ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Dibawah Sinar Rembulan



Bulan telah menampakan sinar nya setelah matahari menghilang ditelan senja. Enzo menggeliatkan tubuh nya dan mulai membuka mata nya. Sejak mengingat sedikit tentang serpihan ingatan nya siang tadi, Enzo tertidur sangat lama, mungkin saja pengaruh dari rasa sakit nya .


Dia meringis saat dia berusaha untuk duduk diranjang nya. Tangan kanan nya mengusap kepala nya yang terasa sakit sembari mengatur nafas nya untuk menguraikan sedikit rasa sakit itu.


"Uhg, sebenar nya kenapa dengan ku" gumam nya


Ceklek


Enzo mengalihkan pandangan nya kearah pintu dimana Alena masuk dengan sebuah nampan ditangan nya


"Kau sudah bangun" sapa nya sembari tersenyum dan meletakan nampan itu diatas meja disamping tempat tidur Enzo


Enzo hanya diam dan memejamkan mata nya dengan kepala yang bersandar dikepala ranjang


"Mandilah, kau harus makan dan minum obat mu" kata Alena memandang wajah tampan nan datar itu


"Hmm" gumam nya dan berusaha untuk beranjak dari sana. Enzo berjalan tertatih tanpa bersuara meninggalkan Alena yang menggeleng pelan sembari membereskan tempat tidur itu dan menyiapkan pakaian untuk Enzo.


Tiba tiba saja dia terkekeh geli dengan ulah nya


"Aku sudah seperti seorang istri yang mengurus keperluan suami nya" gumam nya tidak habis fikir.


"Tidak lama lagi dia pasti mendapatkan ingatan nya kembali, dan aku pasti akan merindukan saat saat seperti ini" gumam nya lagi, sangat pelan, mungkin hanya dia seorang yang dapat mendengar nya


Lima belas menit kemudian Enzo keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk menutupi pinggang nya. Wajah nya sudah terlihat lebih segar dan semakin tampan, namun sayang Alena tidak melihat nya karena dia sedang makan malam bersama bibi Grace dimeja makan.


Enzo langsung memakai pakaian yang disediakan oleh Alena dan duduk kembali diranjang nya. Menatap makanan yang sudah tersaji disana, bahkan dapat dia lihat sepiring kue yang sangat harum, mungkin itu apple pie yang ingin dibuat oleh Alena siang tadi.


Perut nya seketika berbunyi karena memang dia sangat lapar, mengingat hanya pagi tadi dia makan, itupun hanya dengan sepotong roti.


Saat sedang menyantap makanan nya Alena datang dengan sebuah cangkir ditangan nya. Dia menatap Enzo dengan senyum yang tidak pernah pudar, namun seperti biasa Enzo hanya menatap nya dengan tatapan datar.


Entah, manusia itu benar benar tidak tahu cara nya untuk tersenyum mungkin, batin Alena


"Mau tambah?" Tanya Alena berbasa basi, sembari menarik kursi dan duduk dihadapan Enzo


Enzo hanya menggeleng dan terus menghabiskan makanan nya tanpa memperdulikan Alena yang menatapnya tanpa berkedip


Dan beberapa menit kemudian makanan itu sudah habis dilahap nya, membuat Alena tersenyum senang


"Apa makanan itu begitu enak?" Tanya Alena berbinar membuat Enzo menatap nya heran


"Kau lahap sekali makan nya" jelas Alena lagi


"Aku lapar" jawab Enzo , membuat Alena mendesah nafas kesal, ingin sekali dia mendengar pujian Enzo dengan masakan nya, namun seperti nya laki laki ini benar benar seperti robot saja.


"Yasudah, ini minum" ucap nya sembari menyerahkan cangkir yang berisi ramuan itu pada Enzo yang langsung menyambut nya.


Dan tanpa banyak bertanya Enzo langsung menghabiskan ramuan itu tanpa ekspresi apapun , namun malah Alena yang meringis getir


"Apa tidak pahit?" Tanya nya sembari mengambil cangkir itu dari tangan Enzo


"Tidak" jawab Enzo singkat


"Bahkan aku mencium aroma nya saja sudah pusing" gumam Alena, namun Enzo hanya terdiam


"Yasudah, istirahatlah lagi, aku mau bekerja dulu" kata Alena sembari membereskan sisa makanan Enzo


"Menjahit?" Tanya Enzo membuat gerakan tangan Alena terhenti sejenak


"Ya, aku harus menyelesaikan nya, karena besok pagi pakaian itu sudah harus sudah diantar" jelas Alena


Enzo pun hanya mengangguk menatap Alena yang tersenyum pada nya sembari terus menyelesaikan pekerjaan nya


"kau hobi menjahit?" tanya Enzo tiba tiba, Alena meletakan sejenak nampan yang telah berada ditangan nya dan menatap Enzo yang berwajah datar itu


"ya itu hobi ku, dan juga cita cita ku" jawab Alena


"cita cita" gumam Enzo


"ya, cita cita ku ingin mempunyai sebuah butik sendiri, dan impian terbesar ku adalah bisa menjadi seorang desainer ternama suatu hari nanti" ungkap Alena dengan wajah yang berbinar


"kau pasti bisa jika kau berusaha" ucap Kenzo


"ya, setiap hari aku selalu berusaha. Hanya saja semua ada ditangan takdir" sahut Alena begitu ambigu, dia kembali mengambil nampan diatas meja dan hendak berlalu keluar


....


Malam telah larut, Alena meregangkan otot otot nya yang terasa kaku. Tidak terasa dia menghabiskan waktu berjam jam diruang jahit nya.


Mata Alena melirik jam yang ternyata sudah hampir pukul sebelas malam


"Ah, sudah larut, pantas saja mataku sudah lelah" gumam nya sembari merapikan alat alat nya. Setelah itu dia keluar dari ruangan itu dan berjalan perlahan menuju kamar nya.


Namun langkah nya terhenti saat melihat pintu rumah mereka yang tidak tertutup rapat sehingga membiarkan cahaya bulan masuk menerangi ruang tamu yang gelap tak berlampu itu.


Alena melangkahkan kaki nya perlahan dengan sedikit ragu


"Apa bibi Grace lupa menutup pintu" gumam nya pelan, sembari membuka sedikit pintu dan mengintip keluar sana.


Mata nya mengerjap pelan, bahkan bibir nya langsung tersenyum saat melihat seorang pria duduk termenung didekat tanaman bunga nya. Wajah pria itu begitu tampan dan bercahaya, karena sinar bulan malam itu menerpa wajah nya, sehingga tampak begitu lembut dan membuat nya terpana dengan keindahan itu.


Keindahan sinar bulan ditambah dengan wajah tampan yang sangat menyilaukan mata.


Mata indah Alena benar benar terpesona dengan pemandangan ditengah malam itu.


Tanpa sadar dia masih berdiri disana dan menatap pria itu dengan senyum nya yang merekah. Keindahan yang benar benar mengalahkan segala nya.


"Hei" tepukan dibahu Alena membuat nya terkesiap kaget, bahkan hampir saja terpelanting


"Bibi, kau mengejutkan ku" dengus nya sembari mengusap dada nya yang bergemuruh hebat


"Apa yang sedang kau intip Alena, apa ada yang mencurigakan" tanya Bibi Grace yang kini beralih kearah luar rumah nya dengan mengendap endap dan sedikit mengintip seperti Alena tadi. Namun dia langsung mendengus tawa saat melihat bahwa Enzo lah objek yang sedang diperhatikan oleh keponakan nya ini.


"Kau mengintip nya Alena, astaga" ucap bibi Grace tak habis fikir, membuat Alena langsung tersenyum canggung dengan wajah nya yang merona


"Eh, tidak bibi, bukan seperti itu. Tadi aku melihat pintu ini tidak tertutup rapat, lalu aku ingin menutup nya, tapi aku malah tidak sengaja melihat nya diluar sana" ungkap Alena malu


"Kau menyukai nya hmm, bahkan kau sudah berdiri disini lebih dari sepuluh menit Alena" kata Bibi Grace menahan tawa nya


"Bibi, mana mungkin, aku , aku hanya mengamati apa yang sedang dilakukan nya" jawab Alena tertunduk tidak lagi berani menatap wajah bibi Grace yang memergoki nya sedang mengintip pria yang tidak lain adalah Enzo itu


"Haha, kau tidak bisa membohongi ku Alena. Dia memang tampan, aku saja menyukai nya" ucap bibi Grace membuat Alena melebarkan mata nya


"Bibi" seru nya tertahan membuat bibi Grace tertawa kembali.


"Aku bercanda. Sudah , temuilah dia, jangan hanya mengintip" ujar bibi Grace dan langsung meninggalkan Alena yang tersenyum canggung dan mengusap wajah nya yang memerah


"Aku ketahuan" gumam nya


Dan benar saja, tidak lama setelah itu dia langsung mendekati Enzo dan menepuk bahu pria itu, membuat Enzo sedikit terhenyak


"Kenapa diluar, ini sudah malam" kata Alena yang kini duduk disebelah Enzo


"Aku belum bisa tidur" jawab nya singkat


"angin malam tidak baik untuk tubuh mu yang masih belum pulih" kata Alena lagi, namun Enzo hanya terdiam


"Kau mau melihat pemandangan yang lebih indah tidak" tanya Alena membuat Enzo langsung menoleh pada nya


"Apa?" Tanya Enzo datar, namun tetap mampu membuat jantung Alena berdebar debar apalagi sinar rembulan yang membuat wajah itu bertambah tampan dan begitu indah.


"Dibelakang rumah, jika sedang terang bulan seperti ini, banyak sekali kunang kunang yang berkeliaran, aku suka melihat nya, ayo aku tunjukan" ajak Alena sembari menarik tangan Enzo yang menurut saja dibawa Alena.


Dan benar saja perkataan Alena, dibelakang rumah itu, dihamparan Padang rumput yang menghijau, ratusan kunang kunang terbang melayang dengan cahaya nya yang begitu indah. Seperti bintang bintang yang bertaburan dan terbang kesana kemari.


Enzo tertegun dan memandang takjub pemandangan itu, rasa nya dia benar benar seperti berada didunia lain saat ini.


Cahaya cahaya itu terbang perlahan membentuk satu kesatuan yang sangat memukau. Bahkan cahaya bulan yang terang kalah dengan cahaya kecil mereka yang bersatu.


Mata Enzo bahkan menyala terkena pantulan sinar mereka membuat Alena yang melihat ikut berbinar senang.


Alena berlari ketengah tengah Padang itu dan memutar tubuh nya disana, sembari berusaha menangkap salah satu makhluk berlampu itu.


Mata Enzo yang tadi nya fokus pada kumpulan cahaya itu, kini beralih pada Alena yang bermain dengan para makhluk berlampu itu. Lagi lagi sudut bibir nya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis melihat kelakuan gadis ceria itu. Gadis baik hati yang mau merawat dan menemani nya hingga dia bisa sembuh seperti ini. Ya, dia berhutang budi dan nyawa pada gadis itu.


Malam yang begitu indah, tadi nya dia begitu bimbang dan gelisah karena serpihan ingatan yang didapat nya pagi tadi. Tapi saat ini dia benar benar merasa tenang kembali, karena Alena selalu mampu membuat hati nya merasa tenang dan damai, walau pun hanya dengan melihat kelakuan absurd nya saja.


Didalam hati nya, Enzo berjanji, jika ingatan nya kembali, dia ingin membantu Alena untuk mencapai impian nya, dia ingin membalas budi baik gadis itu yang mau menolong dan merawat nya selama ini, begitu sabar dan sangat tulus. Dan Enzo dapat merasakan nya.