ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Peri Tak Bersayap



Hari sudah menjelang senja saat Clara tiba dibutik Alena. Bahkan butik sudah tampak tutup, entah kenapa, tidak biasanya butik tutup secepat ini, biasanya butik akan tutup pukul delapan atau sembilan malam. Mungkin saja ini ulah Reymond dan Joice yang tidak ingin penyelidikan mereka terganggu.


Clara langsung masuk kedalam butik setelah menyapa Jhon yang menjaga diluar pintu. Dia menoleh kesana kemari dan butik tampak sepi. Apa mereka dilantai atas? Clara langsung memandang anak tangga menuju lantai dua butik itu. Dan dia langsung saja naik kesana. Butik itu sangat sepi dan sedikit gelap karena lampu belum dihidupkan seluruhnya.


Clara berhenti sejenak dan menarik nafas nya perlahan. Memandang dan berfikir dimana keberadaan dua orang itu. Mereka hanya berdua ditempat sepi seperti ini? Berdua?


Ah, Clara langsung menggeleng cepat. Apa yang sedang dia fikirkan. Ayolah lupakan tentang perasaan, mereka adalah calon suami istri dan apa salahnya jika mereka hanya berdua saja.


"Fokus Clara, fokus" gumam Clara pada dirinya sendiri. Dia menarik nafasnya kembali dan mulai berjalan menapaki anak tangga yang tinggal beberapa lagi. Bisa bisanya disaat genting seperti ini fikiran nya malah memikirkan hal hal seperti itu. Memang kurang ajar.


Clara bingung ketika telah tiba diatas, entah dimana ruangan cctv itu berada. Namun tiba tiba pintu dipaling ujung terbuka dan menampakan Reymond yang keluar dari sana.


"Clara disini" panggil nya


Clara langsung mengangguk dan langsung berjalan menyusul Reymond. Dia masuk kedalam ruangan itu yang hanya ada dua komputer dan perangkat yang lain nya. Joice duduk begitu serius didepan meja komputer itu. Namun ketika Clara mendekat dia langsung beranjak dan membiarkan Clara menduduki kursinya.


"Seseorang telah menghilangkan beberapa detik rekaman dimenit ke tiga puluh empat nona" ungkap Joice langsung saat Clara sudah duduk ditempatnya.


"Apa sebelum Rebecca datang?" tanya Clara


"Iya, anda bisa lihat seharus nya kopi itu belum ada ketika nona Rebecca masuk, tapi tiba tiba direkaman itu sudah menunjukkan ketika Rebecca datang sudah ada dua gelas kopi diatas meja" jawab Joice


Clara langsung mengangguk mengerti. Dia langsung memainkan jari jari nya diatas komputer itu. Reymond hanya memandang nya dengan begitu serius, menunggu hasil yang semoga saja bisa membuahkan hasil.


"Tapi aku rasa memang Rebecca pelaku nya" kata Clara disela sela tangan nya yang bekerja


"Kenapa kau begitu yakin?' tanya Reymond pula


"Dia kabur saat aku ingin mengintrogasi nya tadi" jawab Clara


"Kabur?" tanya Reymond dan Clara langsung mengangguk


"Lalu untuk apa kita disini, seharusnya kita menangkapnya kan. Bagaimana jika kita kehilangan jejak wanita itu?" tanya Reymond dengan cepat. Jika memang Rebecca pelaku nya, maka dia akan meminta orang orang ayahnya untuk menangkap wanita itu. Entah apa motif nya, tapi ini sudah keterlaluan


"Tapi saya rasa pelaku nya adalah Lian" kata Joice pula. Reymond dan Clara langsung menoleh kearah nya.


"Lian?" tanya Clara tidak percaya


Joice mengangguk dan melipat tangan nya didepan dada


"Dia tidak ada sejak kami datang kebutik hingga butik ini kami tutup. Padahal karyawan nya bilang jika dia sudah pergi sejak pagi tadi" jawab Joice pula


"Tidak mungkin, Lian adalah orang terdekat Alena setelah aku. Bagaimana mungkin dia berniat membunuh Alena, mustahil Joice" kata Clara tidak percaya. Joice kini menoleh pada Clara dan memandang nya dengan lekat


"Rebecca lebih tidak mungkin nona. Dia orang luar, apa motifnya untuk mencelakai nona Alena?" tanya Joice pula


Clara langsung menggeleng dengan penuh percaya diri. Dia sudah yakin jika memang Rebecca pelaku nya. Wanita itu terlihat berbeda tadi, dan bahkan sangat gugup ketika Clara menggertaknya sedikit. Tidak akan salah, sudah pasti dia, Lian tidak mungkin. Dia adalah orang pilihan Edward, sudah pasti Edward sudah menyelidiki kehidupan nya dulu.


"Tidak, aku yakin Rebecca. Lian adalah orang pilihan Edward" sanggah Clara


"Nona Rebecca juga orang kepercayaan diagensi, tentu dia lebih dipercayai dari pada Lian" balas Joice pula. Dia sepertinya tidak ingin kalah dengan Clara.


"Tapi Rebecca tidak ada hubungan nya dengan Alena, sudah pasti dia yang tega mencelakai Alena, mungkin diperintahkan oleh seseorang" kata Clara lagi, dia masih tidak terima jika Lian yang dia kenal baik malah menjadi tersangka juga.


"Justru orang terdekat lah yang perlu dicurigai terlebih dahulu" ucap Joice pula


Dan sekarang Reymond yang terlihat pusing melihat perdebatan kedua gadis ini. Bukan nya mencari jalan keluar mereka malah berdebat, seperti saling menyimpan dendam pribadi saja. Reymond bahkan tidak bisa berfikir dengan jernih mendengar suara dan tatapan mereka yang terlihat memang saling ingin bertengkar dan terlihat menang.


"Sudah lah, lebih baik kita periksa dulu cctv nya. Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu nanti. Kenapa kalian malah berdebat"  Reymond menatap Joice dan Clara bergantian. Mereka langsung saja memalingkan wajah masing masing. Clara juga kembali mengotak ngatik komputer didepan nya, dia akan membuktikan jika memang Rebecca lah pelaku nya. Agen wanita ini memang menyebalkan, bahkan sekarang dia tidak lagi nampak segan dan takut pada Clara, sementang sudah mau menjadi istri Reymond, dia sudah seenak nya saja.


"Lihat" seru Clara tiba tiba saat dia sudah berhasil mendapatkan rekaman aslinya


Reymond dan Joice langsung mendekat dan melihat layar monitor itu, dan disana menampakan apa yang sebenar nya terjadi. Mata mereka semua tampak terbelalak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Jadi dia???????"


"Mustahil"


"Benarkan ternyata dia"


....


Sementara dimansion Kenzo...


Hari sudah larut malam, dan suasana diruang bawah tanah itu tampak tegang dan dipenuhi oleh kekhawatiran. Kapten Stone terlihat berjalan kesana dan kemari tidak jauh dari ranjang Alena. Wajah nya benar benar menampakkan kecemasan yang begitu mendalam. Dia begitu cemas menunggu setiap detik waktu yang terasa begitu cepat berlalu, namun sampai saat ini penawar itu belum juga datang.


Sedangkan Kenzo duduk disamping Alena berbaring dengan wajah yang sudah tidak bisa lagi diartikan. Antara tegang, takut, khawatir dan cemas. Tangan nya sejak tadi tidak berhenti menggenggam tangan Alena yang sudah mendingin bagai mayat. Wajah Alena juga sudah pucat pasih, begitu pula seluruh tubuhnya. Lebam biru sudah muncul dibeberapa tempat dan tentu saja itu semakin membuat Kenzo tidak berdaya.


Alena sudah tidak sadarkan diri sejak dua jam yang lalu setelah dia merasakan kesakitan yang membuat Kenzo lagi lagi harus meneteskan air matanya. Dia tidak tega melihat Alena yang menderita, apalagi dia yang juga tidak bisa berbuat apa apa untuk meredakan kesakitan nya. Sungguh, baru kali ini Kenzo merasa menjadi orang yang paling tidak berguna didunia, apalagi untuk orang yang dia cintai.


Edward sebentar lagi pasti tiba, semoga saja dia membawa penawar yang cocok untuk Alena. Karena menurut dokter Richard, kondisi Alena sudah sangat parah dan bisa dikatakan hanya tinggal menunggu waktu saja. Denyut nadi nya bahkan sudah sangat lemah, bahkan tadi dokter Richard sempat melakukan prosedur kejut jantung karena tiba tiba saja detak jantung Alena yang menghilang. Kenzo dan kapten Stone benar benar frustasi melihat itu, serasa jantung mereka sendiri yang ikut terlepas dari tempatnya.


Sekarang saja Kenzo sudah tidak dapat berkata apa apa lagi. Melihat kondisi Alena yang begitu menyedihkan begini membuat separuh nyawanya juga ikut menghilang. Alat bantu pernapasan sudah dipasang, bahkan beberapa selang juga sudah ditanam ditubuhnya, dokter Richard menggunakan segala cara untuk bisa menopang kehidupan Alena. Setidaknya dia harus bisa bertahan untuk beberapa saat lagi menjelang Edward tiba.


"Tuan Kenzo, berapa lama lagi kita harus menunggu?" tanya kapten Stone untuk yang kesekian kalinya


"Sebentar lagi" jawab Kenzo, yang sejak tadi juga hanya perkataan itu yang bisa dia keluarkan untuk kapten Stone.


Fikiran Kenzo sudah bercabang sekarang. Wilayah perbatasan nya pasti sudah diserang oleh Thomas dan Jesicca, dan dia tidak tahu apa Jack bisa mengatasi mereka atau tidak. Kekuatan Aldrego benar benar melemah jika dia tidak ada disana, bahkan Edward juga tidak ada, sudah pasti mereka bisa menguasai wilayah perbatasan itu dengan mudah.


Kenzo memandang Alena dengan sendu, dia juga tidak bisa meninggalkan Alena disini sebelum dia memastikan penawar itu datang. Dia tidak akan tenang jika pergi Alena masih berada diantara hidup dan mati seperti ini. Untuk apa dia berjuang disana jika saat dia kembali Alena tidak ada lagi. Tidak, Kenzo tidak ingin itu terjadi. Dia akan menunggu Edward datang, setelah itu barulah dia akan menghabisi dua manusia hama itu dengan tangan nya sendiri. Mereka sudah berani membuat hidup nya berantakan seperti ini, dan juga sudah membuat Alena menderita. Tidak akan dia biarkan mereka hidup tenang. Jika mereka tidak mati, maka Kenzo tidak akan pernah tenang.


"Bertahanlah Alena, bertahan lah untukku" pinta Kenzo sembari mengusap lengan Alena yang begitu dingin dan lemah.


..


Sementara diluar mansion, helikopter yang membawa Edward sudah mendarat dengan sempurna. Dia langsung turun dari helikopter itu dan membantu profesor Brian yang berhasil dia bawa kemari. Pria tua itu tampak begitu kesusahan turun dari heli, apalagi dengan kondisi tubuhnya yang kecil dan sudah renta.


"Mari prof" ajak Edward yang langsung membawa profesor Brian masuk kedalam mansion. Edward juga sudah sangat cemas dengan keadaan Alena. Semoga tidak terlambat, karena sejak tadi ponsel nya tidak berhenti bergetar dengan suara panggilan dari dokter Richard dan juga anak buah nya yang berada diwilayah perbatasan. Dan dia tahu saat ini king nya itu pasti sedang cemas dan bingung.


"Ah tuan Ed, bisakah kau tidak menyeretku begitu" kata profesor Brian saat tanpa sadar sejak tadi ternyata Edward menarik lengan tua itu dengan kuat


Edward terkesiap dan dia segera melepaskan tangan nya


"Maafkan saya prof, saya benar benar cemas" jawab Edward


Profesor Brian tampak tersenyum dan menggeleng pelan


"Saya mengerti, tapi sepertinya orang ini begitu penting untuk king" ucap nya


"Tentu saja" jawab Edward langsung


"Sepertinya king Aldrego sudah menemukan Queen nya kembali" gumam nya lagi dan Edward hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


Kenzo memang sudah menemukan seseorang yang penting itu, tapi bukan Queen, melainkan seorang peri tak bersayap untuk kehidupan nya. Karena Queen bagi Kenzo hanya ada satu didunia ini.