ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Markas Kenzo



Alena terdiam melihat orang yang berjalan disamping Kenzo ini. Seorang pria muda dengan wajah yang lumayan tampan tapi ada tato dibalik leher nya. Itu yang membuat Alena sedikit ngerih. Dia jadi ingat Mike.


Alena masih berada didalam gendongan Kenzo yang membawa nya seperti tanpa beban, mereka tengah menuju kesebuah gedung kecil, dan Alena tidak tahu itu tempat apa. Gedung itu seperti menyatu dengan tebing didalam kegelepan ini, tidak jauh dari bibir pantai.


"Kenapa kau meninggalkan markas?" tanya Kenzo tiba tiba. Alena sedikit terkesiap karena terkejut mendengar pertanyaan yang Kenzo lontarkan untuk pemuda bersama Xavier ini.


Xavier menoleh kearah Kenzo sejenak dan melirik Alena sekilas


"Tuan Ed memberitahu saya jika anda telah tiba disini. Dia meminta saya untuk menyambut anda karena katanya anda sedang membawa benda berharga" jawab Xavier. Pandangan matanya sejak tadi mengarah ke Alena, pasal nya dia begitu ingin tahu siapa wanita yang berani sekali ada diatas gendongan Kenzo ini. Apa ini benda berharga yang dimaksud oleh tuan Edward.


Kenzo tampak mendengus pelan, benda berharga apa nya. Edward kira Alena barang. Memang mencari masalah pria batu itu. Tapi ya, menjaga Alena lebih parah dari pada menjaga emas berlian, bukan hanya takut terluka, tapi suara kesakitan Alena cukup bisa mengganggu telinga Kenzo.


Akhirnya setelah berjalan beberapa menit, Kenzo menurunkan Alena diatas sebuah kursi panjang didalam markas itu. Alena sedikit risih karena kedatangan nya dan Kenzo disambut oleh banyak pria pria bertubuh besar dan berwajah sangar. Mereka tampak begitu hormat dan tunduk pada Kenzo.


Alena sudah seperti merasa berada disebuah istana kerajaan sekarang, hanya saja berbeda tempat


"Apa musuh sudah berhasil kemari?" tanya Kenzo pada anggota nya


"Belum king, mereka tidak akan mampu menerobos pertahanan kita. Anggota klan Aldrego sudah berhasil memukul mundur mereka, yang tersisa sekarang sedang dibereskan untuk memberi makan hewan hewan itu" jawab salah seorang dari mereka


"Bagus, jaga terus markas ini jika kalian tidak ingin kehilangan kepala masing masing" ancam Kenzo. Semua anggota nya langsung menunduk takut


"Siap king"


Alena terdiam dengan ngerih, apalagi melihat mereka yang begitu takut dengan Kenzo. Tatapan mata tajam itu memang benar benar mampu membelah apa saja yang terlihat. Seperti nya bukan ide yang baik jika dia ingin tahu lebih dalam tentang klan mafia yang dipimpin oleh Enzo nya. Baru sampai ditahap ini saja dia sudah lemas tidak betulang rasa nya.


Alena mengerjapkan mata nya dibalik topeng saat pemuda yang bernama Xavier datang dan membawa sebuah kotak kearah Kenzo.


Kenzo yang sedang duduk disamping Alena langsung beranjak dan meraih kotak itu dari tangan Xavier


"Pergilah, jaga didepan" usir Kenzo


Xafier langsung mengangguk dan mengajak semua orang yang ada didalam untuk keluar meninggalkan Kenzo dan gadis yang tidak mereka ketahui siapa. Bahkan mereka juga tidak ada yang berani bertanya. Mereka pernah tahu jika king Aldrego membawa wanita bertopeng dulunya, namun wanita itu juga pemimpin mafia sama seperti king mereka. Tapi wanita yang dibawa Kenzo sekarang ini, sepertinya sangat jauh dari kata mafia. Bahkan perawakan Alena saja mereka sudah tahu jika gadis ini hanyalah seorang gadis biasa. Bahkan bisa bisa nya king Aldrego memperlakukan wanita ini dengan begitu spesial


"Mereka anak buahmu?" tanya Alena. Kenzo yang sedang membuka kotak obat itu hanya mengangguk saja. Dia mengambil perban dan cairan pembersih dari dalam sana


"Berikan kakimu" pinta Kenzo


"Kau tidak malu dilihat anak buahmu, biar aku saja, aku bisa" kata Alena yang ingin merebut kapas ditangan Kenzo. Namun Kenzo langsung mengelak dan menarik kaki Alena dengan paksa


"Auh En" pekik Alena tertahan, kini kaki nya sudah naik diatas paha Kenzo yang duduk saling berhadapan dengannya


"Kau itu begitu berisik, lihat kakimu sudah membengkak. Baru juga berjalan sebentar" gerutu Kenzo sembari membersihkan luka dikaki Alena.


Alena langsung cemberut dan sedikit meringis, saat cairan pembersih luka itu mengenai kulit nya. Kenzo menggerutu namun tetap saja dia mencoba mengobati luka dikaki Alena dengan lembut. Membuat Alena langsung tersenyum simpul melihat nya. Kenzo Barrent, dikenal dengan tuan Amerika yang berwajah datar dan bersifat dingin dan angkuh pada siapapun. Dia juga seorang pemimpin klan mafia yang ditakuti oleh orang orang nya, tapi menurut Alena, Kenzo Barrent adalah pria dengan sejuta pesona yang bisa memperlakukan nya dengan hangat dan lembut, ya meski terkadang kaku.


"Kenapa kau tersenyum begitu?" tanya Kenzo tiba tiba membuat Alena langsung terkesiap kaget. Dia memandang wajah Kenzo yang sedang mengoleskan obat diatas luka nya dengan senyum bahagia


"Tidak ada, aku hanya salut, kau ditakuti oleh semua orang, tapi kau masih bersikap baik padaku" jawab Alena. Kenzo langsung mengernyitkan dahi nya dan menatap Alena dengan bingung


"Perkataan bodoh apa itu. Jadi kau ingin aku berlaku kasar, begini?" tanya Kenzo sembari menekan sedikit luka Alena, membuat Alena langsung memekik kuat


"Aaahhhh En!! keterlaluan. Sakitt" rengek Alena, menampar lengan Kenzo dengan kesal. Kenzo mendengus senyum dan kembali menundukan kepala nya mengobati kaki Alena


"Maka itu diam" kata Kenzo mengusap lembut kaki nya


Alena mengerucutkan bibirnya sekilas dan mengedarkan pandangan mata nya keruangan itu. Ruangan yang sama seperti didalam rumah. Ada kursi meja dan beberapa perabotan lain, yang membedakan adalah banyak senjata yang tergantung disetiap sudut dinding. Dan yang membuat nya seram adalah karena lampu yang dibiarkan temaran dan nyaris redup.


"Tempat ini menyeramkan, apa selama ini kau ada disini?" tanya Alena pada Kenzo yang baru selesai mengobati kakinya


"Hmm" gumam Kenzo


"Kau tidak merindukan semua kemewahanmu?" tanya Alena lagi


Kenzo menggeleng dan tersenyum tipis. Dia menurunkan kaki Alena dengan pelan. Dan merapatkan tubuh nya pada Alena


"Kemari" ujar Kenzo sembari menarik tubuh Alena hingga merapat padanya


Alena mengerjapkan matanya sekilas, menahan nafas saat wajah Kenzo mendekat kearah nya. Apalagi saat nafas hangat itu terasa begitu menggelitik, ditambah dengan suara bisikan Kenzo yang sangat menggoda


Mata Alena melebar dan memukul bahu Kenzo dengan gemas hingga ciuman itu langsung terlepas dengan tawa kecil dari mulut Kenzo


"En keterlaluan, bagaimana jika anggota mu melihat" gerutu Alena


"Mereka tidak akan berani" jawab Kenzo santai. Dia merapikan topeng diwajah Alena yang sedikit kebesaran diwajah nya, namun masih terlihat cocok


"Jangan sebut namamu dan namaku disini" gumam Kenzo begitu pelan. Alena langsung mengernyit bingung mendengar nya, namun melihat mata Kenzo yang tampak serius, dia hanya bisa mengangguk pasrah.


"King" panggil seseorang yang masuk tanpa izin.


Kenzo menurunkan tangan nya dari wajah Alena dan menoleh pada pria yang tidak lain adalah Edward. Sedangkan Alena tampak mengernyit heran, seperti kenal, tapi siapa, karena pria itu juga memakai topeng dan jaket kulit nya.


Edward baru datang kemarkas itu setelah tadi dia bersama Jack dan anggota yang lain mengamati keadaan dan menghabisi musuh yang berusaha mengusik mereka.


"Apa semua sudah aman?" tanya Kenzo yang memposisikan duduk nya dengan benar


"Sudah king, semua nya sudah dibereskan. Dan mata mata yang membocorkan tentang rencana kita juga sudah ditangkap" jawab Edward


"Wow, ternyata si pria batu" gumam Alena yang baru menyadari suara Edward. Dia menilai penampilan Edward dari atas kebawah, sangat jauh berbeda, karena biasa nya pria batu ini selalu memakai jas resmi nya. Kenzo melirik Alena sekilas dan kembali menoleh kearah Edward


"Kau sudah mengeksekusinya?" tanya Kenzo


"Dia masih kami kurung didalam penjara bawah tanah king" jawab Edward


"Hmm, urus saja. Kau perketat lagi penjagaan, aku rasa mereka sedang merencanakan sesuatu saat ini" kata Kenzo dan Edward langsung mengangguk


"Panggil Xavier kemari"  perintah Kenzo


Edward langsung mengangguk dan keluar untuk memanggil pemuda itu. Sedangkan Alena hanya diam dan mengusap usap tangan nya,hawa dingin malam itu sudah mulai teras menggigit, apalagi mereka berada dipinggir pantai.


"Kau kedinginan?" tanya Kenzo dan Alena langsung mengangguk


"Ayo kekamar, kau bisa beristirahat disana" ajak Kenzo, namun Alena langsung menggeleng cepat


"Tidak mau, kau pasti akan meninggalkan ku setelah itu" protes Alena


"Aku hanya disini untuk berbicara sebentar pada Edward" jawab Kenzo namun Alena tetap menggeleng


"No. aku akan menunggumu disini saja" ucap nya tetap kekeh


"Baiklah" jawab Kenzo pasrah. Melawan Alena juga tidak mungkin, yang ada mereka hanya akan beradu mulut nantinya.


Mata Kenzo kini beralih pada Edward dan Xavier yang masuk kedalam ruangan itu bersama sama. Mereka menundukkan tubuh mereka dihadapan Kenzo sekilas


"Apa ada sesuatu yang harus saya kerjakan king?" tanya Xavier


"Aku ingin kau menjadi mata mata diklan Wearloft" ucap Kenzo. Xavier dan Edward langsung terkesiap mendengar nya. Apa Kenzo tidak salah


"Tapi king" ucap Xavier terlihat keberatan tapi pandangan mata Kenzo tampak begitu menajam membuat nya langsung tertunduk takut


"Kau takut?" tanya Kenzo sinis


"Tidak king, baik saya akan menjalankan tugas dengan baik" jawab Xavier begitu lugas


Kenzo dan Edward tampak berbicara begitu serius, dan sesekali ditimpali oleh Xavier. Alena yang tidak mengerti apa yang mereka bahas hanya diam. Tapi sebenar nya dia tahu jika saat ini Kenzo sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya. Ya, Alena hanya berharap jika apapun yang dilakukan oleh Kenzo tidak akan membahayakan nyawa nya. Dia berharap suatu saat nanti Kenzo bisa hidup tenang sebagai seorang presdir dan bukan mafia lagi.


Hampir satu jam lebih ketiga orang berwajah datar itu tampak berbicara tentang klan mereka. Mata Edward dan Xavier sejak tadi melirik kearah Alena yang sudah tampak tertidur dan menyandar dipundak Kenzo. Edward sudah tidak heran lagi karena tahu siapa Alena bagi Kenzo. Tapi Xavier, dia masih bertanya tanya dalam hati.


"Pergilah, malam ini aku akan istirahat disini. Kita lanjutkan lagi besok" ucap Kenzo


"Baik king" jawab Edward dan Xavier bersamaan


Setelah dua anak buah nya itu keluar. Kenzo beralih pada Alena yang sudah terlelap dibahu nya. Bisa bisa nya gadis ini tertidur dengan begitu nyaman dengan keadaan dan posisi begini.


Dengan pelan, Kenzo mengangkat Alena dalam gendongan nya. Membawa nya masuk kedalam kamar pribadinya yang tersedia dimarkas itu. Dia membaringkan Alena ditempat tidur nya, membuka topeng yang ada diwajahnya dan mengusap pelan wajah lembut yang begitu damai.


Kenzo tersenyum dengan lembut, duduk disamping Alena dan memperhatikan wajah cantik itu dalam dalam. Wajah yang menjadi obat dari segala rasanya.