
Akhirnya meski hanya mendapatkan apa yang dia mau tidak bisa sepenuhnya, namun itu sudah cukup untuk Kenzo. Dia dan orang orangnya kini sudah keluar dari markas itu dan hanya tinggal menunggu beberapa orang orangnya yang lain yang sedang memasang peledak dibeberapa sisi gedung untuk meledakkan gedung itu. Semua anggota Thomas sudah habis tidak tersisa, meskipun orang orang nya juga ada beberapa yang gugur.
Kenzo memperhatikan Xavier dan anggota nya memasukkan bahan peledak yang mereka incar kedalam mobil. Benda itu harus segera diamankan, karena jika salah sedikit saja maka mereka yang akan hancur.
"Sebaiknya kita pergi king" ajak Edward yang telah memastikan jika gedung itu akan meledak sebentar lagi. Kenzo mengangguk, namun saat akan berbalik arah dia mendapati Thomas dan beberapa anak buah nya telah berdiri tidak jauh dari tempat nya.
Kenzo tersenyum tipis dan berjalan mendekat kearahnya dengan begitu angkuh, apalagi mendapati wajah Thomas yang begitu sinis melihatnya.
Anak buah Kenzo dan anak buah Thomas langsung siaga dibelakang pemimpin mereka masing masing. Thomas baru saja tiba,dan dia begitu terkejut karena klan Aldrego menyerang markas nya malam ini, mengambil semua barang barang nya dan tentu saja bahan peledak yang akan dia amankan. Tapi terlambat karena Kenzo ternyata sudah datang dan merebutnya lebih dulu. Untung saja separuh dari persenjataan nya sudah dia pindahkan ditempat lain saat markas ini diperbaiki. Dan sekarang dia benar benar semakin geram dengan King Aldrego ini.
"Kau benar benar pengecut king Aldrego, berani nya bermain dibelakang ku dan mencuri apa yang menjadi milikku" kata Thomas begitu sinis. Namun Kenzo hanya tersenyum tipis dan mengendikkan bahu nya sedikit
"Dua malam lagi aku tunggu kau didaerah perbatasan. Disana kita akan berhadapan. Aku begitu muak melihat mu yang benar benar seperti pengecut. Menghilang bagai ditelan bumi dan datang sesuka hatimu" hina Thomas
"Jaga bicaramu" bentak Xavier yang tidak terima. Dia tahu king Aldrego tidak akan pernah mau membuka suara nya jika dihadapan musuh. Tapi Xaveir tidak akan pernah bisa membiarkan orang lain menghina king nya
Thomas hanya melirik Xavier dengan sinis, dia kembali menoleh pada Kenzo yang terlihat angkuh. Kenzo hanya menatap datar Thomas, dia menaikkan tangan nya tinggi tinggi dan
Duaarrrrrrr
Senyum tipis Kenzo langsung terbit saat melihat mata Thomas terlihat begitu memendam kekesalan yang teramat dalam, apalagi melihat markas yang baru dibangun nya hancur luluh lantak dan tidak tersisa, juga bersama dengan orang orang nya. Ini belum seberapa, hanya satu markas yang Kenzo hancurkan dengan mudah dan dia tahu Thomas tidak akan berani melakukan apapun saat ini.
Kenzo mendengus sinis dan membalikkan tubuhnya meninggalkan Thomas yang menatap nya penuh kebencian.
"Malam ini kau menghancurkan markas ku. Maka bayaran yang akan kau terima akan jauh lebih parah dari ini. Orang yang selalu kau lindungi yang akan menjadi penebus nya" teriak Thomas begitu murka, bahkan suara nya beradu dengan suara dentuman gendung yang ambruk dan beberapa senjata yang meledak
Langkah kaki Kenzo berhenti sejenak, namun dia tidak berbalik. Dia hanya terdiam memikirkan perkataan Thomas, begitu pula dengan Edward.
Apa yang pria itu maksud?
Seseorang yang selalu dia lindungi?
Siapa?
Apa Thomas tahu sesuatu?
Kenzo langsung terkesiap dan kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan tempat itu. Setelah dia menyadari satu hal.
Alena.
Gadis itu memang dalam bahaya sekarang!
....
Sementara dirumah Alena, gadis itu kini sudah tidur didalam kamar nya. Namun tidur nya terlihat begitu gelisah. Bahkan keringat tampak mengucur deras didahi nya. Dia seperti bermimpi, bermimpi yang sangat buruk sehingga membuat nafas nya terasa begitu sesak. Dan malam itu Alena memang tidak dapat tidur dengan baik.
Keesokan paginya....
Alena bangun seperti biasa, dia mandi dan berhias dicermin kamar nya. Namun pagi ini dia merasa tubuhnya sedikit aneh, sakit, tapi tidak tahu sakit dibagian mana. Hanya saja nafas nya terasa sesak. Apa mungkin dia kelelahan? Batinnya
Alena meraih tas nya yang ada diatas meja, pagi ini dia sudah ada janji dengan Clara di Agency. Mereka akan membuat sebuah rancangan gaun terbaru untuk model model mereka nantinya. Dan tugas Alena akan semakin banyak setelah ini.
Setelah selesai berhias dan memandang penampilan nya dicermin, Alena langsung turun kebawah untuk sarapan bersama kakak dan daddy nya.
"Selamat pagi daddy" sapa Alena yang mengecup sekilas wajah daddy nya, tersenyum ceria seperti biasa
"Selamat pagi sayang" balas kapten Stone
"Selamat pagi kakak" kini Alena beralih pada Reymond dan mengecup sekilas wajah kakak nya dengan manja
"Cantik sekali, mau kemana?" tanya Reymond memandangi penampilan Alena yang tampak berbeda pagi ini. Biasa nya Alena pergi tanpa riasan diwajahnya, tapi pagi ini dia merias wajahnya dan memakai pakaian yang lumayan wow. Sebuah dress ketat bewarna merah, benar benar membuat penampilan nya begitu cerah dan terlihat seksi.
"Aku ada janji di Agency pagi ini, membahas kerja sama yang akan kami jalin nanti" jawab Alena sembari duduk dikursi nya dan meraih susu serta roti bakar yang menjadi sarapan nya hari ini
"Kau akan bertambah sibuk, tapi menjadi desainer tetap disana pasti akan membuat namamu semakin dikenal dunia" kata Reymond menatap Alena dengan bangga. Alena tersenyum dan mengangguk, dia memang sudah sangat menantikan itu, menjadi terkenal karena bakat yang dia miliki dan bisa pantas bersanding dengan Enzo nya.
"Tapi kau juga harus memperhatikan kesehatan mu sayang. Jangan terlalu lelah" sahut kapten Stone pula
"Jangan khawatir dad. Aku pasti bisa membatasi kegiatan ku. Lagipula ini adalah kesempatan yang bagus" jawab Alena
"Terhibur?" gumam Alena bingung, dia menatap Reymond dengan heran namun mulutnya tetap masih mengunyah rotinya
"Hmm, bukankah disana banyak model model tampan. Aku fikir kau berdandan seperti ini karena ingin mencari perhatian mereka" goda Reymond. Alena langsung tersedak roti nya sedangkan kapten Stone terkekeh lucu mendengar nya
"Kakak" seru Alena kesal, dia mengusap mulutnya yang cemberut dengan tisu
Reymond tertawa kecil dan begitu senang melihat wajah kesal Alena, sangat menggemaskan
"Hei aku berkata jujur" kata Reymond
Alena mendengus dan menggeleng sejenak
"Meskipun mereka tampan, tapi tetap tidak bisa mengalahkan Enzoku" jawab Alena cepat, dia melanjutkan sarapan nya tanpa melihat wajah Reymond yang merasa bersalah dengan jawaban itu. Melihat Reymond yang diam Alena kembali menoleh kearah nya dan memandang kakak nya dengan heran
"Kau belum bisa merelakan nya Ale?" tanya Reymond pelan.
Alena tertegun, sepertinya dia telah salah bicara tadi. Kenapa harus menyinggung tentang Kenzo. Astaga, sepertinya otak kecilnya ini memang sudah dipenuhi oleh nama Kenzo Barrent semua.
Alena tersenyum canggung dan menggeleng lemah. Dia meletakkan rotinya keatas piring kembali
"Rey, kau ini" dengus kapten Stone yang tidak suka dengan pertanyaan Reymond
"Tidak apa apa dad. Aku sudah baik baik saja. Kenapa kalian seperti itu ha. Bukankah memang tidak ada pria manapun yang mengalahkan ketampanan nya? " tanya Alena dengan tawa canggung nya
"Termasuk kakakmu ini?" tanya Reymond dan Alena langsung mengangguk dan tertawa lucu
"Ya" jawab nya begitu jujur
Kapten Stone langsung menggeleng dan tersenyum, dia memang masih sedih jika mengingat tentang Alena dan Kenzo. Bahkan sampai saat ini saja kabar Kenzo belum bisa diketahui, entah bagaimana lagi cara dia dan anggotanya mencari jejak tuan Amerika itu.
"Aku sudah harus pergi, daddy kekantor hari ini?" tanya Alena pada kapten Stone
"Ya, mungkin sedikit siang" jawab kapten Stone
"Apa perlu aku antar Ale?" tanya Reymond melihat Alena yang sudah selesai sarapan dan ingin segera beranjak
"Tidak perlu kak, bukankah sudah ada Joice" jawab Alena sembari berdiri dari kursi nya namun terjatuh kembali dengan wajah yang meringis
"Alena" ucap kapten Stone dan Reymond yang reflek langsung beranjak dari tempat duduk mereka dan mendekati Alena
Alena memejamkan matanya sejenak, meremas baju dibagian dada, entah kenapa tiba tiba jantung nya terasa berdenyut dan sangat sakit. Dia menarik nafas nya dalam dalam dan mencoba membuang nya perlahan, hingga rasa itu menghilang dengan sendirinya.
"Ada apa Alena, apa yang sakit nak?" tanya kapten Stone begitu khawatir. Dia mengusap bahu Alena dengan lembut. Alena menatap nya dan tersenyum tipis
"Tidak apa dad, hanya tiba tiba sesak" jawab Alena yang mulai bisa bernafas dengan baik, setelah beberapa detik tadi dia merasa nafas nya hilang dan terputus
"Kita kerumah sakit saja ya"ajak Reymond, namun Alena langsung menggeleng pelan
"Tidak usah kak, aku baik baik saja" jawab Alena
"Tapi wajahmu pucat sayang, hanya periksa saja" sahut kapten Stone pula. Namun Alena kembali menggeleng. Dia tidak pernah suka rumah sakit.
"Tidak apa apa dad, mungkin aku hanya masuk angin. Sudah tidak sesak lagi" kata Alena menatap ayah dan kakaknya bergantian
"Tapi sayang" kapten Stone terlihat keberatan
"Jangan khawatir dad, aku tidak apa apa" kata Alena
"Aku sudah harus pergi" ucap nya lagi sembari berdiri dan memeluk daddy nya sekilas
"Benar sudah tidak apa apa?" tanya kapten Stone dan Alena langsung mengangguk yakin. Dia juga tidak tahu dia kenapa, rasa sesak nya hanya datang sebentar dan setelah itu menghilang, mungkin saja memang masuk angin biasa karena dia yang kelelahan.
"Sore nanti jika kau masih sakit kita harus pergi kedokter" kata Reymond
"Iya" jawab Alena yang bergantian memeluk Reymond dengan manja. Ayah dan kakak nya terlalu mengkhawatirkan dia. Padahal Alena hanya sesak sedikit saja.