ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Berbahagialah, Maka Aku Juga Akan Bahagia



Clara masih mematung memandang punggung Alena dan Kenzo yang sudah lagi tidak tampak dipandangan nya. Entah kenapa hati nya begitu was was. Ada rasa khawatir yang begitu mendalam dengan kepergian Alena kali ini. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Alena. Jika gadis itu tidak bisa sembuh bagaimana? Jika Alena tidak bisa bertahan bagaimana?


Mata Clara menjadi berkaca kaca mengenang itu.


Dia sedikit terkesiap saat seseorang menepuk bahunya dengan lembut.


"Nak, ayo. Kau mau pulang atau ke agensi?" tanya nyonya Monica


"Aku ke agensi saja mom. Mommy bisa pulang duluan" jawab Clara


"Baiklah,.hati hati" ucap nyonya Monica. Dan Clara hanya mengangguk saja.


Nyonya Monica dan tuan Wesley langsung kembali kerumah utama. Sebagai orang besar mereka cukup sibuk dan mempunyai tugas yang tidak bisa ditinggalkan, apalagi tuan Wesley yang menjabat sebagai pejabat negara.


Dan kini, yang tersisa ditempat itu hanya mereka bertiga. Clara bersama Edward dan Reymond. Tempat itu sengaja diblokir oleh Edward, atas permintaan tuan Wesley. Mereka tidak ingin orang luar ada yang mengetahui tentang hal ini. Belum saatnya publik tahu tentang Alena. Apalagi Alena yang masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kesehatan nya.


Tanpa Clara sadari, sejak tadi Reymond dan Edward saling pandang tajam dan tidak suka. Bukan Reymond, hanya Edward yang memandang Reymond tidak suka. Padahal Reymond hanya diam dengan wajah datar nya.


"Clara" panggil Reymond.


Clara yang masih memperhatikan kepergian orang tuanya langsung menoleh pada Reymond. Dia sedikit mematung saat Reymond mendekat kearah nya. Sudah lama mereka tidak bertemu, terakhir kali saat mereka menangani kasus Lian. Setelah itu, baru ini lagi pertemuan mereka.


Edward memicingkan matanya memandang Reymond. Seolah dia sedang mengamati apa yang ingin dilakukan oleh calon kakak ipar king nya ini.


"Hari ini adalah sidang kasus Lian, aku akan kesana. Apa kau ingin pergi?" tanya Reymond


Namun belum sempat lagi Clara menjawab, Edward langsung menyahuti perkataan nya


"Ada banyak pekerjaan di agensi. Nona Clara cukup sibuk hari ini" sahut Edward


Clara sedikit terkesiap, dia langsung menoleh kearah Edward yang memandang tajam pada Reymond. Seingat nya hari ini tidak ada rapat atau pertemuan bisnis maupun meeting room, kenapa Edward malah berkata jika dia sibuk???


Ah, Clara tiba tiba jadi ingat tentang perkataan Alena tempo lalu. Jika Edward sangat cemburu dengan Reymond.


Clara tersenyum dalam hati. Seperti nya boleh dicoba dan mengetes tentang perasaan kedua lelaki ini. Yah, dia ingin mengetahui apa Edward benar benar cemburu pada Reymond? dan apa Reymond sudah bisa merelakan nya seperti yang pernah dia katakan dulu?


Clara berdehem dan memandang kearah Reymond. Dia tersenyum manis memandang calon ipar nya ini


"Sebenar nya aku tidak begitu sibuk" ucap Clara, dan dapat dia lihat Edward langsung bereaksi dan memandang nya dengan kesal


"Jam berapa sidang nya dimulai" tanya Clara


Reymond tersenyum dan segera memandang jam dipergelangan tangan nya.


"Jam sembilan, sekitar satu jam lagi" jawab Reymond


"Baiklah, kita pergi sekarang" jawab Clara.


"Tapi nona" Edward langsung meraih pergelangan tangan Clara, dan itu tentu tidak luput dari pandangan mata Reymond


"Ada apa, kalau kau mau kau bisa ikut. Aku ingin melihat bagaimana hukuman yang ditimpahkan untuk Lian. Jangan sampai dia mendapatkan hukuman yang tidak sesuai dengan apa yang sudah diperbuatnya" ungkap Clara


"Ayolah tuan asisten. Hanya sebentar. Kau tidak akan kehilangan dia selama nya" sindir Reymond yang langsung berlalu berjalan mendahului mereka.


Clara mengernyit mendengar perkataan Reymond, dan dia kembali memandang kearah Edward


Edward terkesiap, dan langsung melepaskan tangan nya.


"Baiklah, saya akan mengantar anda kesana" ujar Edward yang akhirnya hanya bisa pasrah.


Clara tersenyum tipis dan langsung mengangguk. Ok, belum apa apa seperti nya dia sudah tahu jika Edward memang sangat tidak menyukai Reymond.


Akhirnya pagi itu Clara bersama Edward pergi kegedung persidangan untuk menyaksikan hukuman apa yang akan didapatkan oleh Lian.


Clara pergi bersama Edward, sedangkan Reymond mengendarai mobilnya sendiri.


Dan hampir satu jam kemudian, mereka tiba didepan gedung.


Mereka bertiga langsung masuk kedalam sana, dan Joice langsung mendapati Reymond yang baru datang.


Gadis itu memakai pakaian dinasnya, meski terlihat tomboy dan tegas, tapi cukup keren dimata Clara.


"Tuan, apa kapten Stone jadi pergi pagi ini?" tanya Joice pada Reymond. Dia sama sekali tidak melihat Clara yang datang bersama Edward


"Yah, Daddy menyerahkan semuanya padamu" jawab Reymond


"Baiklah, semua sudah sesuai arahan kapten. Tuan bisa duduk disana" Joice menunjuk sebuah kursi yang memang sudah dia siapkan


"Aku datang bersama mereka" Reymond membalikkan tubuh nya dan memandang Clara bersama Edward


Joice langsung terkesiap memandang Clara. Dia tidak menyangka jika Reymond akan mengajak nya juga. Tapi ya mau bagaimana lagi, Clara memang berhak untuk semua nya


"Maaf nona, saya tidak melihat anda. Silahkan duduk disebelah sana" ujar Joice yang sedikit membungkukkan tubuhnya dihadapan Clara dan menunjuk tempat dimana Reymond duduk


"Oke, ayo Ed" ajak Clara


Edward hanya mengangguk saja. Dan akhirnya mereka duduk disana bersama sama. Reymond dan Clara duduk bersebelahan, sementara Joice dan Edward duduk disisi mereka masing masing.


Dan disini, Edward yang benar benar merasa bodoh karena sudah kecolongan. Karena dia yang sejak awal telah memilih Lian untuk menjadi asisten Alena. Namun nyatanya, Lian malah mengkhianati mereka.


Lian tertunduk dan menangis, saat hakim membacakan hukuman nya. Dua puluh tahun penjara, dan tentu itu hukuman yang cukup berat meski rasanya tidak setimpal dengan nyawa Alena yang sekarang menjadi taruhan nya.


Setelah persidangan selesai, Lian segera dibawa untuk dikembalikan ketahanan nya. Seraya berjalan, pandangan mata Lian tidak putus memandang Edward yang menatap nya dengan tajam.


Pandangan mata Lian begitu hancur dan mengiba. Tapi bagi pria batu seperti Edward, rasanya sekarang dia malah ingin membunuh gadis itu. Gara gara dia, kebahagiaan king nya menjadi terancam kembali.


Alena adalah suatu keajaiban yang datang setelah berbagai kesakitan yang mendera, dan Edward benar benar benci dengan pengkhianat seperti Lian.


"Sebenarnya aku tidak tega, mengingat bagaimana dekatnya dia dengan Alena. Bahkan dia sudah sangat membantu dibutik. Tapi malah dia yang menghancurkan Alena" gumam Clara saat semua orang sudah mulai membubarkan diri mereka


"Aku juga tidak menyangka jika orang itu adalah Lian" balas Reymond pula


"Hmm,.aku bahkan berharap orang itu Rebecca" sahut Clara


"Rebecca" gumam Edward


"Ya, kau tahu, dia yang lebih pantas menjadi pengkhianat. Wajah menyebalkan dan angkuh nya itu begitu mendukung" gerutu Clara, terdengar begitu tidak suka jika membahas Rebecca


"Terkadang, orang yang paling dekat dan paling baik itulah yang wajib kita curigai terlebih dahulu nona" sahut Joice pula


Kini mereka berempat berjalan menuju luar gedung.


"Kau benar Joice. Aku sungguh tidak menyangka. Padahal aku sudah menyelidiki dengan baik asal usulnya" Edward terlihat menghela nafasnya


"Bukan salahmu, dia yang tidak percaya pada dirinya sendiri" ujar Clara


"Yang terpenting sekarang dia sudah dihukum. Meskipun rasanya tidak setimpal dengan apa yang dialami oleh Alena" ungkap Reymond


"Aku benar benar berharap Alena akan segera sembuh" gumam Clara tertunduk sedih


"Dia pasti sembuh" sahut Reymond mengusap sekilas bahu Clara. Dan tentu saja itu membuat tatapan tajam dari Edward dan Joice langsung menghunus pada Reymond


"Ops... sorry" Reymond langsung tertawa melihat wajah kesal Edward, bahkan pria batu itu tampak mendengus melihat nya


"Calon istri disebelah tapi masih saja berani menyentuh gadis lain" gumam Edward


Clara memandang nya tidak percaya


"Apa salahnya, Clara akan menjadi ipar ku. Dan kami memang sudah berteman cukup lama" jawab Reymond


"Benarkan nona Clara" Reymond terlihat semakin ingin menggoda Edward. Walaupun hati nya memang sedikit tercuil melihat Edward yang begitu perhatian pada Clara. Tapi, dia cukup bersyukur jika Clara mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari dirinya.


"Yah, sejak dulu bahkan kami sering keluar berdua dan kau tidak pernah marah" sahut Clara pula


"Sekarang berbeda" ucap Edward


"Berbeda apanya?" tanya Reymond dan Clara bersamaan, dan mereka kembali tersenyum bersama, apalagi melihat wajah kesal Edward. Seperti kepuasan tersendiri bagi mereka.


"Sudahlah" jawab Edward yang langsung memalingkan wajah kesalnya


Joice yang merasa diabaikan menjadi sedih dan tidak enak sekarang. Lebih baik dia pergi dari sini. Dari pada hatinya terluka lagi.


"Tuan saya permisi" ujar Joice, Dia ingin membalikkan tubuhnya, namun Reymond langsung menangkap lengan Joice, membuat gadis itu langsung menoleh kearah nya. Joice memandang Reymond yang masih nampak memandang kearah Clara dan Edward, tapi kenapa Reymond malah menghalangi dia yang ingin pergi


"Clara, apa kau akan kembali keagensi?" tanya Reymond


"Ya, jika tidak hidupku pasti tidak akan tenang diteror oleh mereka" jawab Clara


Reymond tersenyum dan mengangguk


"Jika begitu kita berpisah disini?" tanya Reymond


"Hmm, seperti nya calon istrimu sudah tidak sabar" ucap Clara


"Ya, begitu pula dengan kekasihmu bukan" balas Reymond


Mata Clara langsung melebar mendengar itu , bahkan Edward langsung memandang Reymond yang kini tersenyum memandang Clara


Reymond mendekat kearah Clara dan membisikkan sesuatu ditelinga gadis itu


"Berbahagialah, maka aku juga akan bahagia"


Setelah mengucapkan itu, dia langsung pergi dan menarik lengan Joice yang memandang nya dengan heran.


Begitu pula dengan Edward.


Mereka penasaran, apa yang dibisikkan Reymond ditelinga Clara, hingga Clara kini tampak tersenyum namun dengan mata yang sedikit berair memandang kepergian Reymond dan Joice


"Nona" panggil Edward, membuat Clara langsung terkesiap kaget


"Ah, ayo kita pergi" ajak Clara yang langsung merangkul lengan Edward. Dan membuat pria batu itu menjadi heran.