ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Cerita Masa Lalu Edward



Clara menggenggam tangan Edward saat mereka menyusuri jalanan bersalju yang sedikit licin menuju kesebuah rumah kecil yang atapnya tertutupi salju yang sudah nampak menebal. Sesekali Clara hampir terpeleset saat kaki nya tersandung batu ataupun tergelincir diatas salju, namun dengan sigap Edward selalu menjaga setiap langkahnya.


"Kenapa kau membawa ku kemari?" tanya Clara seraya memperhatikan hutan pinus yang ada dibeberapa titik dan juga semak yang setiap pucuk nya telah tertutupi salju.


"Tidak ada, saya hanya ingin menunjukkan sesuatu pada anda" jawab Edward


"Sesuatu?" tanya Clara memandang Edward yang mengangguk namun matanya masih tertuju kerumah kecil yang terlihat sudah tua itu.


"Ya, ada dirumah tua itu" Edward menunjuk sebuah bangunan kecil diujung jalan, sedikit menjorok ketebing


"Itu rumah siapa?" tanya Clara


"Rumah saya" jawab Edward


Clara terkesiap dan langsung memandang Edward dengan bingung. Rumah nya? Apa Edward dulu tinggal disini???


"Dirumah ini saya bertemu dengan king, dan dirumah ini pula banyak kisah yang tersimpan" jawab Edward


Clara masih terdiam dan terus mengikuti langkah kaki Edward yang membawanya semakin mendekat kearah rumah itu.


"Rumah ini hanya sendiri disini, tidak ada bekas rumah lain?" tanya Clara yang kembali memandangi daerah sekitar nya.


"Ya, hanya rumah ini" jawab Edward


"Bagaimana mungkin. Aku kira dulu kau adalah teman sekolah kak Ken" ungkap Clara


Edward tersenyum tipis dan menggeleng. Dia melepaskan tangan Clara dan membuka pintu kayu itu dengan sedikit tenaga. Bahkan suaranya saja begitu berat saat dibuka. Salju diatas kepala mereka sedikit runtuh membuat kepala mereka seperti terkena hujan salju yang cukup tebal.


Edward tertawa seraya mengusap kepala Clara yang tertutup salju. Wajah kesal nya terlihat begitu menggemaskan.


"Sudah seperti boneka salju saja" ucap Edward membuat Clara langsung berdecak dan memukul dada pria batu itu sekilas


"Mana ada boneka salju secantik aku" dengus Clara


"Ada, ini buktinya. Wajah nona memerah dan menggemaskan. Tinggal menambah hidung tomat saja" ujar Edward


"Sialan kau, kau kira aku badut" Clara tampak menggerutu membuat Edward kembali terkekeh dan menarik nya untuk masuk


Clara dapat melihat jika didalam rumah itu semua nya juga masih terdiri dari berbagai perlengkapan kayu yang telah usang. Ada abu sisa pembakaran yang tidak pernah dibersihkan. Dan juga sebuah meja dengan kursi kayu ditengah nya.


Rumah itu hanya sepetak, dan semua nya berkumpul disatu ruangan. Bahkan tempat tidur kayu juga ada disana. Dia jadi tidak yakin jika Edward pernah tinggal disini, mengingat seberapa elegan gayanya selama ini.


"Kau yakin pernah tinggal disini Ed?" tanya Clara yang mengitari ruangan itu. Bahkan dia terlihat antusias dengan barang barang unik yang ada disana, ada beberapa pajangan patung yang sepertinya dipahat sendiri. Sangat rapi dan epik.


"Apa anda tidak percaya?" tanya Edward yang kini berjalan kesebuah lemari tua yang sudah sangat berdebu bahkan dapat Clara lihat ada sarang laba laba yang mengelilinginya.


"Ya, jika melihat gayamu yang elegan dan sangat berkharisma aku tidak yakin kau pernah tinggal disini" jawab Clara yang kini berjalan mendekat kearah Edward seraya merapatkan jubah berbulu yang dia kenakan ketubuhnya


Edward tersenyum dan meraih sebuah kotak dari dalam sana


"Anda terlalu berlebihan nona. Saya hanya ingin mengimbangi seorang tuan Amerika" jawab Edward


Clara memandang kotak yang dipegang oleh Edward


"Apa itu?" tanya Clara


"Sesuatu untuk anda. Ayo" ajak Edward yang langsung beranjak dan duduk di kursi kayu itu. Dan Clara langsung mengikutinya.


"Ini adalah peninggalan dari ibu saya" ungkap Edward seraya membuka kotak kayu itu. Kotak yang indah, ada sebuah ukiran diatas nya. Dan ketika dia membuka kotak itu, Clara bisa melihat jika ada sebuah kotak kecil lagi didalam nya.


Edward meraih kotak itu dan membuka nya. Sebuah kalung permata bermata giok biru. Sangat indah, meski terlihat lawas, tapi sungguh ini pasti memiliki daya jual yang tinggi. Bentuk nya bahkan sangat elegan dan indah.


"Cantik sekali" gumam Clara seraya meraih kalung itu dari tangan Edward yang menyerahkan nya pada Clara


"Dulu dia pernah berpesan pada saya, jika kalung ini akan dia berikan pada siapa saja yang menjadi istri saya" ungkap Edward. Mendengar itu, Clara langsung mematung dan memandang Edward


"Kau...kau mau memberikan ini padaku?" tanya Clara tidak percaya


Edward tersenyum dan mengangguk


"Ed... ini benda yang sangat berharga. Bagaimana mungkin kau memberikan nya padaku" ujar Clara dengan wajah yang terperangah


"Yah, benda ini memang sangat berharga karena ini adalah peninggalan ibu saya yang tersisa. Maka dari itu saya menyerahkan nya pada anda, agar saya bisa menjaga kalian bersamaan" jawab Edward


"Ed...kau" Clara sudah tidak bisa berkata apa apa lagi sekarang


"Nona, ketika anda setuju untuk menikah dengan saya, maka saya akan menyerahkan segala nya untuk anda. Kepercayaan saya dan juga hati saya" ungkap Edward


Clara terdiam, dan dia kembali memandang kalung ditangan nya


"Apa aku bisa menjaga ini dengan baik?" tanya Clara


"Jika anda memang serius, maka anda pasti bisa menjaga nya untuk saya" jawab Edward


Clara tersenyum dan mengangguk. Ya, jika Edward begitu percaya padanya, maka Clara berjanji tidak akan pernah menyianyiakan kepercayaan Edward ini. Meski belum ada cinta, namun Clara yakin, seiring berjalan nya waktu, maka mereka akan bisa saling mencintai satu sama lain. Apalagi dia yang memang sudah nyaman bersama Edward sejak dulu.


"Baiklah, aku berjanji akan menjaganya untukmu" ungkap Clara


Edward tersenyum dan langsung mengangguk


"Ed..." panggil Clara lagi setelah beberapa detik mereka terdiam


"Selama ini aku tidak pernah tahu tentang kehidupan mu dulunya. Yang aku tahu kau hanyalah asisten kepercayaan kakak ku. Kau teman sekolah nya dan sekarang merangkap menjadi orang kepercayaan nya. Kau tidak ingin berbagi cerita mengenai kehidupan mu yang dulu dan kenapa kau bisa tinggal disini?" ujar Clara


"Anda mau mendengar nya?" tanya Edward dan Clara langsung mengangguk dengan cepat


"Cerita nya cukup panjang" ucap Edward


"Aku akan mendengarkan nya. Bukan kah kita akan menikah, aku harus tahu semua tentang mu bukan" ujar Clara


Edward mendengus senyum mendengar itu, namun dia juga langsung mengangguk dan beranjak dari duduk nya menuju keperapian yang ada didekat mereka. Dia berlutut disana untuk menghidupkan api, sedangkan Clara masih memandangi nya dengan lekat seraya menggenggam kalung pemberian Edward.


"Saya adalah anak dari seorang kepala kepolisian di Calivornia" Edward mulai membuka cerita nya


"Ayah saya adalah seorang lelaki tangguh yang bekerja untuk membela negara dan juga rakyat yang membutuhkan bantuan nya. Sedangkan ibu adalah seorang agen negara" ungkap Edward lagi


Clara mematung tidak percaya mendengar itu


"Mereka adalah orang orang hebat yang ditakuti oleh semua penjahat yang ada di Calivornia. Tidak ada misi yang tidak bisa mereka tangani. Mereka cukup berpengaruh pada masa itu. Tapi sayang nya, bakat mereka tidak bisa saya dapatkan waktu itu. Saya hanya remaja yang dididik untuk tidak mengikuti pekerjaan mereka. Tugas saya hanya sekolah dan belajar, karena ayah saya menginginkan saya untuk menjadi seorang pengusaha ternama. Dia tidak memperbolehkan saya mengikuti jejak nya, karena menurut nya itu adalah hal yang sangat berbahaya. Sebagai anak, saya hanya mengikuti permintaan nya"


Clara masih terdiam mendengarkan cerita Edward yang sangat sangat mengejutkan nya.


"Hingga suatu hari, kejadian yang mengerihkan itu terjadi. Penjahat yang ditangkap oleh ayah saya membalaskan dendam nya. Mereka menyerang ayah dan ibu saya saat mereka sedang berada didalam perjalanan. Beruntung nya ayah selalu membawa anggota nya kemanapun. Hingga mereka bisa melawan. Namun tetap saja, nyawa ayah saya tidak tertolong dan dia tewas dalam perkelahian itu karena musuh musuh nya cukup banyak. Ibu saya berhasil lolos dari tempat kejadian itu. Ditengah luka yang dia alami dia masih bisa menghubungi saya yang saat itu masih berada disekolah. Saya masih berusia sekitar tujuh belas tahun saat itu"


Edward kembali duduk dihadapan Clara yang memandang nya dengan pandangan iba dan sedih


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Clara yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kelanjutan nya


Edward tersenyum sejenak dan memalingkan wajah nya memandang perapian yang sudah membara apinya, hingga rasa hangat dapat mereka rasakan.


"Hari itu juga saya dan ibu langsung terbang ke Newyork dengan bantuan seorang teman ibu. Dan akhirnya kami bersembunyi ditempat ini. Dulu ini adalah bekas rumah seorang tukang kayu, kakek tua itu begitu baik mau menampung kami, apalagi ibu yang terluka begitu parah"


Edward tertunduk dengan helaan nafas yang cukup panjang. Dan Clara bisa melihat jika pria batu ini pasti sedang sedih sekarang.


"Lalu apa kalian bersembunyi dan tidak membawa ibumu kerumah sakit?" tanya Clara


Edward menggeleng pelan


"Ibu tidak ingin, dia takut jika orang orang itu akan menemukan kami. Jadi dia memutuskan untuk tetap menahan sakit nya. Dan akhirnya, dia hanya bertahan seminggu, dan setelah itu dia menyerah" jawab Edward tertunduk dan tersenyum getir, mengingat bagaimana kisah yang begitu memilukan itu. Clara langsung beranjak dan berpindah duduk disamping Edward. Clara langsung merangkul lengan Edward dan meletakan kepalanya dibahu pria itu


"Ed.... ibu dan ayah mu pasti bangga dengan pencapaian mu sekarang" ucap Clara yang juga ikut sedih mendengar cerita itu. Bahkan matanya juga ikut berkaca kaca sekarang


Edward tersenyum dan mengangguk, dia langsung menggenggam tangan Clara dengan lembut


"Ya, mereka pasti bangga, meski mau tidak mau saya juga menjadi petarung seperti mereka, bahkan lebih parah" jawab Edward dengan gelengan dikepala nya. Clara langsung mendongak dan memandang nya


"Iya ya, orang tua mu seorang pembela negara, tapi kau malah menjadi penjahatnya" gumam Clara


"Saya bukan penjahat nona" sahut Edward tidak terima membuat Clara langsung tertawa


"Sama saja, mafia dan penjahat apa bedanya" jawab Clara dan kini Edward terlihat mendengus kesal


Clara langsung mengecup pipi Edward membuat Edward langsung terkesiap dan memandang nya dengan terkejut


"Jangan marah, aku hanya bercanda. Selain menjadi mafia kau juga sudah menjadi pengusaha. Agensi tidak akan berjalan dengan baik tanpa dirimu" ungkap Clara


Edward hanya mengangguk pelan


"Lalu bagaimana kau bisa bertemu dengan kak Ken jika kau bersembunyi disini?" tanya Clara


"Entah lah mungkin saja takdir. Saat itu dua tahun setelah kepergian ibu, ada beberapa gerombolan orang orang yang datang mencari seseorang. Saya begitu takut, karena saya kira mereka adalah orang orang yang menyebabkan ayah dan ibu tewas. Namun ternyata bukan. Mereka pergi setelah mengacak ngacak rumah ini. Padahal saat itu kakek tua pemilik rumah ini sedang sakit parah"


"Dan ketika saya sedang mencari kayu bakar disekitaran tebing, saya menemukan seorang pemuda, dia tampak kesakitan karena kaki nya yang terluka dan terperosok dibawah tebing. Saya menolong nya dan membawanya kerumah. Mengobati nya sampai dia bisa berjalan kembali"


"Ooh aku ingat, itu adalah saat kak Ken menghilang dua hari dan membuat mommy dan daddy begitu panik. Aku masih berusia sekitar 8 atau 9 tahun waktu itu"


Edward tersenyum dan mengangguk


"Yah, sejak saat itu, saya dan dia berteman baik. Sejak kakek tua itu meninggal. King membawa saya ke apartemennya. Dia juga meminta tuan besar untuk membiayai sekolah saya diuniversitas yang sama dengan nya" ungka Edward


Clara jadi mengerti sekarang, selama ini dia tidak pernah tahu tentang kehidupan Edward


"Apa kak Ken tahu tentang cerita ini?" tanya Clara dan Edward langsung mengangguk


"Ya, bahkan dia yang membantu saya untuk membalaskan kematian ayah dan ibu saya" jawab Edward


"Lalu dimana makam ibumu?" tanya Clara lagi


"Ada dibelakang rumah ini. Setiap ada kesempatan saya pasti kemari untuk menjenguk nya" jawab Edward


"Aku juga ingin lihat, aku ingin bertemu dengan ibumu" ujar Clara


"Anda yakin?" tanya Edward, dia merasa senang mendengar ini


"Yah, bukan kah kau harus memperkenalkan calon istrimu yang cantik ini padanya. Ibumu pasti senang mendapatkan menantu yang cantik seperti ku" ucap Clara begitu bangganya membuat Edward langsung terkekeh lucu mendengar nya


"Baiklah, tapi sebelum itu. Ini harus dipasang dulu" ujar Edward yang langsung merebut kalung dari tangan Clara


"Ah iya" Clara langsung memutar tubuhnya dan menyingkap rambutnya


Edward tersenyum seraya memasangkan kalung itu dileher jenjang Clara. Akhirnya, kalung ini menemukan pemilik nya sendiri dan tidak akan lagi usang terbiarkan dilemari tua ini