ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Kegelisahan Hati Alena



Alena terbaring dengan mata yang memandang nanar keatas langit langit kamar mewah itu. Entah kenapa rasanya ada sesuatu yang membuat perasaannya begitu gelisah saat ini. Bukan hanya masalah Mike yang mulai mengganggunya, tapi juga tentang hatinya yang entah kenapa terasa sesak saat mengetahui hal ini.


Setelah makan malam bersama bibi Khoi tadi, mereka banyak bercerita tentang Kenzo. Ya, meskipun Alena terlihat memaksa, karena dia benar benar penasaran dengan kehidupan Kenzo yang sebenarnya, apalagi dengan mantan kekasihnya itu.


Meski rasanya benar benar getir, namun karena penasaran Alena tetap bertanya pada bibi Khoi.


"Hmmh, apa dia memang belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu ya?" gumam Alena sembari beralih dan menatap serangkai bunga mawar merah diatas meja hias dikamar itu.


"Bahkan dia masih selalu merawat kamar ini dengan baik," gumam Alena lagi. Wajahnya terlihat sendu dan getir.


"Betapa beruntungnya dia dicintai oleh Enzo ku," kata Alena begitu lirih.


Dia beranjak dari duduknya dan beralih menuju meja dimana setangkai mawar ada disana. Alena mengambil satu tangkai mawar berduri itu, menatapnya dengan lekat, namun dengan mata yang berkaca kaca.


"Yah, seharusnya aku tahu diri, En. Dia pasti wanita yang hebat yang bisa merebut hatimu, bukan wanita murahan seperti ku," gumam Alena.


Dia kembali dan duduk diatas sofa dengan bunga mawar yang masih ditangannya, terngiang kembali percakapan dengan bibi Khoi beberapa saat yang lalu.


Flash back


"Aku hanya temannya bibi, bukan siapa siapa. Kebetulan dia yang menolongku dari orang jahat," ucap Alena pada bibi Khoi.


"Benarkah, tapi tidak biasanya tuan begitu baik pada sembarangan orang, nona." balas bibi Khoi


"Iya, mungkin dia hanya kasihan padaku," Alena tertawa pelan menutupi hatinya yang terluka.


"Apa Rose sering tidur di mansion ini?" Tanya Alena lagi. Jantungnya kembali berdebar tidak menentu.


"Cukup sering nona, maka dari itu tuan menyediakan kamar ini untuknya." jawab Bibi Khoi


Alena tertegun dan terlihat menggigit bibir bawahnya.


'apa mereka tidur bersama' batinnya, namun dia langsung menggeleng dan menghela nafas dengan cepat.


"Kamar ini juga keinginan dari nona Rose, dia suka kemewahan dan juga bunga mawar." ungkap bibi Khoi.


Alena kembali tertegun dan menoleh kearah vas vas bunga yang berisi mawar segar dikamar itu.


"Pasti dia wanita yang begitu cantik dan berkelas," gumam Alena namun bibi Khoi malah menggeleng.


"Entahlah, kami juga tidak tahu nona"," jawaban bibi Khoi membuat Alena mengernyit bingung.


"Kenapa tidak tahu, bibi bilang dia sering datang ketempat ini." tanya Alena dengan bingung.


"Nona rose adalah wanita yang cukup misterius, dia tidak pernah berbicara pada kami, dia hanya berbicara pada tuan Ken dan nona Clara saja, dan bagaimana rupanya juga kami tidak ada yang tahu nona, karena dia selalu memakai topeng setiap datang ke mansion ini" ungkap bibi Khoi


"Memakai topeng" gumam Alena dan bibi Khoi langsung mengangguk.


"Kenapa begitu?" Tanya Alena bingung


"Nona Clara bilang karena wajahnya begitu cantik, sehingga dia tidak ingin menampakannya pada siapapun." jawab bibi Khoi.


Alena terdiam dengan pikirannya. Dia ingat saat pertama kali bertemu dengan Enzonya, pria itu juga memakai topeng, dan dibeberapa kesempatan Kenzo juga sering memakai topeng.


Kenapa begitu? Batin Alena benar benar bingung. Se misterius apa mereka? Kenzo dan Rose, Alena rasa mereka memang menyimpan sebuah misteri. Dan Alena semakin penasaran sebenarnya, tentang apa pekerjaan lain dari seorang Kenzo Barrent.


"Apa bibi tahu juga apa yang menyebabkan mereka berpisah, aku rasa Enzo sangat mencintainya, terbukti dengan semua ini kan." tanya Alena lagi. Dia tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.


"Saya tidak tahu nona, tapi saya tahu tuan memang begitu mencintai nona Rose, setelah nona Rose menghilang, tuan Ken benar benar berubah, dia lebih banyak diam dan lebih pemarah. Dia selalu marah jika melihat mawar dikamar ini layu ketika kami lupa menggantinya." ungkap bibi Khoi.


Flash back off


Alena menghela nafasnya kembali, terasa sangat sesak dan perih. Padahal dia tahu dia bukan siapa siapa Enzo. Dia hanya gadis malang yang ditolong oleh seorang Kenzo Barrent, pria dengan berjuta pesona.


"Aku benar benar penasaran dengan wanita itu En, wanita yang telah mencuri seluruh hati mu, wanita yang telah mengambil seluruh senyum mu hingga tidak tersisa lagi sedikitpun untuk yang lain." gumam Alena.


"Dia pasti wanita yang hebat, dia begitu hebat hingga membuat seorang penguasa seperti mu tidak berdaya karenanya. Betapa beruntungnya dia dicintai oleh mu," ungkap Alena kembali


Alena duduk termenung lama dikursi, tangannya masih memainkan bunga mawar merah. Padahal waktu sudah menunjukan lewat tengah malam, namun dia belum dapat tertidur karena pikirannya yang bercabang.


Alena kembali menghela nafas dengan berat, lalu kembali menatap bunga ditangannya.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaan mu, meski terkadang perhatian kecil dari mu selalu mampu membuat ku seperti merasa sangat dihargai. Tapi aku tahu, hati mu pasti masih begitu terikat dengan cintamu itu. Tidak apa apa En, aku tahu pasti tidak mudah bagimu. Kau mau membantuku saat ini saja, itu sudah begitu membahagiakan hati ku. Kau seperti malaikat dalam hidup ku, kau malaikat tak bersayap yang selalu ada disaat aku dalam keadaan terluka. Aku hanya berdoa, semoga suatu saat kau menemukan kebahagiaan mu." gumam Alena sembari mencium aroma harum dari bunga mawar itu.


...


Keesokan paginya.....


Alena sudah bangun dari tidurnya yang singkat. Mungkin hanya beberapa jam saja dia bisa tertidur dengan nyaman.


Saat ini dia sudah rapi dengan pakaian yang disediakan oleh bibi Khoi. Dress pendek bewarna merah muda tanpa lengan, tampak sangat cocok dengan dirinya yang benar benar feminim.


"Nona, tuan Ken sudah menunggu anda dimeja makan." kata bibi Khoi.


Alena yang sedang merias diri sedikit terkesiap.


"Oh, iya bibi. Terimakasih" balas Alena dengan senyumnya yang manis.


Dia berjalan menuju meja makan ditemani oleh bibi Khoi. Matanya lagi lagi berbinar takjub dengan segala kemewahan mansion itu. Seperti istana, bahkan lebih indah dari bayangannya.


Mata Alena mengerjap pelan saat melihat seorang pria tampan dan gagah tengah menikmati kopinya.


Dia sedikit gugup saat pria itu menatap dirinya dengan lekat, meski lagi lagi hanya tatapan datar yang menyambutnya, namun tetap mampu membuat jantung dan darah Alena selalu berdesir hebat.


"Bagaimana tidur mu?" Tanya Kenzo dengan nada datar saat Alena sudah duduk dikursinya.


"Sangat nyaman," jawab Alena dengan senyumnya yang manis.


Bibi Khoi langsung melayani sarapan Alena.


"Ah, bibi. Biar aku saja," Alena langsung mencegah bibi Khoi bertindak lebih.


"Tidak apa apa nona, ini sudah tugas saya." jawab bibi Khoi yang masih ingin menuangkan air ke gelasnya, namun lagi lagi dihalangi Alena.


"Tapi nona.."


"Pergilah." Kenzo langsung memutuskan perkataan bibi Khoi.


"Baik tuan, permisi." sahut bibi Khoi. Dia segera menunduk dan beranjak dari tempatnya.


"Aku sudah seperti ratu saja dilayani, padahal cuma tamu." gerutu Alena sembari meminum air putihnya, sementara Kenzo hanya diam dan memperhatikan Alena.


"Kau mau bekerja lagi?" Tanya Alena melihat penampilan Kenzo yang sudah rapi seperti biasa, jas dan kemeja mahal yang selalu pas ditubuh kekarnya.


"Ya," jawabnya singkat.


Alena kembali menghela nafasnya dan melanjutkan sarapan. Mereka saling terdiam karena entah kenapa Enzo tampak lesu pagi ini. Mungkin dia lelah, batin Alena.


"Emmm, En." panggil Alena.


Kenzo langsung menoleh kearahnya.


"Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, kau sudah menolongku terus menerus." ungkap Alena.


"Kau sudah mengucapkan itu berkali kali Alena," jawab Kenzo


"Ya, ribuan kali pun rasanya belum mampu untuk membalas kebaikan mu," lirih Alena


"Anggap saja kita impas." Sahut Kenzo.


Alena mengernyit dan terdiam, dia memandang Kenzo dengan segenap perasaannya.


"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, dan aku menyelamatkan nyawamu. Impas bukan, dan jangan dibahas lagi." Ujar Kenzo.


Alena tersenyum getir, "Tapi semua yang kau lakukan itu jauh lebih besar En."


"Diam, dan makan lah" Tegas Kenzo.


Alena langsung terbungkam, dia menunduk dan kembali memakan sarapannya.


'ya, hanya balas budi' batin Alena. Dia kembali memakan sarapannya, namun tidak lama kemudian, tiba tiba dia terkesiap dan kembali menatap Kenzo.


"Ah, iya" Alena berkata tiba tiba hingga membuat Kenzo sedikit terkejut dan kembali menatapnya dengan kesal.


"Jangan melihat ku begitu" ketus Alena


"Kapan kau akan makan jika kau berbicara terus Alena!" sahut Kenzo. Alena tertawa canggung sembari menyelipkan rambut ditelinganya.


"Aku baru ingat, bagaimana kau bisa tahu jika aku bersama Mike saat itu?" tanya Alena begitu pelan. Kenzo langsung mendengus mendengar itu.


"Sudah beberapa hari dan kau baru bertanya sekarang?" tanya Kenzo


"Aku kan baru mengingatnya," jawab Alena sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Dia memang baru mengingat hal itu sekarang. Entah kenapa bersama Kenzo Alena bisa melupakan semuanya.


"Ah, iya, lalu apa Jack baik baik saja?" tanya Alena lagi dan itu semakin membuat Kenzo menghela nafas berat, dia langsung meneguk air minumnya dan menatap Alena dengan lekat, membuat gadis itu menjadi salah tingkah.


"Hei, jangan menatap ku begitu!" seru Alena. Kenzo mengernyit dan menatapnya dengan lekat.


"Kenapa?" tanya Kenzo


"Kau seperti seorang penjahat yang sedang mengincar mangsanya," jawab Alena dan itu kembali membuat Kenzo mendengus. Dia mengambil tisu dan mengusap bibirnya yang seksi itu.


"Hei, kau belum menjawab nya En!" kata Alena lagi.


"Kau tidak perlu tahu, mata ku ada dimana mana. Dan Jack, dia baik baik saja." jawab Kenzo singkat, padat dan jelas membuat Alena meringis sesaat


"Jawaban macam apa itu," gumam nya kesal.


Alena kembali terdiam saat Kenzo menerima sebuah panggilan di ponselnya.


Dia kembali memakan sarapannya dan terlihat sangat kesal karena diacuhkan oleh Kenzo. Pria tampan itu memang selalu sibuk, bahkan Alena tidak tahu kapan pria itu beristirahat.


Lama Kenzo menerima panggilan hingga sarapan Alena habis, baru lah dia mematikan ponselnya.


"Aku akan keperusahaan, kau tetap lah disini." Ujar Kenzo.


Alena terdiam sesaat, namun kemudian dia berkata "Apa dia masih ada di luaran sana, lalu bagaimana dengan butik ku?" Alena terlihat sedih dan tertekan.


"Dia berhasil kabur karena bantuan seseorang. Kau masih tidak aman jika berada diluar. Kau bisa mengawasi butik mu dari sini. Nanti asisten mu akan membawakan keperluan mu." ungkap Kenzo


"Lian?" Tanya Alena, dan Kenzo hanya mengangguk


Alena kembali tertunduk dengan perasaan berkecamuk. Sekarang hidupnya sudah tidak akan pernah tenang, apa selamanya dia akan seperti ini. Selalu merepotkan Enzo nya?


"Tenang lah, semua pasti baik baik saja. Kau aman disini." ucap Kenzo.


Alena tertegun dan menatap Kenzo dengan sendu.


"Tapi aku malah merepotkan mu. Bagaimana kalau dia mencelakai mu nanti, dia bukan orang sembarangan En," Alena terlihat begitu cemas


"Kau meremehkan ku?" Tanya Kenzo tidak suka


"Tapi aku takut kau terluka," balas Alena. Dia menatap Kenzo dengan penuh penuh cinta dan kekhawatiran.


Membuat pria itu langsung tersenyum tipis. Dia bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Alena yang menatapnya heran.


"Aku tidak akan terluka selama kau baik baik saja." ucap nya sembari mengusap puncak kepala Alena sekilas,


Dan tentu saja perlakuan manis Kenzo itu membuat Alena membuat membeku ditempatnya.


Kenzo langsung berbalik dan pergi meninggalkan Alena yang masih membatu disana.


"Enzo," lirihnya tak berdaya.


Kenzo selalu bisa menjungkirbalikkan hati dan jantungnya yang lemah ini.