
Pagi ini bibi Khoi sudah diributkan oleh Alena yang ternyata ingin kembali menguasai dapur nya. Pagi pagi sekali Alena sudah bangun dan membersihkan diri nya. Dia ingin memasak sarapan untuk tuan dan nona Amerika itu. Ya, meskipun sarapan sederhana tapi cukup mampu menggugah selera karena penampilan nya yang begitu menggiurkan.
Clara dan Kenzo belum ada satupun yang turun kebawah, dan itu digunakan Alena untuk menata meja makan besar itu.
Senyum nya terus mengembang dan sesekali dia bersenandung kecil sembari tangan nya yang terus bekerja.
Meski permasalahan hidup nya banyak, tapi sungguh, Alena tidak bisa terus larut dalam kesedihan nya. Dia sungguh tidak ingin dikasihani oleh siapaun. Dia ingin dikenal sebagai gadis yang selalu ceria dan penuh semangat.
"Oke, selesai" ucap nya dengan tangan yang diletakan dipinggang nya. Mata nya menatap kagum hasil jerih payah nya pagi ini.
"Tinggal menunggu tuan dan nona muda. Hihi" gumam nya lucu.
Dia duduk dikursi nya sembari mata nya menilik kelantai atas, dimana kamar Clara dan Kenzo berada.
Ya, dia tidak tahu jika saat ini Kenzo tengah berada dikamar Clara. Dia terlihat sedang membujuk adik nya itu sekarang.
Perkataan Alena malam tadi membuat Kenzo menjadi begitu merasa bersalah pada Clara. Dia tahu adik nya itu hanya ingin waktu bersama nya, dan Kenzo akui, sejak kejadian itu, mereka sudah jarang bersama bahkan untuk sekedar bercerita saja bisa dibilang tidak pernah lagi.
Saat ini Kenzo duduk dimeja rias Clara, dia menatap datar Clara yang duduk disisi tempat tidur nya dengan wajah yang tertunduk menahan Isak tangis nya.
"Maafkan aku. Kau yang paling tahu bagaimana cerita ku bukan. Aku menyayangimu Clara. Lebih dari yang kau tahu" ungkap Kenzo pada Clara yang mulai terisak namun masih ditahan nya
"Benarkah?" Tanya Clara menatap Kenzo dengan bibir yang menahan tangis
Kenzo tersenyum dan mengangguk
"Tentu saja. Kau begitu bodoh jika menganggap ku tidak lagi memperdulikan mu" ucap Kenzo
Clara langsung berdiri dan berlari memeluk Kenzo yang langsung mendekap nya
"Maafkan aku kak, aku cuma rindu masa masa kita dulu" kata Clara menangis tersedu dalam pelukan Kenzo
"Aku tahu. Aku berjanji akan membawa mu berlibur jika ada waktu" sahut Kenzo membuat Clara mendongak dan menatap nya dengan lekat
"Kau berjanji kak?" Tanya Clara dan Kenzo langsung mengangguk
"Ya, asal kau berjanji untuk tidak nakal lagi" kata Kenzo pula sembari tangan nya yang menghapus air mata diwajah clara
"Aku janji" jawab Clara cepat. Dia kembali memeluk Kenzo yang tertawa pelan dan mencium pucuk kepala adik kesayangan nya itu. Adik yang tahu setiap kisah cerita kehidupan nya melebihi kedua orang tua nya.
"Kita turun" ajak Kenzo sembari melepaskan pelukan nya dan Clara langsung mengangguk
"Baiklah, tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu" ucap Clara membuat langkah kaki Kenzo berhenti dan dia kembali menoleh pada Clara
"Apa kau menyukai Alena kak?" Tanya Clara begitu serius. Namun Kenzo hanya tersenyum dan berbalik arah meninggalkan Clara yang mengernyit bingung
"Kakak, jawab pertanyaan ku" seru Alena mengejar langkah kaki Kenzo yang terus saja berjalan dan menuruni anak tangga tanpa memperdulikan teriakan Clara
"Kakak!!" Seru Clara lagi, dia benar benar terlihat kesal sekarang
"Kau bisa menyimpulkan nya sendiri Clara" sahut Kenzo
Clara langsung tersenyum dan berlari mensejajari langkah kaki kakak nya itu
Dia langsung menggandeng lengan Kenzo dengan manja.
"Aku sangat berharap dia yang menjadi kakak ipar ku" bisik Clara ditelinga Kenzo
"Ya, karena kalian sama kan" sahut Kenzo sedikit kesal hingga mampu membuat Clara tertawa lucu
"Hihi, ya, jika bersama nya hidup mu akan lebih bewarna kak. Ya, walapun dia tidak jago bela diri. Setidak nya dia pintar memasak" kata Clara lagi, dan kali ini tangan Kenzo berhasil mendarat didahi nya
"Berisik" dengus nya, membuat Clara mencibir dan mengusap dahi nya
Kenzo berjalan menuruni anak tangga dengan langkah kaki yang tegap dan gagah, sebelah tangan nya masih digandeng oleh Clara.
Langkah kaki nya pasti, sepasti mata nya yang kini menatap seorang gadis yang telah duduk dimeja makan itu dengan begitu anggun, meskipun dia terlihat seperti sedang melamun sekarang.
Dulu, Kenzo sangat tidak menyukai gadis yang menyebalkan, apalagi yang manja dan cengeng. Karena menurut nya, dia sudah cukup kerepotan dengan sikap adik nya yang begitu. Tapi sekarang, kenapa dengan Alena berbeda. Ya meskipun dia tahu Alena bukanlah gadis yang manja, tapi Alena hanyalah gadis lemah, dan terkadang begitu menyebalkan, tapi nyata nya gadis itu yang bisa mengalihkan perhatian Kenzo dari cerita masa lalu nya.
Kenzo begitu menggilai perempuan tangguh dimasa lalu nya. Perempuan yang begitu diperjuangkan nya dulu. Karena menurut nya, wanita itu benar benar sulit untuk ditaklukan, wanita tangguh yang mampu melindungi diri nya sendiri, wanita tangguh yang selalu diajak nya membasmi musuh musuh nya. Dia tidak takut dengan luka, bahkan darah dan luka sudah menjadi kebiasaan nya bersama wanita masa lalu nya dulu. Tapi sekarang, Alena, gadis ini berbeda, sangat jauh berbeda. Dan Kenzo tidak tahu apa jadi nya jika Alena masuk kedalam kehidupan nya yang penuh dengan darah dan senjata.
Mendengar suara derap langkah kaki, Alena segera menoleh kebelakang. Dan senyum nya langsung mengembang sempurna melihat Clara dan Kenzo yang sudah akur kembali.
"Selamat pagi tuan dan nona" sapa Alena yang telah berdiri dan menundukan sedikit tubuh nya didepan Clara dan Kenzo yang sama sama tersenyum melihat nya.
Pagi ini Alena terlihat sangat cerah dengan dress bewarna merah tanpa lengan nya.
"Kau berniat melamar pekerjaan menjadi pelayan dimansion ini rupa nya ha" tanya Clara yang kini telah duduk disamping Alena dan Kenzo duduk dikursi utama nya
"Aku tidak menampung orang bodoh" ucap Kenzo membuat Alena mengerucutkan bibirnya. Saat ini dia tengah mengambilkan makanan untuk Enzo nya. Hanya sepotong sandwich dengan isian daging yang begitu harum.
"Aku tidak bodoh ya, kau ini selalu saja mengatai ku bodoh. Seperti kau pintar saja" ketus Alena yang kini mengambilkan makanan untuk Clara
"Kau masih kurang bukti ha?" Tanya Kenzo menatap Alena dengan lekat, sedangkan Clara asik menikmati perdebatan mereka.
"Ya, kau memang pintar dalam berbagai usaha, tapi kau bodoh masalah hati" ejek Alena membuat Kenzo menatap nya dengan tajam
"Alena kau!!!" Seru Kenzo tertahan. Clara langsung menyemburkan tawa nya melihat wajah kesal Kenzo. Ya, hanya Alena dan dia yang bisa membuat Kenzo kesal seperti sekarang ini
"Hahaha, kau benar Alena, kak Ken memang bodoh dalam urusan hati" goda Clara kembali, hingga membuat Kenzo semakin meradang.
"Jangan marah. Kami kan bilang yang sejujur nya. Kau ini cepat sekali emosi nya. Sudah ayo makan" kata Alena yang langsung menyuapkan sepotong kecil sandwich itu kedalam mulut Kenzo yang mau mau saja membuka mulut nya. Dan hal itu tentu saja kembali membuat Clara tertawa lucu.
Dia berharap Kenzo dan Alena bisa bersatu, menjalin hubungan dengan perasaan cinta dihati mereka masing masing. Karena Clara tahu, Alena gadis yang baik meski dia belum tahu asal usul Alena. Dan hanya Alena yang bisa mencairkan gunung es dihati Kenzo saat ini.
"Enak kan" tanya Alena menatap Kenzo dengan wajah berbinar nya
"Biasa saja" jawab Kenzo yang masih terlihat kesal.
Alena langsung tertawa dan menggeleng pelan
"Wajah mu tidak bisa bohong En" ucap Alena . Kenzo hanya diam dan melanjutkan makan nya. Dia tahu berdebat dengan Alena tidak akan pernah menang, apalagi ada Clara yang sama saja sifat mereka, yang ada hanya membuat kepala nya pusing saja.
"Ale, kau harus mengajari ku cara nya membuat ini. Ini adalah sandwich terenak yang pernah aku makan" ungkap Clara dengan mulut yang masih berisi
"Telan dulu makanan mu Clara. Dasar jorok" ucap Kenzo , Clara hanya tersenyum saja mendengar nya
"Boleh, nanti jika ada waktu kita akan belajar memasak" sahut Alena
"Jangan Alena. Dia bisa membuat dapur ku meledak nanti nya" kata Kenzo pada Alena yang mengernyit bingung
"Kakak, kau ini. Aku kan ingin belajar memasak" sahut Clara kesal
"Kau sudah belajar dengan puluhan juru masak Clara"sahut Kenzo
Clara mencebikan bibir nya menatap kesal Kenzo yang selalu saja menyebalkan.
"Yasudah, jika tidak boleh disini, aku akan membawa Alena kerumah utama. Mommy pasti senang ada yang mengalahkan nya dalam hal memasak" ungkap Clara
"Tidak boleh" sahut Kenzo cepat hingga membuat Alena dan Clara langsung terkesiap kaget
"Kenapa?" Tanya mereka berdua bersamaan.
"Aku sudah selesai" ucap Kenzo yang segera beranjak dari duduk nya sembari tangan nya mengusap mulut nya dengan tisu.
Dia tidak menjawab pertanyaan kedua gadis itu, hingga membuat mereka saling pandang bingung.
Ada apa dengan Kenzo, batin mereka
Dan Alena tiba tiba juga ikut beranjak saat melihat Kenzo mulai melangkah kan kaki nya
"Ah En!!" Panggil Alena membuat langkah kaki Kenzo terhenti, tapi dia tidak lagi membalikan tubuh nya
"Aku akan kebutik hari ini, aku juga harus keperusahaan Starlight untuk membicarakan kerja sama kami" ungkap Alena dengan ragu
"Ya" jawab Kenzo singkat dan kembali berjalan meninggalkan Alena dan Clara yang mematung ditempat nya
"Ada apa dengan dia?" Tanya Alena bingung
Clara langsung menghela nafas nya dengan lelah. Dia menatap potongan sandwich yang masih tersisa dipiring Kenzo dengan getir
"Dia selalu tidak suka jika aku selalu mengaitkan sesuatu tentang mommy dan rumah utama" gumam Clara dengan wajah yang terlihat sedih
Alena kembali duduk dan menatap Clara dengan iba
"Dia begitu kecewa pada mereka" kata Clara lagi
"Semua pasti baik baik saja Cla, hanya masalah waktu" ucap Alena mencoba menenangkan Clara.
Entah apa sebenar nya yang terjadi antara keluarga mereka. Tapi sungguh, Alena sangat menyayangkan sikap Kenzo yang seperti ini. Ya, meski Alena tahu, Kenzo memendam rasa kecewa yang begitu mendalam terhadap orang tuanya karena kejadian itu.
...
next