
Malam ini Alena sedang makan malam bersama kakak dan ayahnya. Tubuhnya sudah mulai pulih meski dia harus banyak beristirahat karena sesekali jantung nya masih merasakan nyeri atau juga berdebar yang tidak beraturan. Alena bosan jika harus dikamar terus, ayah dan kakak nya benar benar begitu posesiv padanya. Untuk makan dan segala hal yang lain dia lakukan didalam kamar. Dan baru kali ini Alena makan malam diluar bersama mereka.
"Jadi kapan kakak dan Joice akan menikah dad?" tanya Alena tiba tiba. Reymond bahkan sampai tersedak karena pertanyaan mengejutkan itu
"Kenapa bertanya sekarang?" tanya Reymond seraya membersihkan mulutnya
Alena memandang nya dengan bingung dan menoleh pada kapten Stone yang terlihat menahan senyum
"Kenapa memang nya. Pertanyaan ku tidak salah kan" tanya Alena dengan wajah yang begitu polos. Dan sungguh Reymond ingin sekali menjitak kepala adiknya ini. Dia baru saja mencoba menerima Joice dan berbaikan dengan gadis itu, namun Alena malah sudah menanyakan tentang pernikahan.
"Tidak sayang, kau benar. Daddy juga sudah memikirkan hal ini. Tapi itu daddy serahkan pada kalian. Siapa yang ingin lebih dulu menikah. Kau atau kakak mu" ujar kapten Stone
"Alena saja dad" sahut Reymond dengan cepat
"Kenapa aku, bukankah kakak yang lebih tua?" tanya Alena pula
"Ck, apa kau mau Kenzo pergi lagi?" tanya Reymond kembali. Dan jelas saja Alena langsung menggeleng dengan cepat
"Tidak mau" jawabnya dengan cepat
"Nah...sudah kalau begitu daddy siapkan saja masalah pernikahan Alena. Aku bisa difikirkan nanti" ujar Reymond. Kapten hanya mengangguk saja, namun Alena dan Reymond terlihat saling pandang bingung melihat ekspresi wajah kapten Stone yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Dad, ada apa?" tanya Reymond
"Apa daddy berubah fikiran?" tanya Alena pula. Wajahnya berubah sedih sekarang. Apalagi dia tahu jika daddy nya pasti kecewa pada Kenzo karena telah membohongi nya dan juga publik, dan sempat membuat nama kapten Stone menjadi jelek karena dianggap tidak bisa mengusut kasus menghilang nya Kenzo waktu itu.
Kapten Stone tersenyum dan menggeleng, dia mengusap lengan Alena yang ada diatas meja. Melihat wajah sedih Alena tentu kapten Stone tidak tega. Dia tidak mungkin berubah fikiran. Kenzo dan Alena saling mencintai. Hal yang sedang dia fikirkan saat ini adalah tentang status Kenzo. Bahkan banyak hal yang harus dia bicarakan dulu dengan tuan Amerika itu.
"Tidak sayang, daddy tidak berubah fikiran. Kalian pasti menikah secepatnya. Tapi biarkan Kenzo menyelesaikan urusan nya pada publik terlebih dahulu" ujar kapten Stone
Alena terlihat mengerucutkan bibirnya sekilas dan mengangguk pasrah, sedangkan Reymond hanya menghela nafas pelan
"Ya, dia sudah membohongi kita semua. Bahkan kedua orang tua nya. Bagaimanapun dia harus mempertanggung jawabkan hal itu terlebih dahulu" sahut Reymond pula
Alena hanya mengangguk saja, karena apa yang dikatakan oleh ayah dan kakaknya adalah benar. Tapi semoga saja tidak akan ada yang tahu jika Kenzo adalah seorang mafia. Jika ayahnya tahu, atau orang lain tahu maka nasib Kenzo pasti akan tidak aman.
"Jangan memikirkan apapun sayang. Kalian pasti menikah nanti" ucap kapten Stone
"Iya dad. Aku cuma takut daddy dan kakak marah pada nya" jawab Alena dengan wajah tertunduk takut
"Kecewa sudah pasti. tapi melihat bagaimana dia yang melindungi mu dan menjaga mu selama ini, daddy bisa membuang rasa kecewa daddy" jawab Kapten Stone
"Benarkah?" tanya Alena dan kapten Stone langsung mengangguk dan tersenyum
"Kakak juga jangan marah lagi padanya, kakak sudah pernah membuat wajah tampan nya terluka kemarin" kini Alena beralih pada Reymond yang duduk didepan nya. Reymond tertawa kecil dan mengangguk
"Yah aku khilaf. Lagi pula itu sudah lama,dan kenapa baru dibahas sekarang hmm" tanya Reymond
"Aku lupa" jawab Alena dengan senyum lebar nya
Kapten Stone hanya geleng geleng kepala melihat anak anak nya. Tidak ada lagi yang dia fikirkan selain kebahagiaan Alena. Jika pun Kenzo akan bermasalah nanti nya, dia pasti akan membantu. Kenzo adalah kebahagiaan Alena, dan sebagai ayah, kapten Stone pasti ingin melihat Alena bahagia.
Tiba tiba disaat mereka sedang tertawa dan bercanda bersama, seorang pelayan datang mendekat kearah kapten Stone, wajahnya terlihat sedikit berbeda, seperti terkejut dan heran
"Maaf tuan besar, didepan ada yang mencari" ucap pelayan itu
"Siapa?" tanya kapten Stone. Alena dan Reymond hanya diam dan memandang pelayan itu dengan heran
"Tuan Kenzo Barrent" jawab nya dengan nada pelan
"Alena jangan lari!!!" seru mereka berdua yang juga ikut mengejar Alena yang sudah berlari keluar mendapati Kenzo.
Pelayan yang memberitahu kedatangan Kenzo tadi langsung terkesiap kaget, bahkan dia masih terperangah heran melihat ketiga tuan dan nona nya itu. Dia sudah dikejutkan dengan kedatangan Kenzo Barrent yang diisukan telah tewas hampir dua bulan yang lalu, namun sekarang malah dikejutkan dengan teriakan kapten Stone dan Reymond.
....
Diruang tamu Alena mendapati Kenzo yang tengah berdiri memandangi figura besar foto keluarga nya. Senyum Alena semakin melebar saat Kenzo menoleh kearahnya.
"En....kau datang" seru Alena yang kembali berlari dan melompat kedalam pelukan Kenzo
Mata kenzo terbuka lebar dan langsung menangkap tubuh Alena dengan sigap
"Jangan berlari Alena. Kau ini" omel nya namun masih tetap memeluk Alena dan mencium pucuk kepala nya
"Aku rindu. Sudah dua hari kau tidak datang" kata Alena yang turun dari rangkulan Kenzo
Kenzo tersenyum dan mengusap wajah Alena yang sudah nampak lebih segar sekarang, meskipun masih sedikit pucat dan sayu. Ya, sudah dua hari dia tidak ada menemui Alena, dia begitu sibuk mengurus klan Aldrego yang sempat kacau karena ulah Thomas dan Jesicca. Dan sore tadi setelah dari markas untuk menghabisi Thomas dia langsung kemari untuk menemui gadisnya ini
"Maafkan aku, sekarang aku sudah ada disini bukan" ucap Kenzo
Alena tersenyum dan merangkul lengan Kenzo dengan manja, namun tiba tiba dia sedikit oleng dan tertunduk saat merasakan jantungnya yang kembali berdenyut ngilu. Kenzo yang melihat itu langsung panik dan cemas
"Alena kenapa?" tanya Kenzo memegangi tubuh Alena, Kenzo semakin panik saat melihat wajah Alena yang kembali memucat
"Ada apa Ken?" tanya Kapten Stone yang baru tiba disana disusul oleh Reymond
Kenzo masih diam dan membawa Alena untuk duduk disofa. Alena masih meringis dan memegangi dada nya. Dia duduk diantara kapten Stone dan Kenzo sedangkan Reymond berdiri dihadapan nya
"Sakit lagi?" tanya Kenzo seraya mengusap lembut punggung Alena yang mengangguk
"Itu pasti karena kau yang berlari" omel Reymond
Alena langsung mengerucutkan bibirnya dan mencoba menarik nafasnya perlahan
"Kita kekamar nak" ajak kapten Stone namun Alena langsung menggeleng
"Tidak dad. Aku tidak apa apa. Hanya nyeri sedikit, tapi sudah berkurang" jawab Alena, meski nafasnya masih sedikit tersengal namun dia sudah merasa lebih baik
"Rebahlah dulu" ujar Kenzo yang langsung menarik kepala Alena dan bersandar didada nya
"Rey ambilkan obat Alena" pinta kapten Stone. Reymond mengangguk dan langsung pergi kekamar Alena
"Tubuhmu masih lemah, jangan bergerak terlalu berlebih lagi. Kau harus menjaga jantung mu mulai sekarang" kata Kenzo seraya menggenggam tangan Alena yang sedikit dingin
"Apa jantung ku memang sudah tidak sehat lagi?" tanya Alena tanpa memandang wajah Kenzo yang sedikit terkesiap
Kenzo dan kapten Stone saling berpandangan sekilas dan kembali menoleh pada Alena
"Jantung mu baik baik saja. Hanya saja efek racun itu masih belum sepenuh nya hilang" ungkap Kenzo. Dia tidak mungkin berkata yang sejujurnya pada Alena jika jantung nya sudah tidak lagi bagus, bahkan kapan saja jika keadaan Alena melemah detak jantung nya bisa hilang. Sungguh Kenzo tidak ingin membuat Alena khawatir dengan keadaan nya.
"Bagaimana daddy akan menikahkan kalian jika kau masih seperti ini,kau harus bisa menjaga kesehatan dengan baik" ujar kapten Stone pula
"Iya, maaf" jawab Alena mengusap lengan daddy nya yang tampak khawatir
"Ini obatmu" kata Reymond yang sudah kembali dengan membawa obat dan juga segelas air untuk Alena.
Alena segera duduk dengan tegak dibantu oleh Kenzo. Kapten Stone langsung menyerahkan obat itu pada Alena yang dengan senang hati meminum nya. Sungguh dia begitu beruntung dikelilingi oleh tiga lelaki yang sangat menyayangi nya. Sebenar nya Alena tahu jika dia memang tidak baik baik saja, tapi dia tidak akan lagi bertanya lebih. Wajah cemas ayah,kakak,dan Enzo nya sudah cukup membuat Alena harus diam dan tidak bertanya apapun. Dia hanya berharap jika memang jantung nya tidak lagi sehat seperti dulu, Alena hanya ingin Tuhan masih memberinya waktu lebih banyak untuk hidup berdua dengan Kenzo dan juga masih bisa membahagiakan ayahnya. Yah, hanya itu. Dia hanya berharap Tuhan memberikan waktu lebih lama untuk dia bisa menikmati kebahagiaan ini.