
Alena mengerjap perlahan, membuka matanya yang masih terasa berat. Meraih selimut dan memiringkan tubuh nya yang masih ada ditempat tidur. Dia rasanya baru saja bermimpi sedang berada didesa tempat bibi Grace, bermain disana bersama Kenzo yang menggendong nya dan membawa nya berkeliling.
Bibir Alena tersenyum dengan wajah yang merona dan berbinar meski dia baru saja bangun dari tidur nya. Tapi setelah nyawa nya terkumpul dan pandangan matanya sudah baik, Alena terkesiap kaget dan segera beranjak duduk diatas ranjang. Mata nya mengedar dengan pupil yang membesar saat menyadari dimana dia berada kini.
"Kamar butik?" gumam Alena. Mengusap matanya sedikit kasar, mencoba meneliti lagi apakah dia salah lihat atau tidak. Atau dia memang masih sedang bermimpi? Bukankah malam tadi dia tidur dimarkas Kenzo, lalu kenapa sekarang sudah berada disini saja?
Alena meringis sakit saat dia mencubit lengan nya sendiri. Ternyata benar tidak mimpi, lalu kenapa dia bisa ada disini. Apa Enzo nya yang membawanya kemari. Tapi kenapa dia bisa tidak tahu. Ah, Alena memang bodoh, dia selalu tidur seperti babi mati sehingga tidak tahu apa yang dilakukan Kenzo. Seharusnya dia jangan tidur terlalu lelap, dia jadi tidak bisa menikmati waktu bersama Kenzo akhirnya.
Alena menghela nafas kesal dengan bibir yang mengerucut sekilas. Dia turun dari tempat tidur dan beranjak kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rasanya sudah sangat lengket, apalagi semalam dia tidak mandi setelah seharian diperusahaan Barrent's Agency, dan malam tadi harus berlari larian dipinggir pantai dengan kepala mafia itu.
Yah, hidupnya begitu aneh.
Tapi ngomong ngomong tentang perusahaan Kenzo, bukan kah Alena belum bilang pada siapapun jika dia tidak pulang.
"Dasar bodoh, mereka pasti kebingungan mencari ku. Pantas saja Enzo mengantar ku secepat ini kebutik" gumam Alena sembari melirik jam yang masih pukul enam pagi.
Dengan sedikit berjinjit Alena berjalan kekamar mandi. Kakinya masih terasa sakit, namun sudah tidak membengkak lagi. Hanya menyisakan luka lecet dibagian tumit dan mata kaki.
Tidak lama Alena berada dikamar mandi, setelah membersihkan diri dan memakai riasan nya sedikit dia berjalan keluar kamar untuk membuka butik nya dan meminum kopi dilantai bawah.
Masih terasa sepi saat Alena membuka pintu butik, bahkan Jhon masih tampak tertidur bersama teman nya didepan sana. Tumben sekali batin Alena. Dia tidak tahu saja jika itu adalah ulah anak buah Kenzo yang memberi mereka obat tidur saat Kenzo mengantar Alena tadi.
Alena menyeduh secangkir kopi capucino hangat dipantry yang tersedia disana. Dia duduk dimeja kerja nya dan membuka kembali laporan butik. Ajang kompetisi sudah berakhir, dan dia masih tidak menyangka jika dia yang memenangkan kompetisi itu. Sungguh hal yang luar biasa. Dan dia sangat bangga, apalagi hadiah yang dia dapatkan tidak main main besarnya. Dia akan membangun butik ini lebih besar lagi, dan tentu nya membuat namanya dikenal oleh dunia.
Alena tersenyum dengan mata berbinar membayangkan itu. Sekarang dia tidak takut lagi bermimpi, dia harus bermimpi setinggi mungkin untuk bisa pantas bersanding dengan Enzo nya. Nama baik dan popularitas sudah berhasil dia dapatkan karena bisa meraih predikat desainer terbaik tahun ini, dan tentu nya jalan untuk melangkah kedepan tidak akan sulit lagi.
Ya meskipun saat ini hidupnya masih belum tenang karena ternyata Thomas masih menginginkan nyawanya untuk membalas kematian Mike.
Ting
Pintu butik terbuka, dan Alena langsung menoleh kearah pintu. Dimana Lian dan tiga orang karyawan nya baru datang kesana
"Nona, anda sudah ada disini?" tanya Lian heran. Begitu pula dengan ketiga karyawan nya yang lain
Alena tersenyum dan mengangguk, seperti nya hari ini dia harus berbohong lagi. Semenjak kenal Kenzo dia memang suka sekali berbohong.
"Ya, bahkan aku sudah menghabiskan segelas kopi" jawab Alena
"Anda tidak pulang malam tadi?" tanya Lian
"Bagaimana kau tahu?" tanya Alena sedikit kikuk
"Joice mencari anda sejak semalam, bahkan hingga pagi ini" jawab Lian
"Kau bilang apa padanya?" tanya Alena lagi
"Saya bilang yang sebenar nya nona. Jika anda pergi bersama tuan Edward dan mungkin menginap dirumah nona Clara" jawab Lian
Alena langsung terdiam mendengar nya. Habislah dia jika sampai Joice pergi kerumah Clara malam tadi, ayah dan kakak nya bisa panik sekarang
Ting
Pintu butik terbuka membuat Alena dan Lian langsung menoleh kearah pintu. Mata Alena sedikit melebar dan langsung tersenyum canggung saat melihat Clara datang bersama dengan Joice. Wajah mereka nampak terlihat lega, tapi Alena tahu jika mereka juga memendam kecemasan dan kekesalan saat ini
"Joice, kau bilang sudah memeriksa butik, bukankah Alena memang disini" gerutu Clara pada Joice yang berjalan mendekat kearah nya kini
"Saya memang sudah kemari malam tadi nona, tapi nona Alena tidak ada" jawab Joice tidak mau disalahkan.
"Alena, kau dari mana lagi ha, kau ini memang suka sekali membuat kegaduhan" omel Clara dengan kesal, dia bahkan menjentik kesal dahi Alena yang langsung meringis kesakitan dan mengusap dahinya sekilas
"Aku tidur disini, kau saja yang tidak masuk Joice" dalih Alena pula. Untung saja kan Enzo nya membawanya kesini dengan cepat, jika tidak maka habislah dia.
Clara menatap Joice dengan kesal, namun Joice malah memalingkan wajah nya dan menghela nafas kesal. Dia sudah memeriksa seluruh gedung butik ini malam tadi, bahkan Jhon bilang jika Alena memang tidak ada disini dari pagi. Lalu kenapa pula sekarang dia sudah ada disini. Joice menjadi curiga, sudah dua kali Alena menghilang dan menghebohkan semua orang. Tidak bukan dua kali, tapi entah sudah beberapa kali.
"Tapi saya sudah memeriksa seluruh isi gedung ini nona. Bahkan Jhon juga bilang jika nona tidak ada disini sejak semalam pagi" kata Joice
Alena langsung terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa sekarang
"Aku datang Jhon sedang tidak ada" jawab Alena cepat
"Kau diantar siapa kemari?" tanya Clara penuh selidik
"En,,, Edward, ya pria batu itu yang mengantarku" jawab ALena dengan senyum canggung nya
Clara dan Joice langsung saling pandang curiga
"Aku tidak berbohong" jawab Alena
"Sudahlah, kenapa kalian begitu sibuk ha, aku baik baik saja dan ada disini" kata Alena lagi. Dia berdiri dan mendekat pada Clara yang masih tampak kesal. Disamping nya Joice yang berdiri dengan wajah datar namun juga terlihat kesal, mereka serasa tengah dipermainkan oleh Alena
"Joice, salahmu sendiri kenapa kau menghilang begitu lama. Daddy sudah mempercayakan mu untuk menjaga ku tapi kau entah pergi kemana. Jadi jangan salahkan aku jika aku pergi tanpa memberitahumu" ucap Alena.
Joice terdiam, dia jadi ingat dengan pria bertopeng yang dia kejar sewaktu di Barrent's Agency semalam, mungkin kah ini ada hubungan nya dengan Alena yang pergi dengan mudah. Setiap Alena menghilang, pria itu pasti muncul
Alena kini beralih pada Clara dan membawa gadis itu untuk duduk disofa, wajah Clara tampak pucat. Mungkin dia benar benar sedang tidak enak badan sekarang
"Clara, wajahmu pucat, sebaiknya berhenti mengomeliku dan ayo duduk disana" ajak Alena menarik lengan Clara menuju sofa
"Kau yang membuat kepala ku bertambah pusing" gerutu Clara yang tetap mau dibawa Alena dan duduk disofa
"Joice, duduklah. Kau tidak lelah berdiri disana" seru Alena pada Joice yang masih tampak berdiri mematung ditempat nya. Seperti nya agen wanita itu tengah memikirkan sesuatu, hingga suara seruan Alena mampu membuat nya sedikit terkesiap
Joice melirik Clara sekilas dan menggeleng pelan. Entah kenapa sejak malam itu dia menjadi malas bertemu dengan Clara.
"Saya tunggu diluar saja nona" ucap Joice. Yang segera berlalu dan keluar dari butik
Alena hanya mengendikkan bahu nya sekilas dan kembali menoleh pada Clara yang tampak merebahkan kepala nya disofa
"Kau sebaiknya istirahat saja dirumah, kenapa malah datang kemari" kata Alena. Dia beranjak dan mengambil sebotol air mineral diatas mejanya
"Aku khawatir kau pergi entah kemana Alena, lagi pula calon kakak iparmu itu benar benar menyebalkan, dia menghubungiku sejak semalam. Dia tidak tahu kepala ku terasa mau pecah" gerutu Clara
Alena langsung tersenyum miris dan memberikan air pada Clara yang menerima nya dengan lemas
"Maafkan aku, lagi lagi aku membuat mu susah" kata Alena tidak enak
"Kau memang selalu begitu" jawab Clara yang kembali merebahkan tubuh nya
Alena memperhatikan wajah Clara yang sangat pucat. Dia meletakkan tangan nya didahi Clara dan langsung terkesiap kaget.
"Clara kau demam" kata Alena panik
"Aku hanya butuh istirahat sejenak" gumam Clara
"Kita harus kerumah sakit, tunggu disini" ucap Alena yang benar benar panik. Dia beranjak dari duduk nya dan ingin mengambil ponsel nya diatas meja, namun suara seseorang yang masuk membuat nya terkejut
"Alena, kau menghilang lagi ha?" tanya Reymond yang ternyata baru datang ketempat itu setelah pagi ini dia dihubungi ayahnya jika Alena tidak pulang kerumah
"Kakak" gumam Alena
"Kenapa kau tidak pulang, kau ini selalu saja keras kepala, kenapa......"
"Stop, berhenti dulu mengomel nya, lebih baik sekarang bantu aku membawa Clara kerumah sakit" kata Alena yang menunjuk Clara disofa
Reymond langsung beralih dan begitu terkejut melihat Clara yang ternyata ada didalam sana, apalagi dengan wajah yang begitu pucat. Bahkan tanpa berkata apa apa dia langsung berlari mendekati Clara
"Clara, hei, ada apa dengan mu" kata Reymond begitu panik. Dia menyentuh wajah Clara yang begitu hangat
"Oh kepala ku pusing" gumam Clara
"Ya tuhan" Reymond langsung membawa Clara kedalam gendongan nya dan berjalan dengan cepat keluar butik diikuti oleh Alena yang nampak terkesiap melihat Reymond yang bergerak begitu cepat.
Joice yang ada diluar bersama Jhon tampak mematung melihat Reymond yang menggendong Clara dengan wajah panik nya. Ada apa dengan nona muda itu, dan kenapa Reymond begitu cemas
"Apa yang kau lihat, buka pintu nya!" teriak Reymond pada Joice yang terkejut dan langsung berlari membuka pintu mobil. Bahkan Alena juga terlonjak kaget mendengar suara kakak nya. Sebegitukah Reymond jika sedang panik. Sebelum masuk kedalam mobil Alena sempat melihat wajah Joice yang tampak muram. Meskipun terkadang wajah nya datar dan dingin, tapi saat dibentak Reymond, dia langsung berekspresi lain. Dan Alena menjadi tidak tega sebenarnya
Namun untuk memikirkan itu dia tidak lagi punya banyak waktu, apalagi melihat Clara yang sudah hampir tidak sadarkan diri atau memang sudah tidak lagi sadarkan diri.
"Clara" panggil Alena yang tengah memangku kepala Clara. Dia mengusap wajah pucat Clara, namun gadis itu sudah tidak lagi bergeming
"Clara, hei bangunlah" pinta Alena mulai panik dan benar benar panik
"Clara" panggil Alena lagi, bahkan dia sudah ingin menangis sekarang
"Kakak lebih cepat, Clara sudah pingsan" pinta Alena dengan begitu panik
Reymond melirik Clara sekilas, hati nya juga benar benar kahwatir saat ini, dia bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi menuju rumah sakit terdekat.