ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Kemarahan Reymond



Kenzo sedang menyisiri rambut panjang Alena yang berantakan, hanya merapikan dengan tangannya saja. Dia duduk disamping Alena sedangkan Alena bersandar didadanya sejak tadi.


Tubuh Alena benar benar sudah lemah, bahkan dia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri dan kekamar mandi. Semua Kenzo yang membantu menggendong tubuhnya. Rasa nya tulang dan persendian nya seperti tidak berfungsi dengan baik. Bahkan sesekali juga dia merasakan nyeri yang teramat sangat dibeberapa bagian tubuhnya.


Nafas Alena juga terasa sesak sesekali, dia sudah mulai kesulitan bernafas, namun meskipun begitu Alena tidak ingin mengeluh pada Kenzo. Dia tidak ingin melihat Kenzo bersedih.


Alena meraba siku nya yang nampak membiru. Tidak sakit ketika diraba, namun didalam sana dia merasa jika sikunya pasti remuk karena dia merasakan sakit dan ngilu sekaligus


"Sakit?" tanya Kenzo memandang apa yang dilihat oleh Alena


Alena menggeleng pelan dan tersenyum tipis. Dia memandang Kenzo yang begitu sendu menatapnya


"Tidak, hanya sesekali saja. Tapi kenapa bisa membiru begini, apa aku jatuh?" tanya Alena dengan polosnya


Kenzo tersenyum dan mengecup pucuk kepala nya


"Tidak, kau tidak jatuh" jawab Kenzo


Alena terdiam, jika dia tidak jatuh, kenapa beberapa bagian tubuhnya membiru. Sejak tadi dia bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya tapi Kenzo masih saja tidak ingin memberi tahunya.


"Alena, apa sebelum ini kau ada memakan sesuatu dari orang asing?" tanya Kenzo tiba tiba


Alena langsung mendongak dan memandang wajah Kenzo dengan bingung


"Orang asing?" tanya Alena dan Kenzo langsung mengangguk


"Ya, kau terkena racun. Ada yang mencoba meracunimu. Kau bisa katakan padaku dengan siapa kau keluar seminggu ini" kata Kenzo lagi


Alena terdiam. Dia terkena racun? Kenapa bisa, siapa yang sudah meracuni nya. Alena langsung mengingat ingat apa yang dia makan dan minum sebelum ini. Dan dia rasa dia juga tidak ada bertemu dengan orang asing. Keluar dari butik juga tidak ada. Tidak mungkin kan


"Aku tidak ada keluar kemanapun selain kebutik En. Juga tidak ada makanan dan minuman apapun yang aku minum." jawab Alena


"Coba kau ingat lagi, mungkin sehari sebelum kau merasakan tubuhmu tidak baik" kata Kenzo lagi. Dia tidak akan melepaskan orang yang sudah berani mencelakai Alena hingga seperti ini. Untuk mencari tahu sekarang dia belum memiliki orang untuk dia perintahkan menyelidiki nya, semua anggotanya masih sibuk mengurus peperangan malam nanti. Dan siapa tahu dengan bertanya pada Alena dia bisa memiliki sedikit petunjuk.


Alena masih terdiam, berusaha mengingat lagi apa yang dia lakukan sehari sebelum dia merasakan sesak yang dia rasa hanya karena kelelahan ini.


"Aku dibutik, melayani pengunjung seperti biasa, makan siang bersama Lian, dan juga memakan cemilan yang dia beli. Tidak ada hal yang aneh" gumam Alena


"Lian.." gumam Kenzo. Haruskah dia mencurigai asisten pilihan Edward itu?


"Kau mencurigai nya?" tanya Alena memandang Kenzo


"Semua orang patut dicurigai Alena, racun itu tersebar begitu cepat merusak kerja jantung mu. Dan sudah pasti kau termakan racun itu sehari sebelum kau merasakan sesak didadamu" jawab Kenzo


Alena mengangguk setuju. Dia sebenar nya takut ketika mendengar jika dia terkena racun, apalagi dia tahu jika racun ini sangat berbahaya. Bahkan dia berasa ingin mati dan menyerah saat merasakan kesakitan nya. Tapi melihat wajah sedih Kenzo, Alena tidak tega, dan dia harus bisa berpura pura kuat.


Alena menghela nafasnya perlahan, mencoba mengingat ingat dan memikirkan tentang siapa yang sudah tega memberinya racun yang begitu menyiksa tubuhnya ini. Lian? tidak mungkin. Dia sudah bersama Lian cukup lama, lagipula untuk apa Lian meracuninya, Alena tidak pernah merasa jika dia membuat suatu kesalahan pada gadis itu. Karyawan nya yang lain dia rasa juga tidak mungkin. Mereka hanya gadis gadis polos seperti Alena yang hanya tahu bekerja dan mendapat uang, tidak mungkin mereka meracuni Alena, untuk apa? Mereka tidak akan mau berurusan dengan ayah nya bukan.


Siang itu sehari sebelum Alena mimpi buruk dan merasakan sakit didadanya dia hanya minum kopi dengan Rebecca dibutiknya. Dan kopi itu juga dibuat oleh Lian. Tapi yang menjadi pertanyaan nya, hari itu Rebecca memang tampak aneh kan, apa ini berkaitan dengan dia? Semalam sewaktu diperusahaan, Rebecca juga selalu mencuri pandang pada Alena bahkan ketika baru tiba diperusahaan dia juga langsung menanyakan tentang kabar Alena.


"Rebecca" gumam Alena tiba tiba


Kenzo sedikit terkesiap mendengar nama sekretarisnya itu disebut


"Ada apa dengan dia?" tanya Kenzo


"Siang itu, aku sempat minum kopi dengan dia, tapi apa mungkin dia yang memberi racun dikopiku?" tanya Alena memandang wajah Kenzo


"Kenapa kau bisa minum kopi bersama nya?" tanya Kenzo sedikit heran


"Dia datang kebutik ku untuk memesan gaun dariku. Hari itu dia berada dibutik cukup lama, jadi Lian membuatkan kopi untuk kami" jawab Alena


Kenzo sedikit mengernyit mendengar nya. Orang sekelas Rebecca memesan gaun dibutik Alena, hal yang luar biasa. Meski Kenzo acuh dan terkesan tidak perduli tapi dia tahu bagaimana watak wanita itu. Rebecca sudah sangat lama bekerja bersamanya.


Tapi kenapa Rebecca meracuni Alena, apa dia ada mempunyai hubungan dengan Thomas sehingga Thomas memakai dia sebagai senjata.


Brak


Pintu tiba tiba terbuka dengan lebar memunculkan Reymond dan kapten Stone yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat Alena dan Kenzo langsung terkesiap kaget.


"Alena ada apa denganmu?" tanya Reymond langsung. Kenzo segera turun dari atas ranjang Alena membiarkan Reymond dan kapten Stone mendekat kearah nya.


"Alena, ya Tuhan apa yang terjadi nak?" tanya kapten Stone begitu terkejut melihat keadaan Alena yang begitu menyedihkan. Dia mengusap wajah Alena yang pucat bagai mayat hidup. Hatinya benar benar teriris melihat keadaan Alena yang seperti ini. Alena pergi dengan keadaan sehat, tapi kenapa sekarang malah seperti ini. Apa yang sudah terjadi, kenapa dia baru tahu sekarang?


Sedangkan Reymond memandang Kenzo begitu lekat. Dia benar benar terkejut melihat Kenzo yang ternyata masih hidup dan yang membuatnya lebih terkejut adalah keadaan Alena yang seperti mayat hidup dan penuh lebam ditubuhnya


"Kau, apa yang kau lakukan pada Alena ha" bentak Reymond begitu marah, sungguh dia tidak perduli lagi pada status Kenzo. Yang dia tahu pria ini telah membohongi semua orang, dan Alena begini juga pasti karena dia


"Kakak" panggil Alena begitu takut melihat Reymond yang terlihat sangat marah, bahkan Clara hanya berdiri diambang pintu dan tidak berani untuk mendekat


Kenzo masih terdiam ditempat nya, dia hanya memandang datar Reymond yang terlihat marah. Ya, wajar mereka marah, Alena begini memang karena dia yang tidak bisa menjaga nya dengan baik.


"Maafkan aku" ucap Kenzo, namun


bukk


Clara dan Alena langsung berteriak saat Reymond memukul keras wajah Kenzo, Kenzo hanya diam dan tertunduk sembari mengusap sudut bibirnya yang langsung membiru dan sedikit pecah. Dia tidak akan mengelak, karena dia pantas mendapatkan nya.


Reymond langsung mencengkram kerah kemeja Kenzo dengan garang, dia tidak terima adiknya menjadi seperti ini


"Katakan apa yang terjadi pada Alena. Kau sudah berjanji untuk menjaga nya, tapi kenapa dia menjadi seperti ini sekarang" seru Reymond dengan wajah yang benar benar memerah menahan amarah. Kapten Stone hanya diam dan berdiri disamping ALena, menahan Alena agar tidak turun dari ranjang nya. Dia juga benar benar kecewa pada tuan Amerika ini.


"Ini memang salahku" jawab Kenzo lagi


Reymond menggeram dan ingin melayangkan kepalan tinju nya kembali kewajah Kenzo namun teriakan Alena membuat tangan nya terhenti dan menggantung


"Kakak jangan, ini bukan salah nya. Ini salahku, tolong jangan apa apakan Enzoku" pinta Alena dengan isak tangisnya yang begitu sedih melihat Kenzo yang dihajar oleh Reymond, padahal dia tahu Kenzo memang tidak bersalah, lelaki itu sudah cukup berusaha untuk menjaga nya selama ini.


Alena ingin turun dari atas ranjang nya, namun segera ditahan oleh kapten Stone


"Reymond sudah" kata kapten Stone, dia memandang Reymond seraya menarik Alena kedalam pelukan nya


Reymond mendengus dan menghempaskan tubuh Kenzo dengan kasar


"Daddy, Enzo tidak bersalah. Jangan marah padanya" pinta Alena dalam rengkuhan kapten Stone


"Tidak sayang tidak" jawab kapten Stone, meski sebenarnya dia memang akan membuat perhitungan dengan Kenzo Barrent nanti. Banyak hal yang akan dia tanyakan pada Kenzo, tapi sekarang sepertinya keadaan Alena lebih penting.


Reymond mendekat kearah Alena, mengusap wajah pucat Alena yang begitu menyedihkan membuat siapapun yang melihat nya pasti tidak akan tega


"Kakak, jangan marah pada Enzo, dia sudah menjaga ku dengan baik. Aku yang salah karena menyembunyikan keberadaan nya dari kalian selama ini" kini Alena beralih pada Reymond dan memeluk kakak nya itu dengan erat. Dia kembali menangis dan memohon pada Reymond


"Maafkan aku Alena" ucap Reymond menarik nafasnya dalam dalam dan mengecup lama pucuk kepala Alena, sungguh dia tidak bisa menahan emosi nya melihat keadaan Alena yang begini.


Kapten Stone beranjak dari ranjang Alena dan berjalan kearah Kenzo yang masih berdiri mematung ditempatnya


"Kau ikut aku" kata kapten Stone


Kenzo hanya menghela nafasnya dan segera pergi keluar mengikuti kapten Stone meninggalkan Alena bersama Reymond dan Clara.


Dia tersenyum tipis pada Clara yang tampak mengkhawatirkan kepergian nya. Dan ya, memang Clara takut jika kapten Stone marah dan akan memukuli kakak nya seperti Reymond tadi.


....


Saat ini Kenzo dan kapten Stone duduk berdua disebuah ruangan kosong. Tidak ada apa apa didalam sana , hanya ada beberapa meja dan kursi, sepertinya itu memang tempat untuk mendiskusikan sesuatu.


Kenzo duduk tertunduk memandang lantai dengan pandangan nanar,sedangkan kapten Stone memandang nya dengan tajam dan begitu mengintimidasi.


"Sepertinya aku melakukan hal yang sia sia selama lebih sebulan ini. Dan sialnya aku memang masuk kedalam rencana yang kau susun sendiri" ucap kapten Stone begitu sinis. Kenzo masih terdiam dan hanya helaan nafas nya saja yang terasa, seolah dia sedang menanggung suatu beban yang begitu berat saat ini. Dan sebenar nya kapten Stone tahu itu. Saat ini dia hanya ingin tahu apa yang terjadi pada putrinya, dan masalah Kenzo, itu akan dia urus nanti. Ikut campur tentang masalah tuan Amerika ini bukanlah hal yang mudah, dan lihat saja, bahkan dia sudah dipermainkan nya selama sebulan lebih, benar benar kurang ajar bukan.


"Sepertinya aku sudah salah memberimu restu kemarin" ucap kapten Stone


Kenzo langsung mendongak dan memandang kapten Stone dengan pandangan datar nya


Dia menghela nafasnya sebelum berkata sesuatu


"Aku memang salah karena tidak bisa menjaga nya dengan baik. Aku fikir orang orang itu akan mencelakai dia secara terang terangan, seperti menculiknya seperti beberapa waktu yang lalu. Tapi prediksi ku salah, mereka ternyata menggunakan cara licik, mereca meracuni Alena tanpa siapapun tahu" ungkap Kenzo


Kapten Stone langsung terkesiap kaget mendengar jawaban Kenzo


"Alena diracuni?" tanya nya begitu terkejut. Kenzo langsung mengangguk


"Siapa yang telah meracuni nya, apa masih ada orang menginginkan dia celaka lagi. Bukankah Mike sudah tewas?" tanya kapten Stone tidak percaya


"Kakak Mike masih ingin Alena celaka, dia tidak mungkin membiarkan Alena hidup dengan nyaman" jawab Kenzo


"Kakak Mike" gumam kapten Stone


"Pria bertopeng yang selama ini kalian cari" jawab Kenzo


"Kurang ajar" geram kapten Stone


"Jack yang selalu ada disekitar kalian bukan tanpa alasan, aku meminta nya menjaga Alena, tapi sialnya mereka masih bisa mencelakai dia dengan cara lain" kata Kenzo


"Apa kau tahu siapa yang meracuni Alena?" tanya Kapten Stone


"Sedang aku selidiki, tapi saat ini fokus ku masih mencari penawar racun ditubuhnya. Jika sampai malam nanti penawar itu belum ada, maka Alena tidak akan bisa selamat" ungkap Kenzo dengan perasaan yang benar benar tidak menentu.


Kapten Stone langsung tersandar dengan lemas dikursi nya. Apa apaan ini, kenapa seperti ini. Tidak mungkin Alena nya akan pergi secepat ini kan. Mereka baru berkumpul sebentar.