ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Ketakutan Alena



Alena melambaikan tangan nya pada Alex yang telah masuk kedalam taksi untuk kembali kehotel tempat nya menginap selama di Newyork.


Alena menghela nafas lelah saat taksi yang ditunggu nya belum juga tiba. Hari sudah lewat tengah hari saat ini. Beberapa kali Alena melihat jam diponsel nya.


Hingga dia terkesiap kaget saat tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat dihadapan nya.


Alena langsung saja mundur beberapa langkah dan menatap mobil itu dengan wajah kesal. Apa orang itu tidak punya mata, batin nya kesal.


Namun mata nya melebar sempurna saat kaca jendela mobil terbuka perlahan menampakan seorang pria yang tersenyum lebar menatap nya.


"Ka..kau" kata Alena terbata. Seketika saja jantung nya berdetak cepat dan bergemuruh hebat melihat pria dengan banyak tato ditubuh hingga dileher nya itu


"Hai baby, sudah puas bukan bermain main nya. ayo naik, aku merindukan mu" kata nya dengan hanya kepala yang menyembul keluar


Alena menggeleng cepat dan langsung berlari meninggalkan pria itu.


Pria itu hanya tersenyum sinis melihat Alena yang sudah berlari dan begitu ketakutan melihat nya.


"Kau masih saja ketakutan melihat ku. Sekarang kau masih aman, karena aku masih belum bisa bermain main dengan mu" ungkap Mike dengan senyum devil nya.


Dia baru saja tiba dikota itu, dan tanpa sengaja saat akan menemui kakak nya diperusahaan nya malah bertemu dengan Alena disana.


...


Alena berlari dengan air mata yang tergenang dipelupuk mata nya. Tubuh nya bergetar ketakutan dan nafas nya yang tersengal sengal.


Rasa nya dia sudah berlari sejauh mungkin dari tempat itu. Berlari kesegala arah tanpa tujuan, dia hanya berharap dia bisa melarikan diri dari Mike, pria kejam yang membeli diri nya dari ayah angkat nya dahulu.


Alena menoleh kebelakang saat dirasa nya tidak ada seorang pun yang mengikuti nya. Tangan nya mengusap dada nya yang masih bergemuruh hebat.


Keringat mengucur deras ditubuh nya. Wajah nya pucat pasih karena melihat pria itu dan juga karena berlari terlalu jauh.


Bahkan dia tidak memperdulikan tatapan heran orang orang yang dilalui nya.


Alena berjalan tertatih menuju sebuah kursi taman yang berada tidak jauh dari pinggir jalan. Mata nya masih awas menatap kesekitar nya. Bahkan jantung nya masih berdebar dengan kencang saat ini.


Alena terduduk lemas dikursi itu, bahkan rasa nya sangat lemas, hingga dia tidak mampu untuk berdiri lebih lama.


Mata nya masih dipenuhi oleh air yang kapan saja siap untuk berjatuhan. Wajah nya begitu pucat dan dada nya benar benar sesak. Trauma nya kembali terbuka bahkan benar benar membuat nya semakin ketakutan karena pria itu telah ada dikota ini sekarang.


"Ya Tuhan. Kenapa dia bisa ada disini. Aku, aku harus apa sekarang. Dia, dia sudah datang" gumam nya mulai terisak lirih. Kepala nya tertunduk karena air mata nya mulai luruh tidak terkendali.


Dia begitu takut saat ini, harus kemana lagi dia pergi, apa dia harus bersembunyi lagi, apa dia harus berlari lagi.


Dia sudah cukup lelah untuk itu.


Alena menangis terisak, namun tidak lama karena dia tidak suka menjadi perhatian orang orang yang kebetulan lewat dijalanan itu. Sehingga sebisa mungkin dia meredam tangis nya, dan berusaha menetralkan perasaan nya. Meski menangis didalam hati itu lebih terasa menyakitkan.


Tidak tahu ada dimana dia sekarang, karena tadi Alena berlari sembarang arah, berbelok memasuki selasar selasar gedung dan menerobos jalanan yang begitu ramai, hingga dia tiba ditempat yang seperti taman kota ini.


Alena mengusap air mata nya kembali, dan mencoba menetralkan perasaan nya yang benar benar takut dan gelisah sekarang.


Hingga seseorang kembali datang dan menyerahkan sehelai sapu tangan untuk nya.


Alena terkesiap bahkan hampir berdiri karena begitu terkejut. Dia mendongak melihat siapa orang itu, pria dengan masker dan kaca mata diwajah nya.


"Enzo" gumam Alena yang dapat bernafas lega kembali setelah tahu pria itu adalah Enzo nya.


Dia langsung meraih sapu tangan dari Kenzo yang kini duduk disebelah nya


"Kau selalu mengenaliku" kata Enzo menatap wajah Alena yang pucat dan begitu kusut


"Hmm" gumam Alena sembari mengusap wajah nya yang sembab


"Kau terlihat ketakutan, ada apa?" Tanya Kenzo heran


Dia sedang ada meeting dengan klien nya tadi, tidak jauh dari tempat itu ada sebuah restauran mewah, tapi saat sedang menyantap makan siang nya, tiba tiba saja mata nya menangkap Alena yang berlari ketakutan tidak tentu arah. Karena penasaran, akhir nya Kenzo mencari keberadaan Alena, yang ternyata dia berada dibelakang gedung restauran tempat nya meeting sekaligus makan siang.


Alena hanya menggeleng ragu namun mata nya mengedar menatap kesegala arah membuat Kenzo mengernyit heran.


Dilihat nya tubuh Alena yang berkeringat, bahkan wajah nya masih sangat pucat.


"Kita pergi dari sini?" Ajak Kenzo dan Alena langsung saja mengangguk


Kenzo langsung berdiri dan menarik tangan Alena yang hanya diam dan pasrah mengikuti langkah kaki besar Kenzo.


Dan ternyata tifak jauh dari tempat itu Edward sudah menunggu dengan mobil nya.


Alena masuk kedalam mobil tepat disebelah Kenzo duduk.


Dia hanya tertunduk dan beberapa kali menghela nafas nya yang terasa sesak, dan itu tidak luput dari perhatian Kenzo.


"Kita keapartemen Ed" ucap Kenzo dan Edward langsung mengangguk.


"siap king" jawab nya.


Kenzo kembali menoleh pada Alena yang kini menatap jendela mobil dengan pandangan nanar. Tangan nya masih saling meremas kuat, dan dapat Kenzo pastikan tangan itu pasti dingin karena terlihat begitu pucat dan berkeringat.


"Tenang lah, kau sudah aman sekarang" ucap Kenzo begitu datar, namun mampu membuat Alena tersenyum tipis menatap nya


Kenzo langsung menggenggam tangan Alena yang memang benar benar dingin dan sedikit bergetar. Dia tahu saat ini gadis ini pasti begitu ketakutan, entah apa yang menyebabkan itu terjadi, tapi nanti akan dia cari tahu, karena Kenzo benar benar penasaran sekarang.


Alena sedikit terkesiap dengan perlakuan Kenzo, namun dia tidak bisa berbuat banyak, karena genggaman tangan besar itu terasa begitu menghangatkan, bahkan mampu membuat hati nya lebih tenang sekarang.


Dan Alena juga membalas genggaman tangan Kenzo dengan kedua tangan nya, membuat senyum tipis terbit diwajah pria dingin itu.


Edward yang melirik hal itu hanya bisa diam seolah tidak melihat nya. Dia bahagia jika king nya sudah mulai luluh dan mendapatkan seseorang yang mampu mengobati luka nya. Tapi jika orang itu memang Alena, dapat Edward pastikan king nya itu akan sedikit kerepotan nanti nya. Bukan karena musuh musuh nya saja, namun juga karena Alena yang bukan wanita tangguh seperti kekasih Kenzo dulu, yang mampu melindungi diri nya sendiri.


Hampir satu jam mobil yang dikendarai Edward membelah jalanan kota Newyork siang itu. Dan selama itu pula genggaman tangan itu tidak pernah lepas.


Kenzo menoleh pada Alena yang kini telah tertidur dengan tenang dikursi nya, namun aneh nya, genggaman tangan nya tak sedikitpun mengendur , dan tanpa sadar hal itu membuat Kenzo kembali tersenyum tipis. Senyum yang tulus dari hati, setelah sekian lama senyum itu sirna, hanya senyum dan tawa yang selalu dipaksakan nya, itupun hanya pada orang orang tertentu.


Edward memberhentikan mobil nya tepat didepan lobi apartemen Kenzo.


Dan tanpa banyak bicara Kenzo langsung mengangkat tubuh Alena yang masih tertidur dengan pulas.


"Pergilah dulu keperusahaan" kata Kenzo pada Edward


"Baik king" jawab Edward


Edward tersenyum tipis melihat king nya itu yang begitu perhatian pada Alena. Semoga kali ini cerita nya tidak serumit yang lalu. Tapi siapa yang tahu ?


Kenzo membawa Alena keapartemen nya, gadis itu masih tertidur dengan pulas tanpa merasa terganggu, mungkin karena kelelahan berlari dan juga malam tadi dia tidak tidur dengan baik, maka dari itu saat ini dia benar benar tertidur dengan lelap. Entah, mungin karena bersama dengan Kenzo dia merasa begitu aman dan nyaman.


Kenzo membuka pintu apartemen nya dengan sedikit kesusahan, dan setelah terbuka dia langsung membawa Alena kedalam kamar nya. Dia merebahkan perlahan tubuh gadis itu diatas kasur nya, kasur keramat yang tidak pernah ditiduri oleh siapapun selain diri nya. Bahkan Clara saja tidak diizinkan nya masuk kedalam kamar nya.


Kenzo menatap Alena dengan lekat, tangan nya terulur dan merapikan anak rambut Alena yang berantakan dan menutupi wajah sembab nya.


Entah apa yang ada didalam fikiran Kenzo, tapi dia benar benar penasaran dengan hidup gadis ini sekarang.


"Kau begitu tertutup Alena. Tapi aku tahu hidup mu memang tidak mudah. Dan aku cukup penasaran dengan hal itu" gumam Kenzo menatap dalam wajah tenang Alena yang belum terjaga dari tidur nya.


Hanya menggeliat kecil lalu kembali tenang dan itu terjadi hingga beberapa jam berikut nya.


...


Sementara disebuah perusahaan ternama, seorang pria dengan banyak tato ditubuh dan wajah nya berjalan dengan gagah nya diikuti oleh beberapa orang dibelakang nya.


Seorang pria yang merupakan asisten pemilik perusahaan membukakan pintu ruang Presdir mereka.


"hai kak" sapa pria bertato yang tidak lain adalah Mike


Pria yang dipanggil kakak itu terlihat begitu terkejut melihat kedatangan adik nya. Dia adalah Thomas.


"Mike, kau sudah tiba. Kenapa tidak memberi tahu ku?" tanya Thomas sembari memeluk adik yang sudah lama tidak dia temui


"kejutan kakak" jawab Mike membuat Thomas langsung memukul bahu nya


Mereka beranjak dan kini duduk disofa ruang kerja Thomas.


"bagaimana bisnis mu, sudah aman?" tanya Thomas menatap wajah Mike yang selalu terlihat bengis dan brandalan


"Sudah, perusahaan sudah aman, dan bisnis ku juga sudah kembali stabil, ya walaupun harus mengalami kerugian yang cukup besar" jawab Mike terkekeh


"Lain kali kau harus hati hati Mike" kata Thomas


"Tentu kak. Kali ini aku akan berhati hati. Waktu itu aku hanya kurang beruntung sehingga agen agen sialan itu bisa menemukan bukti kecurangan ku" jawab Mike dan Thomas langsung mengangguk


"sudah sangat lama kau tidak kemari. Pasti ada sesuatu hal yang membuat mu datang kesini kan" tebak Thomas membuat Mike langsung tertawa


"ya, selain karena ingin menemui mu, aku juga akan menjemput milik ku yang telah hilang setahun ini" sahut Mike membuat Thomas mengernyit


"Gadis penebus hutang itu?" Tanya Thomas dan Mike langsung mengangguk


"Ya, ternyata dia berada dikota ini, tidak jauh dari tempat mu" jawab Mike


"Wow, seperti nya kau akan bermain main setelah ini" goda Thomas membuat Mike tertawa kembali


"Tentu saja. Aku sudah bersabar selama setahun ini" jawab nya membuat Thomas terkekeh


"Baiklah, terserah kau" ucap Thomas


"Tentu kak, oh ya , apa kau sudah bisa mengalahkan musuh mu itu?" Tanya Mike


"Dia seperti belut dan sangat licin. Tapi kali ini aku tidak akan kalah lagi Mike" jawab Thomas dengan tatapan mata yang begitu tajam


"Tenang saja. Aku pasti akan membantu mu" kata Mike pula


"tidak perlu khawatir, kau cukup urus gadis mu itu. Aku sudah meminta bantuan Jesica untuk ini" sahut Thomas


"Jesica, pemimpin wearloft?" tanya Mike dan Thomas langsung mengangguk


"ya, dia juga ingin menguasai klan Aldrego sama seperti aku. Dan aku fikir tidak ada salah nya untuk bekerja sama" jawab Thomas


"wow, hati hati jangan sampai kau jatuh hati pada nya" goda Mike hingga Thomas tertawa karena nya


"tidak masalah, dia cukup cantik dan aku menikmati permainan nya yang cukup memuaskan" sahut Thomas dengan senyum sinis


"kau memang banyak kak. Ternyata hubungan kalian sudah sejauh itu" kata Mike tidak habis fikir


"ya, itu hanya bonus. Dan tujuan ku adalah menyatukan black Eagle dan Wearloft , kurasa jika kami bergabung, maka akan dengan mudah menghancurkan klan Aldrego" ungkap Thomas dengan tatapan mata yang membara


"tapi apa kau sudah tahu siapa king Aldrego sebenar nya?" tanya Mike lagi. Karena setahu nya, pemimpin klan itu begitu misterius


"belum, tapi akan segera ku cari tahu. Beberapa waktu lalu kami hampir berhasil membunuh nya, tapi sayang nya dia bisa lolos" geram Thomas


"baiklah, seperti nya musuh mu saat ini benar benar tangguh" kata Mike


"kau benar, tapi setangguh apapun dia. Aku yakin aku pasti bisa mengalahkan nya." kata Thomas lagi


"tentu, aku mendukung mu" jawab Mike.