
Alena menatap langit langit kamar nya dengan pandangan nanar. Dia baru saja terbangun dari tidur nya dan jam sudah menunjukan pukul delapan malam saat ini.
Alena terlihat mengusap kepala nya yang sedikit pusing, ingatan nya kembali mengingat pada saat Kenzo ingin mencium nya tadi.
Entah apa yang dirasakan Alena, antara malu karena Kenzo sudah berani melakukan itu dan juga rasa takut yang begitu mendalam jika mengingat perlakuan Mike pada nya dulu. Rasa nya dia benar benar takut sehingga semua ketakutan nya itu membentuk sebuah trauma yang sulit untuk dia hapuskan.
Pandangan Alena mengarah kepintu saat mendengar pintu kamar nya terbuka. Jantung nya kembali bergemuruh saat yang masuk adalah Kenzo. Rasa canggung dan rasa bersalah benar benar membuat nya tidak dapat berkata apapun.
"Kau sudah bangun" sapa Kenzo yang kini telah berdiri disamping tempat tidur nya
Alena hanya mengangguk dan menarik selimut untuk menutupi tubuh nya dan itu membuat Kenzo sedikit bereaksi. Apa Alena masih takut, batin nya.
"Maafkan aku Alena. Aku benar benar tidak bermaksud untuk membuat mu takut" ucap Kenzo terlihat begitu menyesal dan Alena dapat merasakan nya
"Tidak, aku yang lemah. Aku belum bisa melupakan perlakuan nya dulu" jawab Alena dengan mata yang kembali berkaca kaca
Dapat Alena lihat , Kenzo terlihat menghela nafas nya sejenak dan duduk disisi tempat tidur nya. Kenzo mengusap kepala Alena dengan begitu lembut sehingga mampu membuat Alena tenang dan begitu terharu
"Kau pasti bisa. Hanya butuh sedikit terapi" ucap Kenzo
"Terapi?" Gumam Alena dan Kenzo langsung mengangguk
"Kau tidak takut berada didekat ku, kau tidak takut untuk ku peluk, dan aku rasa trauma mu bisa cepat untuk disembuhkan secara perlahan lahan" ungkap Kenzo
"Bagaimana cara nya?" Tanya Alena
Kenzo tampak terdiam sesaat dan dia langsung tersenyum penuh arti menatap Alena
"Dengan caraku" jawab Kenzo. Alena langsung mengernyit bingung. Pikiran polos nya benar benar tidak mampu menangkap maksud dari ucapan Kenzo
"Cara nya?" Tanya Alena lagi
Kenzo hanya mendengus dan mengusap kepala Alena
"Nanti kau akan tahu. Sekarang ada yang lebih penting untuk mu" kata Kenzo. Tangan nya membantu Alena untuk duduk disamping nya
"Apa?" Tanya Alena
"Ada yang menunggumu diluar" jawab Kenzo.
Alena mengerjap pelan menatap wajah Kenzo yang terlihat serius
"Siapa?"
"Orang tua mu"
Deg
Jantung Alena seperti nya sebentar lagi akan terlepas, karena dua hari ini dia benar benar harus menghadapi kabar yang selalu mengejutkan nya.
"Mereka diluar, orang tua kandungku?" Tanya Alena tak percaya. Dan Kenzo langsung mengangguk
Wajah Alena terlihat bingung, bahkan dia sangat ingin menangis sekarang
"Aku, aku harus apa En?" Gumam Alena menatap nanar pintu kamar yang tertutup itu
"Temui lah, mereka sangat ingin bertemu dengan mu" ucap Kenzo
"Tapi aku takut. Aku takut kecewa" kata Alena
Kenzo langsung menggenggam tangan Alena dengan erat.
"Alena, kau tidak akan pernah merasakan kecewa lagi. Percayalah mereka sangat ingin bertemu denganmu. Mereka begitu merindukan mu" kata Kenzo berusaha menenangkan Alena yang terlihat kebingungan itu
"A aku...."
"Pergilah bersihkan dirimu, aku akan menemani mu" ucap Kenzo lagi
Alena hanya terdiam dan tertunduk dengan tangan yang berkeringat dalam genggaman Kenzo
"Alena, percayalah. Ayo temui mereka" ajak Kenzo lagi saat melihat Alena hanya diam saja
Alena menatap wajah Kenzo yang menatap nya dengan lekat. Dia menghela nafas nya sejenak dan mengangguk ragu. Kenzo melepaskan genggaman tangan nya untuk membiarkan Alena turun dari atas tempat tidur itu
"Kau butuh bantuan ku?" Tanya Kenzo . Alena langsung menggeleng dan mulai menurunkan kedua kaki nya
"Kau bisa menunggu ku diluar" ucap Alena
"Baiklah" jawab Kenzo cepat.
Kenzo langsung keluar meninggalkan Alena untuk membersihkan diri nya. Selama membersihkan diri Alena benar benar bingung dan begitu gundah. Entah apa yang harus dilakukan nya nanti. Haruskah dia bahagia? Atau kecewa?
...
Kenzo mendongakkan kepala nya menatap Alena yang baru keluar dari kamar nya. Wajah Alena terlihat begitu tegang bahkan senyum diwajahnya tidak lagi terlihat sejak dia bangun dari tidur nya tadi.
"Kau sudah siap?" Tanya Kenzo yang berjalan mendekati Alena
Kenzo kembali menggenggam tangan Alena dan menarik nya untuk berjalan keruang tamu dimana kapten Stone dan Reymond telah menunggu nya sejak tadi.
"Tenang lah, dengarkan penjelasan mereka, maka kau akan tahu apa yang harus kau lakukan" ucap Kenzo dan Alena hanya mengangguk saja.
Dia berjalan dengan tangan yang saling menggenggam bersama Kenzo. Ya, Enzo nya memang selalu mampu untuk bisa menangkan perasaan nya.
...
Diruang tamu mansion itu, kapten Stone terlihat begitu gelisah karena sudah hampir satu jam mereka menunggu namun Kenzo dan Alena belum ada datang menemui mereka.
"Tenanglah dad" ucap Reymond menenangkan ayah nya yang sedari tadi terus bergerak gelisah dan berkali kali menatap ruang dimana Kenzo menghilang dibalik dinding
"Apa dia tidak mau bertemu dengan Daddy, apa dia begitu membenci Daddy" gumam Kapten Stone begitu cemas
Reymond langsung mengusap pundak kekar yang mulai menua itu dengan begitu lembut. Dia juga khawatir jika Alena tidak mau bertemu dengan mereka. Setelah sebelum nya dia begitu terkejut ketika kapten Stone memberitahu nya jika adik nya masih hidup, dan gadis itu ternyata adalah Alena. Seorang gadis cantik yang memang sudah sangat dikenal nya, bahkan sudah dianggap nya sebagai adik nya sendiri. Perawakan Alena benar benar mirip dengan ibu kandung nya, maka dari itu Reymond begitu menyukai Alena. Dan ternyata takdir memang begitu baik pada mereka, Alena adalah adik kandung nya yang selama ini menghilang.
"Reymond" suara seorang gadis membuyarkan lamunan Reymond. Dia dan kapten Stone langsung berdiri dan menatap Alena yang telah tiba diruang tamu itu bersama Kenzo. Alena benar benar bingung kenapa ada Reymond disini.
"Emilie putriku" gumam Kapten Stone menatap tidak percaya pada Alena yang masih terdiam menatap mereka
Kapten Stone berjalan mendekat kearah Alena yang mematung ditempat nya. Tangan tua itu langsung memegang wajah Alena penuh haru
"Benar , kau benar benar putriku. Kamu Emilie putri ku. Ya Tuhan nak, Daddy sangat merindukan mu" ungkap kapten Stone begitu terharu. Dia langsung memeluk Alena yang masih mematung, rasa nya dia tidak tahu harus apa. Tapi pelukan ini, pelukan yang benar benar terasa tidak asing, pelukan yang membuat hati nya seketika menghangat, bahkan tanpa sadar air mata Alena langsung menggenang bersamaan dengan usapan lembut tangan kapten Stone dipunggung nya.
Kapten Stone melepaskan pelukan nya dan kembali menatap wajah Alena yang sudah basah oleh air mata. Gadis itu masih diam dan menatap dalam wajah kapten Stone.
Kapten Stone menangis terharu melihat Alena, anak yang selama dua puluh tiga tahun ini menghilang dari kehidupan nya. Anak yang selalu dia cari dalam setiap waktu luang nya
"Emilie, ini Daddy nak. Maafkan Daddy, maafkan Daddy karena keteledoran Daddy kau harus hidup sendirian diluar sana" ucap kapten Stone dengan Isak tangis yang tidak bisa ditahan nya
"Aku Alena, bukan Emilie" kata Alena menatap kapten Stone dengan tatapan kecewa nya, membuat pria tua itu seketika tertegun dan kembali terisak
"Alena" panggil Reymond namun Alena langsung menggeleng dan mundur perlahan dari tempat nya. Dia menatap Reymond dan kapten Stone bergantian.
"Apa aku harus percaya pada kalian? Apa aku harus percaya jika aku masih mempunyai orang tua yang merindukan ku. Dua puluh tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk ku. Dua puluh tiga tahun aku hidup sendiri, dan apakah hari ini aku harus mengakui begitu saja jika aku mempunyai kalian!!" Ungkap Alena dengan air mata yang semakin deras diwajah nya. Dia menggeleng kuat dan mengusap air mata nya dengan kasar
"Apa yang harus aku harapkan lagi, kenapa baru sekarang kalian datang!!!" Ucap Alena yang langsung menangkup wajah nya, dia menangis dan terisak pilu disana .
Reymond langsung memeluk nya dengan erat, memeluk adik nya yang benar benar terlihat begitu kecewa dan hancur. Meski Alena memberontak namun Reymond tidak melepaskan pelukan nya, dia terus mendekap tubuh Alena sehingga gadis itu menangis didalam pelukan nya sekarang.
"Maafkan kami Alena, maafkan kami. Tapi kami tidak pernah melupakan dirimu walau sehari pun. Setiap hari kami mencari mu. Tiada hari tanpa memikirkan bagaimana keadaanmu yang entah masih hidup atau tidak. Tolong jangan begitu, kami sangat merindukan mu Alena" ungkap Reymond yang juga ikut menangis
Kenzo masih diam memperhatikan Alena, dan entah kenapa dia merasa tidak suka melihat Alena dipeluk oleh lelaki lain, padahal dia tahu jika Reymond adalah kakak nya.
Sedangkan kapten Stone menangis ditempat nya. Dia begitu menyesali apa yang telah terjadi, dan dia begitu sedih karena Alena terlihat begitu kecewa pada nya.
"Aku hidup sendiri, aku ketakutan setiap saat. Tidak ada yang bisa menjadi tempat ku berlindung. Apa aku harus percaya jika aku masih punya kalian?" Tanya Alena dengan suara yang bergetar, dia masih menangis dan Reymond segera menghapus air mata adik nya itu
"Sekarang kau punya kami Alena. Aku kakak mu, dan dia Daddy kita. Daddy yang selalu merindukan dirimu adikku" ucap Reymond.
Alena menoleh pada kapten Stone yang terlihat mengusap air mata nya. Wajah tua itu benar benar mampu meluluhkan hati Alena. Apa ini bukan sebuah mimpi batin nya.
Alena menoleh kearah Kenzo yang tersenyum dan mengangguk, membuat Alena kembali menatap kapten Stone yang menatap nya penuh harap
"Kau Daddy ku, aku masih punya Daddy?" Tanya Alena dengan suara yang terdengar begitu lirih.
Kapten Stone langsung mengangguk dan tersenyum dengan air mata yang kembali menetes diwajah tua nya
"Ini Daddy nak. Ini Daddy. Maafkan Daddy. Daddy sangat merindukan mu, Emilie" ungkap kapten Stone.
Alena datang pada kapten Stone yang langsung memeluk nya kembali, mereka menangis bersama seolah saling melepaskan rasa rindu yang tertahan selama dua puluh tiga tahun ini.
Alena ingin kecewa, tapi melihat wajah tua itu hati nya benar benar tidak berdaya. Bagaimana pun jauh didalam lubuk hati nya dia memang benar benar mengharapkan pertemuan ini.
Reymond kembali mengusap air mata nya, dia begitu bahagia, Alena bisa bertemu lagi dengan mereka, apalagi melihat ayah nya yang begitu bahagia.
"Emilie ku, kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Ibumu pasti sangat bahagia melihat mu sekarang" ucap kapten Stone. Kini dia telah melepaskan pelukan nya dan kembali mengusap wajah Alena
"Ibu" gumam Alena
"Ya, ibumu. Wajah nya benar benar mirip denganmu, sangat cantik dan begitu anggun" jawab kapten Stone namun dengan nada yang terdengar begitu sedih
Reymond langsung tertunduk karena air mata nya kembali menetes, mengingat wanita pertama yang sangat dicintai nya tidak ada saat ini. Kenzo masih terdiam dan memandang haru pertemuan antara Alena dan kapten Stone.
"Lalu dimana ibu?" Tanya Alena menatap wajah kapten Stone yang terlihat begitu sendu sekarang. Apa ibu nya tidak ingin bertemu dengan nya, batin Alena
"Ibumu sudah meninggal tiga tahun yang lalu"
Deg
Deg
Deg