ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Rumit



Acara ajang kompetisi bergengsi di Newyork malam itu berakhir sempurna meskipun harus disertai dengan lampu gedung yang tiba tiba mati dan membuat kepanikan semua orang . Namun kepanikan itu tertutupi saat diatas langit gedung ratusan kembang api besar diledakkan dengan indah. Dan itu cukup mampu menjadi acara penutup yang sempurna.


Edward terpaksa berpura pura sibuk kesana dan kemari karena diperintah oleh tuan Wesley untuk mencari tahu apa penyebab lampu gedung yang bisa mati, meski hanya sebentar, namun cukup mampu membuat kehebohan. Dan dengan terpaksa dia menyetujui nya, padahal dia tahu jika itu adalah ulah orang orang Kenzo untuk membawa Alena. Sedramatis itu memang.


Semua tamu sudah mulai pulang, dan kini hanya tinggal beberapa orang yang bertugas membereskan sisa acara.


Kapten Stone berdiri didepan gedung bersama Lian menunggu anak anak nya yang entah kemana sejak tadi. Dia hanya tahu jika Alena dan Clara pergi kebelakang untuk mengurus sesuatu, namun saat Lian mencari nya, dua gadis itu malah tidak ada. Sedangkan Reymond dan Joice yang Edward bilang ada ditaman belakang juga tidak ada.


"Sebenar nya kemana mereka semua" gumam kapten Stone yang sudah lelah. Sedari tadi menghubungi nomor mereka tapi tidak ada satupun yang mengangkat panggilan nya


"Akan saya cari lagi tuan" kata Lian yang sudah risau melihat kegelisahan kapten Stone sejak tadi


"Ah Lian, terimakasih, hari sudah larut. Aku sudah lelah berada disini" jawab kapten Stone dan Lian langsung mengangguk dengan senyum manis nya


Namun, belum lagi dia melangkah, dari arah dalam gedung ada Alena yang keluar dan mendekati mereka


"Daddy" panggil Alena membuat Kapten Stone dan Lian langsung menoleh kearah nya


"Alena, kenapa lama, kau dari mana?" Tanya Kapten stone langsung


"Aku dari dalam" jawab Alena dengan senyum canggung nya


"Nona Clara" sapa Lian pada Clara yang juga baru datang dari dalam gedung


Alena langsung menoleh kearah nya, namun mata nya sedikit memicing melihat wajah sembab Clara dan mata yang memerah, seperti habis menangis


"Kau dari mana Cla?" Tanya Alena, dan sekarang Kapten Stone yang mengernyitkan dahi nya


"Bukankah kalian dari dalam dan mengurus sesuatu?" Tanya kapten Stone dan Lian langsung mengangguk setuju


"Tuan Edward bilang kalian berdua mengurus sesuatu tadi, tapi kenapa saya juga dipanggil kedalam bersama asisten nona Clara?" Tanya Lian pula


Alena dan Clara langsung saling pandang dan tampak gugup. Apa yang mereka urus? Mereka baru saja melepas rindu dan perasaan masing masing bersama seseorang


"Ah iya kapten, tadi memang kami bersama didalam. Tapi setelah itu aku pergi kekamar mandi dan berpisah dengan Alena. Benar kan Ale" Clara menatap tajam Alena yang tampak bingung, namun tak ayal dia juga mengangguk cepat


"Benar dad" jawab nya dengan senyum canggung


Alena dan Clara saling pandang penuh tanya, tentang kemana sebenar nya mereka masing masing pergi. Clara yang penasaran Alena pergi kemana, dan Alena yang ingin tahu kenapa Clara seperti habis menangis begitu


"Yasudahlah, sekarang kita pulang. Kasihan Lian dia sudah mencari kalian sedari tadi" ucap kapten Stone


"Maafkan aku Lian, seharus nya aku mengabari terlebih dulu" Alena meraih lengan Lian yang tersenyum dan mengangguk. Meski kesal, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa


"Tidak apa apa nona. Besok kita harus kembali lagi kemari untuk menandatangi kontrak. Sebaiknya malam ini kita pulang dan beristirahat" ungkap Lian dan Alena langsung mengangguk


"Baiklah, terimakasih" jawab Alena yang melepaskan tangan nya dari Lian.


Setelah berpamitan pada Alena dan kapten Stone, Lian akhirnya pulang terlebih dahulu dengan mobil nya.


"Kemana Reymond?" Kali ini kapten Stone kembali mengedarkan pandangan nya membuat Alena juga ikut menoleh kesegala arah


"Kakak juga pergi?" Tanya Alena


"Ya, seperti nya kalian memang suka membuat Daddy menunggu" gerutu kapten Stone membuat Alena langsung tertawa kecil dan merangkul lengan Daddy nya


Clara tampak terdiam dan tertunduk sembari menarik nafas nya perlahan


"Kalau begitu aku pamit duluan Alena" ucap Clara membuat Alena melepaskan rangkulan dilengan ayah nya dan menghadap kearah Clara


"Kau baik baik saja kan Cla?" Tanya Alena mendekat kearah Clara yang tampak terkesiap dan langsung tersenyum ceria seperti biasa nya


"Tentu saja, memang aku kenapa" tanya Clara pula


"Kau seperti habis menangis" kata Alena.


Clara langsung menampar pelan lengan Alena dan tertawa kecil


"Kita kan memang habis menangis tadi, kau tidak ingat jika kau yang menangis seperti anak kecil saat tahu hasil rancangan mu memang" jawab Clara dan Alena hanya tersenyum saja dan mengangguk pelan. Tangis bahagia dan tangis kesedihan itu jelas berbeda, meski Clara menutupi nya namun sebenar nya Alena tahu jika sahabat nya itu pasti sedang menyembunyikan sesuatu


"Yasudah, aku pulang dulu" ucap Clara. Dia langsung memeluk Alena sekilas dan beralih kearah Kapten Stone


"Kapten, aku pulang duluan" ucap Clara pada kapten Stone yang mengangguk dan tersenyum


"Berhati hatilah nona" jawab kapten Stone


"Siap kapten " sahut Clara yang langsung berlari menuju mobil dimana ada Edward yang menunggu nya disana


Dan baru saja Clara masuk kedalam mobil Reymond datang dari arah samping gedung, dia berjalan sendirian dengan wajah datar seperti biasa, namun seperti nya ada yang aneh.


"Kau dari mana?" Serang kapten Stone langsung


"Benarkah?" Tanya Alena yang memandang curiga kakak nya. Wajah Reymond terlihat lain dan pandangan mata itu begitu sendu dan sedikit merah.


"Tentu saja, sejak kapan kau jadi seperti wartawan begini hmm, ayo kita pulang. Kita harus merayakan keberhasilan mu besok" ajak Reymond yang langsung merangkul pundak Alena dan membawa nya menuju mobil mereka


"Hei, kau melupakan Joice" protes kapten Stone yang dilalui Reymond begitu saja


"Nanti dia juga menyusul" sahut Reymond terdengar acuh


Alena hanya memandang aneh kakak nya. Clara menjadi aneh setelah ayah nya memperkenalkan Joice dan dia langsung menghilang sesudah itu, kakak nya juga ikut menghilang setelah nya. Dan yang pasti yang membuat Alena bertanya tanya adalah kenapa mereka kembali dengan wajah yang sama sama terlihat sedih? Apa ada yang tidak dia ketahui?


"Hei, kenapa kau melamun?" Kata Reymond sembari mencubit gemas hidung Alena


Alena langsung menggeleng dan tersenyum kecut. Jangan sampai apa yang terfikirkan otak kecil nya menjadi kenyataan, jika tidak, maka semua akan terasa rumit


"Joice, kau dari mana?" Pertanyaan Kapten Stone pada Joice yang baru datang membuat Alena langsung membalikan tubuh nya dan melihat Joice yang juga baru datang dari arah samping gedung


Reymond seperti tidak ingin tahu, dia langsung masuk kedalam mobil dan duduk dikursi kemudi. Sedangkan Alena menunggu ayah dan calon kakak ipar nya itu.


Sama seperti Reymond, wajah datar Joice juga terlihat sendu sekarang. Sebenar nya apa yang terjadi? Apa hanya dia yang bahagia malam ini?


Bahkan diperjalanan pulang, mereka sama sekali tidak ada berbicara sedikitpun. Biasa nya Alena dan Reymond yang terlihat berbincang asik, namun sekarang Alena bahkan tidak ingin mengajak Reymond bercerita karena melihat wajah pria itu yang begitu lesu dan tidak bersemangat. Kapten Stone bahkan sudah memejamkan mata nya sekarang.


Alena hanya menghela nafas pelan dan menikmati pemandangan diluar jendela mobil yang sudah begitu gelap karena hari sudah begitu larut.


....


Keesokan pagi nya.....


Diapartemen Kenzo....


Kenzo sedang duduk dimeja makan sembari meminum kopi yang terlihat masih mengepul asap nya.


Sedangkan Edward berdiri disamping nya dengan pandangan datar seperti biasa.


"Apa malam tadi berjalan baik?" Tanya Kenzo tanpa memandang Edward


Namun dia sedikit mengernyit saat tidak mendengar sahutan dari pria batu itu.


Kenzo langsung memalingkan wajah nya dan menoleh pada Edward yang tampak terdiam dan menatap datar kedepan. Ada apa dengan Edward?


"Kau tidak mendengar perkataan ku?" Tanya Kenzo kesal


Edward langsung terkesiap dan mengerjapkan mata nya perlahan menatap Kenzo yang memandang nya dengan tajam


"Emm maaf king. Anda bilang sesuatu?" Tanya Edward kembali. Dia menghela nafas pelan dan berusaha menguasai keadaan. Sejak kapan dia jadi bodoh begini?


"Apa malam tadi berjalan dengan baik?"tanya Kenzo lagi. Untung saja mood nya sedang baik, jika tidak dia sudah menghukum Edward saat ini


"Semua berjalan dengan baik king. Tidak ada masalah, hanya kehebohan sedikit akibat lampu yang tiba tiba mati" jawab Edward


"Apa tidak ada yang curiga Alena menghilang" tanya Kenzo lagi


"Tidak king, Joice sibuk mengejar Jack yang menyamar sebagai penjahat bertopeng, Kapten Stone asik berbincang dengan nyonya besar, dan tuan Reymond sedang...." Perkataan Edward langsung terhenti ketika dia mengingat apa yang dilihat nya malam tadi. Dan mengingat itu ekspresi wajah nya menjadi tidak menentu kembali


"Sedang apa?" Tanya Kenzo


"Ah, tidak ada king. Semua berjalan lancar dan tidak ada yang curiga" jawab Edward lagi, jangan sampai Kenzo tahu, dia tidak ingin merusak kebahagiaan hati Kenzo sekarang


"Kau tidak bisa menipuku" kata Kenzo dengan dengusan senyum sinis


Edward hanya tertunduk tanpa menjawab apapun.


Karena bagaimanapun Kenzo adalah orang yang paling tahu tentang dia, walau sekecil apapun ekspresi yang dia tunjukan.


"Sudah lah, pergilah kau keperusahaan dan urus semua. Aku akan mengurus penyerangan kita malam nanti" ujar Kenzo dan Edward langsung mengangguk setuju


"Baik king, saya permisi" kata Edward dan Kenzo hanya mengangguk pelan


Namun baru dua langkah kaki Edward berjalan, Kenzo kembali memanggil nya, dan Edward langsung membalikan tubuh nya menghadap Kenzo


"Kau adalah orang kepercayaan ku. Bukan hanya perusahaan yang aku serahkan padamu, tapi juga adik kecilku" ucap Kenzo . Edward terlihat mengernyit bingung mendengar perkataan Kenzo


"Jaga dia seperti kau menjaga nyawaku" kata Kenzo lagi dan menatap Edward yang tampak bingung.


Pandangan Kenzo begitu serius dan penuh makna, Edward masih tidak mengerti, selama ini dia memang sudah menjaga Clara dengan baik, tapi apa maksud king nya mengucapkan semua ini?


"Pergilah" usir Kenzo dan Edward yang bingung langsung mengangguk dan pergi meninggalkan Kenzo yang tersenyum tipis


'rumit' batin Kenzo