
Alena duduk termenung didepan tv yang ada dikamar nya. Butik nya sudah tutup, dan semua karyawan nya sudah pulang ketempat masing masing, begitu juga dengan Lian. Kini hanya tinggal dia sendiri yang berada digedung itu, ditemani oleh Jhon yang setia berjaga diluar bersama Pras teman nya.
Alena masih memikirkan perkataan Clara siang tadi, rasa nya benar benar tidak yakin, tapi perasaan nya ingin sekali menyetujui permintaan Clara.
Dia juga tidak menyangka teman sekaligus sahabat nya itu adalah adik dari pria yang disukai nya. Dunia benar benar sempit, batin nya.
Alena menghembuskan nafas nya dengan kasar. Kaki nya duduk bersila dengan siku yang bertumpu dilutut dan telapak tangan yang menyangga wajah nya yang terlihat lesu, bingung dan aneh.
Flash back
"Alena ku mohon, bantu aku memperbaiki hati kakak ku, aku yakin kau pasti bisa. Hanya kau yang bisa mendekat pada nya" pinta Clara dengan wajah memelas nya
"Kau gila Clara. Aku memang menyukai nya, tapi aku tidak punya nyali untuk mendekati nya. Dia seperti robot, sangat kaku dan tidak tersentuh. Bagaimana mungkin aku bisa mengambil hati nya" sahut Alena frustasi
"Ale, ayolah tolong aku. Aku sedih melihat nya seperti itu terus. Aku ingin dia move on, aku sangat mendukung mu jika kau yang menjadi kakak ipar ku" kata Clara antusias membuat semburat merah langsung terpancar diwajah cantik Alena
"Cla, perasaan itu tidak bisa dipaksakan, jatuh cinta itu bukan sekedar bisa dekat dan suka saja. Cinta itu berbeda Cla, walaupun aku bisa dekat dengan nya belum tentu dia bisa mencintaiku" tolak Alena
"Kita belum tahu jika tidak mencoba nya Ale" kata Clara lagi membuat Alena mendengus lelah
"Tidak Cla, maafkan aku. Aku tidak ingin berusaha mengambil hati nya." Tolak Alena lagi
"Ale please" pinta Clara lagi, dan kali ini dengan wajah memelas membuat Alena tidak tega, tapi dia juga tidak mungkin berbuat nekad, dia tahu luka dihati Kenzo tidak akan bisa sembuh hanya dengan gadis seperti nya. Gadis yang memiliki segudang masalah dalam hidup nya.
"Cla, kau tahu, ketika aku berusaha mendekati nya untuk membuat nya mencintaiku, maka aku harus bersiap untuk sakit hati kan, aku sudah jelas dan pasti jatuh cinta pada nya, bahkan cinta mati, tapi jika aku gagal membuat nya mencintaiku, apa yang aku dapat. Cla, kau tahu, aku masih terus membatasi hatiku agar tidak lebih menyukai nya dari pada sekarang, karena aku takut hatiku yang akan terluka nanti nya. Dan aku belum siap untuk itu" ungkap Alena panjang lebar, begitu lembut dan terasa dari hati, membuat Clara tertegun dan menundukan wajah sendu nya.
Ya, dia begitu berharap ada seseorang yang mengembalikan senyum kakak nya, tapi tidak terpikirkan resiko yang terjadi jika Alena gagal nanti nya
"Maafkan aku Cla, tapi aku berjanji akan selalu ada didekat nya, dan membuat nya tersenyum lagi" kata Alena lagi membuat Clara tersenyum dengan mata yang berkaca kaca dan langsung memeluk Alena
"Terimakasih Alena, kau memang yang terbaik" jawab clara
Flashback off
Alena meraih tas sandang nya dan turun kebawah. Dia ingin mencari angin saja saat ini. Mata nya benar benar tidak mengantuk meski tubuh nya lelah.
Dilihat nya jam dipergelangan tangan nya masih menunjukan pukul 10 malam waktu setempat.
"Jhon, aku keluar sebentar" kata Alena pada Jhon yang sedang berbincang dengan Pras
"Baik nona, hati hati" balas Jhon . Alena hanya mengangguk dan tersenyum kemudian berlalu dari hadapan kedua security itu.
Langkah kaki nya mantap menyusuri jalanan didaerah butik nya itu. Dia ingin berjalan jalan sembari keminimarket untuk mencari cemilan nya yang telah habis.
Minimarket itu sedikit jauh, namun Alena malah menikmati perjalanan malam nya. Tidak ada yang mencurigakan awal nya, tapi ketika dia melewati sebuah lorong gedung yang gelap, tubuh nya langsung terjatuh dan terhempas dengan kuat diatas jalanan karena ditabrak oleh seorang pria yang tidak dikenal nya.
Pria itu tanpa rasa bersalah langsung berlari kembali meninggalkan Alena yang berdecak kesal. Wajah pria itu seperti ketakutan dan kebingungan.
"Hei kau!!!" Teriak Alena kesal , dia langsung beranjak dan membersihkan tubuh sebelah kanan nya yang sedikit berdebu, dan meringis sakit karena bagian siku nya memar dan seperti nya terluka. Namun dari arah gedung itu dia kembali melihat beberapa orang berlari kencang membuat Alena mengernyit heran dan seketika dia merasa takut.
Dan ditengah rasa takut nya seorang pria bertopeng menarik tangan nya dan membawa nya menjauh dari tempat itu
"Hei lepaskan aku" teriak Alena memberontak kesal dan begitu takut, namun tubuh nya tidak bisa lepas dari pria itu yang terus menarik tangan nya menjauh kesuatu tempat yang lebih sepi dan aman.
Setelah beberapa saat pria itu langsung melepaskan tangan Alena yang memerah karena cengkraman nya. Alena meringis sakit, namun ketika melihat pria itu dia sedikit terkesiap dan menatap tajam wajah yang tertutup di topeng itu.
"Enzo?" Pekik Alena terkejut, namun pria itu tak banyak bereaksi, hanya menaikan sedikit alis nya saja.
"Kau mengenalku?" Tanya Kenzo sedikit takjub membuat Alena berdecak kesal. Kenapa gadis ini selalu bisa mengenali nya
"Dasar gila, tentu saja aku mengenal mu. Kenapa kau disini, dan kenapa juga memakai topeng?" Tanya Alena sembari melihat siku nya yang banyak mengeluarkan darah
"Kau terluka?" Tanya Kenzo tanpa memperdulikan pertanyaan Alena. Dia lebih fokus pada luka yang membuat Alena meringis sakit
"Hmm, seorang pria menabrak ku" gumam nya sembari mengeluarkan tisu dari dalam tas nya. Dan Kenzo langsung merebut tisu itu dari tangan Alena yang sedikit terkesiap namun langsung tersenyum saat Kenzo mengusap pelan darah yang mulai merembes itu
Kenzo membawa Alena duduk disebuah kursi panjang yang terletak dipinggir jalanan yang telah sepi dari para pejalan kaki
Dengan telaten dia membersihkan luka Alena namun tetap dengan wajah datar nya
"Mereka tadi siapa?" Tanya Alena sembari menatap lekat wajah tampan nan mempesona dibalik topeng itu.
Jarak mereka terlalu dekat hingga membuat degup jantung Alena berirama dengan merdu. Selalu saja seperti itu, bahkan semakin lama Alena tahu jika detak jantung ini hanya berdetak kencang untuk Kenzo.
"Tidak tahu" jawab Kenzo singkat
"Mustahil kau tidak tahu. Lalu sedang apa kau disana, memakai topeng pula?" Tanya Alena menatap curiga Kenzo yang juga menatap nya
"Bukan urusan mu" jawab nya angkuh membuat Alena berdecak kesal
"Hei, jangan bilang kalau pekerjaan mu adalah seorang penjahat, atau jangan jangan kau seorang pencuri ya, maka dari itu kau memakai topeng seperti ini, dan pasti kecelakaan mu waktu itu karena kau yang sedang melarikan diri dari kejaran polisi" tuduh Alena menatap sinis Kenzo yang begitu kesal mendengar tuduhan Alena. Pria tampan dengan berjuta pesona dan dikagumi oleh seluruh penduduk bumi itu malah dituduh penjahat dan pencuri oleh Alena, sungguh sangat menjatuh kan harga diri seorang Kenzo Barrent
Cletak
"Auuuhh" teriak Alena kesal saat Kenzo menjentik dahi nya
"Jangan asal berbicara" ketus Kenzo begitu kesal
"Aku bukan asal berbicara, kau ada ditempat seperti ini, dengan penampilan seperti ini, celana jeans, jaket kulit, semua serba hitam, juga memakai topeng , lalu apa kalau bukan seorang penjahat. Kau juga punya banyak uang, bukan salahku yang mengira kau itu pencuri" ungkap Alena membuat Kenzo berdecak kesal namun merasa lucu karena kepolosan Alena.
Sungguh benar kata Clara, Alena adalah gadis yang benar benar polos, sudah hampir dua bulan berada dinewyork tapi dia sama sekali tidak tahu siapa nama orang yang paling dikenal oleh semua orang dikota ini.
"Sudah lah. Kau terlalu banyak bicara. Sebaik nya kau kembali kebutik mu, untuk apa kau keluar malam malam begini" gerutu Kenzo membuat Alena mengerucutkan bibir nya
"Bukan urusan mu" ketus Alena membalas perkataan Kenzo membuat pria itu langsung tersenyum tipis dalam kegelapan malam
"Aku lapar , maka dari itu aku keluar" jawab Alena
"Kau bisa menyuruh security itu kan" kata Kenzo lagi
"Tidak mau, tidak enak. Aku lebih suka mencari keinginan ku sendiri" jawab Alena membuat Kenzo mendengus
"Dasar keras kepala" gerutu Kenzo
"Biar saja" sahut Alena namun dia terlihat mengulum bibir nya melihat wajah kesal Kenzo
Kenzo berdiri dari duduk nya dan memperhatikan sekitar nya membuat Alena menatap aneh kearah nya
"Kau mau kemana?" Tanya Alena saat Kenzo mulai melangkahkan kaki nya.
Kenzo menoleh kearah nya sekejap
"Aku harus pergi, kau kembalilah ketempat mu" jawab Kenzo
"Kau sudah membawa ku pergi sejauh ini, dan sekarang kau menyuruh ku kembali sendirian. Memang keterlaluan, lalu apa beda nya saat ini dan tadi, aku juga akan celaka" gerutu Alena namun Kenzo hanya terdiam dan pergi meninggalkan Alena, membuat Alena mendengus kesal
Dia langsung beranjak dan berjalan dengan perasaan kesal karena sikap dingin Kenzo yang mendarah daging.
Wajah nya menekuk kesal dan bibir nya menggerutu terus menerus
"Bagaimana aku bisa mengambil hati nya. Belum dimulai saja aku sudah kesal setengah mati" kesal Alena
Dia seketika bergidik ngeri saat melihat jalanan didepan nya sudah benar benar sepi. Kenzo membawa nya berlari terlalu jauh hingga dia tidak dapat melihat gedung butik nya dari sini.
Langkah kaki Alena mulai meragu, dia mulai memelankan langkah kaki nya.
Mata nya membelalak lebar saat tidak lagi dilihat nya Kenzo disana.
"Dia kemana" gumam Alena mulai ketakutan , tangan nya langsung memeluk tubuh nya sendiri dan menoleh kesegala arah berharap ada seseorang yang dapat dilihat nya
"Ya Tuhan, aku takut"
"En, kau keterlaluan" gumam Alena lagi. Bahkan mata nya mulai berkaca kaca saat ini
Tubuh nya mulai bergetar ketakutan, suasana disana benar benar gelap dan begitu sepi. Dan tiba tiba bayang bayang masa lalu nya yang kelam langsung menghantui kepala nya, dimana banyak orang yang mengejar nya dalam gelap hingga dia begitu ketakutan dan tidak bisa berbuat apa apa lagi.
Alena menangis terisak dan langsung terduduk tersandar didinding sebuah gedung yang terlihat kosong.
Tubuh nya bergetar, wajah nya langsung disembunyikan kedalam kedua lutut nya yang ditekuk nya.
"Tolong, aku takut" gumam Alena begitu lirih
Dan ketakutan nya bertambah saat tiba tiba terdengar suara motor besar mendekat kearah dimana dia berada. Membuat Alena semakin mengeratkan tubuh nya. Rasa takut dan trauma nya benar benar membuat nya tidak bisa mengendalikan diri.
Apalagi motor itu berhenti tepat didepan nya membuat nya semakin ketakutan dan menangis.
Puk
Sebuah tangan mendarat dibahu nya membuat Alena semakin mengerutkan tubuh nya yang bergetar
"Tolong, jangan apa apa kan aku, jangan" gumam Alena terus menerus
"Alena , ini aku" ucap seseorang yang sangat dikenal Alena
Alena langsung mendongakkan kepala nya dan menatap pria itu
"Enzo!!" Seru nya terisak, rasa takut nya langsung menguap pergi karena tahu yang didepan nya adalah Enzo nya. Alena masih terduduk lemas, meski ketakutan sudah mulai memudar
Kenzo mengernyit heran melihat Alena yang menangis dengan tubuh yang gemetaran
Dia berlutut didepan Alena yang masih terisak
"Kau kenapa?" Tanya Kenzo
"Aku, aku takut" jawab Alena masih terisak
Kenzo langsung menarik Alena kedalam pelukan nya. Dia merasa heran sekaligus iba dengan ketakutan gadis itu yang berlebihan. Dan dapat dia rasakan tubuh Alena yang masih bergetar
"Jangan, jangan tinggalkan aku En, aku takut. aku takut. Huhuhu" pinta Alena terisak , tangan nya memeluk tubuh Enzo nya dengan erat
"Tidak, aku disini. Maafkan aku. Tadi aku mengambil motor ku terlebih dahulu" jawab Kenzo sembari mengusap punggung Alena yang semakin lama semakin tenang. Pelukan hangat Kenzo benar benar ampuh, sehingga dia bisa menetralkan perasaan nya saat ini.
"Kenapa disini sepi, aku benar benar takut" kata Alena lagi sembari melepaskan pelukan Kenzo
Kenzo menarik nya untuk berdiri
"Ini daerah rawan, tidak ada yang berani keluar ditengah malam seperti ini. Ayo aku antar kebutik mu" ajak Kenzo, dan Alena hanya mengangguk
Alena langsung naik diatas motor yang dikendarai Enzo. Pria itu terlihat sangat gagah dan begitu keren. Membuat Alena melupakan sedikit rasa takut nya tadi.
Alena memeluk pinggang Kenzo saat pria itu mulai melajukan motor sport nya. Tanpa merasa canggung Alena langsung merebahkan kepala nya dipunggung kekar itu membuat Kenzo tertegun, namun tanpa disadari senyum tipis terbentuk diwajah tampan nya.
Entah lah, bersama Alena dia tidak merasa risih seperti pada perempuan perempuan yang berusaha mendekati nya selama ini
'nyaman sekali' batin Alena
'andai punggung ini menjadi milik ku' batin nya lagi