
Siang ini Alena dan Kenzo sudah berada di laboratorium Professor Brian. Alena masih menyandarkan kepala nya dibahu kapten Stone. Sedangkan Kenzo dan Professor Brian masih berbicara tentang keadaan Alena tidak jauh dari ranjang Alena saat ini.
Entah apa saja yang dua orang itu bicarakan, terkadang Alena tidak mengerti tentang bahasa mereka, karena terkadang mereka berbicara menggunakan bahasa spanyol. Menjengkelkan, itu pasti karena mereka menutupi sesuatu dari nya.
"Lama sekali dad" keluh Alena
Kapten Stone tersenyum dan mengusap kepala Alena dengan lembut.
"Sebentar lagi sayang. Masih ada yang mereka bahas" ucap kapten Stone
"Apa kita akan lama disini?" tanya Alena
"Sampai keadaan mu pulih" jawab kapten Stone
"Bagaimana dengan pekerjaan Daddy disana. Kakak juga pasti kesepian" ucap Alena seraya memainkan ujung jaket nya
"Ada Joice yang mengurus nya. Dan Reymond sudah terbiasa sendiri sejak dulu, bukankah sekarang dia dan Joice sudah mulai dekat" ungkap Kapten Stone
Alena tertawa kecil dan kembali menegakan tubuhnya
"Benar juga. Kenapa tidak menikahkan mereka saja dulu" ujar Alena
Namun kapten Stone malah mendengus senyum mendengar nya
"Mereka masih butuh waktu untuk saling mengerti. Perjalanan masih panjang, walaupun Daddy yang menjodohkan mereka, tapi Daddy ingin mereka juga sama sama bahagia" ungkap kapten Stone
"Aaahh Daddy memang terbaik. Kakak pasti bahagia dengan Joice. Tapi jika mereka sudah menikah nanti, apa Daddy tetap akan membiarkan Joice bekerja?" tanya Alena
"Tentu saja tidak" jawab kapten Stone langsung
"Kenapa hmm?" tanya nya lagi
Alena kembali merebahkan kepala nya dibahu kapten Stone seraya matanya memandang Kenzo yang masih berbincang dengan Professor Brian.
Alena tersenyum memandang nya saat Kenzo menoleh kearah nya.
Pria baik dengan sejuta keindahan
"Hei, kau tidak menjawab pertanyaan Daddy" ucapan kapten Stone membuat Alena terkesiap, namun dia segera memeluk lengan ayahnya itu dengan lembut
"Jika Joice tidak bekerja, Daddy tidak akan kesepian dirumah. Sebentar lagi Daddy pasti pensiun kan" ucap Alena
"Kenapa berbicara seperti itu. Daddy tidak akan kesepian, kau juga ada bersama Daddy" sahut kapten Stone
Alena memejamkan matanya sejenak dan menarik nafasnya perlahan. Dadanya sesak lagi sekarang.
"Tapi yang akan menemani Daddy sampai tua pasti Joice" ucap Alena terdengar begitu getir
"Sayang, Daddy ingin kau juga menemani dihari tua Daddy nanti" kata kapten Stone seraya mengusap lembut kepala Alena
"Aku juga berharap begitu dad. Tapi..." Alena kembali meringis dan memegangi dadanya yang tiba tiba berdenyut kembali.
Kapten Stone terkesiap dan meraih tubuh Alena yang mulai terkulai lemas. Kenzo yang melihat itu langsung berlari mendekat.
"Alena" panggil kapten Stone dengan tangan yang sedikit bergetar. Dia benar benar cemas. Apalagi Kenzo.
Kenzo membantu kapten Stone merebahkan tubuh Alena diatas ranjang, sedangkan Professor Brian langsung memasangkan alat bantu pernafasan dihidung nya.
"Proff, kenapa Alena selalu seperti ini?" tanya kapten Stone pada Professor Brian
"Tubuh nona begitu lemah kapten. Jantung nya benar benar tidak bisa bekerja dengan baik lagi sekarang" ungkapan Professor Brian sungguh membuat seluruh tubuh kapten Stone menjadi lemas tak bertulang.
Putrinya yang baru dia temui beberapa bulan ini kenapa harus menanggung penderitaan seberat ini???
"Jadi bagaimana?" tanya kapten Stone begitu lirih.
Memandangi wajah Alena yang kembali pucat dan lemah.
"Hanya ada dua cara, kalian bisa memilih salah satu nya" perkataan Professor Brian membuat Kenzo dan kapten langsung menoleh kearah nya.
"Yang pertama transplantasi jantung dan yang kedua kita bisa mencoba menyuntikan serum penguat organ vital." ungkap Professor Brian
"Apa ada efek samping nya?" tanya kapten Stone
"Tentu kapten. Semua obat pasti ada efek samping. Transplantasi jantung sudah pasti anda tahu apa resiko nya bukan. Itu sudah pasti sangat riskan dan tentu nya jika keadaan nona lemah, maka disaat operasi itu kita bisa kehilangan dia" ungkap Professor Brian
Kenzo yang sudah lebih dulu mengetahui penjelasan itu hanya mampu tertunduk dengan perasaan yang begitu getir.
"Lalu jika dengan serum itu?" tanya Kapten stone lagi
Professor Brian tampak menghela nafasnya sejenak
"Ini adalah serum pertama yang saya ciptakan sejak sepuluh tahun terakhir. Saya sudah menguji coba nya dan saya rasa tidak ada yang salah. Tapi untuk mencoba ditubuh manusia, saya belum pernah melakukan nya. Saya tidak bisa menjamin ini berhasil atau tidak" ungkap Professor Brian begitu menyesal
Dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kondisi Alena memang cukup lemah, jantung nya sungguh sudah rusak akibat racun yang Alena telan.
Kapten Stone langsung terduduk dikursi dengan wajah lesu dan tampak putus asa. Dia memandang kearah Kenzo yang masih memandangi wajah Alena.
"Apa kau bisa menjamin jika serum itu tidak akan membahayakan nyawanya?" tanya Kenzo. Sejak tadi dia hanya diam dan otak nya sedang berfikir keras dengan langkah apa yang harus dia ambil untuk menyelamatkan Alena.
"Saya tidak bisa menjamin king. Taruhan nya nyawa. Jika serum ini cocok ditubuh nona, maka dia bisa sembuh total, tapi jika tidak, maka nona tidak akan bisa bertahan dalam dua minggu setelah serum disuntikkan ketubuh nya" ucap Professor Brian
Kenzo menghela nafasnya dengan berat, genggaman tangan nya semakin kuat pada tangan Alena. Matanya memandang lekat wajah Alena yang begitu tenang dalam ketidaksadarannya.
Ini pilihan yang sulit, kondisi Alena begitu lemah untuk melakukan transplantasi jantung. Kemungkinan dia sembuh juga kecil jika menggunakan prosedur itu. Tapi jika menyuntikkan serum penguat organ vital ketubuhnya, apakah itu akan berhasil, karena jika gagal, maka tidak sampai dua Minggu lagi, Kenzo akan kehilangan Alena untuk selamanya.
Kenzo memejamkan matanya dengan erat. Tidak ada pilihan lain, semua beresiko dengan nyawa Alena.
Maka dia harus bisa memilih salah satu nya, semoga pilihan ini tidak akan membuat nya menyesal seumur hidup.
"Aku sudah menentukan pilihan" ucap Kenzo memandang nanar kearah Alena
Kapten Stone memandang Kenzo dengan ragu, bahkan dia sendiri pun tidak sanggup untuk memutuskan. Dia benar benar takut jika apa yang mereka pilih akan membuat mereka kehilangan Alena.
"Aku.... memilih serum itu dimasukkan ketubuh Alena" ucap Kenzo seraya memejamkan matanya yang terasa perih, karena air mata yang begitu ingin menetes. Dada nya sesak, jantung nya pun ikut sakit memilih pilihan ini, tapi... dia bisa apa selain berusaha. Operasi transplantasi jantung hanya akan membuat Alena bertambah menderita. Kenzo lebih tidak siap dengan itu.
"Ken.... kau yakin?" tanya Kapten stone memandang Kenzo dengan ragu
"Aku tidak punya pilihan lain kapten. Semua beresiko, jika tidak memilih, cepat atau lambat Alena juga tidak akan bisa bertahan" jawab Kenzo begitu getir
Kapten Stone tertunduk dan menggeleng pelan.
"Aku harap ini bukan pilihan yang salah" gumam nya
"Anda yakin tuan? sungguh saya tidak bisa menjamin ini" kata profesor Brian pula. Ini adalah serum pertama yang dia ciptakan untuk menguatkan sistem organ vital makhluk hidup. Dan sialnya, kekasih dari seorang king Aldrego lah yang harus menjadi orang pertama yang akan mencoba nya. Tentu Professor Brian juga merasa ragu dan takut. Jika sampai serum itu tidak cocok ditubuh Alena, maka kepala nya yang akan hilang setelah ini.
"Aku sudah yakin. Aku percaya padamu" ucap Kenzo memandang Professor Brian dengan lekat. Tatapan tajam itu membuat Professor Brian menjadi semakin tidak menentu. Kenapa jadi seperti ini, seharus nya dia yang menentukan, tapi keadaan malah berbalik. Dan jika ini gagal, mungkin ini adalah pekerjaan terakhirnya didunia.
"Baiklah, jika begitu, malam nanti saya akan menyuntikkan serum itu ketubuh nona. Setiap menjelang tidur selama seminggu berturut turut saya akan menyuntikkan nya. Tapi yang jelas, serum ini memiliki dosis yang cukup tinggi, sehingga rasa sakit saat serum menyebar kepembuluh darah nona akan lebih sakit dari pada serum yang sebelum nya" ungkap Professor Brian
Kenzo mengangguk dengan pelan
"Alena pasti kuat, aku yakin dia bisa" jawab Kenzo yang masih menggenggam kuat tangan Alena.
Professor Brian dan kapten Stone hanya mengangguk pasrah. Kenzo sudah yakin dengan pilihan nya. Maka mereka hanya bisa berharap, jika semua yang mereka lakukan tidak akan berakhir sia sia.
Semoga setelah ini Alena bisa sembuh dan tidak akan merasa sakit lagi.