
Tiga hari berlalu setelah penculikan Alena saat itu. Tapi hingga hari ini Alena belum juga sadarkan diri.
Hingga itu membuat Kenzo kebingungan. Pasal nya, semua luka ditubuh Alena sudah mulai hilang. Hanya tinggal luka di dahinya saja yang masih tertempel perban.
"Ini sudah tiga hari Richard, apa saja kerja mu ha!!" Bentak Kenzo pada dokter Richard yang masih duduk di mejanya dengan tenang.
"King, sudah saya katakan berulang kali. Nona Alena hanya tertidur. Alam bawah sadarnya menariknya hingga dia merasa betah disana. Trauma batin dan psikis nona Alena membuat otaknya lebih nyaman berada di alam bawah sadar. Kita hanya bisa menunggu, dan dengan sedikit pemberian stimulasi kecil, seperti pemberian semangat untuknya. Mungkin anda bisa membangunkannya dengan cara itu," ungkap dokter Richard begitu sabar. Jantungnya sudah lelah dengan amarah Kenzo setiap harinya.
Bahkan dia sampai tidak diizinkan pulang kerumahnya ataupun kembali kerumah sakit untuk bekerja demi mengontrol kondisi Alena.
"Tapi aku sudah mengajak nya berbicara terus menerus Richard, kau jangan menipuku!" seru Kenzo lagi. Dia terlihat begitu kesal sekarang. Sudah tiga hari berlalu dan Alena juga belum sadar.
Dokter Richard menghela nafas sejenak dan kembali menatap Kenzo.
"Cobalah berbicara dari hati ke hati king. Mungkin itu akan lebih bereaksi. Biasanya orang yang dianggap penting bisa membangunkan semangatnya," kata dokter Richard lagi.
Kenzo tertegun sesaat, dan langsung mengurut pangkal hidungnya.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya," gumam Kenzo.
"Anda bisa mengungkapkan isi hati anda. Misalnya jika anda khawatir, atau anda merindukannya saat ini." Ujar dokter Richard membuat Kenzo langsung menatapnya dengan tajam.
"Mm, maafkan saya king. Itu hanya umpama," jawab dokter Richard yang langsung tertunduk takut. Benar benar pemarah.
Kenzo langsung keluar dari ruangan dokter itu dengan wajah dinginnya. Namun itu membuat dokter Richard dapat bernafas dengan lega.
"Dia terlalu kaku. Mengapa tidak katakan saja jika dia khawatir dan telah jatuh hati pada gadis itu," gerutu dokter paruh baya itu.
"Ternyata, selera king Aldrego sudah berubah halauan sekarang," gumam nya lagi dengan kepala yang menggeleng pelan.
...
Kenzo masuk kedalam ruang perawatan Alena. Gadis itu masih tertidur dengan begitu tenang. Wajahnya sudah tidak pucat lagi. Bahkan bibir ranum yang selalu menggoda Kenzo itu sudah mulai berwarna sekarang.
Kenzo duduk dikursi samping tempat tidur Alena. Dia menatap dalam wajah gadis itu. Tidak ada lagi selang yang memenuhi tubuhnya. Hanya selang infus yang tertanam dipunggung tangan gadis itu.
Kenzo merenung, dia begitu bingung dengan perasaannya. Seharusnya jika dia hanya iba pada nasib Alena, dia sudah bisa tenang sekarang, karena dia telah menemukan orang tua kandung Alena yang sesungguhnya.
Dan seharusnya dia menyerahkan Alena pada kapten Stone, maka urusannya selesai bukan.
Tapi kenapa Kenzo malah mempertahankan Alena disini, dia tidak ingin gadis itu pergi dengan cepat. Bahkan dia tidak rela jika itu terjadi.
Kenzo menghela nafasnya perlahan. Lalu tangan kekar itu menggenggam tangan kecil milik Alena. Mengusap lembut jemari halus itu.
"Alena, aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini". Kenzo menarik nafasnya sejenak dan kembali menghembuskannya perlahan.
"Awalnya aku hanya iba melihat mu. Aku kasihan melihat gadis seusia mu menjalani kehidupan yang begitu menyedihkan."
"Awal nya aku menolong mu hanya karena merasa aku berhutang nyawa padamu yang telah menolong ku dahulu."
"Tapi semakin kesini, aku semakin terikat padamu. Kepolosan mu, keceriaan mu, semangat mu, bahkan kesedihan mu, semuanya mampu menarik perhatian ku," ungkap Kenzo. Dia menatap dalam wajah cantik Alena. Sangat dalam, bahkan sampai dia tak lagi bosan melihat wajah indah itu.
"Aku tidak tahu kenapa. Tapi yang aku tahu, aku tidak ingin kehilangan mu Alena. Kau seperti sinar mentari yang datang disaat hatiku tengah mendung."
"Aku tidak ingin kau pergi. Tetaplah bersama ku. Meski aku tidak tahu bagaimana perasaan ku saat ini. Tapi bersama mu, aku merasa sesuatu yang berbeda." Ungkap Kenzo kembali. Dan memang semua itu adalah isi hati nya selama ini.
Kehilangan seorang kekasih yang sangat dia cintai bukan hal yang mudah. Meski dia dikelilingi oleh ribuan wanita cantik, tapi tidak ada satupun yang bisa menggantikan permata hatinya itu. Tapi sekarang, semenjak kehadiran Alena, entah kenapa nama itu perlahan mulai meredup dan berganti dengan nama Alena yang setiap saat selalu hadir di pikirannya.
Kenzo mengusap wajah Alena dengan lembut. Hal yang dia sendiri pun lupa kapan terakhir kali bersikap lembut pada seorang wanita.
Kenzo mengecup lembut dan dalam dahi gadis itu. Dia membisikan sesuatu ditelinga Alena.
"Bangunlah. Ada berita bahagia untukmu Alena," bisik Kenzo
Dan entah kebetulan atau bagaimana, namun semua perkataan Kenzo seolah menjadi semangatnya untuk kembali dari alam bawah sadarnya.
Tangan Alena bergerak perlahan, matanya juga mulai menunjukan pergerakan, membuat Kenzo langsung tersenyum senang. Ternyata benar perkataan dokter Richard. Jika semangat Alena akan kembali jika hatinya tersentuh.
"Bangunlah Alena, kau harus bangun," panggil Kenzo terus menerus.
"Kau gadis yang kuat. Kau pasti bisa," kata Kenzo lagi.
Hingga tidak lama kemudian,
"En...." Alena mulai bergumam, namun masih dalam keadaan mata yang terpejam.
"En...."panggil nya lagi . Membuat Kenzo segera mendekatkan tubuhnya. Tangannya semakin menggenggam erat tangan Alena.
"Bangunlah. Aku disini. Aku ada bersama mu," kata Kenzo.
Alena mulai membalas genggaman tangan Kenzo meski masih begitu lemah. Dan matanya mulai terbuka perlahan lahan.
Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Kenzo yang sedang tersenyum menatapnya
"En..." Panggil Alena
"Iya, aku disini." sahut Kenzo.
"Aku takut," lirih Alena. Dia menatap sendu mata tajam itu.
"Jangan takut, aku akan selalu melindungi mu. Kau aman bersama ku," jawab Kenzo
"Jangan pergi," pinta Alena.
"Tidak akan." jawab Kenzo, dan itu membuat Alena tersenyum, namun dia kembali memejamkan matanya.
Kenzo mengernyit heran. Dia mengusap wajah Alena yang kembali terpejam.
"Alena!" panggil Kenzo.
"Hmm," gumaman Alena membuat Kenzo dapat bernafas dengan lega.
Kenzo langsung memencet tombol penghubung keruangan dokter Richard.
Dan tidak sampai lima menit kemudian dokter itu tiba bersama asistennya.
Kenzo hendak beralih, namun tangan Alena seolah tidak ingin melepaskannya.
"Jangan pergi," pinta Alena, dia membuka matanya kembali.
Dan, sudah lama sekali dia tidak melihat senyum Kenzo itu, senyum tulus yang benar benar berasal dari dalam hati.
Kenzo tersenyum menatap Alena. Dia mengusap perlahan punggung tangan gadis itu.
"Aku tidak pergi, aku hanya menjauh sebentar. Biarkan dokter Richard memeriksa mu," Ujar Kenzo. Alena melirik dokter Richard yang tersenyum padanya.
Perlahan genggaman tangan Alena mulai terlepas meski rasanya begitu enggan.
Kenzo menjauh sedikit, dan berdiri diujung kaki Alena. Dia mengamati dokter Richard yang memeriksa Alena.
"Semuanya sudah stabil, nona Alena hanya perlu beristirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak pikiran," ucap dokter Richard. Alena hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Saya akan datang besok pagi king. Asisten saya akan tetap disini untuk merawat nona Alena. Dan sekarang izinkan saya kembali." ucap dokter Richard pada Kenzo.
"Ya, pergilah,"Jawab Kenzo dengan malas.
Dokter Richard langsung keluar bersama asistennya meninggalkan Kenzo dan Alena berdua disana.
"Aku dirumah sakit?" Tanya Alena pada Kenzo yang kembali duduk di kursinya.
"Anggap saja begitu," jawab Kenzo. Membuat Alena mengernyit dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Apa masih ada yang sakit?" Tanya Kenzo , namun Alena hanya menggeleng.
Ingatannya kini berkelana pada kejadian mengerikan itu. Matanya mulai berkaca kaca kembali. Kejadian yang benar benar membuat Alena takut.
"En..." Panggil Alena, dia menatap Kenzo dengan pandangan yang begitu sendu.
"Sudah jangan dipikirkan. Kau sudah aman sekarang. Dia tidak akan mengganggumu lagi," Ujar Kenzo yang mengerti kegelisahan Alena.
"Benarkah?" Tanya Alena dan Kenzo langsung mengangguk.
"Aku benar benar takut saat itu. Aku kira aku akan mati," gumam Alena.
"Kau tidak akan mati selama masih ada aku Alena," Tegas Kenzo , hingga mampu membuat jantung Alena berdegup kencang, apalagi tatapan mata tajam itu yang seolah menembus sanubarinya.
Alena langsung mengalihkan pandangannya kebawah kaki.
Dan Kenzo menyadari tatapan matanya yang membuat Alena ketakutan. Dia hanya tidak suka mendengar Alena berbicara seperti itu.
Kenzo langsung mengambil tangan Alena dan menggenggamnya. Membuat Alena tersentak kaget, dia langsung menatap sendu wajah Kenzo yang telah melembut kembali.
"Maaf, aku hanya tidak suka jika kau berkata seperti itu. Kau meragukan ku Alena," ungkap Kenzo
"Aku hanya takut En. Kau menghilang selama seminggu. Aku kira kau tidak ingin menemui ku lagi, apa kau benar benar marah padaku karena malam itu?" Tanya Alena dengan air mata yang mulai menggenang.
Kenzo mengusap air mata itu perlahan, hingga membuat Alena lagi lagi dibuat bingung dengan tingkah Kenzo yang seperti itu.
"Aku tidak marah. Aku keluar kota untuk bekerja. Kau tahu kan aku adalah orang yang sibuk. Aku tidak bisa berdiam diri di satu tempat saja." jawab Kenzo
"Lalu Clara?" Tanya Alena lagi
"Clara, aku mengurungnya dirumah. Dia sudah berani mengajak mu ketempat seperti itu. Kau tidak boleh mengikuti jejaknya Alena. Dia terlalu liar," kata Kenzo lagi.
Alena kini membalas genggaman tangan Kenzo. Terasa sangat nyaman.
"En, Clara hanya ingin mengajak ku bermain. Disana semuanya aman. Kau pasti tahu itu," ucap Alena terdengar begitu lembut.
"Tapi dia membuat mu mabuk Alena," sahut Kenzo lagi.
"Tidak, bukan salahnya. Dia sudah melarang ku. Tapi aku hanya penasaran dengan rasa minuman itu. Aku hanya minum seteguk. Tapi entah kenapa aku bisa mabuk," jawab Alena begitu polos, hingga ingin rasanya Kenzo menggigit bibir itu.
"Jangan lagi ketempat itu. Itu bukan tempat mu," tegas Kenzo.
"Iya, maafkan aku. Aku tidak akan lagi kesana. Tapi ku mohon, jangan hukum Clara. Dia hanya mencari kesenangan En," pinta Alena.
"Dia perlu diberi pelajaran Alena. Kau tidak tahu bagaimana nakalnya dia." sahut Kenzo.
"Dia nakal karena dia ingin mencari perhatian mu," ucap Alena, dan itu membuat Kenzo mengernyit.
"Dia merindukan kakaknya yang hangat, dia merindukan kakaknya yang selalu perhatian seperti dulu. Dia nakal agar kau kembali memperhatikannya En. Clara sama seperti ku, dia sedih melihat kau selalu mengacuhkannya," ungkap Alena begitu lembut hingga mampu menyentuh hati seorang Kenzo Barrent.
Kenzo hanya terdiam, dia mulai melepaskan genggaman tangannya, namun Alena kembali mengeratkan genggaman itu dan membuat Kenzo menatapnya tak berkedip.
"Jangan buat luka di hatimu menyakiti orang lain En. Apalagi itu orang yang menyayangi mu." Ucap Alena.
Kenzo menghela nafasnya sejenak.
"Aku tidak bermaksud begitu," sahut Kenzo.
Alena tersenyum tipis, dia memandang Kenzo dengan lembut.
"Aku tahu. Hanya saja, tanpa sadar kau telah melakukan itu. Bahkan kau mengabaikan orang orang di sekeliling mu" balas Alena.
"Bahkan aku saja terkadang merasa takut melihat wajah datar mu itu," Alena tertawa kecil memandang Kenzo, membuat wajah datar Kenzo juga ikut tersenyum.
"Ya, kau memang penakut Alena," sahut Kenzo.
"Ya, terkadang aku juga heran. Aku begitu penakut, apalagi ketika tidak melihat mu, aku bertambah takut," ucap Alena membuat Kenzo langsung mengernyit bingung.
Alena kembali tertawa melihat wajah bingung Kenzo.
"Hei, sudah lah. Aku bercanda. Sekarang bisakah aku meminta sesuatu," ucap Alena begitu memelas.
"Apa?" Tanya Kenzo dengan kernyitan di dahinya
"Aku lapar. Aku ingin makan." jawab Alena dengan senyumnya yang getir membuat Kenzo langsung mengusap kepala Alena dengan gemas.
"Maaf, aku lupa. Aku akan menyuruh pelayan mengambilkannya untuk mu." ucap Kenzo.
Alena hanya mengangguk dan tersenyum sembari memandang Kenzo yang tengah menelpon seseorang.
Sebenarnya dia hanya mengalihkan pembicaraan, apalagi ketika melihat wajah Kenzo yang mulai berubah sendu. Dia tidak ingin Kenzo terbebani. Tapi nanti perlahan, dia akan membantu Clara untuk mendapatkan kembali kakaknya yang dulu.
Kenzo yang hangat dan penuh perhatian.