanji, aku tidak akan menyusahkan mu lagi. Aku berjanji akan selalu menjadi gadis yang baik dan tidak merepotkan mu lagi. Tapi kau harus bangun" pinta Clara yang langsung merebahkan kepala nya diatas lengan Edward. Dia menangis menumpakan kesedihan nya dibalik lengan Edward. Clara bahkan melupakan perkataan dokter Richard yang tidak memperbolehkan nya terlalu dekat dengan Edward. Tapi siapa yang bisa menahan perasaan jika melihat orang yang paling dekat dengan mereka seperti ini. Begitu menyedihkan.


"Bangun lah, aku mohon. Aku janji akan menuruti semua perkataan mu, aku janji tidak akan melawan mu lagi. Aku janji Ed" ucap Clara


Bahu nya bergetar naik turun, tangisan nya semakin menjadi. Pertemuan terakhirnya dengan Edward adalah ketika dipantai beberapa hari yang lalu. Dihari itu, Edward terlihat seperti seorang pria yang menjaga wanitanya. Bukan seperti biasa, yang selalu menganggap Clara sebagai adik kecilnya. Dan itu benar benar masih Clara ingat.


Clara masih menangis dibalik lengan nya. Tidak tahu kenapa hatinya benar benar sedih melihat Edward yang seperti ini.


"Bangun Ed...." pinta Clara lagi


Namun tiba tiba dia terkesiap saat sebuah tangan menepuk pundak nya dengan pelan namun terasa lemah


Clara mendongak dan menoleh kearah tangan siapa yang ada dipunggung nya itu


Mata Clara yang basah tampak melebar, saat tahu jika tangan itu adalah tangan milik Edward


"Ed,....kau ...kau bangun" ucap Clara dengan senyum yang merekah disela sela sisa sesunggukkan nya


"Kenapa menangis?" tanya Edward begitu lemah


"Huaaaaaa.... dasar bodoh, kau membuat ku takut." teriak Clara yang langsung beranjak dan memeluk tubuh Edward dengan erat. Hati nya benar benar lega melihat Edward yang sudah sadar. Dia benar benar takut jika Edward pergi dan meninggalkan nya. Mereka sudah cukup dekat dan dia tidak akan sanggup kehilangan orang terdekatnya


"Nona...".panggil Edward yang masih terdengar seperti gumaman saja


Clara masih betah memeluk nya tanpa menghiraukan wajah Edward yang meringis sakit.


"Kau harus sembuh, kau tidak boleh terluka lagi" pinta Clara yang sudah melepaskan pelukan nya dari Edward.


Edward mengangguk pelan dan memandang wajah cantik yang basah dan dipenuhi oleh kecemasan. Dia begitu bahagia, saat ketika membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah cantik Clara.


"Anda mengkhawatirkan saya" tanya Edward


"Dasar bodoh, tentu saja" ucap Clara kesal seraya menampar sekilas lengan Edward, membuat pria itu langsung meringis sakit karena rasanya seluruh tubuh dan kepala nya memang benar benar sakit.


Clara terkesiap dan kebingungan


"Aah Ed, sakit ya. Maaf aku ... aku tidak sengaja" sahut Clara seraya mengusap lengan Edward yang menggeleng pelan dan kembali memejamkan matanya membuat Clara kembali cemas


"Ed ..." panggil nya lagi. Namun Edward masih diam saja


"Ed....".panggil Clara sekali lagi seraya mengusap wajah tampan itu , mata nya kembali berkaca kaca. Apa Edward pingsan lagi, seharusnya tangan nya ini bisa dikondisikan dan tidak membuat Edward kesakitan.


Namun Clara langsung menghela nafas lega saat melihat mata Edward yang kembali terbuka. Namun dia sedikit terkesiap saat tangan nya diraih oleh Edward dan digenggam dengan lembut


"Saya tidak apa apa nona. Jangan khawatir" ucap Edward seraya membawa tangan Clara kedadanya, menggenggam nya dengan lemah diatas dada nya, seakan itu adalah sebuah obat untuk rasa sakit yang dia rasakan


"Ed..." lirih Clara


"Bisakah temani saya disini" pinta Edward


Clara langsung mengangguk pelan memandang wajah itu. Wajah yang untuk pertama kali nya tersenyum, meski tipis, namun Clara tahu jika senyum itu benar benar.....indah