
Malam semakin larut, namun hiruk pikuk pesta kembang api malam itu masih terus berlanjut. Alena bersama Kenzo masih betah berada dikeramaian itu, ya, berada dikeramaian akan sedikit mengecoh musuh yang ingin bertindak. Maka dari itu Kenzo memilih untuk membawa Alena ketempat ini dari pada ketempat yang sepi.
Alena terlihat begitu atusias melihat setiap acara yang diselenggarakan disana, banyak stand penjual makanan ringan dan minuman segar disisi jembatan. Kembang api sudah berhenti beberapa waktu lalu, dan akan kembali diledakan tepat tengah malam nanti.
Menikmati waktu berdua dengan Kenzo adalah hal yang paling membahagiakan bagi Alena, meski sesaat tadi hati nya sedikit gundah, namun dengan cepat pula mood nya berganti ketika berkeliling dan melihat orang orang yang mengikuti karnaval. Kostum mereka unik unik, dan Alena sangat menyukai nya, dia jadi terinspirasi untuk membuat nya nanti.
"Waah En, lihat!!" seru Alena menunjuk sebuah tontonan sulap seorang badut. Dia segera berlari mendekati tempat badut yang sudah dikelilingi oleh orang orang itu, meninggalkan Kenzo yang tampak tersenyum dan menggeleng pelan.
Kenzo menyusul Alena dan berdiri tepat disamping gadis itu. Alena terlihat begitu antusias memandang aksi pertunjukan sulap badut itu. Memainkan tongkat tongkat yang diubah menjadi bunga mawar. Sangat menakjubkan bagi nya. Namun berbeda dengan Kenzo sejak tadi yang menarik perhatian nya adalah senyum dan tawa Alena. Benar benar candu.
"Lihat hebat sekali bukan" ucap Alena menoleh pada Kenzo dengan wajah yang begitu senang
"Ya, dia memang terlihat hebat, tapi untuk kelas anak anak yang mudah dibohongi" jawab Kenzo. Alena langsung berdecak kesal mendengar nya.
"Kau ini, kau mau bilang aku anak anak begitu" sahut Alena dengan bibir yang mengerucut kesal. Tangan nya langsung meninju lengan Kenzo dengan gemas membuat Kenzo tampak tertawa kecil dan menangkap tangan Alena
"Bukankah memang seperti itu" goda Kenzo
"Bukan aku yang seperti anak anak, tapi kau yang sudah tua" balas Alena
"Aku baru tiga puluh satu tahun Alena" jawab Kenzo. Alena langsung memasang wajah jelek nya pada Kenzo
"Heh, tapi wajah mu menunjukan jika kau sudah berusia renta" ejek Alena, Kenzo langsung tertawa kembali dan menarik gemas hidung nya
"Dan kau menyukai pria tua ini" kata Kenzo. Alena juga langsung tertawa mendengar nya, dia merangkul lengan Kenzo dan menyandar sekilas dilengan kekar itu
"Aku memang aneh kan" kata Alena dengan tawa nya,
"Memang" jawab Kenzo
Tangan mereka masih saling terpaut dan tidak ingin saling melepaskan , Alena kembali memandang kearah badut yang masih menunjukan bakat nya itu. Badut itu berlari kecil mendekat kearah Alena dan Kenzo sembari membawa dua tangkai mawar merah yang terlihat segar, entah bagaimana cara nya mendapatkan itu, Alena tidak tahu.
"Untuk gadis cantik milik tuan bermasker" ucap badut itu yang membungkukan tubuh nya didepan Alena dan menyerahkan bunga mawar nya pada Alena.
Alena langsung tersenyum lebar dan segera mengambil dua tangkai mawar itu, namun dia langsung terkesiap saat tangan nya ditarik oleh badut itu ketengah tengah kerumunan penonton, membuat genggaman tangan Kenzo juga langsung terlepas.
Alena tertawa lepas saat badut itu mengajak nya untuk menari dengan musik yang tiba tiba hidup dengan kencang dan sangat asik. Dia menari dengan begitu lincah, berputar dengan irama musik yang mengalir asik. Semua penonton langsung bertepuk tangan melihat Alena dan badut gemuk itu.
Alena tertawa gembira sembari menoleh pada Kenzo yang tampak tersenyum dan melipat tangan nya didada melihat kelakuan Alena. Dia juga merasakan bahagia yang begitu terasa saat melihat Alena bisa tertawa lepas tanpa beban seperti ini.
Dan ya, memang Alena begitu bergembira, tidak ada lagi beban yang mengganjal dihati nya, dia telah menemukan keluarga nya, Mike sudah tewas dan dia merasa aman sekarang, apalagi Enzo nya masih ada dan berdiri bersama nya saat ini. Maka kebahagiaan seperti apalagi yang Alena cari.
Alena menari cukup lama, seolah melepaskan segala penat dan keresahan dihati nya selama ini. Wajah dan tubuh nya basah oleh keringat, namun wajah nya tidak bisa berbohong jika dia memang sangat bahagia.
Saat musik telah berhenti, Alena langsung berlari dan kembali pada Kenzo yang tampak menyambut nya.
"Kau begitu semangat nona" ucap Kenzo sembari mengusap keringat didahi Alena dengan tangan nya
"Tentu saja, bukankah malam ini kita bersenang senang" sahut Alena dan Kenzo langsung mengangguk
"Ya, sudah lama aku tidak melihat senyum dan tawa ini" jawab Kenzo, Alena langsung tertawa dan mengikuti langkah kaki Kenzo yang menarik nya pergi dari tempat itu.
"Itu karena kau yang menghilang, liburan, tapi tidak mau mengajak ku" kata Alena yang mendudukan bokong nya diatas kursi. Kenzo juga ikut duduk disamping Alena
"Liburan?" tanya Kenzo heran
"Hmm, bukankah kau memang liburan didesa bibi Grace. Dua minggu lebih, bahkan kau membuat satu kota heboh" jawab Alena
"Aku sedang bosan menjadi seorang presdir" kata Kenzo membuat Alena langsung memandang nya dengan heran
"Bosan?" tanya Alena aneh dan Kenzo langsung mengangguk
"Dasar gila, lalu akan menjadi apa perusahaan mu?" tanya Alena
"Sudah ada Edward yang mengurus nya" jawab Kenzo begitu santai membuat Alena langsung mendengus senyum sinis
"Lalu kau akan mendalami peran mu sebagai penjahat bertopeng, begitu?' tanya Alena. Kenzo langsung tertawa kecil mendengar nya.
"Ya, itu lebih menarik dari pada mengurus perusahaan. Bukankah kau mengenalku sebagai penjahat bertopeng, bukan sebagai presdir Kenzo Barrent" jawab Kenzo
"Ya, aku memang bodoh, bisa bisa nya dulu aku menganggap seorang presdir sebagai penjahat bertopeng, untung saja kepala ku tidak hilang waktu itu" gumam Alena membuat Kenzo kembali tertawa kecil
"Ya, kau beruntung bisa mencuri perhatianku lebih cepat, sehingga aku tidak akan perhitungan untuk itu" ucap Kenzo.
Alena yang kesal dengan keangkuhan Kenzo langsung mencubit gemas pinggang kokoh pria itu, membuat Kenzo menggelinjang geli
"Sombong sekali" dengus Alena
Kenzo yang sedari tadi tidak bisa berhenti tertawa langsung menarik Alena kedalam rangkulan nya, dia mengecup sekilas pucuk kepala Alena dan mencubit gemas pipi merona milik gadis itu
"Aku memang pantas untuk sombong bukan" ucap Kenzo membuat Alena langsung memandang nya dengan jengah. Memang benar, Kenzo memang dilahirkan dengan sejuta keindahan dan penuh pesona, kekuasaan yang besar dan nama baik yang yang terkenal diseluruh pelosok negeri, wajar saja jika dia sombong, dan sial nya Alena benar benar menggilai pria sombong ini.
"Heh, tapi kau kalah dengan hatimu sendiri, kau bahkan belum bisa move on dari kekasih mu itu" dengus Alena
Kenzo langsung menatap Alena dan menarik kencang hidung Alena hingga tampak memerah
"En!!!" seru Alena kesal
"Jangan sok tahu" ucap Kenzo
"Aku memang tahu" balas Alena kesal. Kenzo tampak tertawa lucu melihat wajah gemas Alena, membuat Alena semakin kesal saja, namun dia juga senang karena sejak Kenzo kembali lelaki ini sudah tidak kaku dan datar lagi. Kenzo terlihat lebih santai dan hangat. Bisa bercanda dan tertawa dengan leluasa, tentu saja Alena begitu bersyukur, seperti nya gelar pria robot yang disematkan Alena sudah berubah saat ini, dan mungkin saja kepala Kenzo juga ikut terbentur hingga membuat nya berubah menjadi hangat dan tidak kaku lagi.
Mereka menghabiskan malam itu dengan tawa dan canda bersama. Berkeliling jembatan tua dan masuk kedalam hiruk pikuk ratusan orang yang ada disana.
Bahkan Alena sangat senang karena Kenzo mau menuruti semua keinginan nya. Alena tahu seperti nya ini adalah kali pertama bagi Kenzo mencoba hal baru dengan turun kelapangan dan bergabung dengan orang orang luar dari berbagai kalangan, berada ditempat keramaian dan makan makanan sembarangan yang dijual distand stand kecil. Sangat jauh dari kriteria Kenzo Barrent yang dipenuhi dengan segala kemewahan dihidup nya.
Saat ini mereka berdiri dipinggir jembatan tua kembali. Menantikan ledakan kembang api terakhir malam itu. Meski sudah berkeliling dan kesana kemari namun Alena masih tampak begitu bersemangat, ditangan nya ada sebotol minuman dingin dan tangkai bunga yang diberikan oleh badut tadi. Kenzo berdiri disamping nya memegang kotak makanan yang dipesan Alena, Alena baru memakan nya sedikit dan meminta Kenzo yang membawa nya, dan dengan bodoh nya ketua klan mafia itu mau saja menuruti permintaan Alena.
"Kenapa lama sekali" gumam Alena
"Masih kurang sepuluh menit lagi Ale" jawab Kenzo
"Benarkah, ck, apa jam nya terlambat" gerutu Alena dengan wajah bosan nya, dai sudah tidak sabar menantikan detik detik kembang api yang meledak diatas langit.
Kenzo terlihat menghela nafas nya menatap Alena
"Apa kau tidak lelah, kita sudah berjam jam berkeliling dan bermain" tanya Kenzo pada Alena.
Alena tampak menggeleng. Dia membalikan tubuh nya dan menyandar dipagar jembatan, menghadap Kenzo yang masih setia memandang wajah nya. Wajah polos dan menggemaskan itu benar benar menggoda bagi Knezo.
"Ini adalah pertama kali nya kau mengajak ku keluar dan menikmati waktu. Dulu kau membawa ku kepantai hanya karena untuk menghargai ku yang baru datang kekota ini. Namun sekarang, kau membawa ku karena keinginan hatimu sendiri, bagaimana aku bisa tidak semangat" ungkap Alena
Kenzo tampak tertegun sejenak, namun dia langsung mengangguk dan tersenyum pada Alena. Benar juga, baru kali ini dia membawa Alena keluar, dulu dia membawa nya hanya karena rasa terimakasih saja.
"Maafkan aku, tapi aku berjanji akan membawa mu lagi dilain hari" ucap Kenzo
"Itu harus, kapan lagi aku bisa menikmati waktu bersama tuan Amerika ini, ah salah salah, penjahat bertopeng" kata Alena dengan tawa lucu nya yang juga menular pada Kenzo
"Penjahat yang berhasil mencuri seluruh hatiku" goda Alena dengan mengedipkan sebelah mata nya pada Kenzo yang langsung mengusap gemas pucuk kepala Alena
"Kau sudah mulai nakal hmm" ucap Kenzo
"Aku nakal hanya padamu" jawab Alena
"Ya, tunggu saja. Sepulang dari sini aku akan memberikan mu terapi lagi, jangan saja kau pingsan nanti" kata Kenzo dengan senyum devil nya membuat Alena langsung memalingkan wajah nya yang memerah
"Hei, kenapa hmm" goda Kenzo. Dia meraih dagu Alena dan tersenyum melihat wajah Alena yang memerah
"Kau modus En" kata Alena
"Tidak juga, tapi aku akan melakukan hal yang lebih nanti, kau harus bersiap siap" Bisik Kenzo ditelinga Alena
"En, jangan macam macam" seru Alena
"Tidak, anggap saja ini bayaran karena aku sudah menemani mu malam ini" jawab Kenzo memainkan sebelas alis nya.
Alena kembali memalingkan wajah nya, membayangkan nya saja dia malu. Antara takut dan canggung, rasa hangat bibir yang menggoda itu masih begitu terasa.