ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Rencana Alena



Pagi ini Alena bangun dengan mata yang bengkak. Malam tadi dia tidak bisa tidur, dan ketika hari sudah menjelang pagi barulah dia bisa memejamkan mata nya, itu juga karena sudah lelah menangis. Untung saja Reymond percaya jika dia sedang merindukan Kenzo, dan tidak menaruh curiga sedikitpun , jika tidak, maka Alena akan kesulitan untuk mencari alasan lain.


Hari sudah menunjukan pukul delapan pagi, dan Alena baru saja membersihkan diri. Dia keluar dari kamar bertepatan dengan Reymond yang juga baru keluar dari kamar nya. Pria itu terlihat begitu terburu buru, bahkan dasi masih tersangkut dileher nya


"Kakak, kenapa buru buru?" tanya Alena heran, dia mendekat kearah Reymond, dan langsung memasangkan dasi pria itu.


Reymond memandang Alena dengan senyum lucu, wajah Alena begitu menggemaskan dengan mata bengkak itu. Ya, meskipun dia sedih jika melihat Alena yang seperti ini.


"Aku sudah terlambat Ale, aku ada rapat pagi ini, kau tidak apa apa jika sarapan sendiri bukan?" tanya Reymond


Alena langsung menggeleng dan tersenyum pada Reymond, dia menepuk pelan dada bidang kakak nya itu.


"Tidak apa, kakak jangan lupa sarapan nanti" ucap Alena dan Reymond langsung mengangguk


"Ya, aku pergi, jangan bersedih lagi. Siang nanti aku akan kebutik mu" ucap Reymond sembari mengecup sekilas pucuk kepala Alena yang mengangguk saja


Setelah itu Reymond langsung pergi, tampak nya dia memang sudah sangat terlambat sehingga terburu buru seperti itu, padahal dia adalah bos nya, memang nya kenapa jika terlambat sebentar saja. Alena menghela nafas nya sejenak dan turun kebawah untuk sarapan.


Suasana rumah begitu sepi membuat Alena benar benar merasa gelisah lagi, hati nya masih terasa sedih jika mengingat malam tadi, tapi apa mau dikata, ini memang salah nya yang tidak mengerti keadaan.


Alena makan dengan tidak berselera, dia bahkan hanya minum seteguk susu dan sepotong roti saja, setelah itu dia langsung beranjak untuk pergi kebutik. Dan ternyata Jack sudah berdiri siaga disamping mobil, pria itu memang tidak kenal lelah, atau mungkin dia yang tidak pulang?


"Selamat pagi nona?" sapa Jack sembari membuka pintu mobil untuk Alena. Dia melirik sekilas wajah Alena dengan mata bengkak nya, pasti gadis ini menangis semalaman batin Jack. King memang sudah keterlaluan.


"Pagi jack" balas Alena yang langsung masuk kedalam mobil dan segera disusul oleh Jack


Jack melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, sedangkan Alena tampak mengecek ponsel yang sedari semalam tidak ada dia sentuh. Ada banyak notif pesan dari beberapa pelanggan, dan Alena sedikit mengeryit saat melihat beberapa panggilan dari Rebecca pagi tadi, mungkin dia sedang tidur sehingga tidak mendengar dering ponsel nya.


Alena hanya mengendikan bahu nya dan kembali menyimpan ponsel itu didalam tas. Alena tiba tiba saja mengingat tentang Clara, pasti pagi ini sahabat nya itu sedang sibuk untuk menyiapkan meeting siang nanti, apa dia baik baik saja ya, Alena jadi mencemaskan nya. Semalam dia memang semangat kembali saat Reymond mengajari dan membimbing nya, namun Alena tahu bagaimana Clara, dai pasti akan tetap gugup jika sudah dihadapkan bullyan orang orang


"Jack" panggil Alena tiba tiba membuat Jack tampak terkesiap sedikit


"Ya nona" balas Jack, dia melirik sekilas Alena dari kaca depan


"Apa kau tahu jika hari ini perusahaan akan mengadakan meeting besar?" tanya Alena. Jack tampak tertegun mendengar nya. Kenapa Alena bertanya seperti ini, bukankah tidak ada hubungan nya sama sekali dengan dia


"Memang nya ada apa nona?" tanya jack kembali


"Aku khawatir pada Clara, semalam siang dia kelihatan begitu khawatir untuk menghadapi hari ini" jawab Alena


"Nona Clara pasti bisa memimpin rapat, bukankah dia sudah belajar dengan giat beberapa hari ini" sahut Jack


"Meskipun begitu tetap saja, dia tidak terbiasa dengan ini. Apalagi nasib perusahaan ada ditangan nya. Lagipula kenapa juga king mu itu tidak mau turun tangan" Alena terdengar menggerutu, namun Jack hanya tersenyum tipis melihat nya, tidak tahu harus menjawab apa. Rencana king Aldrego itu terkadang memang cukup merepotkan semua orang.


Jack memutar setir mobil nya masuk kedalam kawasan area butik Alena, mata nya sedikit mengernyit saat melihat mobil yang cukup dia kenali ada didepan butik Alena. Dia menoleh kearah Alena yang hanya acuh saja, karena dia berfikir mungkin itu adalah mobil pengunjung butik.


Alena langsung turun dari mobil saat Jack telah membukakan pintu mobil untuk nya


"Terimakasih Jack" ucap Alena, dia segera masuk kedalam butik setelah Jack membalas ucapannya.


Mata Alena sedikit melebar saat melihat ibu Kenzo duduk disofa butik, tidak jauh dari meja kerja nya. Dia ditemani oleh Lian disana. Ini masih pagi, baru jam sembilan, kenapa nyonya Monica sudah berada disini, tumben sekali. Alena segera berjalan dengan cepat kearah nyonya besar itu


"Nyonya anda disini" sapa Alena sembari membungkuk hormat dihadapan nya


"Ya, aku bosan dirumah, jadi aku memutuskan untuk mengunjungi butik mu" jawab nyonya Monica


Alena langsung tersenyum dan mengangguk, dia duduk disamping nyonya Monic, sedangkan Lian kembali kepekerjaan nya.


"Kau baik baik saja Alena? Matamu bengkak, apa kau kurang tidur?" tanya nyonya Monica pada Alena yang tampak tersenyum getir. Ya, ini gara gara ulah putera kebanggan mu nyonya, dia yang sudah membuat tidur Alena tak nyenyak, bahkan makan pun tidak berselera, namun Alena hanya bisa mengungkapkan nya didalam hati saja.


"Ah, iya nyonya, malam tadi saya bergadang, ada yang harus saya kerjakan" dalih Alena


"Kau rajin sekali, pantas saja Clara selalu memuji mu setiap hari" ucap nyonya Monic


"Clara terlalu berlebihan nyonya, saya dan dia sama. Lagipula Clara juga sedang sibuk akhir akhir ini kan" tanya Alena dan nyonya Monic langsung mengangguk


"Ya, sejak Kenzo tidak ada, perusahaan itu menjadi tanggung jawabnya, entah bagaimana cara dia menjalankan nya, karena sedari dulu Clara tidak pernah mau disuruh untuk bekerja" jawab nyonya Monic dengan helaan nafas yang cukup panjang


"Itu pasti berat, apalagi minggu depan akan diadakan ajang bergengsi di agensi, aku benar benar mencemaskan Clara" ucap Alena dengan pandnagan tertunduk


"Clara tidak pernah bercerita apapun tentang pekerjaan diagensi selama menggantikan kakak nya. Saya rasa semua nya baik baik saja" jawab nyonya Monic membuat jantung Alena seketika terasa tertohok, bagaimana mungkin mereka setidak perduli itu, batin Alena


Alena terlihat menggeleng pelan, membuat nyonya Monic tampak menatap nya dengan heran


"Mungkin dia tidak ingin membuat nyonya dan tuan merasa terbebani. Kalian pasti sudah merasa tertekan dengan hilang nya Kenzo, jadi mungkin saja Clara tidak ingin menambah beban fikiran kalian" kata Alena lagi


Alena langsung mengangguk pelan


"Apa yang dia katakan, apa ada masalah?" tanya nyonya Monic


Alena memandang wanita paruh baya itu dengan pandangan sendu nya, membuat nyonya Monic semakin penasaran


"Saya tidak mungkin menceritakannya pada anda nyonya, Clara pasti bisa marah dengan saya" kata Alena begitu polos, padahal ini adalah trik untuk dia memanipulasi fikiran nyonya Monica


"Alena, ayolah, tidak apa apa, dia anak saya, saya harus tahu apa yang sedang terjadi pada nya" kata nyonya Monic terdengar memaksa, bahkan dia mencengkram lengan Alena dengan kuat


"Nyonya yakin ingin mendengar nya?" tanya Alena lagi dan ibu Clara langsung mengangguk cepat


"Clara bilang perusahaan sedang berada diujung tanduk, hari ini adalah hari dimana keputusan para pemegang saham tetap bekerja sama dengan agensi atau keluar. Mereka tidak yakin pada Clara, meskipun Clara adik Kenzo, namun Clara tidak cukup mampu untuk meyakinkan mereka." ungkap Alena . Nyonya Monic terlihat tertegun ditempatnya


"Jika saya bisa membantu, saya pasti sudah membantu nya. Saya begitu sedih melihat Clara, padahal dia sudah berjuang mati matian selama beberapa minggu ini untuk bekerja keras dan meyakinkan mereka semua, namun nampak nya perusahaan Kenzo tetap akan merugi bahkan terancam bangkrut. " tambah Alena lagi


"Ya, Tuhan, kenapa dia tidak pernah memberitahu kami" gumam nyonya Monica


"Clara tidak ingin menambah beban fikiran kalian nyonya. Jadi dia berjuang sendiri bersama Edward untuk mempertahankan perusahaan yang dibangun Kenzo dari nol. Clara benar benar tidak ingin membuat perusahaan itu hancur, apalagi perusahaan sebesar itu pasti banyak yang ingin menjatuhkan disaat saat seperti ini" ucap Alena panjang lebar, dan dia berharap jika nyonya Monic bisa terbuka hati nya


"Apa yang bisa saya lakukan" gumam nyonya Monic terlihat bingung


"Apa tuan besar tidak bisa membantu?" tanya Alena dengan ragu


Nyonya Monic tampak terdiam sejenak, dan dia langsung menatap Alena dengan anggukan kecil dan senyum tipis


....


Siang hari di Barrent's Agency


Clara duduk dimeja kebesaran Kenzo dengan wajah tertekuk dan menatap kesal Edward yang berdiri dihadapannya. Clara benar benar kesal karena Edward baru tiba diperusahaan disaat sedari pagi dia membutuhkan pria itu. Wajah Edward hanya datar saja mendengar gerutuan nya, dan dapat dia lihat jika didahi pria itu ada bekas luka, begitu pula dibagian jari jari nya. Ya, pasti pria batu ini bermain lagi dengan bahaya


"Kau itu benar benar menyebalkan, kenapa lagi dengan wajah batu mu itu? Apa kau berkelahi?' tanya Clara dengan ketus


"Tidak" jawab Edward singkat membuat Clara langsung mendengus kesal


"Kau jangan berbuat yang aneh aneh Ed. Kakak ku sampai sekarang belum kembali, dan jika kau juga mati, kau mau melihat ku gila ha?" tanya Calra dengan mata yang memicing menatap Edward. Alis pria itu tampak bergerak sedikit mendengar perkataan Clara


"Sedari pagi aku menunggumu disini, kau tidak tahu bagaimana otak ku mau keluar memikirkan rapat nanti" gerutu Clara nanti


Edwrd terlihat menghela nafas dengan berat, sebenar nya dia juga bingung, tubuh nya sudah lelah dengan pertempuran malam tadi, dan siang ini dia harus memutar otak untuk nasib perusahaan yang berada diujung tanduk. Perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena beberapa pemilik saham yang keluar, tapi sudah pasti kehancuran dan nama baik Agensi tidak akan ada lagi.


Clara, dia juga tidak yakin hari ini akan berhasil


"Huuu, aku takut Ed, bagaimana jika mereka tidak mau bertahan" ucap Clara begitu frustasi, dia langsung merebahkan kepala nya diatas meja


"Anda pasti bisa nona. Sudah lah, hanya rugi sedikit. Sebaik nya anda bersiap siap, rapat akan segera dimulai" ujar Edward


Clara semakin tidak menentu hati nya, dia mendengus dan langsung beranjak dengan begitu enggan.


....


Didalam ruang rapat, semua petinggi perusahaan sudah berkumpul, begitu pula dengan para pemegang saham yang bekerja sama dengan Barrents Agency. Clara sudah duduk dikursi utama dengan Edward berdiri dibelakang nya. Pandangan mata orang orang tampak menatap Clara dengan lekat, membuat gadis itu langsung menciut nyali nya. Dia sudah terbiasa berhadapan dengan orang ramai, tapi dengan pandangan kagum dan binar kesenangan, bukan seperti ini, Clara merasa dia sedang ditatap oleh para predator buas yang siap memangsa nya.


Clara langsung menarik nafas dalam dalam, menegakkan tubuh dan kepala nya dengan wajah yakin, seperti yang diajarkan Reymond semalam. Dia harus berani dan dia harus bisa, ya walaupun kaki nya benar benar bergetar sekarang.


Setelah Rebecca membuka rapat, Clara langsung beranjak dan berdiri dari kursi, dia tersenyum dan menatap para pria elit berbagai usia.


"Selamat pagi semua" sapa Clara dengan suara yang sedikit lantang, namun tetap saja terdengar keraguan didalamnya


"Selamat pagi" sapa mereka semua namun tetap dengan pandangan mata yang begitu tajam, mereka hanya menunduk saat Edward menatap mereka dengan tatapan mata yang mengancam


"Seperti pertemuan sebelum nya, saya tetap menegaskan jika perusahaan akan tetap berjalan dengan baik meski tuan Kenzo tidak ada disini" ucap Clara


"Bagaimana mungkin nona, jika terjadi sesuatu apa anda bisa bertanggung jawab seperti dia. Modal diperusahaan ini tidak main main, dan kami tidak ingin mengambil resiko untuk itu" ucap seorang pria paruh baya


"Benar nona, apa anda bisa bertanggung jawab dengan semua masalah yang menimpa?" kata orang yang lain


Clara terlihat memejamkan mata nya sejenak, belum apa apa tapi suasana sudah semakin memanas saja. Edward dan Rebecca tidak bisa membantu, karena mereka hanya bawahan disana


"Saya yang akan bertanggung jawab!" seru seorang pria paruh baya yang masih terlihat begitu gagah baru masuk kedalam ruangan itu. Semua mata langsung menoleh kearah nya.


"Daddy" gumam Clara dengan mata yang melebar sempurna