
Kenzo mengerjapkan matanya beberapa kali. Pandangan matanya masih memburam, namun lama kelamaan semakin jelas. Dia memandang keatas langit langit kamar dengan helaan nafas yang begitu berat.
Matanya terlihat sembab dan wajahnya benar benar kusut. Bahkan kepalanya masih cukup pusing.
Rasanya, dia seperti telah bermimpi sesuatu. Sesuatu yang sangat buruk.
Alena....
"En..." panggilan lembut itu membuat Kenzo langsung terkesiap. Dia segera beranjak duduk dan menoleh kesamping. Dimana Alena memandang nya dengan senyum yang begitu indah diwajahnya yang pucat.
Kenzo mengerjapkan matanya beberapa kali.
Ini Alena nya, Alena nya masih hidup.
"A...Ale" gumam Kenzo.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Alena.
Mata Kenzo kembali menggenang air. Tangan nya langsung mengusap wajah Alena. Bahkan Alena dapat merasakan jika tangan itu bergetar dan terasa begitu dingin.
"Kau ...kau masih hidup kan, kau masih bersamaku?" tanya Kenzo
Alena tersenyum dan meriah tangan Kenzo, menggenggam nya dengan lembut dan mengangguk dengan pelan.
"Aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkan mu kan" jawab Alena
Kenzo kembali terisak dan langsung memeluk Alena dengan erat. Menciumi seluruh wajahnya tanpa henti.
Alena mengusap punggung Kenzo yang masih bergetar menahan tangis. Tidak tahu apa yang telah terjadi, namun ketika dia sadar beberapa jam yang lalu, dia melihat Kenzo tertidur begitu lelap disamping nya.
Dokter Richard berkata jika dia tidak boleh membangunkan Kenzo. Dan ketika melihat ekspresi Kenzo yang sekarang, Alena sadar jika Kenzo bukan tertidur, melainkan tidak sadarkan diri.
"En.... jangan menangis lagi, aku tidak suka. Bukan kah aku sudah baik baik saja" ujar Alena.
Kenzo segera menggeleng dan masih memeluk Alena dengan erat. Dia seakan tidak ingin melepaskan Alena. Malam tadi dia benar benar seperti ingin mati saat mengetahui detak jantung Alena yang tidak lagi berdenyut. Dia benar benar takut, dan sekarang dia tidak ingin melepaskan pelukan ini. Namun...
"En... kau membuat ku sesak" ucap Alena.
Kenzo terkesiap, dan segera melepaskan pelukan nya. Namun masih tetap mendekap tubuh Alena. Memandangi wajah Alena dengan lekat, sudah tidak sepucat semalam. Apa dia sudah baik baik saja, apa serum itu berhasil???
"Maaf.. aku begitu takut kau pergi Alena" jawab Kenzo.
Alena menggeleng dan tersenyum. Dia mengusap wajah Kenzo dengan lembut.
"Aku tidak akan pergi, aku masih ingin menikah bersamamu dan menjadi princess nya tuan Amerika" ucap Alena.
Kenzo mendengus senyum dan mengecup bibir Alena. Setelah itu dia memandang kamar itu, dimana hanya ada mereka berdua.
"Kemana semua orang?" tanya Kenzo
"Mereka keluar dan membiarkan kita beristirahat. Nona Angel dan tuan Cris juga ada diluar bersama Daddy" ungkap Alena.
Kenzo mengernyit, dia menoleh pada jam dinding yang ada disana.
"Jam sembilan" gumam nya dengan mata yang melebar.
"Kau tidur begitu lama" kata Alena.
Kenzo terperangah. Kenapa dia bisa tertidur begitu lama???
Dia menoleh kembali pada Alena yang berusaha untuk duduk, namun segera dihalangi oleh Kenzo.
"Hei... kau jangan bergerak dulu" pinta Kenzo.
"Aku sudah baik baik saja" jawab Alena.
Kenzo membantu nya duduk dan bersandar dikepala ranjang.
"Pergilah mandi dan bersihkan dirimu. Kau terlihat jelek pagi ini" ucap Alena.
Kenzo mendengus senyum dan mengusap pucuk kepala Alena.
Ya Tuhan, hati Kenzo benar benar lega melihat Alena seperti ini.
Apa malam tadi dia bermimpi???
Tapi kenapa seperti nyata?
Ketakutan, ketegangan, kesedihan dan air mata. Semua benar benar terasa nyata. Tapi kenapa pagi ini semua terlihat baik baik saja?.
Alena juga tampak lebih segar. Dan lagi kemana semua orang?
Apa yang sudah dia lewatkan, kenapa dia bisa tertidur begitu lama?
"Kenapa malah melamun hmm?" usapan lembut tangan Alena diwajah nya membuat Kenzo terkesiap dan langsung memandang Alena.
"Aku tidak sedang bermimpi bukan?" tanya Kenzo. Dia sudah seperti orang linglung sekarang.
Alena tersenyum dan mencubit kuat lengan nya, membuat Kenzo langsung meringis dan mengusap lengan nya dengan pelan.
"Apa terasa? aku belum mempunyai banyak tenaga untuk mencubitmu" ucap Alena.
Sekali lagi, Kenzo kembali memeluk Alena dan mencium dahinya dengan lama.
"Aku benar benar seperti orang bodoh sekarang. Tapi aku sungguh berharap kau sudah baik baik saja Alena" harap Kenzo.
"En... aku sudah baik baik saja. Bahkan sudah jauh lebih baik dari sebelum nya" jawab Alena
"Sekarang pergilah mandi, kau butuh menyegarkan dirimu. Setelah itu baru bisa bertanya pada Professor Brian " ujar Alena
"Sekarang saja, aku akan memanggilnya" jawab Kenzo. Dia ingin beranjak dari atas tempat tidur, namun Alena segera menghalangi nya.
"Mandi dulu" ujar Alena
"Aku ingin tahu apa yang terjadi Ale" sahut Kenzo. Namun Alena segera menggeleng.
"Kau harus mandi dan membersihkan diri. Kau tidak lihat bagaimana kacau nya dirimu sekarang. Kau tidak malu pada tuan Cris??? tidak malu pada mantan kekasih mu itu?" tanya Alena, bibir nya sedikit kesal ketika menyebut mantan kekasih.
Kenzo mendengus senyum mendengar itu.
"Apa aku terlalu jelek sekarang?" tanya Kenzo. Alena langsung mengangguk dengan cepat.
"Sudah jelek, bau pula" ucap nya.
Sungguh demi apapun, Kenzo benar benar bahagia melihat wajah menggemaskan ini lagi, wajah yang sudah mulai berbinar. Ya Tuhan, apa malam tadi dia hanya bermimpi.??
Mulut Alena langsung dibungkam Kenzo dengan ciuman hangat nya, membuat Alena langsung melebarkan matanya karena terkejut.
Kenzo langsung melepaskan ciuman itu saat merasa Alena yang mulai kehabisan nafas.
"Aku akan mandi dan tampan lagi untukmu. Hanya untukmu. Tunggu aku, dan jangan kemana mana" ucap Kenzo.
Dia mengecup sekilas kembali bibir Alena dan segera beranjak dari atas tempat tidur, meninggalkan Alena yang tersenyum memandang nya.
Kenzo, dia begitu takut Alena yang tidak bisa ditolong hingga dia bisa pingsan. Sebesar itukan cinta Kenzo untuknya???
Alena sungguh bersyukur bisa kembali sadar dan bernafas lagi. Tidak tahu bagaimana jadinya dengan Kenzo jika dia benar benar pergi malam tadi. Apa Kenzo akan menjadi gila??? Rasa kehilangan sudah membuat hati nya lemah, bahkan pagi tadi Alena bisa melihat sendiri Angel yang begitu menatap iba pada Kenzo. Dia benar benar merasa begitu bersalah, karena dia Kenzo menjadi seperti ini. Tapi bukan karena itu, melainkan takdir mereka yang mengharuskan mereka merasakan semua kepahitan hidup.
'Mommy... terimakasih sudah meminta Ale kembali. Ale janji akan selalu ada untuk membahagiakan Daddy dan Kenzo juga kakak' gumam Alena dalam hati.
..
Satu jam kemudian, Kenzo sudah jauh terlihat lebih segar. Dia sudah rapi dengan kaos hitam dan juga celana jeans nya. Duduk disamping Alena dan memandangi semua orang yang ada didalam kamar itu. Dipangkuan nya sudah ada dua baby twins yang menggemaskan sedang bermain bersama Alena. Dan ada Angel yang duduk dikursi didekat Alena.
"Apa kau sudah puas tidur nya tuan Ken?" tanya Cristian dengan wajah yang menyebalkan seperti biasa. Dia berdiri disamping istrinya dan bersandar pada meja nakas.
"Bahkan kami sudah berjam jam menunggumu bangun" tambah Cristian lagi.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Kenzo.
"Kau tidak bisa bangun, terlalu nyaman dalam tidur indah mu" sindir Cristian membuat Kenzo langsung mendengus jengah, namun juga masih penasaran dengan apa yang terjadi. Apalagi dia bisa melihat jika Angel yang melirik nya sesekali.
Kenzo memandang Professor Brian yang sedang meracik sesuatu dimeja tidak jauh dari mereka berada. Sedangkan Kapten Stone dan dokter Richard duduk disofa dan terlihat membahas sesuatu.
"Alena hati hati, aku takut Michael bergerak terlalu lincah" ujar Angel saat melihat Alena bermain dengan baby Michael yang sangat aktif.
"Tidak apa apa nona. Michael juga mengerti aunty nya sedang sakit, ya kan nak" ucap Alena seraya memainkan pipi gembul Michael. Sedangkan Michella terlihat tenang berada dipangkuan Kenzo.
"Kapan kalian datang, kenapa pagi sekali sudah ada disini?" tanya Kenzo pada Cristian dan Angel.
"Dini hari tadi Jorge memberi tahu kami jika keadaan Alena kritis. Jadi aku langsung datang kemari, sedangkan Angel dan anak anak, baru tiba dua jam yang lalu" jawab Cristian.
"Kenapa aku bisa tidak tahu" gumam Kenzo.
Angel terlihat memandang Kenzo dengan lekat, ada rasa iba dan rasa bersalah dalam pandangan mata itu. Tapi dia cukup bersyukur jika Alena sudah baik baik saja sekarang. Jika tidak, maka Angel tidak tahu apa yang akan terjadi pada Kenzo.
Alena memandang Angel yang tampak menoleh pada Kenzo, dia tahu Angel merasa bersalah, tapi bukan berarti ini juga salah nya.
"En... kau terlalu kelelahan, maka nya kau tidak ingat apapun" sahut Alena
Kenzo memandang Alena dengan heran. Namun baru akan bertanya, Professor Brian sudah datang mendekat kearah mereka dengan membawa sebuah suntikan yang berisi cairan bewarna benih.
"Suntik lagi?" tanya Alena dengan getir. Rasanya dia benar benar sudah bosan dan trauma melihat suntikan ini.
"No no no" Michael langsung menggeleng dengan cepat dan menggerak gerakan tangan nya pada Professor Brian, membuat Alena dan semua orang yang ada disana langsung menoleh padanya dan tertawa gemas. Rasa takut Alena menjadi hilang karena ulah Michael.
"Hei boy, kau tidak boleh aunty disuntik hmm?" tanya Kenzo
Dan Michael langsung mengangguk dengan cepat.
"Oh my God Michael, kau masih kecil tapi sudah mengerti" sahut Cristian begitu takjub.
"Sayang, kau memang mengerti jika aunty takut" bisik Alena seraya mengecup pipi Michael dengan gemas.
"Tuan muda kecil, ini vitamin untuk aunty. Permisi sebentar oke" ucap Professor Brian
"Ayo sayang, kau ikut mommy dulu" Angel ingin meraih Michael dari pangkuan Alena, namun Michael malah menggeleng kuat dan menolak.
"Oh my God Michael, hanya sebentar sayang" ajak Angel lagi. Namun tetap saja baby boy itu menolak dan merengek, dia seolah tidak ingin membiarkan Alena disakiti.
Kenzo langsung tertawa melihat kelakuan anak Cristian itu.
"Hei, tenang lah, ada uncle yang akan menjaga aunty, tidak apa apa" ucap Kenzo. Namun Michael malah memeluk lengan Alena sekarang.
"Oh sayang, kemarilah, aunty hanya diobati supaya cepat sehat. Jangan begitu" Angel masih berusaha merayu Michael namun tetap saja dia tidak ingin.
"Michael, come on boy. Jangan begitu, kemari dengan Daddy, setelah disuntik, aunty pasti bisa mengajak mu bermain, membeli ice cream" kata Cristian pula.
Michael terdiam, memandang Cristian dengan wajah yang sangat menggemaskan.
"Ya, nanti setelah aunty sembuh kita membeli ice cream" kata Alena pula. Dia benar benar terharu melihat anak Angel yang satu ini. Sedangkan Michella malah diam saja dipangkuan Kenzo. Dia seperti mommy nya yang tidak banyak berkata kata.
"Oke... kita melihat paman Jorge bermain kucing dibelakang. ayo" ajak Cristian lagi.
Namun ketika mendengar nama Jorge disebut, bukan hanya Michael yang tertarik melainkan juga Michella.
"Oh my God, kau juga ingin pergi girl?" tanya Kenzo, dan dengan pintarnya Michella juga langsung mengangguk.
"Oke, kita pergi bersama Daddy. Come on anak anak Daddy" Cristian langsung melebarkan tangan nya membuat Michael dan Michella langsung beranjak dan merangkak kearah nya.
"Ah pintar" ucap Cristian yang segera menggendong kedua balita menggemaskan itu.
"Jangan nakal ya sayang" ujar Angel seraya mengusap kepala kedua anak nya.
"Bye mommy, bye aunty" pamit Cristian, begitu pula kedua balita itu, mereka juga melambaikan tangan nya pada Angel dan Alena. Membuat Alena benar benar gemas melihat nya. Dia jadi ingin sekali punya anak seperti baby twins itu.
"Aaaa lucu sekali mereka. Aku ingin punya yang seperti itu" gumam Alena
Angel dan Kenzo langsung tertawa mendengar nya.
"Nanti kau pasti akan punya Alena." sahut Angel.
Alena langsung tersenyum dan mengangguk. Namun saat melihat Professor Brian senyum diwajahnya langsung menghilang dan wajahnya berubah sedih kembali.
"Apa itu harus?" tanya Alena.
"Ini yang terakhir nona. Vitamin untuk kekebalan tubuh anda" jawab Professor Brian yang semakin mendekat, sedangkan Angel yang segera bergeser menjauh.
"Apa akan sakit lagi?" tanya Alena. Matanya bahkan berkaca kaca sekarang.
"Tidak, ini tidak sakit. Saya jamin" jawab Professor Brian.
"Tidak akan sakit Ale. Tenang lah. Ini yang terakhir" kata Kenzo pula.
Alena hanya mengangguk pasrah, dan memberikan tangan nya pada Professor Brian. Kenzo langsung menarik kepala Alena untuk dia dekap, ketakutan Alena akan rasa sakit, masih begitu terlihat, seperti nya dia benar benar trauma.
Perlakuan hangat Kenzo, tentunya tidak luput dari pandangan mata Angel yang sejak tadi selalu memperhatikan nya.
'Alena, semoga kau selalu sehat dan bisa membuat pria baik ini bahagia' harap Angel dalam hati. Begitu dalam dan penuh perasaan, karena bagaimana pun Kenzo adalah seseorang yang pernah menjadi berarti dalam hidupnya, meski kini hanya tinggal sebuah cerita pengisi hati.