ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Masih Di Incar



Hari sudah sore saat Alena dan Lian kembali dari perusahaan Barrent's Agency. Saat ini dia tengah menunggu Joice didepan lobi hotel. Entah kemana calon kakak ipar nya itu, sudah beberapa kali Alena menghubungi nya namun Joice tidak juga mengangkat panggilan Alena.


Mungkin sudah sekitar lima belas menit mereka berada disini, hari ini Alena ingin kerumah Clara untuk mengunjungi sahabatnya itu. Entah kenapa dia tidak pergi keperusahaan hari ini. Edward hanya berkata jika dia kurang enak badan saja.


Beberapa kali Alena melihat jam diponsel nya, dia sudah bosan menunggu. Coba saja Jack yang menjadi pengawal nya, pasti Alena tidak akan selalu menunggu seperti ini.


"Kemana dia?" gumam Alena yang entah sudah berapa kali bertanya seperti itu


"Mungkin dia sedang ada keperluan nona" jawab Lian yang juga sudah lelah untuk menunggu


Alena kembali menghela nafas nya dengan jengah, memandang jalanan yang dipenuhi oleh lalu lalang artis dan model model yang keluar gedung karena hari memang sudah jam empat waktu setempat


"Nona Alena" panggil seseorang membuat Alena dan Lian langsung menoleh kearah dalam gedung dimana Edward baru datang dari sana.


"Mari saya antar" tawar Edward


"Eh, tidak perlu. Aku sedang menunggu Joice" jawab Alena.


"Tidak apa apa, anda sudah menunggu sejak tadi, jadi biar saya saja yang mengantar. Hari sudah mulai sore" ucap Edward lagi


Alena menoleh pada Lian yang mengangguk, menunggu Joice juga entah sampai kapan


"Apa kau tidak sibuk?" tanya Alena masih ragu


"Tidak, mari" ajak Edward yang berjalan mendahului Alena. Namun dia kembali memutar tubuh nya dan menatap Lian dengan lekat membuat gadis itu langsung gugup karena nya


"Kau bisa pulang sendiri bukan" kata Edward pada Lian


"Loh kenapa tidak sekalian saja Ed?" tanya Alena heran


"Lian sudah biasa pulang dan pergi sendiri nona, lagi pula jalan nya juga berlainan arah" jawab Edward yang langsung pergi menuju mobil nya meninggalkan Alena dan Lian yang menatap nya dengan kesal


"Dasar pria batu, padahal apartemen mu juga tidak jauh dari butik" gerutu Alena


"Sudah lah nona, tidak apa apa. Dia memang menyebalkan, saya akan memesan taksi setelah ini. Nona bisa pulang bersama pria batu itu" ucap Lian


"Tapi aku tidak enak padamu, kita pergi bersama tapi pulang berlainan" jawab Alena tidak enak


"Tidak apa apa nona. Nyawa nona lebih penting dari apapun" ungkap Lian. Alena langsung berdecak kesal dan memukul pelan lengan Lian yang tersenyum tipis. Sebenar nya Alena tahu jika asisten nya ini pasti kecewa, tapi bagaimana, Edward tidak bisa dirayu seperti Enzo nya.


"Yasudah, kau berhati hati lah, aku juga akan kerumah Clara setelah ini" ucap Alena


"Baik nona" jawab Lian


Dan akhir nya dengan terpaksa dan mau tidak mau Alena ikut masuk kedalam mobil Edward yang akan mengantar nya. Tidak ada pembicaraan sama sekali didalam mobil jika Alena tidak memulai berbicara. rasa nya dia seperti bersama sebuah manekin sekarang.


Tumben sekali pria batu ini menumpangi dirinya, biasa nya juga jika bukan karena perintah Kenzo, Edward tidak akan pernah menegur nya. Ini malah mau mengantar nya pulang.


"Ed antar aku kerumah Clara saja" pinta Alena


"Baik nona" jawab Edward singkat


"Dimana king mu itu?" tanya Alena lagi


"Diapartemen" jawab Edward


Alena tampak terdiam, memikirkan sesuatu, selagi tidak ada Joice, tidak ada salah nya kan menemui Kenzo sebentar. Dia langsung teersenyum senang dan memajukan sedikit tubuh nya mengarah pada Edward


"Ed" panggil Alena


"Ya nona" jawab Edward


"Antarkan aku keapartemen Enzo saja" pinta Alena, namun tiba tiba...


ckiiiittttttttt


duagg


"Aaaaarggggg!!!!!" teriak Alena kesakitan sekaligus terkejut


"Kenapa kau mengerem mendadak!!" seru Alena begitu kesal. Dia mengusap kening nya yang memerah dan sangat sakit terhantuk dashboard mobil


"Maaf nona" sahut Edward dengan pandangan mata yang menajam kedepan, tangan nya juga mulai sibuk mengambil senjata dari balik jas nya. Alena yang melihat itu tentu saja bingung, dan betapa terkejut nya dia saat melihat kedepan beberapa mobil lagi lagi menghadang mereka


"Mereka siapa?" gumam Alena


"Tunggu didalam mobil sampai king kesini" ucap Edward yang langsung membuka pintu mobil dan meninggalkan Alena sendiri


"Ed!!!" teriak Alena, namun Edward hanya menoleh sekilas kearah nya dan langsung pergi menemui rombongan orang orang yang berbadan besar sudah berdiri didepan mobil mereka


"Apa itu Enzo yang sedang mengerjaiku?" tanya Alena lebih kepada dirinya sendiri, namun sedetik kemudian dia langsung menggeleng dengan wajah yang menahan tangis


"Tidak mungkin, Enzo tidak akan membiarkan ku ketakutan begini" gumam nya lagi


Alena menoleh kearah belakang dimana jalanan tiba tiba saja sepi, entah kemana pengguna jalan yang biasa nya ramai. Ada apa ini? Siapa lagi yang ingin mencelakai nya? Bukankah Mike sudah mati. Apa jangan jangan ini ulah musuh Kenzo?


"En, datanglah aku mohon" pinta Alena dengan wajah harap harap cemas


"Apa aku telpon daddy saja?" gumam Alena lagi. Namun dia langsung menggeleng dengan cepat. Tidak mungkin menghubungi daddy nya untuk meminta bantuan, bagaimana jika Kenzo datang, dia pasti terkena masalah, bukankah Edward bilang jika nanti Kenzo akan datang


Dor


"Arrg" Alena langsung menutup kedua telinga nya saat mendengar suara tembakan didepan sana. Mata nya melebar sempurna saat melihat Edward mulai menyerang mereka sendirian.


"Ya Tuhan Ed" gumam Alena begitu cemas. Bagaimana mungkin bisa menang jika satu lawan puluhan orang begitu.


Beberapa kali tembakan melesat kearah mobil, membuat Alena meringkuk ketakutan didalam mobil itu. Namun tidak berselang lama beberapa mobil sport datang dari arah belakang mobil Alena, pasukan bertopeng turun dan langsung berlarian menembaki musuh yang menyerang Edward. Dan seorang pria bertopeng masuk kedalam mobil, membuat Alena yang masih meringkuk semakin bergetar ketakutan.


"Tolong jangan apa apakan aku" ucap Alena dengan nada penuh dan tangis yang mulai keluar dari bibir nya. Tubuh nya menggigil ketakutan dengan wajah yang dia sembunyikan didalam kedua lengannya


Pria bertopeng itu hanya menghela nafas nya dengan jengah. Dia menghidupkan mesin mobil dan meluncur meninggalkan tempat itu membawa Alena pergi.


Merasa mobil itu bergerak, Alena langsung berteriak dengan kencang


"Enzo toloooong!!!!!!!" teriak Alena sekuat tenaga nya


"Hei, berisik!!" jawab pria bertopeng itu yang kini sedang fokus pada kemudi nya, dia tersenyum lucu melihat wajah Alena yang berantakan karena tangis ketakutan nya tadi


"Enzoooooooo, kenapa kau tidak bilang. Dasar kurang ajar!!" seru Alena begitu kesal. Dia memukul lengan Kenzo dengan kuat hingga mobil itu oleng sejenak


"Kau yang aneh, kenapa menutup mata. Bukan nya melihat dulu siapa yang masuk mobil" jawab Kenzo dengan tawa kecil nya


Alena terisak sembari mengusap kasar air mata yang membasahi wajah nya


"Keterlaluan, lagi lagi kau menculikku. Kenapa juga harus pakai drama tembak menembak seperti itu" gerutu Alena


"Drama mana yang kau maksud? Untung saja aku yang membawa mu pergi, jika mereka yang membawa mu pergi itu baru drama" jawab Kenzo


"Jadi mereka memang penjahat betulan?" tanya Alena sembari menyusut air dihidung nya


"Hmm" gumam Kenzo sembari menyerahkan tisu didepan mobil pada Alena yang mengambil nya dengan wajah kesal


"Memang nya mereka siapa? Bukankah Mike sudah tewas?" tanya Alena sembari mengusap wajah nya dengan tisu


"Bukan siapa siapa" jawab Kenzo


"Kau ini, aku kan mau tahu" dengus Alena


"Jika kau tahu tidurmu tidak akan nyaman lagi" jawab Kenzo. Dan Alena langsung mendengus kesal mendengar nya. Kenapa suka sekali menutupi sesuatu, apa seberbahaya itu?


"Tidurku akan nyaman saja jika kau masih hidup. Jika kau yang menghilang baru aku tidak akan bisa tidur lagi" jawab Alena dengan nada kesal membuat Kenzo kembali tersenyum dibalik topeng nya


"Mereka anak buah kakak Mike, mereka masih tidak terima dengan kematian adik nya. Jadi sebenarnya hidupmu belum aman saat ini, karena Thomas, kakak Mike masih mengincar mu setiap waktu" ungkap Kenzo


Alena tampak menghela nafas lelah dan menyandar disandaran kursi nya


"Kenapa selalu seperti ini" gumam Alena tidak bersemangat. Baru saja merasakan kebebasan untuk meraih impian nya, tapi sekarang dia masih belum juga aman. Alena benar benar frustasi


"Tenang saja, selama masih ada aku kau akan tetap baik baik saja" kata Kenzo lagi


"Aku tahu" jawab Alena pasrah


Kenzo tampak mengernyit menatap Alena dari kaca depan nya


"Kenapa, kau risau?" tanya Kenzo, namun Alena hanya menggeleng dan tersenyum tipis


"Risau sudah pasti. Tapi aku percaya padamu, kau pasti bisa menangkap mereka" jawab Alena


"Lalu kenapa wajahmu jelek begitu?" tanya Kenzo lagi membuat Alena langsung mendengus dan mengerucutkan bibir nya sekilas


"Aku hanya mengkhawatirkan dirimu. Kau pernah bilang jika Thomas juga musuh mu. Dan sekarang dia tahu jika aku dekat dengan mu. Bukankah itu akan membuat dia tahu kelemahan mu. Aku tidak ingin peristiwa Mike terulang lagi" ungkap Alena


"Thomas tidak akan tahu jika aku adalah Kenzo Barrent, jadi itu tidak masalah. Lagi pula aku sudah mempunyai rencana untuk membasmi mereka. Kau tidak perlu khawatir, selama kau baik baik saja, aku akan selalu kembali untukmu" jawab Kenzo dengan senyum tipis nya


"Aku berjanji akan baik baik saja" balas Alena yang juga tersenyum memandang Kenzo. Meski hati nya benar benar risau dan takut, tapi dia tidak boleh selalu menampakkan sisi cengeng nya, dia harus bisa sedikit lebih berani untuk menghadapi kenyataan yang ada. Hidup bersama Kenzo bukan hal yang mudah, dan dia harus siap menerima nya