
Usapan lembut yang begitu hangat menyentuh wajah nya, membuat Alena langsung membuka mata.
Dan ketika dia membuka mata, wajah tampan Kenzo lah yang terlebih dulu dia lihat. Wajah tampan yang terkesan datar dan dingin itu tampak tersenyum memandang nya. Membuat Alena juga ikut tersenyum dengan lemah.
Alena memejamkan kembali matanya, saat dekapan hangat Kenzo masih membuatnya begitu nyaman. Namun sentuhan diwajahnya membuat Alena kembali membuka mata.
"Alena" suara Kenzo membuat Alena mengerjapkan mata.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Kenzo. Terlihat jelas kekhawatiran yang mendalam diwajah tampan itu. Dan sungguh, Alena sangat tidak menyukai nya.
"Tidak ada" jawab Alena. Suara nya masih begitu serak dan lemah.
"Kenapa ingin tidur lagi?" Tanya Kenzo.
Alena mendengus senyum dan membalas genggaman tangan Kenzo yang sedari tadi masih menggenggam tangan nya. Bahkan Alena bisa merasakan jika tangan nya kini sudah lengket karena berkeringat.
Apa Kenzo masih terus menggenggam tangan nya sejak semalam?
"Ini sangat nyaman, aku masih ingin menikmati nya. Apa tidak boleh?" Tanya Alena yang menyelusupkan kepala nya semakin rapat kedada Kenzo. Tubuhnya masih begitu lemas dan tidak bertenaga. Entah sudah berapa suntikan yang dia terima selama lebih dari seminggu ini, dan entah seperti apa rasa remuk ditubuhnya setiap kali dia merasakan sakit yang begitu menyiksa.
Kenzo tersenyum dan mendekap Alena dengan erat, mencium pucuk kepala nya dan mengusap punggung nya dengan lembut.
"Aku hanya takut kau tidak bangun lagi Alena. Kau sudah tertidur begitu lama sejak semalam" ungkap Kenzo.
"Aku lelah En..." Gumam Alena dalam dekapan Kenzo
Kenzo merebahkan kepala nya dan kembali mencium kepala Alena. Pandangan matanya begitu nanar dan penuh kesedihan. Dia benar benar tidak tega melihat Alena yang tersiksa seperti ini setiap saat.
Sudah lebih dari seminggu dia menerima serum penguat organ vital buatan Professor Brian. Dan setiap malam Alena harus menjerit kesakitan saat serum itu masuk kedalam tubuhnya. Kenzo benar benar tidak kuat dan tidak berdaya, tapi perjuangan mereka tinggal sedikit lagi. Hanya tinggal tiga hari lagi, dan setelah itu Alena tidak akan merasakan sakit lagi.
Dan semoga dihari ketiga itu, tubuh Alena kuat, jantung nya juga bisa sembuh. Karena setelah diperiksa, ternyata tidak ada masalah apapun. Hanya tubuh Alena yang melemah karena harus menahan sakit yang begitu kuat setiap malam. Tapi jantung nya sudah mulai membaik. Professor Brian berkata, jika semua nya baik baik saja, maka Alena bisa dikatakan sembuh total. Namun jika tiga hari lagi keadaan Alena memburuk, yang ditakutkan adalah gagal jantung dan nyawa Alena yang tidak bisa diselamatkan.
"Baiklah, kau boleh tidur, tapi jangan lama lama" kata Kenzo seraya terus mengusap punggung Alena dengan lembut.
"Temani aku" pinta Alena
"Aku selalu disini. Tidak akan pergi" jawab Kenzo
Alena tersenyum dan kembali memejamkan matanya. Tidak ada yang merasakan apa yang dirasakan nya sekarang. Bahkan untuk bergerak saja rasanya Alena sudah tidak lagi berdaya. Apalagi jika dipagi hari seperti ini. Dia baru bisa beranjak dari tempat tidur setelah hari sudah siang. Jika tidak, Alena akan terus berada ditempat tidur.
Terkadang Kenzo dan ayahnya yang bergantian menjaga Alena. Mereka membagi waktu untuk bisa menemani Alena dan menghibur nya.
Ya, Alena sudah seperti orang yang lumpuh sekarang.
Tapi dia cukup bersyukur, dia diberikan orang orang yang begitu menyayangi nya. Ayah yang hebat yang selalu memberinya semangat, kekasih yang sangat mencintai nya, yang tidak pernah lelah menemani kesakitan nya. Dan tentu nya saudara dan teman teman yang selalu menyempatkan diri menghubungi dia dan bertanya kabarnya. Bahkan Reymond hampir setiap hari menghubungi Alena, kakak nya itu sudah begitu merindukan nya.
Selama hampir dua Minggu ini juga terkadang Angel datang bersama baby twins untuk menghiburnya. Ocehan dan tawa lucu kedua balita yang menggemaskan itu bisa membuat Alena terhibur ditengah tengah rasa sakit yang dia derita.
Tiga hari lagi, Kenzo berkata jika penderitaan nya akan berakhir. Dan Alena berharap, dia bisa sembuh dan tidak lagi menyusahkan orang orang disekelilingnya. Terutama Kenzo. Alena begitu sedih melihat Kenzo yang kini sudah tidak lagi segagah dulu, sekarang tuan Amerika ini terlihat kusut dan lesu meski dia sudah berusaha untuk menutupi nya.
Wajah Kenzo yang lelah karena jarang tidur membuat Alena begitu merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, dengan Kenzo yang seperti ini membuat Alena harus tetap semangat untuk sembuh, meski dia benar benar sudah lelah dan ingin menyerah.
...
Kenzo masih terus memandangi Alena dengan lekat. Sudah dua jam Alena tertidur pagi ini. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum juga bangun?
Kenzo mengusap wajah Alena, namun dia langsung tersenyum saat melihat Alena mengernyit karena tidur nya yang terganggu. Rasa cemas yang sempat Kenzo rasakan kini mulai hilang saat melihat Alena yang mulai terbangun.
Wajah Alena begitu pucat dan kurus. Kantung matanya juga sudah begitu terlihat karena setiap malam dia yang tidak pernah tertidur dengan nyenyak.
Jika melihat ini, Kenzo benar benar tidak tega.
Cup
Satu kecupan singkat di berikan Kenzo pada bibir ranum yang tidak bewarna itu.
"En..." Gumam Alena, dia menyelusupkan wajah nya kedalam dada Kenzo.
Kenzo semakin tersenyum dan mengusap kepala Alena dengan lembut.
"Bangun dulu ya. Kau harus sarapan dan meminum vitamin mu" ujar Kenzo
Alena masih terdiam
"Alena..." Panggil Kenzo lagi seraya mengintip wajah Alena dibalik dadanya.
"Tidak mau" jawab Alena, suara nya masih serak dan begitu menggemaskan.
"Biar tidak lemas dan sakit lagi" ucap Kenzo
"Kalau aku lemas apa kau tidak mau menggendongku?" Tanya Alena . Dia malah mengusal ngusal wajahnya didada Kenzo.
"Tentu saja mau, bahkan jika kau sehat pun aku akan tetap menggendong mu jika kau mau" jawab Kenzo .
"Jika begitu, aku ingin digendong sekarang. Aku begitu malas berjalan kekamar mandi" pinta Alena begitu manja.
Kenzo tersenyum, dia mengecup kembali bibir Alena.
"Baiklah tuan putri" jawab Kenzo.
Dia langsung beranjak dan segera turun dari atas tempat tidur. Sedangkan Alena langsung memutar tubuh nya menghadap Kenzo.
Kenzo tersenyum dan langsung mengangkat tubuh Alena dengan lembut dan begitu hati hati. Dia sudah seperti membawa kaca tipis yang jika terjatuh pasti akan pecah dan terburai.
"Apa berat?" Tanya Alena seraya memandang wajah Kenzo dengan lekat.
"Bahkan semakin lama aku seperti membawa kapas" jawab Kenzo
Alena tersenyum dan kembali merebahkan kepala nya didada Kenzo.
Hati Kenzo teriris pedih, karena dia bisa melihat bagaimana lemah nya Alena. Bahkan tubuh yang begitu menggoda dan seksi ini kini mulai mengurus dan layu. Padahal belum ada dua Minggu dia menjalani pengobatan nya.
Kenzo mendudukkan Alena perlahan disebuah kursi yang memang disediakan didalam sana.
"Mau aku bantu" tawar Kenzo saat tahu Alena masih sedikit oleng dan memegangi lengan nya dengan kuat.
"Apa kau tidak keberatan?" Tanya Alena dengan ragu, namun Kenzo segera menggeleng dan tersenyum.
"Tidak, aku malah senang" jawab Kenzo
Alena tampak melebarkan matanya dan mendengus gerah mendengar itu. Namun Kenzo malah tertawa melihat wajah kesal Alena.
"Aku bercanda. Aku akan membantu, aku janji tidak lihat, aku juga ingin membersihkan diriku" jawab Kenzo
"Mustahil tidak melihat, jika kau yang membantu" gerutu Alena. Sudah lemas, dia masih saja bisa cerewet.
"Melihat sedikit juga tidak apa apa. Aku juga sudah pernah melihatnya" ucap Kenzo.
Alena hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia tidak bisa membersihkan dirinya sendiri, entah kenapa semakin hari tubuhnya semakin lemah dan tidak bisa berdiri dengan lama. Apa karena pengaruh serum itu??
Jika tidak membersihkan diri, tubuh nya sudah sangat lengket karena keringat malam yang keluar. Dia sudah risih, tapi jika membersihkan diri, dia cukup sungkan jika Kenzo yang membantunya, tapi jika bukan Kenzo siapa lagi. Tidak mungkin ayahnya kan.
"Ayo buka pakaian mu" ujar Kenzo setelah dia mengisi bak dengan air hangat.
Alena hanya mengangguk dan membiarkan Kenzo membuka pakaian nya. Alena memandangi Kenzo dengan lekat, tidak ada pergerakan yang aneh yang dilakukan oleh Kenzo, dan Alena dapat merasakan jika Kenzo memang begitu tulus padanya.
Meski dia tidak tahu, jika kini Kenzo sedang menahan hasrat nya yang mulai naik. Bagaimana tidak, jika dia dihadapkan dengan pemandangan indah ini. Meski tubuh Alena sudah kurus dan tidak seperti dulu, tapi tetap saja, tubuh polos yang hanya memakai dalaman itu juga terasa menggoda batinnya.
Kenzo mengangkat Alena dan memasukan nya kedalam bak. Membuat tubuh Alena langsung terendam dengan air hangat yang begitu menyegarkan.
Bahkan mata Alena langsung terpejam dengan kepala yang sudah tersandar dipinggiran bak itu. Dia sudah pasrah dengan tubuhnya yang terpampang nyata dihadapan Kenzo, bukan kah sebentar lagi mereka akan menikah? Dan semua nya memang hanya untuk Kenzo?
Kenzo menelan saliva nya yang terasa mencekat. Berulang kali dia menarik nafas dalam dalam seraya meraih botol sabun untuk mengusap tubuh Alena.
"Apa nyaman?" Tanya Kenzo seraya memandang Alena yang terpejam
"Ya, hanya saja, kenapa tubuhku semakin lama semakin lemah. Biasanya aku masih bisa sendiri, tapi hari ini rasanya berat sekali" gumam Alena. Dia membuka matanya dan memandang Kenzo dengan sedih.
Namun Kenzo tersenyum dan berlutut disamping bak Alena, dia mulai mengusap tubuh Alena dengan sabun, hingga aroma harum sabun itu menguar didalam kamar mandi mereka.
"Tidak apa apa. Itu hal yang wajar, tubuhmu lemah karena setiap malam harus menahan sakit. Kau harus tetap kuat ya" pinta Kenzo
"Tapi aku malah menyusahkan mu sekarang" ucap Alena
"Aku tidak merasa disusahkan Ale. Aku senang melayani mu seperti ini" jawab Kenzo
"Benarkah?" Tanya Alena dan Kenzo langsung mengangguk dengan cepat.
"Tapi kenapa wajahmu memerah begitu?" Tanya Alena
Kenzo terdiam dan mengerjapkan matanya sekilas, namun sedetik kemudian dia tersenyum dengan getir.
"Tidak apa apa, aku hanya ...."
"Hanya apa?" Tanya Alena dengan wajah polos nya, padahal didalam hatinya dia tahu kenapa Kenzo begitu. Nafas Kenzo yang terlihat berat sudah membuktikan jika dia sedang melawan gairah nya sekarang.
"Tidak apa apa, mungkin karena uap air hangat ini" jawab Kenzo
Alena hanya mendengus senyum dan mengangguk dengan pelan. Dia kembali memejamkan matanya dan menikmati setiap usapan lembut Kenzo yang begitu merilekskan tubuhnya. Namun berbeda dengan Kenzo yang semakin lama semakin tersiksa, apalagi saat dia mengusap bagian bagian yang merupakan kesenangan para lelaki.
Ya Tuhan...
Ini ujian...