
Pagi hari dimansion Kenzo...
Cuaca sudah cukup hangat karena matahari sudah bersinar dengan begitu cerah. Hari juga sudah menunjukkan pukul 7 pagi, namun Kenzo dan Alena masih terlena dalam mimpi indah mereka berdua. Saling memeluk dengan hangat, hingga beberapa menit kemudian Kenzo mulai membuka matanya. Matanya masih berat dan begitu sayu. Namun setelah penglihatan nya terlihat jelas, bibirnya langsung tersenyum dengan manis saat melihat pemandangan indah didepan matanya. Hal yang paling membahagiakan yang pernah dia rasakan setelah sekian lama menyendiri dalam kesepian.
Bangun dipagi hari dan mendapati gadis yang dia cintai ada disisinya.
Kenzo mengusap lembut wajah damai yang masih tetidur itu, sepertinya tidur Alena begitu nyenyak malam ini. Ya, dia masih lemah, dan tentunya dia masih memerlukan istirahat yang cukup. Malam tadi mereka berada disituasi yang cukup mendebarkan, dan tentu Kenzo tahu jika Alena pasti akan merasakan ketakutan. Namun beruntungnya ada Cristian yang menemaninya. Tidak tahu apa yang dibicarakan oleh mantan rivalnya itu, yang jelas Kenzo cukup berterimakasih pada pria itu, karena Alena tidak merasa ketakutan saat dia tinggal.
Rasanya saat ini dia benar benar betah memandangi wajah cantik Alena. Wajahnya tidak pucat lagi, meski masih lemah. Hidungnya yang bangir, alisnya yang tebal dan tentu nya bibir ranum Alena yang sedikit bervolume yang selalu menggoda Kenzo. Pandangan lembut nan sendu yang dimiliki Alena cukup mampu membuat Kenzo terbuai. Dan itulah yang membedakan Alena dengan Angel, mantan kekasihnya. Mereka adalah dua karakter yang berbeda. Kenzo bahkan tidak menyangka jika seseorang yang berhasil menyembuhkan luka hatinya adalah Alena.
Selangkah lagi, setelah urusan nya dengan Thomas dan juga publik selesai, maka dia akan menikahi Alena. Sudah cukup, dia tidak ingin lagi merasakan kehilangan. Kenzo tidak ingin merasakan sakit yang kedua kalinya. Tidak perduli bagaimana keadaan Alena yang sekarang, meski dia tidak lagi sesehat dulu, namun Kenzo akan tetap menerima nya. Senyum Alena adalah kebahagiaan nya, dan tidak ada lagi yang dia harapkan selain hidup bersama gadis ini.
"Emmmmhhh En......"panggil Alena begitu serak dan pelan, ternyata dia sudah terbangun dari tidurnya
Kenzo tersenyum saat melihat Alena mendongak dan memandang nya dengan sayu. Tatapan teduh mata biru itu begitu membuai
"Sudah bangun?" sapa Kenzo seraya mengusap wajah kusut Alena
Alena memperhatikan keadaan, dimana dia yang berbaring diatas lengan Kenzo dengan tangan yang memeluk erat tubuh kekar itu
"Kita tidur bersama?" tanya Alena dengan wajah polosnya
"Bukankah kau yang meminta?" tanya Kenzo
Alena langsung terdiam dan tersenyum dengan malu, dia langsung kembali memeluk Kenzo dan menyembunyikan wajahnya kedalam dada bidang pria itu. Membuat Kenzo segera memeluk nya dengan gemas dan menciumi pucuk kepala Alena.
"Ah...En..." seru Alena tiba tiba seraya melepaskan pelukan nya dan menjauh dari tubuh Kenzo
"Ada apa?" tanya Kenzo begitu heran
"Lukamu" tunjuk Alena pada bahu Kenzo
Kenzo tersenyum dan menggeleng, dia menarik Alena mendekat kembali. Dan mengusap wajahnya
"Tidak apa apa, hanya luka kecil. Aku masih bisa menahan." jawab Kenzo
"Benarkah? Tapi aku takut berdarah lagi" jawab Alena begitu sedih
"Tidak, selama kau tidur, kau selalu tidur dibahuku, dan masih baik baik saja bukan" ucap Kenzo
Mata Alena mengerjap beberapa kali. Dia langsung menoleh pada bahu Kenzo. Dan memang dia terbangun dari tidurnya dan telah berada diatas bahu Kenzo, menempel begitu lekat. Apa dia tidur berjam jam seperti itu?
"Benarkah, aku tidak ingat. Pasti sakit, pasti kau tidak bisa tidur dengan nyaman" sahut Alena begitu tidak enak. Namun Kenzo malah langsung tersenyum dan terus mengusap wajah cantik itu tanpa bosan
"Ini adalah tidur ternyaman yang pernah aku rasakan" jawab Kenzo membuat Alena langsung mendengus gerah
"Mana ada begitu, luka mu pasti sakit, dan bahumu pasti pegal" ucap Alena
"Tidak" jawab Kenzo. Karena memang begitu adanya. Meski sebentar dan cukup pegal karena harus menopang tubuh Alena beberapa jam, namun ini adalah tidur ternyaman yang pernah dia rasakan untuk seumur hidupnya. Nyenyak dan begitu nyaman. Kehangatan Alena adalah obat dari segala rasa sakit dan remuk nya. Tidak ada yang lebih nyaman dari ini. Apalagi bangun dengan keadaan yang seperti ini.
"Seharusnya kau bisa bilang padaku. Kau tidak harus mem..........." perkataan Alena langsung terhenti saat Kenzo langsung menarik tengkuk nya dan menyergap bibir ranum itu dengan buas. Alena langsung terkejut dengan mata yang melebar
"Ahhhh....curang" seru nya begitu kesal saat berhasil melepaskan ciuman garang pria itu
Kenzo tertawa kecil dan mencubit hidung nya
"Aku tidak bisa bernafas" gerutu Alena dengan wajah yang cemberut
"Kau sangat cerewet" sahut Kenzo dengan senyum menggoda nya membuat Alena mendengus gerah kembali.
"Bilang bilang dulu, kebiasaan sekali kau ini" kata Alena begitu kesal
Alena memejamkan matanya dan melingkarkan tangan nya ditubuh Kenzo. Dia mencoba membalas ciuman itu dan mengimbangi Kenzo sebisa nya. Membuat Kenzo tersenyum disela sela kegiatan nya.
"Kau sudah cukup lihai hmm?" ucap Kenzo saat dia sudah melepaskan ciuman nya
"Kau yang mengajariku" sahut Alena dengan wajah nya yang merona
"Apa kau sudah mengerti bagaimana caranya mengimbangi ku?" tanya Kenzo dan Alena langsung mengangguk antusias
"Apa kau mau mencoba hasil belajar ku selama ini?" tanya Alena
Kenzo mengernyitkan alisnya dan tersenyum melihat Alena. Wajah Alena memerah, tapi kenapa dia begitu berani sekarang. Malam tadi juga dia yang meminta Kenzo untuk tidur bersama nya
"Beri aku penilaian setelah ini" kata Alena yang langsung beranjak dan sedikit berada diatas tubuh Kenzo. Kenzo sedikit terkesiap melihat itu, apalagi Alena yang langsung menyergap bibirnya dengan cepat. Menunjukkan apa yang dia bisa. Meski masih kaku, namun cukup membuat Kenzo merasa terbuai dan bergairah. Sungguh Alena memang begitu liar sekarang, siapa yang sudah mengajari nya seperti ini.
Lama mereka saking berciuman, saling memberi dan menerima, bahkan mereka sama sama sudah terbuai dan bergairah. Hingga tiba tiba...
"Oh my god" seru seseorang dari depan pintu
Alena dan Kenzo langsung terkesiap kaget. bahkan Alena langsung beranjak dengan cepat dari atas tubuh Kenzo dan sedikit menekan luka nya, membuat Kenzo meringis sakit.
"Kalian membuat mata kami ternoda" ucap Cristian yang berdiri diambang pintu dengan Angel dibelakang nya
Kenzo tersenyum canggung dan langsung beranjak duduk ditepi tempat tidur sedangkan Alena bersembunyi dibalik selimut. Dia begitu malu sekarang. Bisa bisa nya dia dipergoki sedang berduaan dengan Kenzo, dengan keadaan yang begitu intim pula. Astaga
"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" tanya Kenzo
Cristian dan Angel langsung masuk kedalam kamar dan duduk disofa bersama kedua anak mereka.
"Kami sudah mengetuk berkali kali, kami kira kau sedang berbincang dengan Alena, nyatanya malah sedang membuat teman untuk Michelle dan Michael" goda Cristian, dia tertawa lucu melihat wajah canggung Kenzo apalagi melihat Alena yang begitu malu bersembunyi disebalik punggung nya
"Kami ingin pamit, kami ingin pulang siang ini" ucap Angel pula
"Kenapa cepat sekali?" tanya Kenzo memandang wajah datar Angel yang sedang memangku Michael
Angel tersenyum dan melirik kearah Alena yang mengintip nya dari balik punggung Kenzo
"Masalah sudah selesai bukan. Cristian juga tidak bisa meninggalkan perusahaan lebih lama" jawab Angel
"Tidak bisakah untuk tinggal beberapa hari lagi nona" pinta Alena
Angel menggeleng dan tersenyum
"Kami akan datang lagi jika kalian menikah nanti" jawab Angel
"Ya, kau harus menikah dulu, jangan membuat anak orang rusak. Kau tidak tahu jika ayah nya ada didepan. Bagaimana jika yang memergoki kalian adalah kapten Stone tadi. Kau bisa ditembak mati oleh nya" ejek Cristian
"Mana ada begitu" sahut Alena yang juga ikut beranjak duduk disamping Kenzo
"Seperti tidak pernah saja" dengus Kenzo
"Aku memang tidak pernah. Menyentuhnya saja saat aku sudah menikahinya. Aku pria sejati" ucap Cristian begitu bangga
"Bukan pria sejati, tapi karena kau yang takut dengan Angel" balas Kenzo membuat Cristian langsung terdiam sementara Angel langsung menggeleng senyum
Kenzo turun dari tempat tidur nya dan berjalan mendekat kearah Angel dan Cristian. Dia menoel pipi gembul Michella dan Michael dengan gemas
"Pulang lah setelah makan siang nanti. Kita makan siang bersama dulu" pinta Kenzo
"Baiklah" jawab Angel