ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Perbincangan Kenzo Dan Kapten Stone



Kenzo menutup pintu kamar Alena dengan pelan. Alena baru saja tertidur setelah dia menemaninya sejenak tadi. Hari sudah cukup larut, mereka juga sudah sangat lama berbincang, dan Kenzo harus rela untuk menyudahi pertemuan mereka malam itu. Sepertinya setelah ini dia memang sudah harus menyelesaikan semua masalahnya agar dia bisa cepat menikahi Alena.


Apa yang dikatakan oleh Alena memang benar, jika sudah menikah maka mereka tidak akan berpisah lagi, dan Kenzo bisa selalu melihat wajah cantik nan sendu itu setiap harinya. Tidak lagi seperti ini, masih harus menahan diri dan juga hati. Rasanya Kenzo memang sudah tidak sabar lagi.


Kenzo sedikit terkesiap saat dia membalikkan diri ternyata kapten Stone sudah berdiri disana. Pria tua itu memandang nya begitu lekat dan Kenzo tahu apa yang diinginkan oleh ayah Alena ini. Pasti tentang sebuah penjelasan.


"Ikut aku" ujar kapten Stone


Kenzo hanya diam dan mengikuti langkah kaki kapten Stone menuju kesebuah ruangan. Mungkin ruang kerja nya.


Kapten Stone duduk disebuah sofa dan diikuti oleh Kenzo yang duduk dihadapan nya. Kenzo tertunduk dan dia menunggu apa yang ingin diucapkan oleh kepala agen ini. Terkadang dia merasa lucu, dalam sepuluh tahun hidupnya didunia mafia, dia selalu menghindari semua tentang aparat negara, kepolisian dan terutama agen. Tapi sekarang yang terjadi malah sebalik nya. Dia jatuh cinta pada anak seorang agen, bahkan kepala agen, benar benar tidak disangka.


"Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku tuan Kenzo Barrent?" tanya kapten Stone memandang Kenzo dengan lekat dan....tajam


Kenzo menghela nafasnya sejenak dan membalas pandangan kapten Stone yang terlihat begitu mengintimidasi. Namun tentu tidak akan berpengaruh pada seorang king Aldrego.


"Apa yang ingin anda dengar kapten?" tanya Kenzo pula


Alis kapten Stone tergerak, memandang sinis pada Kenzo. Ya, Kenzo adalah seorang tuan Amerika, apa dia fikir Kenzo bisa dengan mudah menjelaskan dan meminta maaf tentang semua yang telah terjadi.


Meski Kenzo adalah calon menantunya, namun sifat angkuh itu tetaplah ada. Dan kapten Stone memang mau tidak mau harus memaklumi itu.


"Setelah semua yang kau lakukan, membohongi publik tentang kematianmu. Apa kau masih bisa bersikap sesantai ini?" tanya kapten Stone


Kenzo menghela nafasnya sejenak dan tersenyum tipis


"Aku tidak pernah tahu jika orang orang menganggapku mati. Aku hanya ingin menenangkan diri dan memulihkan keadaan ku tanpa ikut campur tangan orang lain" jawab Kenzo begitu santai


"Menenangkan diri dengan membuat semua orang panik? bahkan orang tua mu sendiri" kapten Stone langsung melipat kedua tangan nya didepan dada


"Sebenarnya apa yang ingin anda ketahui kapten?" tanya Kenzo


"Apa yang sedang kau kerjakan sebenarnya?" tanya kapten Stone


Dan kini alis Kenzo yang tergerak, wajahnya masih datar dan terlihat begitu santai


"Apa?" tanya Kenzo dengan wajah yang tiada rasa bersalah


"Kau tahu apa maksudku" sahut kapten Stone membuat Kenzo mendengus senyum


"Tidak ada yang aku kerjakan. Aku hanya duduk diam ditempat ku sembari memulihkan keadaan ku yang hampir mati" jawab Kenzo


"Kenapa kau tidak kembali. Kau pasti merencanakan sesuatu" kata kapten Stone lagi. Dan Kenzo benar benar merasa seperti sedang disidang sekarang, dan sialnya dia disidang oleh calon mertua nya sendiri. Jika kapten Stone orang lain maka dia tidak akan betah duduk lama disini, hanya membuang waktu saja.


"Rencana ku sudah selesai sejak kalian menangkap mereka" jawab Kenzo


"Masih ada pria bertopeng, kakak Mike yang kau bilang telah meracuni Alena" ujar kapten Stone


Kenzo menghela nafasnya sejenak dan mengangguk pelan


"Dia sudah tamat" jawab nya


"Kau yang membunuhnya?" tuding kapten Stone membuat Kenzo langsung mendengus senyum sinis


"Memang sudah seharusnya begitu. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang sudah berniat buruk pada Alena bisa bebas begitu saja" jawab Kenzo dengan pandangan mata yang menajam


Kapten Stone menggeleng pelan, dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan nya pada tuan Amerika ini. Marah? kecewa? sudah pasti. Tapi untuk menghukum dan mencari tahu semua kejanggalan nya,.apa itu harus? Alena membutuhkan Kenzo, dan Kapten Stone tidak mungkin bisa melarang nya


"Aku minta maaf padamu kapten, aku tahu karena aku yang menghilang, kau dan anggota mu sudah begitu sibuk bahkan mendapat serangan dari publik dan juga orang tua ku. Tapi percayalah, apa yang aku lakukan tidak akan merugikan kalian apalagi negara." ungkap Kenzo


"Dan satu lagi..." ujar Kenzo membuat kapten Stone langsung menoleh kearah nya


"Bagaimana pun tanggapan mu terhadapku, entah itu kecurigaan ataupun keraguanmu, percayalah, cintaku pada putrimu adalah sesuatu yang benar" ungkap Kenzo begitu dalam


Kapten Stone kembali menghela nafasnya. Jika tentang cinta Kenzo dia memang sudah tidak lagi meragukan nya. Dia tahu dan sudah melihat sendiri bagaimana pria angkuh ini menangis hanya karena nyawa putrinya. Dan sepertinya kapten Stone memang harus melupakan apa yang selalu ingin dia ketahui tentang Kenzo Barrent.


"Aku tahu, dan seperti nya aku memang harus melupakan rasa kesalku padamu demi Alena" ucap kapten Stone


"Memang sudah seharusnya begitu ayah mertua" jawab Kenzo membuat kapten Stone langsung mendengus gerah


"Tapi kau masih harus tetap mengadakan jumpa pers tentang alasanmu yang menghilang. Kau tidak bisa selama nya bersembunyi dibalik layar dan terus memojokkan kami para agen" ujar kapten Stone


"Tentu.. aku sudah merencanakan semua nya. Dua hari lagi, aku akan melakukan itu" jawab Kenzo


"Bagus. Aku sudah bosan diteror oleh nyonya Monic tentang dirimu" dengus kapten Stone dan Kenzo hanya tersenyum tipis saja.


Dia juga tidak tahu bagaimana untuk bertemu dengan kedua orang tua nya. Sudah lama sekali mereka tidak lagi berbincang, bahkan untuk sekedar menyapa. Bahkan Kenzo juga sudah sangat lama tidak pernah pulang kerumah utama orang tuanya. Rasa kecewa nya dulu benar benar membuat hatinya membeku. Meski dia tahu mama nya sudah menyesali semua perbuatan nya, tapi entah kenapa, Kenzo masih begitu ragu untuk kembali kerumah itu.


Sebenarnya dia cukup senang, karena dengan dia yang menghilang dari dunia luar dia bisa melihat seberapa penting dirinya bagi setiap orang. Tuan Wesley yang mau menggantikan kedudukan nya sebentar demi mempertahan kan agensi nya, Clara yang sekarang sudah mulai bisa bertanggung jawab, dan juga nyonya Monic yang sudah tahu bagaimana cara menghargai seseorang. Kenzo cukup bangga, tapi untuk kembali, dia masih merasa ragu.


Sejak dulu dia sudah terbiasa hidup sendiri, apalagi sejak masalah yang terjadi antara dia dan Angel, hubungan Kenzo dengan orang tua nya juga sudah merenggang.


Dan sekarang, meski masalah sudah selesai, tapi entah kenapa rasa kecewa itu masih saja ada. Padahal Angel sudah bahagia dan dia juga sudah menemukan Alena.


...


Setelah berbincang dengan kapten Stone, Kenzo akhirnya kembali kemansion. Dia tidak langsung tidur, melainkan pergi keruang bawah tanah dimana Edward berada. Satu hari ini dia belum melihat bagaimana keadaan tangan kanan kepercayaan nya itu.


Kenzo ditemani oleh Jack yang kini menjadi teman nya kemana pun dia pergi. Mantan pengawal Alena itu membuka ruang perawatan Edward, dan dia sedikit terkesiap saat melihat pemandangan yang ada didepan matanya. Jack sedikit bergeser dan membiarkan Kenzo masuk kedalam sana.


Alis Kenzo tergerak melihat apa yang dia lihat. Pemandangan yang membuat hatinya tenang namun juga....kesal.


Bagaimana tidak, Clara ada didalam sana dan menemani Edward yang tampak tertidur. Dan yang membuat nya tidak habis fikir adalah Clara juga tertidur tepat disamping pria batu itu.


Kenzo langsung menggelengkan kepalanya dengan helaan nafas berat. Mau marah, tapi bukankah ini yang dia mau, melihat mereka berdua dekat. Tapi jika tidak marah, kenapa ini terasa menjengkelkan, mereka belum menikah tapi sudah berani tidur berdua . Astaga, Kenzo benar benar tidak tahu harus berbuat apa.


Alis Kenzo kembali tergerak dan dia melipat kedua tangan nya didepan dada saat melihat Edward yang terbangun dari tidurnya.


Saat membuka mata, Edward benar benar terkejut melihat Kenzo yang ada dihadapan nya dengan mata yang memandang tajam kearah nya dan Clara.


Mata Edward langsung melebar, bahkan wajah nya kembali pucat dengan detak jantung yang bergemuruh, bukan karena sakit nya, melainkan karena ketakutan nya melihat wajah datar dan dingin itu.


Edward langsung menoleh kesamping nya dimana Clara yang masih tertidur dengan memeluk lengan Edward.


Dan kembali memandang Kenzo dengan wajah yang tidak tahu harus berekspresi seperti apa


"King" gumam Edward. Dia mencoba untuk bangkit perlahan, dan duduk diatas ranjang yang terdengar berderit.


Habislah sudah, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, kenapa dia malah terlena tadi dan akhirnya dipergoki oleh Kenzo. Edward tidak menyangka jika Kenzo akan datang di dini hari seperti ini.


Clara yang merasakan ada pergerakan juga terlihat menggeliat dan membuka matanya. Dia memandang Edward dengan sayu dan heran


"Ed, ada apa? kenapa sudah bangun? kau mau kekamar mandi lagi?" tanya Clara dengan suara serak nya


Kamar mandi? mendengar kata itu mata Kenzo semakin menajam dan memandang Edward dengan murka. Edward memejamkan matanya sejenak, dia benar benar takut sekarang, tatapan mata Kenzo seperti ingin menembus jantung nya


"Ed" panggil Clara yang masih menoleh pada Edward, dia belum membalikan tubuhnya sehingga tidak tahu jika kakaknya kini tengah begitu murka melihat mereka


Edward menoleh pada Clara dan menggeleng, dia kembali menoleh pada Kenzo, membuat Clara yang heran juga langsung beralih.


Seketika mata Clara langsung melebar sempurna, dan dengan cepat dia langsung bangun dan melompat turun dari tempat tidur


"Ka...kakak" gumam Clara dengan wajah pucat ketakutan


Kenzo memandang nya masih dengan tatapan dingin dan kepala yang menggeleng


"King, saya...saya bisa jelaskan" ucap Edward begitu berat


"Kakak, tolong jangan berfikiran yang macam macam, kami....kami....."


"Kami apa?" suara berat Kenzo yang begitu dingin cukup mampu membuat Clara dan Edward semakin takut dan salah tingkah.