ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Impian Alena



Matahari sore itu masih terasa menyengat ditengah hiruk pikuk kota Newyork yang begitu sibuk dan padat.


Begitu pula dengan penduduk nya, pejalan kaki berjalan dengan sedikit tergesa gesa untuk tiba ditempat tujuan mereka masing masing, dan ada juga sebagian yang berjalan santai menikmati udara sore itu yang begitu cerah.


Seorang gadis cantik dengan hoody dikepala nya turun dari sebuah taksi bewarna kuning didepan sebuah gedung berlantai dua yang nampak tutup namun kelihatan megah diluar nya.


Tangan kanan nya memegang tangkai koper besar, sedangkan tangan kiri nya memegang sebuah kertas kecil berisikan sebuah alamat.


Mata nya bergantian menatap kertas ditangan nya dan beralih pada gedung didepan nya. Sesekali dia mengernyit dan mengangguk yakin.


"Iya, ini tempat nya, alamat nya juga benar disini. Tapi apa mungkin, rasa nya seperti mimpi, apa Enzo tidak salah" gumam nya celingukan.


Hingga seorang security yang berjaga dilobi gedung itu mendatangi nya.


"Ada perlu apa nona, apa ada yang bisa saya bantu" tanya security itu pada gadis yang tidak lain adalah Alena.


"Apa benar ini alamat yang tertera disini" tanya Alena menyerahkan sebuah kertas kecil ditangan nya pada security itu


"Ya, ini memang benar" jawab nya menatap Alena dari atas kebawah


"Nona Alena?" Tanya security itu ragu, namun mampu membuat Alena terkesiap kaget


"Kau tahu nama ku?" Tanya nya takjub


"Bisa kulihat tanda pengenal mu nona?" Pinta security itu memastikan tamu nya ini


Alena dengan senang hati mengeluarkan tanda pengenal dari dalam tas nya


Security itu mengangguk dan tersenyum, lalu membungkuk memberi hormat pada Alena


"Silahkan masuk nona, saya sudah menunggu anda sejak dua hari yang lalu" ungkap security itu sembari mengambil alih koper Alena


"Ah benarkah, kau tahu dari mana kalau aku akan datang ketempat ini" tanya Alena sembari mengikuti langkah security itu masuk kedalam gedung itu


"Tuan Edward yang memerintahkan saya untuk menyambut seorang gadis bernama Alena, karena dia adalah pemilik gedung ini" jawab security itu


"Edward" gumam Alena , mencoba mengingat dimana dia pernah mendengar nama itu


Mata Alena mengerjap pelan saat mengingat pria itu, ya pria sangar dengan wajah tampan namun menyeramkan bagi Alena, dan bukan kah itu kerabat Enzo, lalu kenapa bukan Enzo yang menyambut nya disini, batin Alena, dia merasa sedikit kecewa karena itu.


Padahal dia sudah berharap bertemu dengan Enzo ketika tiba dikota ini, tidak masalah jika Enzo sudah memiliki kekasih atau istri sekalipun, Alena hanya ingin bertemu saja, tidak lebih.


Mata Alena kembali melebar saat kaki nya sudah masuk kedalam gedung itu. Bahkan dia langsung tersenyum dengan lebar nya dan mengitari ruang itu dengan mata yang berbinar. Rasa kecewa nya pada Enzo nya seketika menghilang saat melihat desain butik itu benar benar luar biasa.


Etalase etalase kaca tempat memajang gaun gaun indah sudah tersedia disana, begitu juga dengan lemari kaca dan tempat yang lain nya, benar benar amazing.


"Dilantai atas ada tiga ruangan nona, satu ruangan untuk anda beristirahat, satu ruangan untuk anda bekerja dan satu ruang yang lain untuk tempat hasil rancangan anda seperti dibawah ini" ungkap security tersebut


Alena semakin kegirangan mendengar nya, akhir nya mimpi nya akan segera terwujud.


"Terimakasih" ucap Alena masih asik mengitari ruangan itu dengan semangat nya membuat security itu menggeleng lucu


"Saya Jhon nona, saya ada diluar untuk berjaga jaga. Jika anda memerlukan sesuatu, katakan pada saya" kata security yang bernama Jhon itu


"Ah, tentu Jhon. Terimakasih sekali lagi" kata Alena yang kali ini mengarah pada Jhon dan mengambil alih koper nya


"Besok pagi, tuan Edward akan datang untuk menemui anda nona" ungkap Jhon membuat Alena langsung mengernyit


"Kenapa bukan Enzo saja" tanya nya membuat Jhon menatap nya dengan bingung


"Ah maksud ku, tuan Ken" ralat Alena , namun tentu itu membuat Jhon terkesiap dan menggaruk kepala nya sejenak


"Saya kurang tahu nona, saya hanya menjalankan tugas" jawab Jhon


Alena menghela nafas kasar


"Hmh, baiklah" jawab nya pasrah


'lagi pula mana mungkin tuan Kenzo Barrent datang ketempat seperti ini, ada ada saja nona ini, memang nya dia siapa. Tuan Edward yang turun tangan saja sudah menjadi hal yang luar biasa' batin Jhon sembari berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Alena yang kini berjalan menuju lantai dua dimana kamar nya berada


Alena membuka pintu demi pintu untuk melihat isi dalam ruangan itu. Mata nya sekali lagi terkagum kagum dengan keindahan dan desain itu.


Letak butik ini juga sangat strategis karena berada ditengah tengah pusat kota Newyork.


Entah bagaimana Enzo nya bisa mendapatkan tempat yang bagus dan menarik seperti ini.


Semua nya sesuai dengan impian Alena.


Bug


Alena menghempaskan tubuh nya diatas kasur single yang ada diruangan itu.


Tubuh lelah nya karena berjam jam diperjalanan seolah tidak terasa lagi. Dia hanya kecewa karena bukan Enzo yang menyambut nya, kenapa malah pria berwajah seram itu.


"Hmh, padahal aku rindu. Tapi seperti nya dia memang hanya merasa berhutang budi padaku" gumam Alena sedih, mata nya menatap langit langit kamar itu yang bersih tanpa debu


"Baiklah, tidak apa. Aku akan buktikan pada nya jika aku bisa membuat butik ini sukses melejit, aku akan meraih mimpiku dan menjadi seorang desainer terkenal"


"Ya, aku harus bisa berdiri dibawah kaki ku sendiri. Aku bukan anak manja yang selalu berada dibawah kekuatan orang tua brengsek itu, aku harus bisa punya banyak uang" ucap Alena penuh keyakinan


"Aku harus menjadi orang kaya agar aku bisa terbebas dari mereka dan juga bisa menemukan orang tua kandung ku."


"Meski terlihat pamrih, tapi aku harus memanfaatkan kebaikan Enzo. Semoga semua nya tidak terlambat" gumam Alena.


Meski yakin, tapi sungguh, jauh dilubuk hati nya dia benar benar masih menyimpan ketakutan jika diri nya ditemukan oleh ayah angkat nya suatu hari nanti, apalagi oleh pria yang sangat menakutkan bagi Alena.


....


Alena mengerjap perlahan dan mulai membuka mata nya yang sayu. Setelah membersihkan diri sore tadi dia langsung tertidur karena kelelahan. Dan kini dia melirik kearah jendela yang ada diruangan itu.


"Astaga, sudah malam" gumam nya sembari beranjak dan duduk ditepi tempat tidur.


Tangan nya meraih ponsel yang ada diatas meja dan tertegun sejenak disana


"Aku tertidur begitu lama" gumam nya


"Perut ku lapar. Sudah jam sembilan, dimana aku harus cari makanan" gerutu nya.


Dengan cepat Alena beringsut kekamar mandi dan mencuci muka nya, setelah itu dia langsung mengambil jaket nya untuk menutupi piyama tidur nya dan meraih tas nya diatas meja.


Suara hentakan sandal Alena bergema memenuhi sudut ruang kosong gedung itu. Benar benar membuat nya merinding.


"Gila , kenapa malam hari kesan nya terlalu horor ya" gumam nya bergidik ngeri


Saat tiba dilobi gedung dia melihat Jhon sedang duduk bersantai bersama dengan seorang teman nya


"Nona, anda mau kemana" tanya Jhon yang langsung mendapati nya


"Aku lapar Jhon, aku akan keluar sebentar mencari makan" jawab Alena


"Biar saya saja nona, ini sudah malam" ucap Jhon namun Alena langsung menggeleng


"No Jhon, aku sekalian ingin jalan jalan sebentar. Cukup katakan padaku dimana tempat makan yang ada didekat sini" kata Alena lagi


"Anda yakin nona?" Tanya Jhon khawatir, karena Alena adalah tanggung jawab nya saat ini. Jika terjadi sesuatu pada Alena, maka bisa musnah dia dibantai oleh asisten tuan Amerika itu


"Ya, jangan khawatir" jawab Alena begitu yakin


"Diujung jalan itu ada resto cepat saji, makanan nya lumayan enak, dan itu yang paling dekat" sahut Jhon akhir nya sembari menunjuk ujung jalan didekat persimpangan


"Oh oke, thank you Jhon, aku akan membawakan makanan untuk mu juga" kata Alena segera berlalu


"Tidak perlu repot repot nona" seru Jhon , namun Alena hanya melambaikan tangan nya dan berjalan cepat menyusuri jalanan yang masih terlihat ramai itu


Alena berjalan dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku jaket nya. Terasa dingin karena dia hanya memakai piyama tipis saat ini.


Jalanan kota Newyork didaerah butik itu masih terlihat ramai, meski perjalanan kaki mulai sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas disana.


Alena menikmati suasana kota dimalam itu, sangat jauh berbeda dengan desa bibi grace yang tenang dan damai.


Tapi dia juga merindukan suasana kota seperti ini setelah beberapa bulan bersembunyi didesa terbuang itu.


Alena menghirup udara dengan kuat dan menghembuskan nya dengan cepat pula. Dia hanya berharap semoga semua berjalan sesuai dengan keinginan nya.


Dia harus berjuang demi kehidupan nya sekarang, meski hanya sendiri dan tanpa siapapun, tapi dia harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah. Itulah moto hidup nya.


Banyak cita cita yang belum dicapai nya, cita cita tulus seorang gadis muda yang tidak pernah mengeluh sedikit pun.


Tidak berselang lama, akhir nya Alena tiba diresto itu. Dia masuk dan duduk dengan santai disebuah meja. Seorang pelayan datang dan tanpa berfikir apapun dia langsung memesan makanan yang menggugah selera nya.


Resto malam itu terlihat begitu ramai meski hari sudah hampir larut.


Saat sedang asik menyantap makanan nya, dari arah pintu dia melihat seorang gadis yang memakai masker masuk dan terlihat bingung mencari tempat duduk kosong.


Semua nya telah berisi meski tidak penuh , tapi setiap meja sudah ada yang menempati.


Dan akhir nya gadis bermasker itu duduk didepan Alena tanpa permisi.


Alena hanya mengernyit heran memandang nya, dan kembali menyantap makanan nya.


"Hei pelayan" seru gadis itu begitu kuat hingga membuat Alena terkesiap kaget bahkan dia sampai tersedak makanan nya. Dengan sigap dia meraih air minum dan langsung meminum air nya


"Oh, kau terkejut ya. Hehe, im sorry" ucap nya terlihat begitu santai.


Alena hanya menggelengkan kepala nya dan kembali makan


'dasar gadis aneh' batin nya kesal


Gadis yang masih belum melepaskan masker nya itu langsung memesan makanan saat pelayan datang. Bahkan dia tidak membuka masker nya sama sekali membuat Alena heran dibuat nya.


"Kau terlihat begitu lapar nona" ucap gadis itu membuat Alena menghentikan kunyahan nya sejenak dan mengangguk pelan


"Ya, aku memang sedang lapar, bahkan rasa nya ingin memakan orang saat ini" jawab Alena membuat gadis itu terbahak mendengar nya


"Kau gila" gumam nya namun Alena masih mendengar nya


"Ku rasa kau yang lebih gila nona, apa kau tidak panas memakai masker terus" tanya Alena yang tidak sanggup lagi menahan laju mulut nya


"Ah aku takut kau akan lari jika melihat wajah ku" jawab gadis itu


"Kenapa" tanya Alena penasaran


'apa gadis ini cacat, tapi penampilan nya benar benar modis dan keren' batin Alena menatap gadis itu dengan lekat


Dan sebelum gadis itu menjawab pertanyaan Alena, pelayan sudah datang mengantar kan pesanan nya.


"Silahkan nona" kata pelayan itu


"Terimakasih. Huh, aku benar benar lapar. Gara gara Ed sialan aku jadi tersesat disini" gerutu nya .


Setelah pelayan itu pergi, gadis itu langsung membuka masker nya membuat Alena mengernyit heran


"Hei, kenapa, kau terkejut melihat ku" kata gadis itu sembari menyuapkan makanan kedalam mulut seksi nya


"Tidak, tapi aku heran, kau bilang aku akan lari melihat wajah mu, tapi yang kulihat kau benar benar cantik" ungkap Alena begitu polos membuat gadis itu terkesiap dan menatap lekat Alena


"Kau tidak mengenalku?" tanya gadis itu begitu serius, bahkan dia menghentikan makan nya


"Bahkan aku baru pertama kali melihatmu" jawab Alena begitu jujur, membuat gadis itu langsung meringis


"Oh benarkah, kau berasal dari bagian bumi mana he?" Tanya gadis itu yang membuat Alena bingung


"Kau kira bumi ada berapa, dasar aneh." Gumam Alena menggelengkan kepala nya


"Emmh kalau begitu ayo berkenalan dulu, aku rasa kau kurang update nona" kata gadis itu sembari menjulurkan tangan nya kepada Alena, Alena menatap tangan itu dengan bingung, namun mau tidak mau dia juga menjabat tangan itu


"Alena" kata Alena langsung


"Clara Barrent" balas gadis itu