
Mike menggeram kesal sembari mencengkram setir mobil nya dengan kuat.
Tatapan mata nya begitu tajam menatap jalanan kota Newyork siang itu.
"Sial, apa hubungan mereka berdua sebenar nya, tidak mungkin kan jika orang sekelas Kenzo Barrent menyukai gadis seperti Alena" gumam Mike kesal
Ya, dulu dia hanya menganggap Alena sebagai mainan nya. Karena rupa gadis itu begitu cantik dan sempurna maka Mike menyimpan nya dimansion milik nya.
Tidak disangka nya, beberapa minggu tinggal bersama gadis itu benih benih cinta mulai tumbuh dihati nya yang sekeras batu.
Mike orang yang kasar dan tempramental , sebab itu dia tidak bisa mengendalikan emosi nya saat Alena berbuat salah.
Malam itu, dia ingin berniat baik pada Alena dengan mengajak gadis itu kesuatu tempat yang sudah disediakan nya.
Dia ingin menjadikan Alena milik nya seutuh nya, namun siapa sangka, gadis yang dikira nya lemah itu mampu meloloskan diri dan menghilang dari kehidupan nya.
Entah bagaimana cara Alena sampai dikota ini. Saat itu bisnis gelap Mike sedang terganggu, dan juga perusahaan nya mengalami penurunan sehingga mau tidak mau dia membiarkan Alena bebas.
Dan sekarang, setelah semua urusan nya selesai dia kembali mencari Alena. Dan ternyata Alena berada dikota ini. Kota dimana tempat tinggal kakak nya berada
"Aku tidak akan melepaskan mu Alena. Kau adalah satu satu nya wanita yang berhasil membuat ku jatuh cinta. Meski aku harus melawan Presdir itu, aku tidak perduli" kata Mike dengan nada yang menggeram penuh
...
Sedangkan Alena saat ini telah berada di apartemen Kenzo.
Dia tidak ingin makan diluar bersama Kenzo dan lebih memilih untuk memasak dan makan berdua diapartemen nya .
Alena menyempatkan diri singgah ke supermarket yang mereka lewati. Sebenar nya lebih tepat ke memaksa Kenzo untuk singgah.
Dan mau tidak mau pria robot itu mengalah dan membiarkan Alena belanja keperluan nya sendiri dan dia menunggu didalam mobil yang dikendarai Edward.
Kenzo berbincang serius bersama Edward diruang depan. Sementara Alena langsung menuju kedapur untuk membuat masakan untuk nya dan untuk Kenzo.
Alena merapikan belanjaan itu kedalam kulkas dan setelah itu dia mengambil bahan yang akan dimasak nya.
Sebenar nya dia lelah, dia ingin berada disebuah tempat sepi dan sunyi sekarang, dia ingin menangis sepuas nya disana. Tapi dia juga tidak ingin menolak permintaan Kenzo.
Ya meskipun dia menolak untuk makan diluar tadi nya.
Alena cukup sadar diri sekarang, dia tidak ingin nama baik Kenzo tercemar hanya karena diri nya yang sudah tidak punya harga diri ini. Apalagi mendengar perkataan Mike tadi yang benar benar seperti menghantam jantung nya dengan sebuah sembilu berduri. Ditambah dia berbicara begitu pada seorang Kenzo Barrent. Pria yang notabene nya adalah pemilik hati Alena saat ini.
Sebenar nya Alena begitu down saat ini dan tidak lagi bersemangat untuk melakukan apapun. Tapi dia tidak ingin terlihat begitu lemah dihadapan Kenzo. Kenzo sudah berbuat sangat banyak untuk nya. Dia malu jika harus selalu menangis didepan pria itu. Dia benar benar malu sekarang. Jangan kan untuk berharap, untuk sekedar mendekati pun dia sudah tidak lagi mempunyai nyali. Karena benar perkataan Mike, orang sekelas Kenzo tidak akan tertarik pada seorang gadis yang sudah ternoda seperti nya.
Alena meracik bumbu sembari menahan agar air mata nya tidak jatuh dan tidak membuat nya menjadi beban untuk Kenzo lagi.
Sudah cukup sampai disini, Alena bertekad jika dia telah menyelesaikan ajang bergengsi itu Alena akan pergi dari kehidupan Kenzo Barrent. Dia tidak ingin terus menerus membuat pria itu susah, apalagi dengan kedatangan Mike yang semakin membuat nya sadar diri.
Terserahlah jika takdir akan membawa nya kemana, Alena tidak perduli. Entah dia berakhir ditangan Mike atau bahkan mengakhiri hidup nya sendiri, yang pasti dia harus pergi dan tidak akan mengusik Kenzo lagi
Lupakan tentang orang tua kandung nya. Alena benar benar sudah berputus asa sekarang. Perkataan Mike tadi sungguh membuat semangat nya menguap entah kemana.
"Wanita bekas" Alena menggigit bibir bawah nya dengan getir. Perkataan itu sungguh membuat nya tidak berdaya. Ya, apalagi yang dia harapkan jika diri nya sudah dicap seperti itu. Mimpi apa lagi yang harus dia kejar, dan kebahagiaan seperti apa yang pantas didapatkan nya.
"Kau memasak apa?"
"Uhggh" desis Alena membuat Kenzo terkesiap dan langsung menarik jari tangan Alena yang teriris pisau
Alena begitu terkejut dengan kedatangan Kenzo yang tiba tiba, atau mungkin karena dia yang tidak fokus. Sehingga pisau yang seharus nya mengiris sayuran malah mengiris jari nya.
Darah segar mengucur deras dari jari telunjuk Alena karena luka nya benar benar dalam.
Kenzo langsung menarik tangan Alena kewastafel dan mengguyur nya dengan air
"Kau begitu ceroboh Alena" kata Kenzo dengan nada dingin dan terus menerus membersihkan jari itu hingga darah nya mulai berhenti mengalir
Alena menatap Kenzo dengan sepenuh hati nya. Pria ini begitu baik, dia terlalu sempurna untuk Alena yang hanya wanita murahan.
Alena langsung tertunduk saat Kenzo menoleh kearah nya, dia menyembunyikan mata nya yang mulai berair kembali
"Kemari" ajak Kenzo sembari menarik Alena dan mendudukan nya dikursi meja makan.
Kenzo beranjak menuju sebuah lemari dan mengambil kotak obat dari sana.
Alena hanya mengamati tingkah Kenzo yang begitu sigap dan terlihat khawatir melihat nya terluka
Kenzo duduk didepan Alena dan menarik tangan Alena yang masih berdarah itu.
"Biar aku saja En" ucap Alena pelan namun Kenzo malah menarik paksa tangan nya dan mulai mengobati luka itu
Alena meringis sakit saat Kenzo membalurkan obat merah disana
Alena langsung mengangguk cepat, dan kembali menggigit bibir bawah nya agar tidak menangis sekarang
'itu sama sekali tidak terasa En, sakit nya disini. dihatiku' batin Alena perih
"Tahanlah, ini hanya sebentar. Maka nya lain kali kau hati hati, jangan sambil melamun. Apa yang sedang kau fikirkan memang nya?" Gerutu Kenzo sembari membalut luka Alena dengan perban.
"Tidak ada, aku hanya kurang berhati hati. Pisau nya licin" dalih Alena membuat Kenzo mendengus
"Berhentilah memasak jika tangan mu masih sakit" kata Kenzo lagi setelah selesai mengobati jari Alena
"Tidak, ini sudah lebih baik. Aku akan melanjutkan nya. Kau tunggu saja. Tidak akan lama" jawab Alena yang langsung berlalu meninggalkan Kenzo yang menatap nya dengan kesal
"Dasar keras kepala" gumam nya, bahkan hanya karena pisau kecil begitu Alena sudah ingin menangis.
...
Dan akhir nya hampir satu jam kemudian masakan Alena sudah terhidang diatas meja dengan sangat rapi dan menggiurkan.
Edward sudah pergi dari sana karena masih banyak tugas yang harus dikerjakan nya.
Dan kini hanya tinggal Alena dan Kenzo diapartemen yang luas itu.
Kenzo duduk dengan tenang ditempat nya. Dia memperhatikan Alena yang dengan sigap melayani nya makan. Dari mengambilkan lauk dan juga minuman untuk nya.
"Sudah. Makan lah" kata Alena yang kini juga duduk dikursi nya tepat dihadapan Kenzo.
Sedari tadi Alena selalu saja menghindari kontak langsung dengan mata tajam itu. Sungguh dia tidak bisa berlama lama menatap mata itu. Bukan takut, tapi Alena tidak bisa menahan perasaan nya ketika berada didekat Kenzo.
Mereka makan dalam diam, namun sesekali Kenzo melirik Alena yang makan dengan tidak berselera.
Dia tahu , gadis itu pasti masih sedih saat ini. Tapi dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan nya sekarang.
"Setelah ini aku harus pergi. Kau bisa istirahat disini kalau kau mau" kata Kenzo saat telah menyelesaikan makan nya. Dia makan dengan lahap karena masakan Alena benar benar nikmat dan pas dilidah nya yang pemilih
"Iya" jawab Alena singkat
"Kau baik baik saja?" Tanya Kenzo lagi membuat Alena menatap nya sekilas dan tersenyum tipis
"Aku baik baik saja En. Kau bisa pergi jika ada urusan. Aku tidak apa apa" jawab Alena lagi sembari membereskan sisa makan mereka.
"Baiklah. Aku pergi" kata Kenzo yang langsung beranjak diikuti oleh Alena yang berjalan dibelakang nya
"Jangan pergi kemana pun" kata Kenzo saat tiba didepan pintu. Dia membalikan tubuh nya dan menatap Alena dengan lekat
Alena hanya tersenyum dan mengangguk pelan
Kenzo segera memakai topeng nya dan pergi berlalu meninggalkan Alena sendiri ditempat itu.
Alena menutup pintu apartemen itu dan kembali kedapur.
Mata nya berkaca kaca kembali. Dia mengelap sisa makanan diatas meja, setelah itu mencuci piring bekas mereka makan tadi, seiring dengan tangan nya yang mengusap air mata nya yang luruh tak terbendung lagi
Hiks
Isak tangis Alena mulai terdengar, bahkan lebih keras dari pada hentakan piring dan gelas yang disimpan pada tempat nya
Alena jatuh terduduk dilantai dan langsung menangkup wajah nya dengan telapak tangan nya.
Dia menangis pilu disana, menangis dengan tangisan yang begitu perih dan penuh luka
"Ibu, Ale tidak kuat lagi ibu" Isak nya sesunggukan
Ruang dapur yang senyap itu dipenuhi oleh suara Isak tangis Alena
Hati nya sakit, bahkan sangat sakit saat ini
"Apa Ale tidak berhak bahagia. Ale ingin ikut ibu. Ale takut ibu, Ale takut" ucap nya lagi dengan tangis tersedu sedu
Dada nya bergemuruh, bahkan terasa sangat sesak. Rasa nya semua harapan dan impian nya benar benar hancur sekarang
"Ale cuma wanita murahan sekarang. Ale menyerah ibu. Ale lelah"
Alena menangis sesunggukan dilantai dapur itu hingga hampir dua jam lama nya. Dia menguapkan segala rasa sesak yang sejak siang tadi ditahan nya. Sakit sekali ketika mulai berharap namun langsung terpatahkan oleh sebuah argumen yang sangat menyakitkan.
"Satu bulan lagi. Ya hanya satu bulan. Bertahanlah Ale. Kau harus bertahan demi Kenzo. Jangan kecewakan dia, jangan sia siakan pemberian nya. Setelah kau bisa menyelesaikan nya, kau bisa pergi bukan. Kau bisa pergi sejauh mungkin, dimana tidak ada lagi yang bisa mencemooh mu, dimana tidak lagi kau rasakan ketakutan seperti sekarang ini" batin Alena yakin
Alena beranjak dengan langkah yang terhuyung. Tubuh nya lemas karena sudah beberapa hari ini dia benar benar menghabiskan air mata nya.
Alena merebahkan tubuh nya disofa panjang apartemen itu. Dan tidak lama mata nya terpejam rapat dan dia tertidur dalam damai meski mimpi indah tidak kunjung datang.