
Edward berdiri dengan sedikit membungkukkan tubuhnya didepan seorang wanita cantik yang tampak begitu anggun namun mempunyai tatapan mata yang begitu tajam. Dia baru saja tiba di kota Buneos Aries, Argentina, dan dia langsung pergi kekediaman Cristian untuk menemui mantan ratu mafia black rose, Angelina Rosmarry yang juga merupakan mantan Kenzo Barrent dulunya.
Wanita itu duduk disofa sedangkan Edward masih berdiri dihadapan nya. Dia masih enggan ketika diminta untuk duduk, dia sudah begitu khawatir dengan keadaan Alena disana.
"Apa ada hal yang begitu mendesak Ed, hingga kau tidak ingin duduk sebentar" kata Angel atau yang sering dipanggil Kenzo dengan nama Rose.
"Queen, saat ini King membutuhkan bantuan anda" ucap Edward langsung
"Apa ada masalah?" tanya Angel lagi
"Kami ingin membawa profesor Brian ke Newyork, mohon Queen bisa mengizinkan nya" jawab Edward
Angel terlihat mengernyit heran. Brian? Untuk apa Kenzo memerlukan profesor botak itu
"Apa Kenzo terluka?" tanya Angel sembari meraih ponselnya diatas meja, mengetikkan sesuatu disana
"Bukan King, tapi seseorang yang cukup penting untuk nya" jawab Edward. Tangan Angel terhenti sejenak mendengar itu, namun senyum tipis langsung terbit diwajah dingin nya
"Berarti sudah terlalu parah hingga kau sampai menjemput Brian kemari" ucap Angel yang kembali memandang Edward
Edward mengangguk dan memandang Angel penuh harap
"Waktunya hanya sampai malam nanti Queen. Jika penawar itu tidak ada, maka bisa dipastikan nyawa gadis itu tidak akan tertolong" ungkap Edward
Angel tertegun, dan menarik nafasnya perlahan. Dia langsung berdiri dan memandang Edward dengan lekat
"Kita kemansion sekarang. Brian sudah aku minta untuk kesana" ajak Angel langsung
"Baik Queen" sahut Edward dengan cepat
Edward menunggu Angel didepan rumah mewah itu, dia terlihat sedang berpamitan pada kedua anak kembarnya yang dibawa oleh Shania, kakak ipar nya sekaligus tangan kanannya dulu.
"Tuan Ed, sudah lama tidak bertemu. Apa kabarmu?" sapa Shania
"Baik, seperti yang kau lihat" jawab Edward. Dia sedikit melirik perut Shania yang telah membesar. Sepertinya mereka sudah menjalani kehidupan mereka dengan normal kembali. Bahkan Edward masih ingat dulu bagaimana kejam nya dua wanita tangguh ini dalam menghabisi setiap orang orang yang menjadi target mereka. Ya, dunia memang selalu berputar.
Setelah berpamitan pada anak anak nya, Angel dan Edward langsung pergi kemansion Black rose bersama dengan Jorge yang membawa mobil itu. Cristian suami nya masih berada diperusahaan karena hari memang masih pukul 10 pagi waktu Argentina. Mungkin nanti suami posesifnya itu akan menyusul nya kemansion.
Jarak kemansion memakan waktu hampir dua jam, dan itu membuat Edward sedikit khawatir. Dia takut tidak bisa mengejar waktu untuk tiba malam nanti. Belum lagi profesor Brian yang entah bisa atau tidak membuat penawar nya. Edward benar benar cemas.
"Siapa yang sedang kalian hadapi?" tanya Angel tiba tiba. Melihat wajah dingin Edward yang sejak tadi begitu tegang membuat Angel mengerti jika keadaan Kenzo pasti sedang tidak baik baik saja saat ini.
Edward menoleh sejenak pada Angel yang duduk dibelakang, sedangkan dia duduk didepan bersama Jorge yang mengemudikan mobilnya.
"Black Eagle dan Wearloft Queen" jawab Edward.
Angel terdiam sejenak, sedangkan Jorge langsung menoleh sekilas kearah Edward. Jelas mereka tahu siapa mafia Wearlfoft
"Jesicca. Bagaimana mungkin kalian bisa terlibat masalah dengan dia?" tanya Angel heran. Pasal nya sejak dulu, klan mafia yang dimiliki nya lah yang selalu bertentangan dengan mafia milik Jesica, tapi kenapa Kenzo bisa terlibat dengan mereka?
"Mafia black eagle musuh king meminta bantuan pada wanita itu, sehingga mereka bekerja sama untuk meruntuhkan pertahanan klan Aldrego bahkan ingin menguasai daerah Aldrego dan markas besar" jawab Edward
"Bukankah itu gawat, mafia Wearloft sekarang pertahanan nya sudah kuat dan meluas, tentu mereka akan sedikit sulit untuk diatasi" sahut Jorge pula. Angel dan Edward langsung mengangguk setuju mendengar nya
"Apa itu yang menyebabkan Kenzo menghilang beberapa minggu yang lalu" tanya Angel
"Ya, ada banyak hal yang membuat king merencakan kematian nya sendiri. Namun sepertinya, sekarang dia tidak bisa menutupi nya lagi" jawab Edward
"Siapa gadis itu?" tanya Angel
"Putri seorang anggota FBI, kapten Stone, dia juga yang pernah membantu tuan Cris sewaktu di Jepang dulu" jawab Edward
Angel langsung tersenyum sinis mendengar nya. Dunia memang sempit. Tapi seperti nya Kenzo memang akan mendapatkan sedikit masalah yang rumit. Mafia dan agen negara, tentu dua hal yang saling bertentangan. Nama baiknya mungkin akan aman, tapi dunia bawah tanahnya tidak akan bisa aman lagi jika orang tua gadis itu tidak bisa diajak kompromi. Yah, seperti nya Kenzo akan mengalami kisah percintaan yang rumit lagi. Tapi, dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Kebahagiaan nya tidak lengkap, jika dia belum melihat Kenzo Barrent bahagia dengan cinta penggantinya.
Dan tidak lama kemudian mereka pun tiba dimansion mewah milik black rose, bertepatan dengan Brian yang juga baru tiba. Langsung saja Edward menyerahkan sample darah Alena pada profesor botak itu untuk diperiksa. Dan lagi lagi dia harus menunggu waktu selama dua jam untuk mencari tahu hasilnya.
...
Newyork....
Kenzo dan Clara memandang Alena yang sedang tertidur saat ini. Wajah nya masih pucat, bahkan sangat pucat. Dan beberapa lebam ditubuhnya juga sudah mulai tampak menyebar dan begitu nampak. Wajah Kenzo begitu kusut, dia benar benar tidak bisa membiarkan Alena menderita lebih lama lagi.
Malam tadi dia tidak tidur karena Alena terus kesakitan dan kesusahan bernafas. Bahkan Alena baru bisa menenangkan dirinya saat hari sudah hampir pagi. Itu juga karena dokter Richard yang menyuntikkan cairan penahan rasa sakit berkali kali ketubuhnya.
Sungguh, rasanya hati Kenzo benar benar lemah melihat ini, bahkan untuk sekedar beranjak dari ruangan itu dia tidak sanggup. Dia tidak sanggup membiarkan Alena kesakitan sendirian, dia tidak bisa melihat nya sendirian.
"Kak, kita tidak bisa membiarkan Alena disini dengan keadaan yang seperti ini. Ayah dan kakak nya harus tahu. Aku tidak mungkin membohongi mereka terus menerus" ucap Clara pada Kenzo. Dia takut terjadi sesuatu pada Alena, sedangkan Ayah dan kakaknya sama sekali tidak tahu. Clara hanya bilang pada Reymond jika Alena ada bersama nya dan akan menginap dirumahnya
Kenzo terdiam, dia juga tahu. Dia juga sudah memikirkan hal itu. Tapi apa mereka bisa menerima apa yang terjadi pada Alena? Dan apa mereka akan diam ketika Kenzo menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku takut terjadi sesuatu pada Alena kak. Aku takut mereka menyalahkan kita. Bagaimana pun Alena masih memiliki keluarga" kata Clara lagi
Kenzo menarik nafasnya dalam dalam dan mengangguk pelan. Ya, ini salahnya, dan apapun yang akan terjadi nanti, dia harus siap menanggung akibatnya.
"Ya, hubungi mereka dan suruh kemari." jawab Kenzo begitu tidak bersemangat. Dia kembali duduk dikursi dan meraih tangan Alena yang begitu lemas. Memeluk dan menciumi nya dengan penuh perasaan dan pengharapan yang begitu dalam.
Clara langsung keluar dan menghubungi Reymond, dia akan menunggu mereka dimansion Kenzo. Dia harap Reymond dan kapten Stone tidak akan marah padanya dan juga kakaknya karena telah menyembunyikan keadaan Alena yang sedang sekarat seperti ini. Tapi siapa yang tidak akan marah jika mengetahui putri yang pergi dalam keadaan baik namun sekali bertemu sudah dalam keadaan yang begitu menyedihkan.
Malam nanti Thomas dan Jesicca akan menyerang wilayah perbatasan nya, dan seharusnya Kenzo berada dimarkas nya sekarang. Menyiapkan dan membentuk kekuatan untuk melawan mereka. Tapi dia tidak bisa meninggalkan Alena disini, dia tidak akan sanggup.
Dia sudah meminta Jack untuk pergi kesana, memimpin Xavier dan anak buah nya yang lain untuk membentuk rencana dan strategi untuk malam nanti. Dan Kenzo begitu bingung, jika dia pergi bagaimana dengan Alena? Dia yang sudah lalai dan tidak bisa menjaga Alena dengan baik. Tapi jika dia tidak pergi, dia benar benar khawatir jika musuh akan bisa merebut klan Aldrego miliknya, apalagi Edward juga tidak ada. Ya, Kenzo dihadapkan pada dua pilihan yang benar benar sulit.
Jika memilih menyelamatkan klan nya, maka dia harus siap kehilangan cintanya lagi. Tapi jika memilih cintanya, dia harus siap melihat klan dan orang orang nya hancur dan musnah.
Kenzo sedikit terkesiap, saat Alena membuka matanya dan memandang kearah nya
"En.." panggil Alena begitu lirih
"Ya" jawab Kenzo mencoba tersenyum seperti biasa, meski sungguh, untuk sekarang terasa benar benar sulit
"Aku haus" kata Alena
Kenzo segera melepaskan tangan Alena dan membantu Alena untuk duduk dan menyandar diranjangnya dengan begitu hati hati. Setelah itu dia mengambil air minum dan menyerahkan nya pada Alena
"Pelan pelan" kata Kenzo sembari mendekatkan sedotan kecil itu kebibir Alena. Alena langsung meminum nya sedikit demi sedikit dan setelah itu dia kembali menyandarkan kepala nya yang terasa begitu berat
"Sebenarnya aku kenapa?" tanya Alena menatap Kenzo yang kini kembali meraih tangan nya dan mengecup nya kembali
"Tidak ada, kau hanya kelelahan dan butuh istirahat" jawab Kenzo dengan senyum nya
"Kau berbohong" sahut Alena yang sebenar nya tahu jika Kenzo telah berbohong. Dia tahu telah terjadi sesuatu dengan tubuhnya. Rasa sakit yang tidak tertahankan hingga membuatnya berasa ingin mati pasti bukan hal yang sepele.
Kenzo hanya tersenyum dan menggeleng lemah. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik genggaman tangan yang masih menggenggam tangan Alena
"En..." panggil Alena begitu lembut, namun Kenzo masih diam
Alena tersenyum lemah, mengusap bahu Kenzo dengan lembut. Meski dia kesakitan , tapi dia tahu jika Kenzo juga menangis melihat nya. Alena tahu, dan Alena bisa merasakan jika ada sesuatu yang membuat Kenzo begitu bersedih, dan ini pasti tentang keadaan nya. Entah apa, tapi itu pasti menyangkut nyawanya hingga bisa membuat seorang Kenzo Barrent terlihat begitu terpuruk dan ikut menangis merasakan kesakitan nya.
"Hei... kenapa hmm?" tanya Alena mengusap wajah Kenzo. Kenzo mendongak dan memandang wajah pucat itu, sungguh dia sangat tidak berdaya jika memantap wajah Alena lebih lama, apalagi melihat Alena yang tersenyum begitu lemah seperti ini.
"Alena, berjanjilah padaku untuk terus bertahan" pinta Kenzo penuh harap
Alena terdiam sejenak, memandang wajah Kenzo yang tampak berkaca kaca kembali
"Apa aku akan mati?" tanya Alena
Kenzo langsung menggeleng cepat dan kembali memeluk lengan nya, merebahkan kepala nya diranjang Alena, menyembunyikan raut wajah hancur dan tidak berdaya nya dari gadis itu
"Aku tidak sanggup jika harus kehilangan lagi Alena" gumam Kenzo terdengar begitu pedih.
Alena mengusap kepala Kenzo dengan lembut, namun sungguh usapan itu terasa begitu menyakitkan bagi Kenzo. Dia bahkan tidak bisa menahan tangis ketakutan nya saat ini.
"Aku tidak akan sanggup" gumam nya begitu lirih
"En, lihat aku" pinta Alena. Dia meraih wajah Kenzo dengan tangan yang begitu dingin. Kenzo langsung mendongak, dan dapat Alena lihat jika wajah itu sudah basah dengan air mata. Wajah tampan yang biasanya datar, angkuh dan dingin, kini penuh dengan ketakutan, kehancuran dan kesedihan yang mendalam, hingga membuat hati Alena juga ikut sakit melihat nya. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan Enzo nya terluka lagi, bagaimana mungkin dia membuat Enzonya kecewa lagi. Tidak akan, seberapa pun rasa sakit itu, Alena akan mencoba kuat untuk Enzonya
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku" pinta Kenzo
Alena menggeleng, dia mengusap air mata diwajah Kenzo, meski air mata nya juga ikut menetes melihat kesedihan lelaki ini.
"Aku tidak akan pergi" jawab Alena
"Kau harus bertahan Alena, demi aku" pinta Kenzo lagi
"Aku pasti akan bertahan" jawab Alena
Kenzo beranjak dan duduk disamping Alena, dia menarik Alena kedalam pelukan nya dan memeluk nya dengan lembut, seakan menumpahkan segala rasa gelisah dan ketakutan nya
"Aku tidak akan meninggalkanmu En" gumam Alena didalam pelukan Kenzo
"Kau harus berjanji" pinta Kenzo
Alena mendongak dan tersenyum sembari mengangguk pelan
"Kau juga harus berjanji untuk kuat dan tidak boleh lemah seperti ini. Jika kau lemah bagaimana aku bisa kuat" ucap Alena sembari mengusap kembali wajah basah Kenzo
"Aku sakit melihat kau sakit" jawab Kenzo
"Kau adalah obat dari segala rasaku, maka berikan aku senyum mu, bukan nya malah melihat tangismu. Kau sungguh jelek" kata Alena. Kenzo langsung mendengus dan tersenyum memandang Alena
"Nah ini baru Enzoku, sangat tampan" ucap nya sembari mengusap bibir Kenzo
"Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu sehingga kau bisa merasakan kesakitan ini" kata Kenzo begitu menyesal
Alena menggelen pelan dan merebahkan kepala nya didada Kenzo
"Anggap saja ini ujian cinta kita" jawab Alena
"Kau harus bertahan ya" pinta Kenzo lagi, seakan meyakinkan hatinya jika Alena akan tetap hidup untuknya
"Iya, kau juga harus berjanji untuk baik baik saja. Dan jika aku sembuh, kau harus segera menikahiku" pinta Alena
"Aku berjanji" jawab Kenzo langsung. Meski ketakutan didalam hatinya benar benar besar, apalagi sampai saat ini dia belum mendapatkan kabar dari Edward sama sekali.