
Newyork waktu setempat....
Tidak terasa seminggu sudah kepergian Kenzo dan Alena ke Argentina. Clara dan Edward kini begitu sibuk dengan masalah perusahaan dan juga agensi. Edward bahkan tidak pernah lagi bisa istirahat dengan tenang sejak kepergian Kenzo. Syarat dari tuan Wesley untuk menaikkan nilai saham diperusahaan nya dalam waktu sebulan benar benar membuat Edward begitu sibuk dan kocar kacir. Setiap hari bahkan setiap waktu dia harus bisa memutar otak nya bagaimana cara agar dia mendapatkan klien yang ingin bekerja sama dengan nya atau sepaling tidak dia bisa mendapatkan investor baru diperusahaan retail milik tuan Wesley.
Mengurus perusahaan retail dengan mengurus agensi tentunya berbeda. Dan ini benar benar cukup membuat seorang Edward menjadi pusing dan tertekan. Jika boleh memilih dia akan memilih untuk berperang ditengah laut atau bahkan berduel dengan ratusan orang dari pada berkutat dengan angka dan huruf setiap harinya. Sungguh, otak batu nya menjadi sedikit bergelombang sekarang.
Tapi demi cintanya, demi nona mudanya, Edward akan tetap berjuang dan berusaha. Meski sampai seminggu ini dia masih dalam tahap mempelajari tentang sistem kerja di perusahaan itu.
Untung saja di agensi Clara bisa sedikit membantu. Gadis itu juga ternyata mau menunjukkan jika dia juga serius untuk menerima Edward menjadi calon suami nya. Tentu saja itu membuat semangat Edward begitu membara. Meski terlihat mustahil, namun Edward akan membuktikan pada tuan besar Wesley, jika seorang Edward Adison, pasti bisa memenuhi syarat yang telah dia berikan.
...
Seperti malam ini, Clara baru saja pulang dari agensi milik Kenzo. Wajahnya terlihat begitu lelah, mengurus agensi seharian membuat nya benar benar jengah.
Clara memandangi jam ditangan nya, sudah pukul tujuh malam. Tapi Edward belum juga menjemputnya. Apa pria batu itu lupa?
Clara masih duduk dilobi perusahaan, hari ini begitu banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan bersama Rebecca. Apalagi ini akhir bulan, tentu gaji karyawan dan seluruh staf nya sudah harus difikirkan.
Terkadang Clara berfikir, kenapa dia sampai mati matian begini bekerja??? Padahal dulu dia sama sekali tidak ingin menyentuh apapun yang berkaitan dengan perusahaan maupun agensi. Tapi sekarang kenapa dia bisa serajin ini? Apa ini karena Edward???
Clara tersenyum sendiri jika mengingat itu. Tidak menyangka, jika dia akan diperjuangkan oleh pengawal nya sendiri. Lucu sekali bukan. Tapi tidak masalah, Clara suka kejantanan Edward, Clara suka tanggung jawab pria batu itu. Selain itu, dia juga tampan dan keren, tidak kalah dari Kenzo dan juga Reymond. Apalagi ditambah dengan dia yang hebat dalam bela diri, sudah sempurna bukan. Jadi dia memang salah satu kandidat yang cocok untuk menjadi suami nya.
Masalah cinta, Clara rasa tidak akan sulit untuk jatuh cinta pada pria batu itu. Hanya dengan melihat senyum nya saja Clara sudah bisa dibuat tersipu.
"Nona"
Clara langsung tersentak kaget mendengar suara itu. Dia menoleh kepintu masuk dimana Edward sudah berdiri dengan gagah disana.
"Ed... kau mengejutkan ku" kata Clara seraya mengusap dadanya yang bergemuruh. Edward sudah seperti hantu saja, baru saja difikirkan, orang nya sudah muncul.
Edward tersenyum dan menjulurkan tangan nya pada Clara yang masih duduk dikursi.
"Nona yang sedari tadi melamun, saya sudah lama berada disini" ungkap Edward
"Benarkah, sejak kapan" tanya Clara seraya menyambut uluran tangan itu.
"Sejak anda mulai tersenyum sendiri seperti orang gila" jawab Edward
Clara langsung melebarkan matanya mendengar itu, dia memukul bahu Edward dengan kesal
"Enak saja kau mengatai aku gila, aku juga gila karena kau" jawab Clara begitu kesal, namun sedetik kemudian dia langsung membungkam mulutnya dengan tangan.
Edward terkekeh pelan, dan segera menarik tangan Clara berjalan keluar. Hari sudah sepi dan hanya ada beberapa security yang berjaga diluar, jadi dia sudah berani berdekatan dengan Clara seperti ini.
"Apa anda sedang memikirkan saya?" tanya Edward
Clara mendengus dan melepaskan genggaman tangan Edward dan mengganti dengan merangkul lengan pria itu. Membuat Edward langsung tersenyum tipis, bahagia sekali rasanya.
"Yah, aku sedang menunggumu, jelas aku memikirkan mu. Kenapa lama sekali, biasanya kau sudah ada sebelum aku menunggu?" tanya Clara. Dia melepaskan kembali rangkulan tangan nya ketika Edward sudah membukakan pintu mobil untuk nya.
Mereka langsung masuk kedalam mobil untuk pulang kerumah utama.
"Saya terlalu fokus pada pekerjaan, jadi lupa waktu" jawab Edward seraya mulai melajukan mobilnya.
"Kau lebih mementingkan pekerjaan dari pada aku" sindir Clara
Edward menoleh kearah nya sekilas dan tersenyum tipis.
"Saat ini pekerjaan itu begitu penting untuk menentukan nasib hubungan kita" jawab Edward
Clara terdiam dan memandang Edward dengan lekat. Dia tidak mengindahkan perkataan Edward, melainkan malah fokus pada penampilan Edward yang sedang menyetir. Kenapa semakin lama mereka dekat, Edward bisa semakin keren, apalagi jika sedang serius seperti ini.
Oh my God
"Kenapa?" tanya Edward. Clara langsung terkesiap dan segera menggeleng pelan. Dia kembali memandang kearah depan. Sialan, kenapa dia jadi seperti Alena yang suka sekali terpesona dengan ketampanan seorang pria.
"Apa nona masih bisa bertahan dan bekerja dengan keras lagi? Karena sungguh, saya tidak bisa mengurus dua perusahaan sekaligus diwaktu yang sama" ungkap Edward
Clara menghela nafas nya sejenak. Ayo, Clara, fokuslah.
"Tentu, aku masih sanggup. Hanya sebulan, semoga kita bisa melewatinya" jawab Clara yang tersenyum dan menoleh pada Edward.
Tapi lagi lagi dia yang malah terpaku ketika Edward juga membalas senyum nya.
aaaaahhh Clara ingin menjerit sekarang.
"Kenapa wajah nona memerah?" tanya Edward
Clara langsung memalingkan wajahnya dan menggeleng dengan cepat.
"Tidak ada" jawab Clara seraya meraba wajahnya yang terasa memanas. Lihatkan, belum lama tapi Edward selalu saja bisa membuat nya seperti ini.
"Sudah makan?" tanya Edward lagi
"Belum" jawab Clara
"Bagaimana jika kita makan dulu" tawar Edward dan Clara langsung mengangguk setuju
"Boleh" jawab Clara
Dan akhirnya, Edward membawa Clara kesebuah restauran seafood. Restauran bintang lima yang menjadi tempat biasa dia makan bersama Kenzo.
Semua pelayan dan orang orang yang ada disana langsung membungkuk hormat pada Clara dan Edward. Tidak diherankan lagi, karena mereka memang sudah mengenal siapa dua orang itu. Edward adalah tangan kanan Kenzo, sedangkan Clara adalah nona muda dikeluarga Barrent.
Clara dan Edward makan didalam sebuah ruangan yang memang khusus untuk mereka. Sehingga tidak akan ada yang menganggu. Tidak perlu menunggu lama, makanan yang mereka pesan sudah tersaji dengan rapi dan begitu menggoda tentunya. Membuat perut Clara yang sejak tadi sudah lapar semakin berbunyi.
"Kau biasa makan disini?" tanya Clara seraya menyantap makanan nya.
"Ya, bersama king" jawab Edward yang juga menyantap makanan nya dengan begitu elegan. Bahkan Clara sendiri terkadang tidak percaya, jika Edward begitu multitalenta. Dibawa kemana saja bisa, menjadi pengawal, asisten, bos, dan tentunya seorang pasangan. Keren sekali.
"Enak?" tanya Edward
Clara langsung mengangguk dan tersenyum
"Aku memang sudah sangat lapar" ucap Clara
"Ya, terbukti dengan anda yang makan begitu lahap seperti anak anak" ledek Edward seraya meraih tisu diatas meja dan mengusap lembut mulut Clara yang terkena saus.
Clara mengerjapkan matanya sekilas, namun dia segera mendengus
"Memang nya kenapa kalau aku seperti anak anak, salah mu sendiri yang menyukai ku" gerutu Clara yang kembali menyantap makanan nya.
Edward mendengus senyum mendengar nya.
uhuk uhuk
Clara langsung tersedak mendengar perkataan Edward.
Edward terkesiap dan langsung menyerahkan air putih pada Clara.
Clara bahkan meminum nya penuh nafsu.
"Pelan pelan nona" ujar Edward seraya mengusap lembut punggung Clara
Wajah Clara memerah, dia memandang Edward dengan wajah kesal namun merona. Sungguh lucu.
"Ini gara gara kau" tuding Clara
"Kenapa saya?" tanya Edward begitu heran
"Kenapa ketika sedang makan kau malah membual ha, membuat ku terkejut saja" gerutu Clara
Edward mengernyit, memandang Clara dengan bingung.
"Membual apa nya, saya berkata yang sebenarnya. Salah saya dimana?" tanya Edward. Wajah datar yang terkesan polos itu benar benar membuat Clara begitu gemas. Astaga, Clara bahkan lupa jika Edward adalah pria batu yang tidak akan mengerti tentang kata kata picisan. Dia beranggapan semua yang diucapkan nya adalah serius. Tapi.... jika itu serius, berarti Edward.
Ya ampun, wajah Clara kembali memerah lagi sekarang.
"Sudah lah, makan saja" Clara kembali memalingkan wajah nya dan memakan kembali makanan nya.
Edward yang heran hanya mengendikan bahunya, namun sebenar nya dia tidak bisa menahan senyum nya saat melihat wajah merona Clara yang begitu menggemaskan.
Mereka kembali makan dengan lahap hingga semua makanan yang mereka pesan habis tidak tersisa. Sepertinya bekerja seharian membuat perut menjadi lebih cepat lapar.
"Ed..." panggil Clara tiba tiba.
Edward yang sedang mengusap bibirnya dengan tisu langsung menoleh pada Clara.
"Apa kau yakin bisa memenuhi syarat dari Daddy?" tanya Clara
Edward tersenyum tipis dan mengangguk
"Saya yakin" jawab Edward
"Bagaimana jika kau gagal?" tanya Clara dengan wajah yang tiba tiba berubah sedih
"Saya akan berusaha semampu saya nona. Percayalah" ujar Edward
Clara menghela nafasnya dengan pelan
"Aku takut kau gagal Ed. Sebulan bukan waktu yang lama. Kau tahu Daddy orang yang seperti apa bukan" ungkap Clara
Edward meraih tangan Clara dan menggenggam nya dengan lembut.
"Nona percaya pada saya?" tanya Edward begitu serius
Clara mengangguk dengan pelan
"Kalau begitu, nona harus mendukung saya. Beri saya senyuman nona agar saya lebih semangat untuk memperjuangkan nona" ujar Edward
Clara memandang wajah tampan Edward dengan lekat.
"Kau begitu baik Ed" ucap Clara
"Hanya pada nona" jawab Edward
Clara langsung berdiri dan memeluk Edward dengan erat. Pengawal yang paling dia sayangi sejak dulu.
"Aku percaya padamu, kau harus bisa membuktikan pada Daddy dan juga ayahmu, jika kau bisa menjadi pengusaha yang sukses" ujar Clara
Edward tersenyum dan membalas pelukan Clara. Ya dia akan bekerja keras sekarang, dia harus bisa memperjuangkan semua nya. Mewujudkan impian ayahnya dan juga memperjuangkan cintanya.
"Tentu nona, anda adalah semangat dan tujuan saya" jawab Edward.
Clara melepaskan pelukan nya, namun tangan nya masih ada dileher Edward.
"Coba panggil nama ku saja, jangan pakai embel embel nona. Aku merasa aneh" ujar Clara
Alis Edward tergerak mendengar itu
"Bukan kah sudah sejak dulu selalu begitu?" tanya Edward
Namun Clara langsung mendengus dan memukul gemas bahu Edward
"Dulu kau kan cuma pengawal ku, sekarang sudah berbeda. Aku tidak suka kau masih memanggilku dengan panggilan nona" kata Clara dengan wajah yang cemberut
Edward mendengus senyum dan merangkul pinggang Clara dengan mesra
"Baiklah... Clara" ucap Edward
Clara terkekeh lucu mendengar nya
"Kenapa terlalu kaku" kata Clara dengan tawa nya.
"Tidak tahu, saya bahkan baru ini berbicara normal pada manusia" jawab Edward
Sungguh, Clara benar benar terbahak bahak mendengar ini. Edward si pria batu, mengajak nya bersikap romantis hanya akan membuat sebuah lelucon saja.
"Kenapa tertawa hmm" tanya Edward yang langsung merapatkan tubuh Clara pada nya
"Kau ini lucu sekali" ujar Clara
"Benarkah" tanya Edward seraya berdiri dan semakin merapatkan tubuh nya pada Clara. Memandang wajah itu begitu lekat, hingga lagi lagi mampu membuat Clara terpaku.
Edward mendekatkan wajahnya pada Clara dan membisikkan sesuatu ditelinga nya.
"Aku mencintaimu Clara"
Clara langsung mematung mendengar itu, bahkan dia merasa hatinya langsung berdesir dengan hangat mendengar kata kata cinta dari Edward. Pria batu yang kini mulai mengisi hati nya.
Mata Clara langsung terpejam saat lagi lagi Edward mendaratkan ciuman hangat di bibirnya.
Edward... semoga kau bisa selalu memberikan ku cinta yang lebih kuat dari pada cinta masa laluku....