
Alena membantu Enzo merebahkan diri nya disofa bersama dengan bibi Grace. Ya, setelah menyebutkan sebuah nama tadi Enzo berteriak begitu kencang, bahkan dia sampai terjatuh dan kepala nya menghantam sudut meja.
Bibi Grace yang mendengar suara teriakan Enzo langsung keluar kamar dan mendapati Alena yang tengah menangis memangku kepala Enzo yang berdarah. Tidak parah, hanya luka kecil yang berdarah, namun cukup membuat mereka berdua khawatir.
"Sudah, dia tidak apa apa, sebenar nya apa yang terjadi Alena ?" Tanya bibi Grace setelah mengobati luka dikepala Enzo
"Dia merasa kepala nya sakit lagi bibi, setelah aku menyebutkan sebuah nama pada nya" ungkap Alena merasa sangat bersalah
"Nama?" Tanya bibi Grace bingung
"Ya, aku pernah mendengar nama itu disebutkan nya saat dia akan sadar waktu itu, nama seorang wanita" jawab Alena
"Mungkin itu orang yang sangat penting bagi nya, sehingga alam bawah sadar nya hanya mengingat nama itu" ungkap bibi Grace membuat Alena mengangguk setuju
"Kau benar bibi, mungkin itu kekasih atau istri nya" jawab Alena, terasa getir, namun dia bisa apa.
"Jangan terlalu banyak berharap Alena, dia pria dewasa, hal yang tidak mungkin jika dia tidak mempunyai wanita dibelakang nya" kata bibi Grace, dia tahu jika Alena memiliki ketertarikan pada pria itu, namun dia juga tidak ingin Alena jatuh terlalu dalam, karena bagaimana pun pria ini pasti memiliki kehidupan nya sendiri
"Iya bibi, aku mengerti. Dia tampan, dan aku suka. Hanya sebatas itu, tidak lebih." Jawab Alena mencoba tersenyum dan kini menatap Enzo yang masih tertidur entah pingsan, diapun tidak tahu.
"Sudah seminggu lebih dia disini, kasihan keluarga nya, pasti bingung mencari keberadaan nya" kata Alena dengan raut wajah begitu sendu
"Kau benar, tapi kita juga tidak tahu harus mencari keluarga nya, desa ini adalah desa terpencil, bahkan tidak banyak yang tahu tentang desa ini karena berada dipinggiran kota" sahut bibi Grace
"Ya, karena itu aku masih aman hingga saat ini" gumam Alena begitu pelan
"Apa?" Tanya bibi Grace merasa kurang jelas dengan perkataan Alena
"Ah, tidak ada bibi. Sebaik nya bibi kembali istirahat, biar aku yang menjaga nya disini" kata Alena pada bibi Grace yang langsung mengangguk setuju
"Baiklah" jawab nya
Alena kembali duduk didepan Enzo yang dibaringkan disofa panjang. Dia menatap wajah tampan itu sembari memijat pelan kaki nya dan mengusap kan kembali obat dilutut nya yang terluka.
Rasa nya dia benar benar panik tadi sehingga dia tidak lagi mengingat tentang luka nya.
....
Keesokan hari nya....
Enzo mengerjapkan mata nya perlahan, dan sinar matahari langsung mengganggu penglihatan nya saat itu.
Tangan nya terulur mengusap mata dan kepala nya yang masih terasa sedikit pusing, dan dia terhenyak saat merasa jika dahi nya tertutup sebuah plaster.
"Apa yang terjadi" gumam nya, mencoba mengingat apa yang terjadi pada nya sebelum ini.
Uhh, nama itu. Ya, Enzo ingat sekarang, saat Alena menyebutkan sebuah nama, nama yang sangat tidak asing dalam hati dan fikiran nya.
"Rose" gumam nya lagi
Ingatan nya seperti memutar flashback tentang seorang wanita cantik dengan wajah datar dan tajam yang selalu ada bersama nya dulu, namun entah kenapa, menyebut nama wanita itu membuat sudut hati nya terasa seperti tercubit.
"Siapa dia" gumam Enzo lagi. Tidak mau kepala nya sakit, Enzo beranjak dari duduk nya dan terkesiap saat melihat Alena tertidur dilantai tepat dibawah kaki nya.
"Kenapa dia tidur disini" gumam Enzo heran. Hampir saja kaki nya memijak tubuh yang sedang bergelung dalam selimut itu.
Seperti kucing yang begitu lucu, wajah cantik nya benar benar menggemaskan, bahkan masih terlihat tenang dalam mimpi nya.
Enzo menggeleng kan kepala nya melihat kelakuan gadis ceria ini. Gadis yang benar benar berhati baik, yang mau merawat nya dan membuat nya bersemangat setiap hari.
"Alena" panggil Enzo
"Hei" panggil nya lagi, namun Alena masih terlihat nyenyak dalam tidur nya
"Alena bangun" panggil Enzo lagi, kali ini dia sedikit mengguncang bahu Alena, membuat gadis itu bergerak kecil dan bergumam
"Emmmhh, aku masih mengantuk bibi" rengek nya tanpa membuka mata dan kembali menarik selimut nya
"Astaga gadis ini" Enzo menggelengkan kepala nya heran
"Alena" panggil Enzo dan kali ini ia sedikit mendekatkan wajah nya ditelinga Alena yang langsung terperanjat kaget
"En" teriak nya panik dan langsung duduk dan menatap Enzo dengan wajah bingung nya
"Kau seperti babi mati saja, susah sekali dibangunkan" kata Enzo membuat Alena mendengus kesal
"Sialan kau, mana ada babi secantik wajah ku" jawab Alena membuat Enzo mendengus tawa kecil. Apalagi melihat wajah bangun tidur Alena yang sungguh lucu.
"Kenapa kau tidur disini ha?" Tanya Enzo menatap Alena yang kini mulai merapikan dan melipat selimut nya
"Aku takut kau terbangun dan sakit kepala lagi, maka dari itu aku tidur disini. Mengangkat mu kekamar aku tidak sanggup, badan mu terlalu besar seperti badak" gerutu Alena dan lagi lagi Enzo tersenyum tipis
"Mana ada badak setampan wajah ku" balas Enzo membuat Alena menatap nya dengan sengit
"Kau mulai pandai ya" kata Alena
"Kau yang mengajariku babi cantik" jawab Enzo santai
Bug
Satu lemparan bantal mendarat diwajah tampan itu, bukan nya marah, Enzo malah tertawa kecil melihat wajah Alena yang memerah, entah memerah marah atau memerah karena malu dan terpana melihat tawa itu
"Kurang ajar kau" dengus Alena memalingkan wajah nya dan langsung berlari dari tempat Enzo berada
"Gila, aku tidak sanggup melihat tawa dan senyum nya" gumam Alena sembari menangkup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya disebalik dinding.
....
"Tidak terlalu" jawab Alena
Saat ini Enzo tengah menemani Alena mengantarkan pesanan pakaian nyonya Monic. Awal nya Alena melarang Enzo untuk ikut, namun pria itu tidak bergeming dan terus mengikuti langkah kaki Alena.
Meski kesal, namun Alena pasrah saja, karena sebenar nya dia juga senang jika Enzo pergi dan terus bersama nya, hanya saja terkadang kesehatan Enzo yang belum benar benar pulih membuat Alena merasa khawatir.
Setelah hampir setengah jam berjalan kaki, mereka tiba didepan rumah nyonya Monic. Alena mengetuk pintu itu sedangkan Enzo berdiri membelakangi nya, dia masih asik memandangi peternakan kuda milik nyonya Monic itu.
Tidak lama kemudian, nyonya Monic keluar dengan senyum nya yang ramah.
"Ini pakaian anda nyonya" kata Alena sembari memberikan sebuah paper bag pada nyonya Monic
"Terimakasih Alena, putera ku pasti senang mendapatkan kemeja ini, karena dijahit langsung oleh mu" ucap nyonya Monic berbinar namun Alena malah tersenyum terpaksa mendengar nya.
Enzo yang sedari tadi membelakangi mereka, kini beralih dan menatap Alena dan melirik nyonya Monic sekilas
Nyonya Monic terkesiap kaget saat melihat Enzo, karena tadi perhatian nya hanya pada Alena saja, dia tidak tahu jika Alena membawa teman
"Dia siapa Alena?" Tanya nyonya Monic menatap Enzo dengan lekat, seperti mengenal nya.
"Dia teman saya nyonya, kebetulan ingin berjalan jalan" jawab Alena , namun nyonya Monic masih memperhatikan Enzo dengan lekat, dari atas kebawah membuat Alena sedikit risih melihat nya, apalagi Enzo
"Teman mu?" Tanya nyonya Monic lagi
Dan Alena hanya mengangguk
"Seperti nya aku pernah melihat nya, tapi dimana ya" gumam nyonya Monic masih menatap Enzo dengan lekat
Alena dan Enzo saling pandang heran
"Dimana" tanya mereka serentak
"Aku lupa, tapi sungguh, wajah mu begitu tidak asing" jawab nyonya Monic
"Ah nyonya, mungkin hanya kebetulan, orang tampan memang seperti itu, wajah nya pasaran" kata Alena tertawa membuat Enzo mendengus kesal
"Haha, mungkin juga ya" kata nyonya Monic masih menatap lekat kearah Enzo
"Yasudah, kami permisi dulu nyonya" pamit Alena yang langsung menarik tangan Enzo, dia tidak suka nyonya Monic melihat Enzo seperti seorang macan yang ingin memangsa buruan nya
Setelah Alena dan Enzo pergi, nyonya Monic tersentak seolah baru mengingat sesuatu
"Hah, bukan kah wajah nya mirip tuan Kenzo Barrent!!!!" Pekik nya histeris dengan mata yang mengerjap ngerjap cepat
"Tapi, kenapa penampilan nya seperti itu,"
"Lalu, kenapa pula dia berada disini" gumam nyonya Monic lagi
"Apa hanya mirip saja ya, tidak mungkin tuan Amerika itu ada didesa terpencil seperti ini, lagipula penampilan nya juga jauh berbeda"
"Aku memang sudah gila" kata nyonya Monic memegang kepala nya.
..
Disepanjang perjalanan Enzo dan Alena hanya terdiam sembari menikmati pemandangan didaerah itu.
Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajah mereka.
"En" panggil Alena pelan membuat Enzo menoleh kearah nya
"Maafkan aku, karena malam tadi aku membuat mu terluka" kata Alena lagi
"Bukan salah mu, aku memang lemah, hanya karena nama itu aku bisa pingsan" jawab Enzo
"Mungkin nama itu sangat penting bagimu" ucap Alena
"Entah lah" jawab Enzo singkat
Alena menghela nafas nya sejenak
"Pasti keluarga mu tengah sedih saat ini, kau sudah lebih dari seminggu berada disni" ungkap Alena
"Apa kau bosan" tanya Enzo
"Tidak, bukan seperti itu maksud ku" jawab Alena gugup
"Aku sudah berusaha mengingat semua nya, tapi begitu sulit" kata Enzo , kali ini dia menghentikan langkah nya dan berdiri memandang tebing diujung mata mereka
Alena menggenggam tangan Enzo dengan lembut, membuat pria itu langsung menoleh kearah nya
"Pelan pelan, aku yakin kau pasti bisa mengingat semua nya kembali, kau pria hebat, jangan mudah berputus asa" ungkap Alena dengan senyum nya yang begitu hangat dan manis membuat hati Enzo menghangat dan membalas genggaman tangan itu hingga membuat Alena tertegun sejenak
"Terimakasih, kau dan bibi Grace sudah mau menerima ku dan menampung ku dirumah kalian" ucap Enzo begitu tulus
"Jangan sungkan, anggap saja sekarang kita teman" kata Alena membuat Enzo mengangguk dan tersenyum tipis, senyum yang mampu membuat jantung Alena berdetak kencang seakan hendak lepas.
Alena langsung melepaskan genggaman tangan nya dan mengalihkan pandangan mata nya kearah lain. Begitu juga dengan Enzo, dia kembali mematung dan memandang pemandangan yang ada dihadapan nya
"Tuan!!"
Seru seseorang membuat Enzo dan Alena langsung menoleh kearah seorang pria yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Pria yang berpakaian rapi dan formal dengan wajah datar dan tegas nya.