
Hari itu Alena memulai tugas baru nya di agensi. Mencari tahu tentang bagaimana fashion yang digunakan didalam Agensi itu untuk seluruh model model nya. Alena bersama Clara juga beberapa desainer senior lain nya mengadakan rapat untuk membentuk sebuah rancangan yang akan mereka gunakan pada musim besok. Dimana tidak akan lama lagi Agensi akan mengadakan kompetisi ajang pencarian miss supermodel tahun ini. Dan tentu saja beberapa rancangan diperlukan untuk menopang penampilan model model berbakat yang akan dikeluarkan oleh Barrent's Agency.
Alena cukup sibuk hari itu, tapi dia begitu menikmati waktunya. Apalagi dia bisa bekerja sama dengan beberapa desainer terkenal lain nya. Mempelajari ilmu ilmu baru dan yang pasti namanya juga sudah pantas disejajarkan didunia fashion saat ini.
Tapi yang membuat nya tidak nyaman adalah beberapa kali rasa sesak didada nya datang secara tiba tiba. Meski tidak lama namun cukup membuat Alena merasa terganggu dan menjadi lemas. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya, tapi jika sampai besok dia masih merasakan hal yang seperti ini, dia akan menyempatkan diri untuk memeriksakannya kerumah sakit. Ya meskipun dia begitu membenci rumah sakit dan jarum suntik.
"Alena kau sudah mau pulang?" tanya Clara mengejutkan Alena yang sedang memeriksa ponsel nya disofa.
"Ya, tidak ada lagi yang aku kerjakan disini. Kau belum pulang?" tanya Alena pula. Saat ini dia sedang berada didalam ruangan Kenzo. Clara baru saja masuk setelah entah dari mana dia tadi
"Pulang jugalah. Aku bosan disini. Biar saja pria batu itu yang menjaga perusahaan" jawab Clara. Dia beranjak kemeja nya dan mengambil tasnya diatas sana. Sedangkan Alena hanya tersenyum saja memperhatikan Clara. Clara memang tidak akan pernah betah berada diperusahaan lebih lama. Apalagi hanya duduk dikursi besar itu, ya pasti sangat membosankan. Kenzo memang tahan sekali, batin Alena.
"Bagaimana jika kita berjalan jalan dulu" ajak Alena
"Lebih baik kita kerumah sakit, kau harus diperiksa kan, beberapa kali kau sesak nafas tadi" sahut Clara cepat
Alena langsung mengerucutkan bibirnya dan beranjak mengikuti Clara yang sudah berjalan menuju keluar
"Besok saja. Aku tidak apa apa. Lagi pula dia cuma datang sebentar. Besok pasti sudah tidak lagi" jawab Alena
"Kau ini keras kepala sekali. Wajahmu saja masih pucat sekarang" kata Clara, namun Alena hanya acuh saja
Clara mendatangi meja Rebecca yang langsung berdiri dan membungkuk hormat didepan nya, namun matanya sesekali melirik kearah Alena yang berada dibelakang Clara.
"Aku sudah ingin pergi. Jika ada perlu sesuatu kau bisa mencari Edward" kata Clara pada Rebecca yang langsung mengangguk patuh
"Baik nona" jawab Rebecca. Ya hanya pada Clara dan Edward Rebecca akan menjadi penurut, tapi dengan yang lainnya dia terlihat sangat angkuh.
Clara hanya mengangguk dan langsung pergi dari sana. Masuk kedalam lift bersama Alena.
"Bagaimana jika kita kepantai Cla. Rasanya aku ingin menghirup udara segar saat ini. Sudah lama sekali tidak keluar membuat kepala dan otakku buntu" ajak Alena pada Clara yang melirik nya dengan sinis
"Kau yakin tubuh mu baik baik saja?" tanya Clara dan Alena langsung mengangguk. Tubuhnya memang baik baik saja saat ini. Dan semoga saja sesak didada nya tidak lagi datang. Selagi dia keluar dan bersama Clara, dia ingin memanfaatkan waktu sejenak, siapa tahu bisa bertemu dengan Enzonya.
"Kita bisa mengajak Jack, dia pasti melindungi kita" ungkap Alena lagi. Dia juga sedikit takut tentang Thomas yang akan menganggu nya lagi
"Aku saja tidak tahu dia dimana" sahut Clara
"Kau kan bisa menghubungi Edward. Bilang padanya jika kita ingin keluar" kata Alena
Clara langsung mendengus kesal mendengar nama itu
"Kau yakin dia mengijinkan? Apa kau lupa jika dia melarang mu untuk kemanapun tadi?. Apa lagi ini mau berjalan jalan" dengus Clara
"Kepantai, tempat biasa Enzo jika sedang menyendiri. Siapa tahu jika kesana kita bisa menemuinya" gumam Alena
Clara langsung memandang nya dengan senyum simpul
"Dasar, bilang saja jika kau memang mau menemui dia. Tidak usah pakai acara mencari angin" kata Clara menampar pelan lengan Alena yang cemberut
"Aku rindu, dan dia memang obat pencuci otak ku yang paling ampuh. Salah nya dimana" jawab Alena
"Heh, baiklah, kau memang tidak pernah salah. Memang susah jika sudah cinta mati" ucap Clara yang langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Edward. Alena langsung tersenyum senang melihat nya. Dia memang benar benar sudah merindukan Enzonya. Pantai adalah salah satu kawasan klan Aldrego, mungkin saja Enzo nya ada disana. Dapat bertemu sebentar mungkin bisa membuat suasana hati Alena menjadi lebih baik. Karena sungguh, rasa sakit dan sesak didada nya membuat dia sedikit takut.
....
Dan disilah mereka berada saat ini, dipantai dengan pasir putih dan laut biru yang sangat menangkan. Alena langsung berlari kebibir pantai dengan sepatu high hels nya yang sudah dia campakan didekat mobil. Dia benar benar merindukan suasana pantai yang seperti ini. Sudah lama sekali dia tidak menikmati ini. Walaupun datang kepantai baru sekitar semingguan yang lalu, namun itu juga karena ikut Kenzo kemarkas nya. Dan bukannya menenangkan diri namun malah membuat nya sport jantung karena harus menyaksikan pertumpahan darah yang benar benar mengerihkan.
Clara menyusul dibelakang nya, sedangkan Edward berdiri disamping mobil dan memperhatikan kedua gadis yang memiliki karakter yang sama itu.
Ya, dia sendiri yang mengantarkan mereka kepantai, tentu nya bersama dengan anggota klan Aldrego yang lain, namun mereka bersembunyi dibeberapa titik, karena tidak ingin mengganggu kenyamanan Alena dan Clara.
Alena memejamkan matanya dan menikmati angin yang menerpa tubuh dan wajahnya. Sangat menyegarkan. Aroma air laut dan juga bau terumbu karang juga membuat nya benar benar tenang. Sungguh nikmat yang sangat harus dia syukuri.
"Aaahhh sudah lama sekali" gumam Clara yang berdiri disamping nya. Merentangkan tangan dan menghirup udara dengan begitu rakus. Alena tersenyum memandang nya, sepertinya memang bukan pilihan yang buruk datang kesini. Mereka sudah lelah dengan segala perkerjaan mereka, dan waktunya untuk menyenangkan diri sekarang.
"Rasanya aku seperti hidup kembali" gumam Clara
Alena langsung tertawa kecil mendengar nya.
"Itu karena kau yang selalu mengurung diri di Agensi" jawab Alena
"Baru juga satu bulan tapi kau sudah mengeluh" ucap seseorang membuat Alena dan Clara terkejut dan langsung membalikkan tubuh mereka
"Enzo!!"
"Kakak!!" seru mereka berdua
Kenzo tersenyum melihat kedua gadis nya itu. Dia datang kesana setelah Edward memberi tahu nya jika Alena dan Clara tengah berada dipantai saat ini. Dan kebetulan Kenzo memang sedang berada dimarkas nya.
"Aaahhh rindu!!!" teriak Alena dan Clara bersamaan, dan Kenzo langsung melebarkan matanya saat kedua gadis itu langsung berlari kearah nya. Bahkan dia hampir terjungkal kebelakang karena Alena dan Clara memeluk nya bersamaan.
"Kenapa baru muncul sekarang ha" seru Alena begitu kesal
"Kau memang keterlaluan kak" sahut Clara pula
Kenzo tertawa pelan seraya mengusap bahu Alena dan Clara. Dua gadis kesayangan nya yang selalu bisa membuat nya senang sekaligus kesal diwaktu bersamaan.
"Aku sibuk" jawab Kenzo. Dia melepaskan pelukan kedua gadis itu dan menatap wajah mereka satu persatu
"Apa belum selesai?" tanya Alena dan Kenzo langsung menggeleng.
"Selesai apanya?" tanya Clara yang tidak mengerti
Kenzo tersenyum dan menarik sekilas hidung Clara
"Bukan apa apa" ucap nya membuat Clara mendengus kesal. Kenzo menoleh kembali pada Alena dan memperhatikan gadis itu dengan lekat.
"Apa ada orang yang mengganggumu lagi selama aku tidak ada?" tanya Kenzo pada Alena
Alena langsung menggeleng, karena memang tidak ada siapapun yang mengganggu nya
"Benarkah?" tanya Kenzo lagi
"Iya, bukankah jika ada yang menggangguku kau akan selalu tahu." sahut Alena. Dan Kenzo hanya mengangguk saja, namun dia sedikit heran melihat wajah Alena yang memucat, apa gadis ini sedang sakit?
"Lalu kenapa wajahmu pucat?" tanya Kenzo lagi
"Alena se...."
"Aaahhh aku tidak apa apa, sebaiknya kita nikmati waktu sore ini, ayoo!!" ajak Alena yang langsung menarik kuat tangan Kenzo membuat perkataan Clara langsung terhenti. Alena membawa Kenzo pergi menjauh, dia tidak ingin membuat Kenzo khawatir. Dia hanya sesak nafas biasa, apa yang harus dikhawatirkan. Hanya merusak suasana sore yang indah ini saja. Dia kemari untuk bersenang senang bukan nya untuk mendengar kekhawatiran Clara dan Kenzo lagi.
"Alena!!! kakakku" teriak Clara begitu kesal, dia juga masih ingin bersama kakaknya, tapi Alena malah membawa lari Kenzo, memang menyebalkan
"Edward!!! Temani Clara, jika kau tidak bisa menyenangkan nya maka aku akan memanggil orang itu kemari!!" teriak Alena diujung sana
Clara memandang kesal Alena yang tertawa diujung sana, masih menarik lengan Kenzo namun tubuhnya memandang Clara yang kesal.
Sedangkan Edward langsung mengernyit bingung, kenapa pula Alena mengancam nya seperti itu. Lalu memanggil siapa yang dia maksud???
Edward menatap Clara yang masih berdiri dengan wajah kesal nya dibibir pantai. Dan tiba tiba saja dia terkesiap ketika meingat sesuatu.
"Reymond" gumam Edward. Ya , Alena pasti ingin mengancam nya lagi dengan pria penakut itu. Memang menyebalkan. Apalagi jika mengingat malam kompetisi itu dimana dia melihat sendiri Clara dan Reymond yang saling mengungkapkan perasaan mereka dan berciuman dengan begitu mesra dan penuh perasaan. Membuat dada Edward terasa bergemuruh dengan hebat.
Edward langsung berjalan mendapati Clara yang kini sudah berjongkok dan memainkan air dengan wajah yang masih kesal. Sepertinya gadis ini sedang cemburu, batin Edward. Alena sudah merebut kakaknya, padahal dia tahu Clara juga merindukan Kenzo. Tapi ya, mau bagaimana lagi, mereka tidak akan ada yang mau mengalah.
"Nona" panggil Edward
"Apa" sahut Clara dengan ketus, dia masih memainkan pasir ditangannya tanpa ingin melihat kearah Edward
"Diujung sana ada banyak bintang laut dan kerang yang unik. Jika anda mau......" perkataan Edward langsung terhenti saat Clara langsung beranjak dan mengangguk
"Ayo cepat. Dari pada bosan disini dan melihat mereka yang bermesraan, membuat mataku sakit saja" ajak Clara langsung.
Edward mengangguk dan berjalan sedikit dibelakang Clara, membiarkan Clara berjalan lebih dulu dengan kaki telanjang nya. Sebenar nya Edward sedikit ngerih melihat itu, karena nanti pasti banyak kulit kerang yang cukup tajam. Ya, semoga saja Clara tidak akan menyusahkan nya nanti.
"Waauu tebing itu begitu tinggi, melompat dari sana pasti langsung mati" gumam Clara terdengah aneh. Edward hanya geleng geleng kepala melihatnya.
Kenzo begitu menakutkan dan dihormati, tapi kenapa dia bisa mempunyai adik seperti ini? Terkadang Edward masih tidak habis fikir. Dan yang lebih tidak habis fikir lagi, kenapa dia selalu bisa dekat dengan gadis ini???? Sejak dulu bahkan hingga nanti.