ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Merelakan Cinta



Reymond baru selesai membersihkan dirinya. Dia duduk ditempat tidur seraya masih mengeringkan kepala nya dengan handuk kecil. Namun tiba tiba dia teringat sesuatu, bukankah Joice ada diapartemen nya saat ini.


Dan ketika mengingat itu Reymond menghela nafasnya, dia beranjak keluar untuk melihat gadis itu.


Saat membuka pintu kamar, mata Reymond mengernyit memandang Joice yang sudah meringkuk diatas sofa. Dia memeluk tubuhnya sendiri, dan dapat Reymond lihat, jika tubuh gadis itu bergetar dan gelisah. Apa dia kedinginan?


Reymond berjalan mendekat kearah Joice, namun semakin dekat dia semakin dapat melihat jika Joice seperti nya memang kedinginan.


"Joice" panggil Reymond namun Joice tidak bergeming, mata nya masih terpejam dibalik rambut panjangnya yang terurai


"Hei" panggil Reymond lagi namun Joice masih saja tidak mendengar nya


"Joice" kini Reymond sedikit menggoyangkan tubuhnya, namun tetap saja Joice tidak juga bergeming. Dan tentu saja itu membuat Reymond bingung.


Dia membungkukkan tubuh nya, dan mengguncang tubuh Joice lebih kuat, namun gadis itu tetap tidak juga bangun. Reymond menjadi cemas sekarang. Apalagi hanya terdengar gumaman gumaman yang tidak jelas dari mulut gadis itu.


Reymond berlutut, dia menyibakkan rambut Joice yang menutupi wajah nya. Dan dapat Reymond lihat jika wajah itu begitu pucat bahkan berkeringat dingin. Reymond menyentuh wajah nya, dan dia sedikit terkesiap saat merasakan suhu tubuh Joice yang begitu meningkat.


"Demam" gumam Reymond


Dia langsung mengangkat tubuh Joice yang sudah begitu lemah bahkan tidak lagi sadarkan diri. Reymond membawa Joice masuk kedalam kamar nya, dan membaringkan gadis itu diatas tempat tidur.


Lengan kemeja yang dikenakan Joice terdapat bercak darah, dan pasti luka nya berdarah lagi. Reymond menyelimuti tubuh itu dengan selimut tebal nya. Dia beranjak dan mengambil kotak obat didalam lemari nya. Dan kembali duduk disamping gadis itu.


Reymond menyibakkan lengan kemeja Joice hingga keatas. Dan memang, luka Joice berdarah lagi, pasti karena luka ini dan terkena hujan maka Joice bisa demam. Gadis ini memang aneh, entah kenapa dia pergi karena perkataan yang Reymond fikir adalah perkataan yang seperti biasa dia lontarkan.


Reymond mengobati lengan Joice dengan hati hati. Memberi obat dan membalut nya dengan perban. Namun sedikit susah, karena Joice yang terus bergerak dengan gelisah. Demam nya cukup tinggi, dan sebenarnya Reymond bingung harus melakukan apa.


Dia hanya mengompres dahi gadis itu dengan handuk basah yang dia siapkan. Mengusap keringat yang terus keluar diwajah pucat Joice


"Mom... dad" gumam Joice terus menerus, membuat Reymond yang sedang mengompres dahinya memandang wajah pucat itu dengan lekat


Ada rasa iba dan rasa bersalah dihatinya melihat Joice yang seperti ini. Selama ini Joice yang dia kenal adalah gadis angkuh, datar dan tidak pernah bersedih. Dia selalu kelihatan tangguh dan tegas. Tapi malam ini, Reymond dapat melihat sisi lain dari diri Joice. Meskipun dia seorang agen, tapi dia tetaplah seorang wanita. Dia juga bisa menangis dan bersedih. Dan Reymond seharusnya bisa mengerti itu. Apalagi Joice masih begitu muda, seumuran dengan Alena.


"Mommy..." gumam Joice lagi, namun kali ini air mata menetes diujung matanya membuat Reymond lagi lagi tertegun. Ada apa dengan Joice , apa karena dia demam? atau karena dia sedang bersedih? tapi bersedih kenapa? apa dia merindukan kedua orang tuanya yang telah tiada? atau bersedih karena perkataan nya tadi?


Tanpa sadar Reymond mengusap air mata itu, dan entah kenapa hatinya seakan merasakan jika Joice memang sedang bersedih. Tubuhnya masih bergerak dengan gelisah meski Reymond sudah berusaha untuk menurunkan panas nya


"Mommy" lirih Joice lagi. Dan ya, Reymond tahu jika Joice memang sedang tidak baik baik saja


Dia mengusap wajah pucat Joice dengan lembut. Hatinya benar benar tidak menentu sekarang.


"Sakit...." lirih nya lagi, dan kali ini Reymond mengernyit


"Apa yang sakit, katakan padaku" tanya Reymond


"Sakit...." Joice tidak menjawab, dia hanya terus bergumam sakit dan meneteskan lagi air mata nya. Wajah nya semakin pucat dan itu membuat Reymond semakin bingung


"Joice" panggil Reymond, namun Joice malah mulai terisak dan bergerak semakin gelisah


Reymond meraih tangan Joice dan menggenggam nya dengan erat. Tangan Joice begitu dingin dan lemah, namun Reymond tetap menggenggam nya seolah ingin memberikan kehangatan pada gadis itu.


Dan benar saja, genggaman tangan itu seakan mampu membuat Joice lebih tenang. Reymond memandangi wajah pucat itu dengan lekat dan membisikan sesuatu ditelinganya


"Tidurlah, maafkan aku. Aku salah" bisik Reymond


Joice hanya diam, namun lagi lagi air mata yang menetes, entah kenapa, Reymond juga bingung. Tapi dia mengusap air mata itu dan semakin mengeratkan genggaman tangan nya. Dan semakin lama, Joice terlihat semakin tenang. Dia tidak lagi bergerak dengan gelisah, bahkan gumaman juga tidak lagi terdengar. Nafas gadis itu juga semakin teratur dan tidak lagi terlihat sesak. Dan itu membuat Reymond dapat menghela nafas lega.


Reymond ingin melepaskan genggaman tangan nya karena dia rasa Joice sudah tenang, tapi dia sedikit terkesiap saat merasakan jika genggaman tangan nya malah dibalas oleh Joice.


Reymond mengernyit heran melihat itu, Joice seakan tidak ingin Reymond pergi, karena setiap kali dia mencoba melepaskan tangan nya, tangan Joice seakan bergerak dan membalas menggenggam tangan nya. Reymond menoleh pada Joice, gadis itu terlihat masih tertidur, bahkan tidak ada tanda tanda jika dia berpura pura, tapi kenapa bisa seperti ini???


Reymond mendengus senyum melihat itu. Joice seakan tidak ingin dia pergi. Meskipun dia bisa saja pergi, karena gerakan tangan Joice yang tidak benar benar menggenggam, tangah pucat itu hanya menggenggam dengan begitu lemah.


Reymond kembali memandang wajah Joice dengan lekat. Gadis ini, adalah gadis yang akan menjadi istrinya kelak. Memang sudah seharusnya Reymond belajar untuk menerimanya bukan? Melupakan cintanya dan belajar untuk mencintai Joice. Ya, itu yang harus dia lakukan sekarang. Meski sakit dan cukup sulit, tapi cinta nya dengan Clara memang hanya sebatas itu, dan tidak untuk saling memiliki.


Reymond menghela nafas dengan berat, sebelah tangan nya mengusap wajah pucat Joice dengan lembut. Jika seperti ini, Joice terlihat seperti gadis gadis lain. Gadis yang lemah dan butuh perlindungan. Seharusnya Reymond memang harus mengerti, jika Joice juga terpaksa menerima tawaran ayahnya, bukan malah menghina nya dengan perkataan yang menyakitkan.


"Maafkan aku" bisik Reymond. Dia langsung merebahkan tubuh nya disebalah Joice, dan masih terus menggenggam tangan itu dengan erat.


Mulai detik ini, dia memang harus merelakan cintanya, dan menerima Joice yang memang sudah ditakdirkan untuk nya.


Sementara dimansion Kenzo, diruang bawah tanah...


Hari sudah pagi, bahkan matahari sudah bersinar dengan terang. Sisa hujan masih mengembun membasahi dedaunan diluar sana.


Edward mulai menggerakkan mata nya, membuka nya dengan perlahan dan begitu lemah. Kepala nya masih begitu sakit dan pusing, sehingga dia hanya bisa memandang langit langit kamar yang temaram karena lampu yang memang meredup.


Bola matanya melirik kesana dan kemari, memandang suasana kamar yang begitu sunyi dan senyap. Namun dia sedikit mengernyit saat ingin menggerakkan lengan nya namun terasa begitu berat, seperti ada sesuatu yang menahan lengan itu hingga dia tidak bisa menggerakkan nya.


Dengan sedikit meringis, Edward menoleh kearah lengan nya. Dan dia terkesiap saat melihat seorang gadis tengah tertidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Gadis itu tertidur dengan memeluk lengan nya.


"Clara" gumam Edward tanpa suara


Dia memandangi wajah Clara yang terlihat masih begitu pulas. Wajah nya kusut, namun terlihat sembab, apa dia habis menangis?


Edward fikir dia hanya bermimpi malam tadi, bermimpi jika Clara datang dan menemani nya. Bahkan dia merasa jika dia melarang Clara untuk pergi. Tapi, apa semua itu memang bukan lah mimpi. Hingga Clara ada disini sekarang, dan menjadi objek yang paling indah yang menjadi obat dari rasa sakit nya.


Tangan sebelah Edward langsung terjulur, mengusap dengan lemah wajah yang tertutupi beberapa helai rambut pirang itu.


Senyum tipis terbit diwajah pria batu itu, senyum yang tidak pernah dia berikan pada siapapun, kecuali pada Clara. Gadis kecil nya yang selalu dia lindungi sejak dulu. Gadis kecil yang tanpa sengaja telah berhasil merebut hatinya.


Edward kembali memundurkan tangan nya saat dirasa Clara akan terbangun. Dia kembali memandang langit langit kamar dan memejamkan sekilas matanya, karena pusing yang masih terasa.


Dan benar saja, karena sentuhan Edward tadi, Clara langsung terbangun. Dan yang pertama kali dilihat nya adalah Edward


"Ed..." panggil Clara dengan suara yang serak. Edward membuka matanya dan menoleh pelan pada Clara yang langsung tersenyum dengan senang melihat Edward ternyata sudah bangun


"Kau sudah bangun" kata Clara dengan antusias


Dia ingin beranjak dan menarik tangan nya, namun lagi lagi Edward kembali menggenggam tangan nya, membuat Clara langsung mematung dan memandang Edward dengan heran


"Ada apa?" tanya Clara


"Mau kemana" tanya Edward masih terdengar lemah, tapi sudah cukup baik dan jelas, tidak seperti malam tadi


Clara tersenyum dan menggeleng. Dia mengusap lengan Edward dan kembali menarik tangan nya. Membuat genggaman tangan itu ikut terlepas dan... terhempas


"Aku akan memanggil dokter Richard, tidak kemana mana" jawab Clara yang ternyata ingin memencet tombol penghubung keruangan dokter Richard


Edward tersenyum tipis dan kembali memejamkan matanya


"Apa masih sakit?" tanya Clara yang kembali duduk dikursi dan mengusap kasar wajah nya yang kusut.


"Sakit" jawab Edward pelan


Clara memandang lekat wajah Edward yang memang masih pucat, tapi tidak sepucat semalam


"Kenapa tidak ingin aku pergi. Bukankah biasanya kau selalu kesal jika berada didekat ku?" tanya Clara. Dan mendengar pertanyaan itu, Edward kembali membuka matanya. Memandang nanar langit langit kamar itu


"Tidak tahu, tapi untuk saat ini, bolehkan saya meminta nona untuk tetap disini" pinta Edward yang kini memandang lekat wajah Clara. Clara sedikit canggung melihat tatapan mata itu, tatapan mata yang terlihat berbeda, meski lemah dan sayu, tapi Clara tahu, jika pandangan mata itu sama seperti ketika Reymond memandang nya.Pandangan mata yang mampu membuat jantung Clara berdetak lebih cepat.


"Ke...kenapa begitu?" tanya Clara sedikit gugup


Edward hanya tersenyum tipis dan kembali memejamkan matanya


"Karena nona adalah obat dari rasa sakit saya" ungkap Edward tanpa menoleh pada Clara.


Dan sungguh Clara langsung melebarkan matanya mendengar itu.


Edward berbicara seperti itu, bagaimana bisa? Selama ini dia pria yang kaku dan datar, tapi kenapa bisa berbicara hal yang manis seperti itu. Clara menggeleng pelan, dan mendengus senyum mendengar nya


"Apa otak mu juga terluka Ed, kenapa kau sudah pandai berkata kata seperti itu?" tanya Clara dengan senyum aneh nya


Namun Edward hanya diam dengan mata yang masih terpejam


"Maaf" gumam Edward


Clara terdiam memandangi nya, dia bingung, kenapa Edward berkata seperti itu. Dia pria kaku yang selalu serius, dan jika dia sudah berkata, maka apa yang dikatakan nya adalah hal yang benar. Lalu perkataan nya ini??????