
Alena bangun pagi dengan wajah yang lebih segar dari semalam. Tenaga dan tubuhnya sudah mulai pulih kembali.
Pagi pagi sekali dia sudah terbangun dan membersihkan diri.
Dan kini dia sudah duduk didepan meja rias yang tersedia dikamar itu. Semalam siang bibi Khoi sudah menyiapkan beberapa setel pakaian untuk dia kenakan.
Alena baru saja merias dirinya, dan tiba tiba pintu diketuk oleh bibi Khoi dari luar.
"Nona, boleh saya masuk?" Pinta bibi Khoi
"Masuklah bibi," sahut Alena
Bibi Khoi langsung masuk kedalam dengan seorang pelayan lainnya yang membawa troli makanan.
"Sarapan Anda nona," ucap bibi Khoi.
Alena langsung mengernyit dan menoleh pada bibi Khoi yang membantu pelayan itu menyajikan makanan untuknya.
"Kenapa tidak diluar saja bibi?, Aku bisa sarapan bersama Enzo,"
"Tuan sudah pergi nona. Pagi pagi sekali, tadi sewaktu anda sedang mandi dia sudah pergi. Edward bilang ada yang harus mereka kerjakan," jawab bibi Khoi.
Alena langsung menghela nafas kesal.
Sia sia dia mandi dan berdandan pagi ini jika Enzonya sudah pergi. Menyebalkan.
"Dia orang yang selalu sibuk," gerutu Alena , bibi Khoi hanya mengulum senyum mendengar itu.
Setelah mengantarkan sarapannya, bibi Khoi langsung pamit dan meninggalkan Alena sendirian dikamar. Gadis itu menggerutu kesal karena merasa sendiri dan bosan berada di mansion ini.
"Ck, padahal aku belum bilang tentang Clara dan juga meminta izin untuk keluar menemui tuan Ponix, tapi dia sudah pergi saja," gerutu Alena kembali.
Dia sarapan sendirian dikamar itu. Setelah sarapan Alena kembali pada pekerjaannya. Dia membuat rancangan rancangan terbaru dan juga permintaan perusahaan tuan Ponix untuk bulan depan. Hingga beberapa waktu kemudian Lian datang untuk membahas masalah butik mereka.
Tidak lama Lian berada di mansion Kenzo, karena dia harus melayani para pelanggan Alena di butiknya. Sebenarnya Alena ingin ikut, tapi dia benar benar takut jika Mike akan membawanya pergi kembali. Lagi pula Lian selalu berpesan jika pria batu alias Edward itu tidak memperbolehkan Alena keluar dari mansion ini terlebih dahulu tanpa persetujuan Kenzo.
....
Saat ini, Alena tengah terbaring diatas kasur mewah itu. Dia terlihat kelelahan, karena sejak tadi tangan itu tidak lepas memijit kepalanya yang terasa pusing kembali.
Hingga suara pintu terbuka dan teriakan seorang gadis membuatnya terlonjak kaget dan langsung terbangun dari tempat.
"Alena!!!!" Seru Clara yang langsung berlari mendapati Alena.
"Clara!" Alena begitu terkejut. Dia langsung berdiri dan menerima sergapan pelukan Clara, gadis itu hampir saja membuatnya terhuyung kebelakang.
"Aku benar benar merindukan mu!!" Ucap Clara yang masih memeluk erat tubuh Alena.
"Aku juga Clara, kau kemana saja ha?" Tanya Alena sembari melepaskan pelukan Clara.
Clara terlihat berdecak kesal, dia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur mewah itu.
"Enzo tersayang mu itu benar benar keterlaluan, dia mengurungku dirumah," gerutu Clara dengan wajah yang tertekuk.
Alena langsung tertawa dan ikut duduk disamping Clara.
"Dia kakak mu bodoh." sahut Alena sembari menampar lengan Clara yang terbahak.
"Ya, entah mimpi apa aku bisa mempunyai kakak sepertinya," sahut Clara dan Alena hanya tertawa mendengar itu.
"Ah, tapi kau tidak di apa apakannya kan, dia tidak berbuat kasar padamu kan, Ale?" Tanya Clara, dia menatap Alena dari ujung kaki hingga ke eujung kepala, membuat Alena langsung berdecak kesal.
"Ck, aku tidak apa apa. Malah aku takut kau yang terkena amarahnya," kata Alena pula.
"Dia memang seperti itu, selalu saja marah marah tidak jelas. Apalagi aku membawa mu ketempat itu, dan membuat mu sampai mabuk," ungkap Clara.
"Padahal aku cuma minum seteguk," gumam Alena, namun itu malah membuat Clara berdecak sinis.
"Seteguk, jika kau tidak kuat kau memang sudah bisa mabuk Alena!" seru Clara dengan kesal.
Alena hanya tertawa dan menggaruk kepalanya sejenak.
"Lalu, apa Enzo yang memberitahumu jika aku disini?" Tanya Alena.
Clara langsung mengangguk.
"Ya, tadi Edward memberi tahuku jika kau ada disini, dan kak Ken sudah memperbolehkan aku keluar, maka dari itu aku langsung kemari." Jawab Clara dan Alena langsung mengangguk.
"Dan Kau , kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Clara, dia menatap curiga pada Alena.
Namun Alena hanya menggeleng pelan dan mengendikkan bahunya.
"Aku tidak tahu" jawab Alena membuat Clara langsung menampar lengannya dengan gemas.
"Hei, jawaban apa itu. Ah, jangan bilang kalian sudah!!!" Terka Clara menatap Alena dengan mata yang memicing, hingga membuat Alena melengos kesal menatapnya.
"Aku tidak tahu Cla, waktu itu aku diculik, dan Enzo yang menyelamatkan ku, dan dia malah membawa ku ketempat ini," ungkap Alena.
"Apa! kau di culik, siapa yang menculik mu?" tanya Clara begitu terkejut
"Panjang cerita nya Clara. Pria itu begitu terobsesi padaku, dan beruntungnya ada Enzo yang menyelamatkan ku," ungkap Alena
"Astaga, pasti pria itu habis dibuat oleh kak Ken," gumam Clara.
"Entah lah, pria itu begitu licik, bahkan Enzo bilang dia berhasil kabur sekarang. Aku benar benar takut Enzo berada dalam bahaya karena aku," lirih Alena membuat Clara langsung mengusap bahunya dengan lembut.
"Tenanglah, kak Ken bukan orang yang lemah. Dia tahu apa yang harus dia lakukan," ungkap Clara.
"Tapi Cla, Mike pria kejam, aku benar benar takut jika Enzo terluka, malam tadi saja dia sudah membawa luka pulang." ungkap Alena dengan wajah sendunya.
"Jika dia masih bisa pulang, berarti luka itu tidak berarti apa apa Ale, tenang saja." sahut Clara
Alena langsung terdiam dan menatap Clara dengan lekat.
"Sebenarnya apa yang dilakukan Enzo diluar sana selain sebagai seorang Presdir, semakin lama aku semakin merasa dia benar benar misterius Cla," tanya Alena.
Clara langsung menghela nafas dan mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut kamar itu.
"Aku juga tidak tahu Ale, meski aku adiknya, aku juga tidak tahu jelas apa yang dikerjakannya diluar sana selain bisnis modeling dan perusahaan. Tapi yang aku tahu, dia memang memiliki bisnis lain, dan itu yang aku tidak tahu sampai saat ini." ungkap Clara
"Kenapa, kau takut?" Tanya Clara membuat Alena melengos kesal
"Kalau Enzo mafianya, aku tidak akan takut, yang aku takutkan adalah jika dia seorang mafia, berarti hidupnya selalu dalam bahaya setiap saat," lirih Alena , dan kali ini Clara kembali menghela nafas.
"Aku juga berfikir seperti mu Ale. Aku juga sempat berfikir jika kakak ku itu mafia, karena dia memiliki anggota yang selalu sigap dan kuat. Dia bahkan pernah bertarung melawan klan mafia dari Jepang tahun lalu," ungkap Clara.
Alena sedikit terkesiap, dia memandang Clara dengan lekat.
"Benarkah?" Tanya Alena tidak percaya. Clara langsung mengangguk dan menatap Alena dengan raut wajah yang sama, sama sama khawatir.
"Ya, itu merupakan pengalaman paling buruk dalam hidup ku. Aku diculik oleh mereka sehingga kak Ken menyusul ku ke Jepang, bahkan saat itu dia hampir kehilangan nyawanya." ungkap Clara dengan mata yang berkaca kaca, jika mengingat hari itu, dia benar benar masih merasa takut.
"Ya Tuhan" gumam Alena, dia memegang dadanya yang serasa lemas sekarang.
"Cla, apa ini ada hubungan nya dengan Rose?" Tanya Alena lagi, dan Clara langsung menatap Alena penuh tanya
"Maksud mu?" Tanya Clara
"Beberapa kali aku melihat Kenzo dengan penampilan yang berbeda, seperti mafia dengan topengnya. Dan kemarin juga bibi Khoi pernah bercerita jika rose juga memakai topeng sehingga mereka tidak mengetahui bagaimana rupa gadis itu. Aku bingung, kenapa mereka seperti itu?" Tanya Alena
Clara langsung tersenyum dengan getir
"Kau tahu kenapa orang tua ku tidak merestui hubungan mereka?" Tanya Clara namun Alena hanya terdiam.
"Karena Rose yatim piatu?" Tanya Alena, namun Clara langsung menggeleng. Dia terdiam sesaat sebelum berkata,
"Karena kak Rose adalah seorang mafia, Ale." jawab Clara.
Alena terkesiap dengan mata yang melebar sempurna.
"Mafia, Rose????" Tanyanya dengan mata yang benar benar terbelalak lebar tidak percaya.
Clara mengangguk pelan.
"Ya, kak Rose adalah seorang mafia. Mafia perdagangan emas dan berlian." Ungkap Clara lagi dan sungguh, itu membuat Alena semakin tidak percaya.
"Oh my God," gumam Alena sembari menutup mulutnya yang hampir menganga.
"Bagaimana mungkin seorang wanita adalah mafia," gumamnya
"Awal nya aku juga tidak percaya. Tapi setelah aku diperkenalkan kak Ken padanya, dan hubungan kami semakin dekat. Aku menjadi percaya, jika dia memang mafia, bahkan dia ratu mafia diklannya. Dia seorang wanita tangguh yang ditakuti oleh banyak musuhnya," ungkap Clara, pandangannya begitu kagum jika mengenang tentang mantan kekasih Kenzo Barrent itu.
"Ya ampun, sungguh aku belum percaya dengan semua ini Cla. Jadi mantan Enzo ku mafia. Berarti Enzo juga seorang mafia?" Alena berkata masih dengan wajah yang benar benar terkejut
"Entah lah, jika itu benar kita bisa apa. Itu kehidupannya, dan kita tidak bisa melarangnya." ujar Clara
Alena langsung tertunduk dengan lesu.
"Pantas saja dia memiliki banyak orang orang yang menyeramkan," gumam Alena tidak habis fikir dengan kenyataan ini. Jadi selama ini cinta Enzo tidak direstui karena Rose adalah seorang mafia, astaga. Dia benar benar tidak percaya. Pantas saja tidak satu orang pun wanita yang berhasil mencuri hatinya, karena sekarang Alena tahu, jika ternyata tipe lelaki itu adalah wanita tangguh yang kuat, bukan wanita lemah, apalagi seperti dirinya.
Ah, Enzo, kau benar benar membuat hati Alena kembali terbelah dua.
"Hei, kenapa kau bisa disini, em maksud ku dikamar ini?" Tanya Clara membuyarkan lamunan Alena
"Ini kamar Rose?" Tanya Alena balik setelah sebelumnya dia menghela nafas dalam dalam.
Clara langsung mengangguk dan berjalan kearah meja hias yang terdapat beberapa tangkai mawar disana. Dia mengambil satu tangkai mawar dan menciuminya dengan lembut.
"Aku tidak tahu, aku juga terkejut saat tahu jika kamar ini adalah kamar Rose," ungkap Alena, dia memandang Clara yang masih asik dengan bunganya.
"Kau tahu dari kak Ken?" Tanya Clara namun Alena segera menggelengkan kepalanya.
"Dari bibi Khoi," sahut Alena.
"Kenapa dia menempatkan mu disini ya. Aku saja yang adiknya tidak diperbolehkan masuk kedalam sini" gumam Clara.
Alena langsung mengernyit heran
"Benarkah?" tanya Alena dan Clara langsung mengangguk.
"Hmm"
"Aku benar benar penasaran dengan mantan Enzo, Cla." ucap Alena seraya dia yang berjalan mendekati Clara.
"Dia wanita idolaku. Dia seperti mawar ini Ale. Cantik, memikat, namun berduri." ungkapan Clara membuat Alena langsung tertegun dan sedikit bingung.
"Jika pertama kali melihatnya, kau pasti akan merasa takut. Tapi jika kau berhasil mendekatinya, kau akan tahu jika dia wanita yang sangat berbeda," ucap Clara lagi.
"Kau terlihat begitu mengaguminya, Cla." kata Alena.
Clara langsung tertawa kecil dan mengangguk pelan.
"Ya, aku banyak belajar darinya. Meski kak Ken dan dia tidak bersama lagi, tapi aku cukup sering mengunjunginya kesana. Ya, meski sejak kedatangan mu di kota ini, aku memang belum pernah mengunjunginya lagi" ungkap Clara
" Dia seperti kakak perempuan untuk ku Ale, dia mengajari ku banyak hal, seperti bela diri contohnya. Hihi" ungkap Clara dengan tawa kecilnya.
"Kau bisa bela diri?" Tanya Alena terkejut.
"Sedikit, hanya teknik dasarnya saja. Dan itu sudah cukup membantu untuk melindungi diriku sendiri." jawab Clara
"Wah, rasa nya aku juga ingin," ucap Alena.
Clara langsung mendengus dan menatap Alena dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan lekat, dan beberapa saat kemudian dia menggeleng dengan wajah anehnya membuat Alena langsung mengernyit.
"Tidak cocok!" ucap Clara.
"Apa?" Tanya Alena
"Kau tidak cocok belajar bela diri, Ale. Kau terlalu lembut dan perasa. Aku yakin melihat luka kak Ken saja kau sudah menangis kan?" terka Clara.
Alena langsung mencebikkan bibirnya dengan kesal.
"Ck, bagaimana kau tahu?" dengus Alena
"Aku tahu, terlihat dari wajah mu," ejek Clara
"Sialan kau!" umpat Alena begitu kesal, namun Clara malah terbahak melihat wajah kesal itu.