
Dua hari kemudian Alena sudah benar benar pulih. Hanya menyisakan sisa luka yang telah mengering di dahi sebelah kanan.
Kenzo selalu setia menemani Alena diruang perawatannya. Bahkan jika malam hari pria itu tidur disofa tidak jauh dari ranjang Alena.
Selama Alena dirawat, ada seorang perawat wanita yang membantunya untuk membersihkan diri. Kenzo tidak ingin lagi kelepasan. Dia benar benar tidak tahan jika melihat sedikit saja bagian tubuh Alena. Entah lah, fantasi liarnya begitu membuatnya kesusahan saat ini. Aura Alena terlalu memikat, dan Kenzo tidak akan tahan untuk bersabar jika dia kembali melihatnya.
Alena duduk dipinggir ranjang, sembari menatap Kenzo yang tengah berbicara dengan dokter Richard.
Setelah dokter Richard keluar dari ruangan itu Kenzo kembali pada Alena.
"Ayo kita pergi dari sini," ajak Kenzo. Dan dengan semangat Alena langsung turun dari tempat tidur, bahkan hampir melompat membuat Kenzo terkesiap kaget melihat ulahnya itu.
"Alena!" Seru Kenzo
"Kenapa?" Tanya Alena dengan wajah polosnya.
"Kau itu baru pulih, bisa pelan pelan sedikit tidak!" ucap Kenzo begitu kesal. Namun Alena malah tertawa kecil.
"Hehe, maaf. Aku sudah sehat, En, bahkan dari semalam aku meminta pulang. Kau saja yang terlalu berlebihan," balas Alena membuat Kenzo mendengus dan ingin menjentik dahi Alena, namun Alena segera menjauh.
"Jangan jahat En. Dahi ku masih sakit!" Alena sedikit berseru dengan bibir yang mengerucut kesal.
"Kau bilang kau sudah sehat tadi," balas Kenzo membuat Alena berdecak kesal.
"ck, kau ini. Emosian sekali. Sudah lah ayo. Aku rindu melihat matahari," rengek Alena pada Kenzo. Dia bahkan memeluk lengan kekar itu dengan wajah memelas membuat Kenzo menghela nafasnya, Alena terkadang memang menyebalkan dengan sikapnya, tapi jika dia terluka Kenzo seperti orang kebingungan saja.
"Kau seperti anak anak Alena," dengusnya sembari mulai berjalan keluar bersama Alena yang masih menempel.
"Bahkan aku ingin menjadi anak anak saja. Tidak enak menjadi dewasa," balas Alena dengan asal.
"Berapa usia mu?" Tanya Kenzo. Dan pertanyaan itu membuat Alena mengernyit dan langsung mendongak menatap wajah Kenzo.
"Setelah beberapa bulan kita mengenal, baru sekarang kau mempertanyakan itu?" Tanya Alena begitu heran.
"Kenapa memang nya. Bagiku karena itu tidak penting." jawab Kenzo dengan wajah datarnya. Alena langsung mengerucut kan bibirnya sekejap, namun cukup mampu membuat Kenzo kembali terkenang akan manisnya bibir itu.
Dia kembali berjalan dan mengalihkan pandangannya, menatap lurus kedepan, dimana lorong panjang berada disana.
"Yasudah, aku tidak mau menjawab," kata Alena yang langsung melepaskan pegangan tangannya dilengan Kenzo, membuat pria itu menoleh sekilas kearahnya.
Alena berjalan sembari menoleh ke sekelilingnya.
"En," panggil Alena pada Kenzo yang berjalan sedikit lebih didepan.
"Hmm," gumam Kenzo.
"Sebenar nya kita dimana?" Tanya Alena yang baru menyadari tempat itu. Sangat sepi, tidak ada seorang pun disana. Bahkan tempat itu bukan seperti rumah sakit. Tidak ada ruangan ruangan pada umumnya, bahkan sangat jauh dari kata rumah sakit. Mirip bangunan rumah pada umumnya. Namun tidak memiliki sekat yang banyak. Hanya beberapa ruang.
"En," panggil Alena lagi saat Kenzo hanya diam dan tidak menjawab.
"Kita dimana, aku rasa ini bukan rumah sakit," ucap Alena yang langsung mensejajari langkah nya dengan Kenzo, bahkan dia mengambil kembali lengan Kenzo dan menggandengnya. Dia merasa takut sekarang.
Namun kenzo malah tersenyum tipis melihat reaksi Alena yang ketakutan seperti itu.
"Siapa yang mengatakan kita dirumah sakit?" Tanya Kenzo. Alena mengernyit dan menatap Kenzo dengan aneh.
"Lalu dimana?" Tanya Alena yang semakin menempel pada Kenzo.
"Diruang bawah tanah mansion ku," jawab Kenzo. Dan tentu saja jawaban itu membuat Alena terkesiap.
"Apa, bagaimana mungkin ruang bawah tanah bisa seperti ini!" gumam nya dengan sedikit terpekik.
"Diamlah Alena. Terlalu banyak bertanya bisa mempersingkat umur mu," ucapan Kenzo membuat Alena mendengus kesal.
"Kau ini kaku sekali. Aku kan takut, " gumam Alena.
"Maka dari itu diam . Agar kita bisa sampai keatas lebih cepat," ujar Kenzo. Alena langsung membungkam mulutnya namun matanya masih berkeliaran kesana kemari. Apa benar ada ruang bawah tanah sebesar ini batinnya.
Saat tiba diujung lorong, tepatnya didepan pintu lift, Alena baru menemukan beberapa orang pria bertubuh tegap disana.
Alena kembali merapatkan tubuhnya pada Kenzo. Karena dia benar benar ngerih melihat pria pria itu, memakai setelan jas resmi namun dengan tampang yang cukup menyeramkan. Sungguh, hal hal seperti ini membuat trauma Alena kembali muncul.
"Selamat siang tuan dan nona" sapa mereka semua sembari menundukkan tubuhnya tanpa berani menatap Kenzo maupun Alena.
"Hmm," Kenzo hanya bergumam dan langsung masuk kedalam lift bersama Alena yang masih diam.
Kenzo melirik Alena yang sedang memegang dahinya.
"Kenapa?" Tanya Kenzo
"Tidak, hanya pusing sedikit," jawab Alena.
"Kau masih belum pulih benar Alena. Jangan terlalu banyak bicara dan bergerak," ujar Kenzo.
"Iya" jawab Alena singkat
Ting
Pintu lift terbuka dan Kenzo langsung menarik lengan Alena yang tadi telah melepaskan rangkulannya.
"Apa pusingnya terlalu, kau masih bisa berjalan?" Tanya Kenzo membuat Alena langsung menatapnya dan tersenyum getir.
Alena menatap telapak tangannya yang digenggam Kenzo, dan kemudian menatap wajah datar Kenzo yang penuh pesona itu.
Alena langsung tersenyum tipis dalam diamnya. Entah apa yang terjadi pada Enzonya, tapi rasanya dia benar benar senang karena Kenzo sudah tidak sedingin dulu lagi.
Alena berjalan mengikuti langkah Kenzo. Ternyata lift itu langsung terhubung diruang tengah mansion milik Kenzo.
Mata Alena terbuka lebar bahkan mulutnya beberapa kali berdecak kagum melihat interior mansion itu. Benar benar mewah dan menakjubkan.
"Apa kita sedang berada didalam istana?" gumam Alena begitu takjub. Bahkan pandangan matanya berbinar indah memandang isi mansion Kenzo.
Kenzo langsung menoleh kearah Alena.
"Ini mansion ku Alena. Jangan berkhayal terlalu jauh," ucap Kenzo. Dia membawa Alena kesebuah kamar.
"Wow, benar kah. Ini sangat indah,En." gumam Alena yang masih terus memperhatikan ruangan itu.
Pilar pilar besar terlihat menjulang tinggi, sebuah tangga berlapis kristal memutar bagai ular disisi ruangan.
Ornamen ornamen disana benar benar menakjubkan. Khas ornamen Eropa, dimana ini bernuansa klasik modern.
Lantainya saja seperti lantai berlapis kristal. Dan Alena yakin jika hiasan hiasan ini berasal dari kristal dan berlian asli.
Mansion diruangan ini saja begitu luas dan benar benar megah, bagaimana tempat yang lain?
Disepanjang perjalanan diruangan itu, Alena selalu melihat beberapa pelayan pelayan maupun penjaga yang berkeliaran dengan tugas mereka masing masing.
Mereka juga menyapa Kenzo dengan sangat hormat.
Alena sampai tidak bisa berfikir jernih sekarang. Bahkan kepalanya semakin pusing melihat kemewahan didepan matanya ini.
Sebenarnya seberapa kaya nya seorang Kenzo Barrent. Alena sungguh merasa kecil sekarang.
Alena menarik tangannya dari genggaman Kenzo hingga membuat pria itu menoleh kearahnya.
"En, kepala ku pusing," ucap Alena. Dia memegang kepalanya yang terasa berat, bahkan tubuhnya terhuyung kedepan karena tidak sanggup lagi untuk berdiri. Namun, dengan sigap Kenzo menahannya. Dia langsung mengangkat Alena kedalam pelukannya dan membawa Alena kesebuah kamar, dia merebahkan tubuh Alena diatas kasur mewah itu.
Kenzo menatap wajah Alena yang memang memucat kembali, membuatnya kembali cemas.
"Kau baik baik saja Ale. Aku akan panggilkan dokter Richard jika kepala mu masih sakit," kata Kenzo seraya mengusap kepala Alena dengan lembut.
"Emmh, tidak perlu, En. Aku hanya ingin istirahat sebentar. Mungkin karena sudah lama tidak bergerak, jadi tubuh ku agak sedikit terkejut." jawab Alena yang masih memejamkan matanya. Dia sedang menetralkan perasaannya sekarang.
"Benarkah?" tanya Kenzo. Tangannya masih memijat pelan kepala gadis itu.
"Hmm, bahkan sudah lebih baik saat kau pijat." jawab Alena sembari tersenyum dan menatap Kenzo yang juga ikut tersenyum.
"Sebenarnya seberapa kaya nya dirimu, En, aku seperti berada di surga saat ini." tanya Alena begitu polos, dia masih menikmati pijatan Kenzo di kepalanya. Kapan lagi bisa menikmati pijatan dari seorang Kenzo Barrent, fikir nya.
"Tidak tahu. Kau terlalu berlebihan Alena. Mana ada surga yang menampung orang sakit seperti mu," jawab Kenzo. Alena langsung terbahak dan menarik tangan Kenzo dari atas kepalanya.
Alena meletakan tangan Kenzo di paha pria itu yang kini tengah duduk disampingnya.
"Terimakasih, aku sudah lebih baik sekarang." ucap Alena.
"Ya, beristirahatlah. Aku akan keluar sebentar. Malam nanti, aku akan kembali kesini untuk makan malam." Ujar Kenzo.
"Kau tidak apa aku tinggal?" Tanya Kenzo lagi
Alena langsung menggeleng pelan dan tersenyum tipis.
"Tidak apa apa. Pergilah. Aku akan tidur setelah ini" jawab Alena.
"Baiklah" sahut Kenzo. Dia mengusap sekilas pucuk kepala Alena dan langsung beranjak dari duduknya. Berjalan kearah pintu untuk pergi dari sana, namun suara Alena kembali membuatnya menoleh.
"En.."
Kenzo berbalik dan menatap Alena dengan bingung.
"Terimakasih. Aku begitu beruntung bertemu dengan mu," ucapan Alena membuat Kenzo tersenyum tipis dan mengangguk.
Dia memandang wajah Alena sejenak, dan setelah itu langsung keluar dari kamar. Kamar yang sebenarnya penuh dengan kenangan. Bahkan hingga saat ini, kamar itu masih selalu membuat jantungnya bergemuruh.
Alena menatap kepergian Kenzo dengan hati yang senang. Tapi juga sedikit aneh. Aneh, karena beberapa hari ini, Kenzo benar benar berubah. Meski sikap dingin dan datarnya masih mendominasi, namun segala bentuk perhatian Kenzo mempu membuat Alena terbuai.
'apa aku sanggup jika harus menjauh dari mu En' batin Alena dalam hati
'kau seperti ini, seakan memberi harapan untuk ku. Aku takut terbuai. Tapi aku juga tidak bisa memungkiri jika aku bahagia dengan semua perhatian mu' batin Alena lagi.
...
*next...
terimakasih yang sudah mau membaca
like dan komen kalian selalu aku nantikan guys
mohon dukungan nya, kritik dan saran kalian akan menambah semangat ku
Love you*