
Kini Alena sudah ada diperjalanan menuju Barrent's Agency. Dia duduk dibelakang memandangi kota Newyork yang pagi itu entah kenapa terasa begitu sejuk. Padahal bulan ini seharus nya masih musim panas, bukan musim dingin. Apa mungkin karena tubuh nya yang sedang tidak baik baik saja?
Sudah beberapa hari dia tidak ada bertemu dengan Enzo nya, dan itu membuatnya rindu. Kenzo belum ada menemui nya sejak terakhir kali mereka bertemu dirumah sakit sekitar seminggu yang lalu. Dan setelah itu Kenzo kembali menghilang lagi. Yah, pria itu memang sangat menyebalkan. Padahal rasanya setiap hari Alena ingin bertemu dengan nya, tapi Kenzo tidak pernah datang. Dia hanya menghubungi Alena lewat ponsel, meskipun setiap hari, tapi tetap saja yang Alena inginkan adalah bertemu dengannya.
Kenzo berkata jika dia sedang mempersiapkan diri dan anggota nya, dia cukup sibuk sehingga dia tidak bisa menemui Alena, dia juga takut jika mereka sering bertemu ada anak buah Thomas yang menyadari kedekatan mereka.
Yah, Alena hanya bisa menunggu, menunggu hingga hari dimana dia dan Kenzo tidak lagi harus bersembunyi seperti ini. Terkadang dia benar benar merindukan masa masa saat mereka berada didesa bibi Grace. Tenang dan damai, meski sebentar tapi setiap saat Alena ada bersama Kenzo.
Alena menghela nafasnya sejenak dan memandang kedepan, menoleh pada Joice yang tampak serius dengan kemudinya. Akhir akhir ini Joice terlihat lebih dingin dan tidak lagi ingin berbicara dengan nya, biasa nya sesekali dia pasti menanyakan sesuatu. Tapi sekarang Joice terlihat seperti orang asing dan memang seperti pengawal Alena, bukan sebagai calon kakak ipar nya. Dan itu terjadi setelah Reymond membentak nya kemarin, apa mungkin dia sakit hati? Yah, mungkin saja kan, jika itu dia, dia pasti sakit hati dibentak oleh calon suami nya sendiri.
"Joice" panggil Alena
"Ya nona" jawab Joice sembari melirik sekilas Alena dari kaca depan mobil nya. Wanita dengan kemeja hitam dan rambutnya yang dikuncir keatas ini terlihat begitu kaku dan dingin, terkadang Alena takut dibuat nya.
"Setelah mengantarku, kau mau kemana?" tanya Alena, tidak tahu apa yang ingin ditanyakan. Dari pada diam saja, membuat rahang nya kaku.
"Mungkin kekantor" jawab Joice
"Kau pasti begitu sibuk, harus menemaniku kemana mana dan juga kekantor untuk bekerja" ungkap Alena
Joice menggeleng pelan
"Itu memang sudah tugas saya nona" jawab Joice
"Kau tidak pernah libur, apa kau tidak ingin liburan kesuatu tempat. Aku bisa meminta nya pada daddy" kata Alena lagi namun Joice langsung menggeleng
"Tidak nona" jawab Joice singkat
"Kenapa, kau bisa merelekskan sedikit otakmu. Aku saja ingin sekali liburan, tapi belum mempunyai waktu" ucap Alena begitu cerewet.
Joice hanya tersenyum saja menanggapi nya
"Emmm Joice" panggil Alena dengan ragu
Joice kembali melirik Alena dari kaca depan, entah apa lagi yang diinginkan nona nya ini, terkadang Joice pusing jika harus menanggapi setiap ocehan nya.
"Maafkan sikap kakak ku ya" ucap Alena
Joice sedikit terkesiap namun tetap dengan wajah datar nya
"Kenapa nona?" tanya Joice sedikit kikuk. Dia sedang tidak ingin membahas ini sebenar nya, membuat mood nya buruk saja
"Dia selalu saja kasar padamu, aku benar benar tidak enak" jawab Alena
Joice tersenyum tipis dan mengangguk
"Tidak masalah, saya sudah biasa, bukan kah dia begitu karena tidak menyukai saya" ucap Joice. Namun Alena bisa merasakan jika nada suara itu terdengar begitu lirih. Mereka adalah calon suami istri, tapi setiap bertemu Reymond selalu menunjukkan sikap tidak suka nya. Padahal Alena tahu Joice adalah gadis yang baik, muda dan juga cantik. Dia hanya tidak pernah dandan, tapi jika sedikit dirias pasti sangat cantik, sama seperti malam kompetisi itu. Joice sangat cantik, ya meski tidak bisa dibandingkan dengan Clara. Tapi untuk ukuran seorang wanita, dia sudah diatas rata rata.
Alena menghela nafas nya dengan pelan. Hubungan percintaan kakak nya memang cukup rumit. Dan sebenar nya itu juga berhubungan dengan dia dan Kenzo. Tapi untuk mengalah, dia tidak akan bisa. Clara juga tidak akan mau, apalagi Kenzo. Ditambah kakak nya juga sudah dijodohkan dengan Joice, hanya tinggal menunggu kapan waktu yang tepat untuk mereka menikah.
Alena sedih sebenar nya jika mengenangkan ini. Clara sahabat nya, dan Reymond kakak nya, tapi cinta mereka harus kandas sebelum dimulai. Alena hanya berharap Clara dan Reymond bisa bahagia dengan pasangan mereka nantinya
"Kau memang menerima perjodohan ini Joice?" tanya Alena, dan dapat dia lihat Joice tampak menghela nafas nya dalam dalam
"Saya tidak punya pilihan lain nona" jawab Joice
"Apa kau menyukai kakakku?" tanya Alena lagi. Joice sedikit terkesiap mendengar itu. Dia tersenyum tipis dan menggeleng
"Saya tidak menyukai orang yang tidak menyukai saya" jawab Joice
"Berarti jika dia menyukai mu kau bisa menyukai nya?" tanya Alena dengan senyum yang sedikit berbeda
"Maksud nona?" tanya Joice bingung, tangan nya seraya memutar stir mobil masuk kekawasan Agency, mereka sudah tiba saat ini
"Aku akan membuat kalian menjadi pasangan yang serasi, tunggu saja" kata Alena yang langsung meraih tas nya dan keluar dari mobil, meninggalkan Joice yang mematung ditempat nya. Bahkan dia lupa membukakan pintu untuk Alena.
...
Alena berjalan masuk kedalam gedung Agency tempat nya bekerja. Dia melangkahkan kaki nya dengan pasti. Senyum manis yang tidak pernah pudar membuat semua orang menyapa nya dengan ramah. Ya, sekarang seluruh karyawan di Barrent's Agency sudah mengetahui siapa Alena. Desainer tetap yang akan menjadi perancang pakaian di Agency mereka.
Tubuh tinggi semampai dan sangat indah sangat menggoda mata yang melihat. Alena tidak kalah dengan para model yang ada disana. Yang membedakan hanya tatapan nya saja. Dia memiliki wajah polos dan pandangan mata yang teduh yang membuat orang orang begitu senang melihat nya. Apalagi hari ini Alena memakai pakaian ketat bewarna cerah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, sedikit riasan diwajah dan membiarkan rambut pirang nya tergerai dengan indah. Sangat cantik alami.
"Selamat pagi nona" sapa receptionis
"Selamat pagi, apa Clara sudah datang?" tanya Alena
"Sudah nona, nona Clara sudah ada diruangan presdir. Anda bisa kesana langsung" ucap sang receptionist
Didalam lift Alena berdiri sembari memperhatikan tombol lift yang berganti ganti menandakan tiap lantai yang dia lewati. Namun tiba tiba saja dia merasa sesak kembali, membuat nya langsung memegang dada nya yang terasa sakit
"Eugh" lenguh Alena tertunduk dengan mata yang memejam menahan sakit. Sakit sekali, seperti terasa ada sebuah batu yang memukul dada nya dengan kuat, serasa diremas oleh sesuatu yang berduri. Membuat Alena langsung jatuh terduduk dengan keringat yang mulai keluar dari dahi nya, wajah nya memucat, dia seperti kehabisan nafas.
Alena mencengkram baju dibagian dada dan sedikit menekan dada nya yang terasa begitu sakit. Hanya sebentar rasa sakit itu, karena perlahan rasa sakit dan sesak nya menghilang kembali. Setelah dirasa mereda, Alena menarik nafas nya perlahan, beberapa kali dia lakukan itu hingga nafas nya mulai normal kembali.
Alena langsung bersandar didinding lift yang masih bergerak naik keatas. Nafas nya tersengal dan Alena masih memjamkan mata nya demi untuk menetralkan perasaan nya yang sempat tidak terkendali
"Aku kenapa?" gumam nya sembari mengusap dada nya dengan lembut. Nafas nya sudah normal meski detak jantung nya masih bergemuruh
Alena mendongak menatap tombol lift, sebentar lagi dia sampai. Dengan pelan dan meraba Alena beranjak dan berdiri. Wajah nya masih pucat namun sudah mulai terkendali. Dia membenahi dres nya yang sedikit kusut, juga mengusap keringat dingin diwajah nya.
Entah apa yang terjadi dengan nya, tapi sejak dia merasa dia mimpi buruk malam tadi, sejak itu dia merasa tubuh nya memang tidak baik baik saja. Entah kenapa, apa karena dia kelelahan? Mudah mudahan saja.
Ting
Pintu lift terbuka, dan Alena segera melangkah keluar. Dan dia langsung dapat melihat Rebecca dimeja nya. Wanita itu segera berdiri dan memandang Alena dengan lekat
"Selamat pagi nona Rebecca, apa Clara didalam?" tanya Alena
"Ah iya, silahkan masuk. Nona Clara sudah menunggu anda sejak tadi" jawab Rebecca, namun masih memperhatikan keseluruhan tubuh Alena, membuat Alena heran melihat nya
"Apa ada yang salah?" tanya Alena. Apa riasan wajah nya luntur karena berkeringat? Apa wajah nya masih pucat karena menahan sakit tadi sehingga Rebecca memandang nya begitu serius
Rebecca terkesiap dan sedikit menggeleng
"Tidak, masuklah" ujar Rebecca yang langsung duduk kembali dikursi nya.
Alena hanya mengendikkan bahunya saja dan kembali berjalan menuju ruangan Kenzo yang saat ini dikuasai oleh Clara.
Dia mengetuk pintu nya beberapa kali dan langsung masuk kedalam tanpa menunggu jawaban dari Clara. Namun ketika membuka pintu dia sedikit terkejut melihat ternyata ada Edward juga didalam. Sepertinya mereka sedang mendebatkan sesuatu.
Alena menutup pintu dan dan berjalan mendekat kearah mereka. Clara duduk dikursi Kenzo sementara Edward berdiri dihadapan nya.
"Nona anda baik baik saja?" tanya Edward langsung. Alena dan Clara tampak terkesiap dan saling pandang bingung
"Aku? aku baik baik saja. Memang nya aku kenapa?" tanya Alena heran, dia mendekat kearah Clara dan berdiri disamping Clara yang mengangguk dan menatap Edward curiga
"Kau jangan coba coba menikung Ed. Kau mau kepala mu hilang" sahut Clara pula
Edward hanya menghela nafas pelan, namun dia masih mengamati Alena. Dia ingat perkataan Thomas malam tadi, dan dia berfikir jika orang yang dimaksud oleh Thomas pastilah Alena. Kenzo juga berfikir seperti itu, karena beberapa kali saat Alena diganggu oleh anak buah Thomas, king Aldrego lah yang muncul menyelamatkan nya. Sudah pasti Thomas mencurigai itu.
Tapi melihat Alena yang sekarang, seperti nya Thomas memang belum melakukan apapun, terbukti Alena baik baik saja. Lalu kenapa king nya meminta Jack dan banyak anggota Aldrego lain nya menjaga dan mengawasi setiap orang yang mendekati Alena? Apa dia mencurigai sesuatu, padahal selama ini Thomas selalu bermain kasar dan secara terang terangan.
"Jangan keluar sendiri tanpa pengawalan Jack nona" ucap Edward begitu serius
Alena dan Clara menatap nya begitu heran
"Kenapa?" tanya Clara ingin tahu
"Aku tidak melihat Jack hari ini. Dan seperti biasa Joice yang mengantarku" jawab Alena
"Yang terpenting jangan berdekatan dengan siapapun untuk saat ini" kata Edward lagi mengingatkan Alena
"Hei, kau tidak menjawab pertanyaanku" seru Clara kesal membuat Alena sedikit terkesiap dan Edward lagi lagi hanya menghela nafas jengah
"Tidak ada urusan nya dengan anda nona. Jika begitu saya permisi dulu, semua berkas nya sudah ada didalam sana, nona bisa memeriksa nya" kata Edward. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya didepan Clara dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Dasar pria batu kurang ajar" gerutu Clara begitu kesal.
Alena langsung beranjak dan duduk dikursi didepan Clara
"Sekarang beri tahu aku, apa maksud perkataan pria batu itu" kata Clara terdengar memaksa
"Kenzo bilang masih ada orang yang ingin mencelakaiku" jawab Alena dengan lesu. Clara langsung terkesiap mendengar nya
"Benarkah? Siapa?" tanya Clara langsung
"Kakak Mike" jawab Alena
"Kakak Mike?" gumam Clara dan Alena langsung mengangguk
Alena masih bingung, kenapa tiba tiba Edward menanyakan keadaan nya. Tidak pernah nya pria batu itu seperti ini. Apa memang ada hal yang cukup serius? Atau ini berkaitan dengan tubuh nya yang sedikit aneh hari ini?