
Alena menggandeng lengan Reymond mengitari pusat perbelanjaan yang lumayan besar dan mewah itu. Hari ini pengunjung lumayan ramai dan Alena begitu menikmati nya. Sejak dia berada diNewyork, baru kali ini dia pergi ketempat ramai seperti ini. Biasa nya dia hanya pergi kepantai atau ketaman kota.
Dan saat ini dia ingin menikmati waktu yang belum pernah dia rasakan sebelum nya.
Alena dibawa Reymond mengitari toko toko perhiasan yang berjejer rapi dan menampakan jejeran perhiasan mulai dari perak, emas, berlian dan permata yang berkilau indah dan sangat menyejukan pandangan semua kaum hawa. Alena bahkan tersenyum dengan wajah yang berbinar, untuk seumur hidup nya baru kali ini dia melihat setumpuk perhiasan yang sangat menyilaukan mata. Sejak kecil dia tidak pernah pergi ketempat seperti ini, namun sekarang dia baru tahu jika tempat ini benar benar menggugah jiwa kewanitaan nya.
Reymond membawa Alena kesalah satu toko perhiasan. Ada kalung dan gelang yang dipajang dengan indah didalam etalase. Seperti nya semua nya terbuat dari berlian dan batu permata. Alena menoleh pada Reymond yang terlihat begitu serius memilih milih barang yang ada disana. Hingga seorang pegawai toko datang dan menyapa mereka dengan begitu ramah.
"Ada yang bisa saya bantu tuan" sapa pegawai itu dengan senyum yang sangat lebar, seperti nya dia begitu senang melihat Reymond
"Hmm, aku mau melihat yang itu dan ini" tunjuk Reymond pada dua gelang
Pegawai itu dengan sigap mengambil barang yang ditunjuk oleh Reymond dan meletakan nya dihadapan mereka. Reymond terlihat bingung memilih, namun dia mengambil satu gelang yang berhiaskan butiran berlian dan sebuah batu permata merah ditengah nya. Terlihat sederhana namun cukup manis dan sangat indah. Dia mengarahkan nya pada Alena yang tampak bingung
"Bagaimana?" tanya Reymond pada Alena
"Bagus dan sangat indah" jawab Alena yang juga menatap kagum gelang berlian yang masih ada didalam kotak nya
"Kau suka?" tanya Reymond lagi dan Alena tentu saja langsung mengangguk
"Baiklah aku mau yang ini saja" ucap Reymond pada pegawai toko
"Pilihan yang bagus tuan, gelang ini adalah keluaran terbaru dari perusahaan, dan hanya ada beberapa yang dproduksi itupun dengan desain yang berbeda" ungkap pegawai itu, namun Reymond hanya mengangguk saja dan kembali menoleh pada Alena
"Kemarikan tangan mu" pinta Reymond, namun belum lagi Alena bertanya dia sudah meraih tangan Alena dan memasangkan gelang itu ditangan nya. Reymond langsung tersenyum karena memang gelang itu begitu indah dan cocok dipakai oleh Alena
"Sangat cantik dan pas" gumam Reymond
"Ini untuk ku?" tanya Alena menatap Reymond yang langsung mengangguk dan tersenyum
"Ya, ini pemberian pertamaku, kau harus menjaga nya dengan baik" ucap Reymond dan Alena langsung mendengus senyum. Dia memandang gelang ditangan nya yang memang sangat cantik, tentu saja Alena akan menjaga nya, dia sangat senang diberi hadiah ini, yang pasti harga nya juga mahal.
"Tentu saja, terimakasih" jawab Alena dengan senyum manis nya
"Sekarang pilihlah apa yang ingin kau beli" kata Reymond lagi, namun Alena malah menatap nya dengan bingung
"Untuk apa, sudah ada ini" kata Alena memandang heran Reymond yang menggeleng
"Itu kan pilihan ku, kau bisa memilih yang lain" ucap Reymond lagi
"Benar nona, masih banyak pilihan lain yang sangat sesuai dengan kriteria anda" sahut pegawai itu pula, namun Alena langsung menggeleng dan tersenyum menatap nya, dia kembali menoleh pada Reymond
"Ini sudah cukup kak" kata Alena lagi
"Kau bisa memilih yang lain, kalung misal nya" tawar Reymond
"Tidak, aku sudah ada kalung pemberian Enzoku" jawab Alena sembari memperlihatkan kalung dileher nya
"Kalau begitu cinciin" tawar Reymond lagi, namun lagi lagi Alena menggelengkan kepala nya
"Aku hanya akan memakai cincin pernikahan saja nanti" jawab Alena dengan tawa kecil nya, namun wajah Reymond malah terlihat sendu, membuat Alena langsung menghentikan tawa nya
"Kak, ada apa. Aku benar benar tidak butuh yang lain, gelang ini sudah cukup" kata Alena langsung, dia menjadi merasa bersalah melihat wajah sendu Reymond, namun dia juga tidak ingin mengambil yang lain.
"Aku tidak terlalu suka memakai perhiasan, jangan marah" kata Alena dengan wajah memelas nya, namun Reymond langsung tersenyum dan mengusap pelan pucuk kepala Alena
"Jadi hanya ini saja?" tanya Reymond dan Alena langsung mengangguk
Alena hanya diam dan memandang Reymond yang tengah menyelesaikan pembayaran gelang nya. Tidak tahu apa yang salah, tapi ekspresi wajah kakak nya berubah sekarang.
"Ayo" ajak Reymond yang mengusap sekilas bahunya, Alena sedikit terkesiap namun segera mengangguk dan mengikuti langkah nya mengitari tempat lain.
Sepanjang jalan Reymond masih diam saja, bahkan wajah nya masih terlihat muram, Alena benar benar merasa tidak enak, apa Reymond kecewa karena Alena telah menolak tawaran nya tadi.
"Kak" panggil Alena dan Reymond langsung menoleh kearah nya
"Apa kakak marah?" tanya Alena dengan wajah sedih nya, dia menyangka jika Reymond marah karena dia menolak tawaran nya tadi, tapi Reymond malah berfikiran lain
"Marah kenapa ?" tanya Reymond heran
"Marah karena aku tidak mau menerima tawaran kakak tadi" jawab Alena dengan wajah polos nya
Reymond terlihat menghela nafas nya dengan berat, seperti nya Alena tidak mengerti apa yang dirasakan nya. Reymond membawa ALena kesebuah kursi panjang yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Alena duduk dan langusng memandang Reymond yang juga duduk disamping nya
"Alena" panggil Reymond"Aku bukan marah karena kau menolak tawaran ku, aku tidak sepemaksa itu sayang" kata Reymond lagi
"Lalu kenapa?" tanya Alena yang masih belum mengerti
"Aku hanya sedih, sampai sekarang kau masih begitu mengharapkan Kenzo kembali, aku benar benar takut kau akan terluka jika Kenzo tidak kembali. Sudah tiga minggu lebih Ale, bahkan daddy dan orang orang nya belum menemukan jejak Kenzo sama sekali" ungkap Reymond menatap sendu wajah Alena.
Alena sedikit terperangah mendengar penuturan Reymond, dia langsung berdehem dan menundukan kepala nya. Ternyata kakak nya sedang mengkhawatirkan perasaan nya. Memang apa yang sudah dia katakan tadi. Alena berfikir sejenak, dan dia terlihat menghela nafas nya dengan kasar saat mengingat jika dia memang telah salah bicara tentang cincin pernikahan tadi. Reymond pasti berfikir jika dia adalah seorang gadis yang begitu menyedihkan dan begitu mengharapkan kehadiran Kenzo yang sudah menghilang hampir tiga minggu ini.
"Alena" panggil Reymond lagi, membuat Alena sedikit terkesiap dan menatap getir kearah kakaknya
"Jangan terlalu berharap banyak Ale, aku tahu ini pasti berat, tapi tidak bisakah kau merelakan nya" pinta Reymond. Dan Alena langsung menggeleng dengan senyum terpaksa
"Dia pasti kembali kak" jawab Alena begitu yakin
"Ini sudah hampir tiga minggu Alena" sahut Reymond
"Aku akan terus menunggu nya sampai kapanpun, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan untuk seumur hidup ku" jawab Alena membuat Reymond tertunduk dan menghela nafas berat
"Kak, percayalah aku sudah bahagia, aku bahagia bisa berkumpul dengan kalian, memiliki daddy dan kakak yang sangat menyayangiku, yang selalu menghiburku disaat aku sedih dan aku sudah bahagia. Dan masalah Kenzo, aku percaya dia akan kembali, dan jika tidak kembali maka aku harus cukup bahagia meski hanya hidup bersama kenangan nya saja" ungkap Alena
"Ale" Reymond terlihat menggelengkan kepala nya namun Alena malah tersenyum dan menggenggam tangan Reymond dengan lembut
"Kak, aku sudah tidak apa apa. Percayalah. Aku percaya jika dia takdirku, dia pasti akan kembali" sahut Alena
"Bagaimana jika tidak kembali" tanya Reymond membuat Alena langsung terdiam dengan denyut jantung yang terasa menghantam dada nya. Ya, bagaimana jika Kenzo tidak kembali, Alena tahu jika Kenzo masih ada diantara mereka sekarang, tapi dia juga tahu jika pria itu masih harus menyelesaikan misi berbahaya yang menyangkut nayawa dan keselamatan nya. Bagaimana jika Kenzo celaka, bagaimana jika dia akan benar benar menghilang bukan hanya sandiwara seperti sekarang. Alena memang tidak bisa membayangkan jika itu terjadi.
Alena langsung menggeleng dan memaksa kan senyum nya, dia kembali menoleh pada Reymond yang masih menatap nya dengan lekat
"Dia pasti kembali kak. Dan jika tidak kembali, maka aku akan terus menunggu nya untuk seumur hidupku. Hanya dia obat dari segala rasaku, dia yang membuatku bertemu kalian, dia yang membuatku untuk tetap bertahan hidup. Aku hanya menganggap jika dia sedang pergi dan pasti akan kembali. Aku akan menunggu nya kembali meski waktu tidak ada lagi untuk kami bersama" ungkap Alena begitu dalam
"Aku sudah tidak apa apa, aku sudah mulai membiasakan diri untuk tidak bersedih lagi. Tolong jangan mengungkap nya lagi. Anggap tidak terjadi apapun padaku" pinta Alena
Reymond tertegun sejenak, namun dia langsung mengangguk dan memaksakan senyum nya, dia tahu ini pasti berat, dan tidak seharus nya dia membuka kembali luka hati Alena
"Baiklah, maafkan aku" ucap Reymond yang langsung menarik Alena kedalam pelukan nya, memeluk nya dengan erat dan mencium sekilas pucuk kepala adik nya itu
"Bukan kah kita kemari untuk bersenang senang, sebaiknya sekarang kita lanjut jalan jalan lagi" kata Alena. Reymond langsung melepaskan pelukan nya dan menatap Alena dengan tawa kecil nya
"Kau benar, padahal tadi aku yang ingin menenangkan hati. Ayo kita kebawah" ajak Reymond yang berdiri dan menjulurkan tangan nya pada Alena. Alena langsung tersenyum dan menggapai tangan reymond.
Mereka berjalan kembali kelantai bawah dimana stand pakaian dan makanan cukup banyak disana.
"Ada ice cream yang cukup enak, kau mau?' tawar Reymond menunjuk sebuah stand ice cream didepan mereka. Alena langsung mengangguk sumringah melihat nya, sudah lama dia tidak makan ice cream
"Kenapa ramai sekali?" tanya Alena melihat antrian yang cukup panjang
"Ice cream disini cukup enak, maka dari itu peminat nya juga banyak" jawab Reymond yang berbaris dibelakang antrian
"Kakak pernah kesini?" tanya Alena dan Reymond langsung mengangguk
"Bersama siapa?" tanya Alena lagi
"Teman teman ku" jawab Reymond, namun pandangan nya kembali meredup menatap stand ice cream itu
"Clara?" ucap Alena dan Reymond langsung mendengus senyum dan mengangguk kembali
"Hmm, selera nya sama dengan selera mu" jawab reymond
"Kakak hanya berdua kemari?" tanya Alena lagi
"Beberapa kali, tapi lebih sering bersama teman yang lain" jawab Reymod dan Alena hanya mengangguk dan tersenyum tipis penuh makna
"Sebaik nya kau tunggu saja disana, biar aku yang menunggu disini" ucap Reymond menunjuk sebuah kursi tunggu yang diisi oleh beberapa orang.
Alena hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Reymond yang mengantri ice cream untuk nya.
Alena duduk dikursi dengan helaan nafas lelah, dia memandang kosong kearah Reymond yang berdiri disana.
Terkadang Alena berfikir jika hidup nya memang dipenuhi oleh masalah. Dulu dia berfikir jika Mike tiada, hidup nya pasti akan bahagia, tapi kenyataan nya, meskipun Mike telah tiada namun dia belum bisa bahagia sepenuh nya. Dia belum bisa bersama Kenzo, karena pria itu masih belum bisa keluar dan memunculkan diri dihadapan publik demi misi nya, dan tentu saja Alena yang merasa bersalah karena harus ikut membohongi orang orang terdekat mereka.
Terkadang, Alena sempat berfikir jika dia ingin membuat Kenzo tidak lagi menggeluti dunia mafia nya, meski Alena tidak tahu seberapa bahaya dan bagaimana dunia mafia itu, tapi Alena hanya ingin Kenzo menjadi orang biasa, menjadi tuan Amerika dengan sejuta pesona yang tidak bergelut dengan kekerasan lagi. Tapi bagaimana mungkin, bahkan Alena belum pantas untuk meminta apapun dari pria itu karena sampai sekarang Alena tidak tahu bagaimana perasaan Kenzo pada nya.
Lamunan Alena langsung buyar saat tiba tiba dia mendengar suara Reymond yang sedang memarahi seseorang disana. Alena langsung beranjak dan sedikit berlari mendekati Reymond, tidak tahu apa yang terjadi tapi seperti nya pria itu benar benar marah.
Dapat Alena lihat jas kerja Reymond kotor dengan noda ice cream, dan benar saja satu ice cream cokelat sudah jatuh berceceran diatas lantai.
Alena langsung menoleh pada wanita dihadapan Reymond, dan dia begitu terkejut saat melihat siapa orang itu.
"Joice" ucap Alena dengan mata yang sedikit melebar
"Nona" sapa Joice yang sedikit membungkukan tubuh nya pada Alena. Dan dapat Alena lihat jika baju kaus bagian dada Joice juga terkena noda ice cream
"Apa yang terjadi?" tanya Alena menatap kakak nya dan Joice bergantian
"Kalau jalan itu pakai matamu, kau lihat jas mahal ku jadi kotor seperti ini" gerutu Reymond pada Joice yang hanya melengos angkuh
Alena terlihat bingung melihat mereka, seperti memendam dendam pribadi saja. Dia langsung mengeluarkan sapu tangan nya dari dalam tas dan menoleh pada Joice yang terlihat celingukan memandang kesegala arah
"Apa yang sedang kau cari Joice?" tanya Alena dan Joice langsung menoleh kearah nya
"Saya sedang mengejar seseorang, tapi tuan Reymond menghalangi jalan saya nona" jawab Joice melirik sekilas kearah Reymond yang tampak mendengus gerah
"Kau yang berlari tidak tentu arah, sudah jelas disini ramai orang,matamu saja yang buta" ketus Reymond. Dapat Alena lihat jika kakak nya benar benar tidak menyukai gadis ini, bagaimana mungkin daddy nya bisa menjodohkan mereka, apa jadi nya nanti
"Nona, saya permisi dulu" kata Joice yang hendak berlalu namun segera ditahan oleh Alena
"Eeehhh tunggu dulu, bersihkan dulu jas kakak ku, jika tidak dia tidak akan diam, ini!" ucap Alena sembari menyerahkan sapu tangan nya pada Joice yang terlihat melebarkan mata nya
"Alena kau" seru Reymond tertahan
"Tapi nona" protes Joice namun Alena hanya acuh dan mengambil ice cream dari tangan Reymond dan tersenyum penuh makna
"Aku tunggu disana" kata Alena lagi sembari mengedipkan sebelah mata nya pada Reymond yang terlihat kesal.
Alena tertawa geli mendengar gerutuan Reymond disana, dia menikmati ice cream nya dan berjalan kembali ketempat duduk tadi.
"Bagaimana mungkin anjing dan kucing bisa bersatu. Daddy ada ada saja" gumam Alena.
Dia kembali menikmati ice cream nya, namun tiba tiba dia terkesiap saat sebuah tangan menarik nya dengan kuat membuat Alena langsung terhempas dan masuk kedalam rangkulan seseorang. Orang itu langsung membawa Alena pergi menjauh dari tempat Reymond dan Joice yang masih saling berdebat.