
Saat ini Alena sudah berada didalam mobil menuju butik nya. Sudah sangat lama dia tidak menginjakan kaki dibutik itu. Setelah menelpon Edward tadi, ternyata Jack yang menjemput Alena, bukan lah Kenzo seperti perkiraan nya dan Clara.
Dia sedikit kecewa karena sudah berharap, tapi apa boleh buat, dia tahu Enzo nya adalah orang yang sibuk, dan bukan lah pekerjaan nya untuk mengantar Alena kesana kemari. Begitulah fikiran nya.
Jack memarkirkan mobil nya didepan lobi butik, dimana beberapa mobil yang mengawal nya juga berhenti didepan butik Alena. Alena sudah merasa seperti orang yang sangat penting saja saat ini. Ayah nya dan Kenzo benar benar berlebihan.
Senyum Alena langsung mengembang saat melihat Lian sudah menyambut nya didepan pintu.
"Nona!!" Seru Lian yang langsung memeluk Alena dengan erat. Dia begitu merindukan nona nya itu setelah sangat lama tidak bertemu.
"Kau baik baik saja kan?" Tanya Alena pada asisten kesayangan nya itu
"Ya, saya baik baik saja. Ah kami begitu merindukan anda nona" ucap Lian membuat Alena tertawa dan menggandeng lengan nya masuk kedalam butik.
"Aku juga merindukan kalian. Sangat" jawab Alena yang terlihat memandang butik nya yang sedikit berbeda dengan tampilan awal nya.
"Kenapa cuma kalian bertiga?" Tanya Alena menatap satu persatu karyawan nya, ada enam orang karyawan dibutik nya, namun sekarang yang tersisa hanya tiga orang saja.
Alena menoleh pada Lian yang terlihat menghela nafas nya
"Mereka mengundurkan diri nona. Mereka takut kejadian kemarin terulang kembali" ungkap Lian membuat Alena tertunduk sedih
"Maafkan aku, karena aku kalian jadi tertekan bekerja disini" ucap Alena terlihat sedih.
"Tidak nona, ini bukan salah nona. Pria itu memang jahat, tapi kami tidak akan takut lagi, karena sudah banyak yang berjaga disini" ucap salah seorang karyawan
"Benar nona. Kami sudah nyaman bekerja bersama anda" ucap karyawan nya yang lain. Alena langsung tersenyum dengan mata yang berkaca kaca
"Terimakasih, terimakasih banyak kalian masih ingin bertahan. Aku janji, aku akan memberikan bonus untuk kalian nanti" kata Alena dengan tawa haru nya
"Jangan difikirkan nona, bekerja disini merupakan suatu keberuntungan untuk kami" ungkap karyawan nya lagi
"Ya, mereka senang sekali melihat tuan Ed dan juga presdir yang beberapa kali datang menemui anda" sahut Lian menatap kesal karyawan nya yang tertawa malu
"Astaga kalian ini" Alena langsung menggelengkan kepala nya melihat tingkah mereka. Tapi, ya memang tidak bisa dipungkiri, siapa yang bisa menolak pesona seorang Kenzo Barrent itu.
"Ah iya, aku tidak bisa berlama lama disini. Aku menyerahkan butik ini pada kalian. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik." Ucap Alena pada ketiga karyawan nya yang langsung mengangguk
"Tentu nona" jawab mereka
"Dan Lian, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Tapi aku sangat berterimakasih untuk semua kebaikan mu, tanpamu butik ku pasti sudah tidak jalan lagi saat ini" ucap Alena pada Lian yang tampak tersenyum dan menggeleng
"Jangan sungkan nona. Ini adalah tugas saya. Saya sudah berjanji untuk membantu nona memajukan butik ini" sahut Lian dan Alena langsung mengangguk penuh haru.
Mereka mengobrol tidak lama, karena Alena memang tidak bisa berlama lama dibutik itu, dia takut Mike akan menemukan nya disana dan mengacaukan butik nya lagi.
Alena memeriksa satu persatu gaun gaun yang akan dibawa keperusahaan Starlight. Setelah tidak ada yang kurang ataupun salah, dia segera bergegas keluar dari butik itu diantar oleh Lian. Sedangkan tiga karyawan Alena yang lain membawakan box pakaian yang akan dibawa keperusahaan itu.
Tubuh Alena seketika mematung saat melihat seorang pria tampan terlihat berdiri dengan gagah nya disamping sebuah mobil mewah. Mata nya memandang Alena dengan lekat, membuat Alena langsung tersenyum dengan begitu senang.
"Enzo" gumam Alena yang langsung berjalan menuju Kenzo yang baru tiba dibutik nya.
Lian dan karyawan Alena yang lain terlihat terpukau sejenak melihat tuan Amerika itu. Pesona nya benar benar membuat mereka tidak bisa berpaling.
"Aku kira kau sibuk" ucap Alena yang telah berada didepan Kenzo sekarang
"Tidak juga, hanya ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu" jawab Kenzo dengan senyum tipis nya
Alena hanya mengangguk dan tersenyum, dia menoleh pada Lian dan karyawan nya yang lain yang baru saja selesai memasukan box pakaian kedalam mobil Jack.
"Aku pergi dulu. Aku titip butik pada kalian" ucap Alena
"Baik nona" jawab mereka semua
Kenzo sudah masuk kedalam mobil dan kini Alena yang masuk kedalam mobil yang dibukakan oleh Edward. Pria batu itu selalu ada dimanapun Kenzo berada.
Lian tampak menatap Edward dengan lekat, namun pria batu itu hanya melirik nya sekilas dan langsung masuk kedalam mobil untuk mengantarkan tuan dan nona nya keperusahaan Starlight.
Alena menoleh pada Kenzo yang duduk disamping nya. Seperti biasa, Kenzo hanya diam dengan wajah datar nya. Terkadang Alena heran, dia sudah mengungkapkan isi hati nya, tapi kenapa pria ini masih saja selalu datar.
"En" panggil Alena dan Kenzo langsung menoleh kearah nya
"Terimakasih" ucap Alena membuat alis Kenzo langsung mengernyit.
"Terimakasih sudah mau mengantarku, seharusnya kau tidak perlu repot begini" ucap Alena lagi
Alena langsung mendengus senyum mendengar nya.
"Mereka tidak akan berani, karena lebah ku cukup hebat dan tangguh" jawab Alena dan kini Kenzo yang tersenyum melihat nya
"Ya meskipun kau memiliki lebah yang tangguh, tapi tidak menutup kemungkinan mereka ingin mencuri mu" sahut Kenzo pada Alena yang mengangguk dengan senyum nya
"Aku percaya, lebahku pasti bisa melindungiku jika dia ingin menikmati madu nya" goda Alena membuat Kenzo langsung mengacak gemas pucuk kepala nya
"Bahkan untuk dicicipi saja kau sudah mau pingsan, bagaimana cara nya aku menikmati nya" bisik Kenzo ditelinga Alena
Alena langsung mendorong tubuh Kenzo yang sedikit merapat kearah nya. Wajah Alena benar benar memerah sekarang. Perkataan Kenzo terlalu fulgar ditelinga nya.
"En" seru Alena tertahan, dia melirik Edward yang hanya bertampang datar dan fokus pada kemudi nya
Sedangkan Kenzo tampak tertawa kecil melihat wajah malu Alena.
Dan tentu saja, meski wajah Edward datar, tapi didalam hati nya dia bergejolak melihat tawa Kenzo. Tawa yang sudah sangat lama tidak dilihat nya. Alena ternyata mampu menghidupkan hati Kenzo yang telah mati. Dan Edward sangat bersyukur untuk itu. Dia jadi tenang untuk kepergian mereka esok hari, karena dia tahu, Kenzo tidak akan lagi terpuruk dengan cerita masa lalu nya.
Setelah hampir satu jam kemudian, mereka akhirnya tiba diperusahaan Starlight.
Mereka disambut oleh sekretaris Ponix, Diana. Wanita itu begitu terkejut melihat Alena datang bersama dengan Kenzo Barrent. Bahkan seisi gedung juga sama kaget nya melihat kedatangan tuan Amerika itu. Karena dalam sejarah, baru kali ini seorang Kenzo Barrent menginjakkan kaki di perusahaan mereka.
"Selamat siang nona Alena, selamat siang Presdir. Selamat datang diperusahaan kami" sambut Diana bersama beberapa staf nya.
"Terimakasih nona sekretaris. Sesuai janji, saya membawakan pesanan kalian langsung" ucap Alena menunjuk Jack dan dua orang lain nya yang membawa box pakaian mereka.
"Terimakasih banyak atas pelayanan anda nona. Mari kita keatas. Tuan Ponix sudah menunggu anda" ajak Diana pada Alena yang langsung mengangguk.
Alena menoleh pada Kenzo sekilas dan langsung berjalan bersama Diana menuju ruangan ponix. Kenzo hanya diam dan mengikuti Alena saja, semua mata tidak berani memandang terlalu lekat pada Kenzo yang hanya berwajah datar dan dingin itu.
Mereka semua menunduk hormat ketika Alena berjalan bersama Kenzo menuju ruangan Ponix. Didalam hati mereka semua menerka nerka, ada apa gerangan seorang Kenzo datang keperusahaan mereka bersama dengan seorang desainer yang bahkan nama nya saja tidak mereka kenal.
Apa itu wanita nya tuan Amerika? Atau pria tampan itu datang dengan tujuan lain dan hanya kebetulan saja bersama Alena. Tapi melihat gelagat nya, tampak nya sang Presdir memang datang untuk menemani gadis itu.
Beribu pertanyaan langsung berkecamuk pada seisi kantor hari itu.
Pesona Kenzo benar benar membuat siapapun tidak bisa berpaling, dan Alena yakin jika dia telah salah membawa orang kali ini. Bukan nya merasa aman, dia malah merasa kesal melihat tatapan kekaguman orang orang itu.
Tidak lama kemudian, mereka tiba diruangan Ponix. Ponix menyambut mereka dengan begitu ramah dan sangat sopan tentu nya. Lagi lagi dia dibuat terkejut dengan kedatangan Kenzo Barrent bersama Alena.
Seperti nya, dia memang harus mengubur dalam dalam perasaan nya pada gadis ini.
"Silahkan duduk nona, Presdir" ucap Ponix mempersilahkan mereka duduk disofa ruangan itu.
Alena hanya mengangguk dan tersenyum saja. Sementara Kenzo yang duduk disamping nya terlihat begitu angkuh. Dia menatap datar Ponix yang memulai percakapan nya dengan Alena. Sebenar nya dia bosan mendengar percakapan ini, tapi dia tidak ingin membiarkan Alena datang sendiri keperusahaan ini, apalagi bertemu dengan Ponix, seorang Casanova penjual rayuan maut.
Hampir satu jam Kenzo menemani Alena, dia hanya diam dan memperhatikan Alena dan Ponix yang membahas kerja sama mereka. Mereka hanya berempat didalam ruangan itu, tidak ada percakapan yang aneh dan keluar dari jalur nya, karena baik Diana maupun Ponix memang tidak ada yang berani mengatakan hal hal aneh pada Alena seperti sebelum nya, karena seperti nya, Alena memang wanita nya tuan Amerika.
"Saya harap besok malam anda bisa datang nona, semua orang harus tahu siapa perancang gaun kami tahun ini" ucap Ponix pada Alena yang malah menoleh pada Kenzo seolah meminta pendapat
"Dia pasti datang" jawab Kenzo yang baru mengeluarkan suara nya
"Ya, saya harap begitu Presdir. Dan tentu nya, saya juga mengundang anda langsung untuk dapat menghadiri pesta kecil kami" kata Ponix pula, dan Kenzo hanya mengangguk datar menanggapi nya.
"Baiklah, jika begitu kami permisi dulu tuan Ponix" ucap Alena
"Saya mengucapkan banyak terimakasih pada anda nona" ucap Ponix yang menjulurkan tangan nya pada Alena namun malah Kenzo yang menyambut nya. Dan tentu saja itu membuat mereka terkesiap kaget. Apalagi Alena dan Ponix
"Kami permisi" kata Kenzo yang langsung menarik Alena untuk berdiri setelah sebelum nya dia yang menjabat tangan Ponix
Ponix terlihat canggung, begitu pula Alena. Kenapa Presdir bisa menjadi seposesif ini, padahal hanya menjabat tangan saja.
"Terimakasih atas kunjungan nya Presdir" sahut Ponix langsung. Dan Kenzo hanya mengangguk saja
"Permisi tuan" ucap Alena sembari mengikuti langkah kaki Kenzo yang menarik nya keluar .
Dia begitu tidak enak menatap tatapan heran dan terkejut dari Ponix dan Diana. Enzo nya ini memang sangat angkuh, batin nya.
Diluar ruangan, mereka kembali disambut oleh Edward dan Jack yang telah menunggu mereka sedari tadi. Kenzo tidak melepaskan genggaman tangan nya pada Alena, sehingga sepanjang jalan menuju lobi gedung, tatapan heran kembali didapatkan oleh Alena.
Alena menoleh kearah genggaman tangan Kenzo yang terus membawa nya melangkah. Malu, tapi dia juga bahagia mendapat perlakuan seperti itu.
Alena tersenyum dan membalas genggaman tangan itu, membuat Kenzo tersenyum tipis meski mata nya hanya tertuju pada jalanan didepan mereka.