
Setelah beberapa jam melanjutkan perjalanan mengintari bagian dalam Dungeon, Reus dan Dunk mengalami kenaikan level yang cukup banyak dan cepat jika dilihat dari besaran levelnya saat ini—terutama Dunk. Selain mendapat kenaikan level Reus juga berhasil mendapatkan banyak drop item yang cukup laku di pasar para alkemis Orbis Online.
---
Bone Powder
Material yang dapat menjadi bahan alkemis bagi mereka yang memiliki skill Alchemy
---
Undead Blood
Material yang dapat menjadi bahan alkemis bagi mereka yang memiliki skill Alchemy
Meminum satu teguk akan memberikan +2% All Status bagi ras Undead untuk satu menit, meminum satu teguk akan memberikan -25% HP
---
Zombie's Nail
Material yang dapat menjadi bahan alkemis bagi mereka yang memiliki skill Alchemy
---
Zombie's Eye
Material yang dapat menjadi bahan alkemis bagi mereka yang memiliki skill Alchemy
---
Sebenarnya Reus tak ingin menjual bahan-bahan ini dikarenakan dirinya memiliki skill Alchemy, namun untuk sekarang ia belum bisa membuat Potion-Potion yang berbahan seperti ini. Selain levelnya belum cukup, jenis Potion yang bisa dibuat dari bahan-bahan ini juga ia tidak tahu.
Maka dari itu ia memilih untuk menjual bahan-bahan ini.
Sayangnya meski Reus mendapat banyak drop item yang bisa ia jual kepada para pemain berkelas Alchemist di luar sana, ia tidak mendapatkan drop item yang berguna bagi dirinya sedikitpun. Ironi sekali.
"Dunk, bagaimana kau bisa dikerumuni oleh Zombie Knight sewaktu kita bertemu?"
"Ah, itu karena aku sedang berlatih menggunakan Pyro Arts-ku."
Catatan : Magic Arts dari Elemental Rune yang didapat Dunk diganti menjadi Pyro Arts karena authornya lupa ngedit (sebenarnya gak diedit, cuma lupa + spontan kasih nama padahal udah ditetapkan namanya Pyro Arts sejak lama)
Sambil mengatakan itu, Dunk mengangkat tangan kirinya yang secara tiba-tiba terbakar tanpa alasan yang jelas. Reus hampir saja melompat karena terkejut dengan api yang muncul tiba-tiba di tangan Dunk, namun ia pikir hal tersebut wajar mengingat yang dimiliki Dunk adalah Elemental Rune jenis api.
"Bagaimana rasanya? Apa kau bisa memanipulasi api itu dengan bebas tanpa tergantung skill?"
"Tidak, aku belum bisa. Menurut keterangan memakai Elemental Rune, untuk memanipulasi elemennya setidaknya level Pyro Arts harus mencapai 2-1."
'Bukankah itu jauh sekali?'
Reus menghela nafasnya sembari menjatuhkan bahunya mengetahui jawaban yang mengecewakan dari Dunk. Walaupun memang pemain bisa memanipulasi kekuatan elemen dari Elemental Rune, untuk mencapai level tersebut dibutuhkan waktu yang tidaklah sebentar. Lihat saja kenyataan dari skill Alchemy milik Reus yang sering ia gunakan bahkan baru-baru saja naik level ke 2-1.
Tidak mau memikirkannya lebih lama lagi, Reus bangkit berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menyusuri lorong Dungeon. Dunk yang melihat itu juga berdiri dan mengikuti Reus dengan ekspresi riang.
"Baiklah, kurasa istirahatnya sudah cukup. Ayo kita jalan dan cari monster mob yang lebih kuat."
"Baik, Suhu!"
***
Sudah kira-kira empat jam mereka menyusuri lorong Dungeon ini sambil membabat habis setiap Undead yang mereka temui, akhirnya mereka menemukan sebuah pintu gerbang besar yang nampak menyeramkan. Reus menduga kalau pintu gerbang ini adalah ruangan Dungeon Boss, mengingat dalam game RPG mainstream pola seperti ini sering kali ditemukan.
Saat ini kedua pemain tersebut sedang berdiri di depan pintu gerbang itu seperti hendak memasukinya tetapi tidak berani. Bukannya mereka tidak berani memasukinya, hanya saja Dungeon Boss itu biasanya sangat kuat dan statusnya sendiri melebihi level yang dimiliki. Itu cukup curang dalam berbagai hal.
"Aku siap kapan saja, Suhu!"
Reus hanya bisa tersenyum masam mendapati respon cepat dari Dunk si otak otot. Bagaimanapun juga, cepat atau lambat ia akan memasuki ruangan yang diduga adalah ruangan Dungeon Boss ini karena misinya yang mengharuskan dirinya membasmi sesosok monster misterius yang tak dikenal di hutan bagian barat Bayfrost.
Meskipun ia tidak tahu apakah Dungeon Boss ini adalah monster misterius yang dimaksud Quest khusus pengambilan hak Special-Class-nya, tapi setidaknya ia tahu kalau monster di dalam ini dapat membuatnya menyelesaikan Quest yang diberikan dari wali kota Bayfrost. Mendapat Reward berupa pedang dan cincin itu lumayan berguna, setidaknya jika tidak begitu berguna maka ia bisa menjualnya sebagai barang langka.
Sebelum memutuskan untuk memasuki ruangan Dungeon Boss ini, Reus duduk dan memeriksa isi Inventory-nya terlebih dahulu. HP Potion I-nya masih di atas angka 200-an, sementara HP Potion II-nya berjumlah di bawah 50. Untuknya yang sudah berlevel cukup tinggi, HP Potion II akan sangat dibutuhkan daripada HP Potion I karena jumlah HP-nya sudah meningkat drastis semenjak ia baru memulai petualangannya di dunia virtual ini.
Selain HP Potion, ia juga memeriksa jumlah Energy Potion, Poison, Stun Potion, serta Vigor Potion. Semuanya berada di angka yang aman untuk menghadapi Dungeon Boss tanpa terkecuali. Sebelumnya Reus sudah membeli banyak Vigor Potion I dan sejumlah Vigor Potion II untuk berjaga-jaga jika dirinya berhasil menemukan ruangan Dungeon Boss.
Uang yang ia miliki memang sudah terbilang cukup banyak, namun ketika menghabiskannya dengan membeli Vigor Potion I dan II, air matanya mulai menetes sedikit demi sedikit sambil bergumam 'ironis sekali, menghamburkan uang jauh lebih mudah dibanding mendapatkannya', sementara Dunk berpura-pura tidak melihat hal tersebut.
Setelah Reus selesai memeriksa isi Inventory-nya, ia memutuskan untuk membuka pintu gerbang ini dan menghadapi apa yang ada di dalamnya. Dunk langsung menyetujui pendapat Reus dengan semangat dalam sekejap—mengingat ia memang otak otot.
Layar mufakat telah dibentangkan, Reus dan Dunk pun mendorong pintu gerbang tersebut bersama-sama hingga terbuka.
Begitu pintu gerbang terbuka, tidak ada apa-apa yang bisa dilihat di ruangan itu. Mengapa? Itu karena tidak adanya pencahayaan sedikitpun yang mencapai retina mata mereka dari sana. Selain itu, tak ada satupun dari mereka yang memiliki skill Night Vision atau semacamnya yang bisa melihat dalam kegelapan dengan jelas.
"Torch."
Ketika satu patah kata itu diucapkan, tangan kiri Dunk mengeluarkan api dan membentuk sebuah obor yang seluruhnya terbuat dari api. Itu adalah salah satu skill khusus pengguna Elemental Rune jenis api yang memiliki kemampuan penerangan yang jauh lebih terang dibandingkan api biasa. Berkat itu pula ruangan yang Reus duga sebagai ruangan Dungeon Boss ini mulai terlihat cukup jelas.
Mereka melangkah maju memuaskan rasa penasaran mereka tentang ruangan ini—terutama Reus yang terlihat sangat teliti dan sekesama memperhatikan setiap sudut ruangan.
Tidak ada yang istimewa dari ruangan ini kecuali sebuah kursi yang terbuat dari batu kosong yang terdapat di ujung ruangan di hadapan mereka. Selain kursi tersebut yang mengisi ruangan ini hanyalah puing-puing bebatuan yang mungkin saja berasal dari langit-langit yang lapuk dan mulai runtuh secara perlahan.
"Kelihatannya ruangan ini hanyalah ruangan kosong yang benar-benar kosong."
"Tapi, bukankah ini sedikit aneh, Suhu? Bukankah kuil seharusnya tidak memiliki singgasana seperti itu?"
"Kuil ini adalah reruntuan kuno, tak heran jika budaya kuno dan budaya abad pertengahan terdapat perbedaan yang signifikan."
Dunk hanya mengangguk pelan mendengar pendapat Reus. Meski Reus terdengar membantah mentah-mentah kecurigaan Dunk, ia mencoba memeriksa nama tempat ini sekali lagi agar dapat dipastikan bahwa mereka benar-benar masih berada di dalam Ambora Temple.
---
Chaos Lair
Sarang utama dari monster ras Chaos yang jarang terlihat di dunia.
Level : 130
---
"Apa-apaan?!"
Seketika itu juga Reus menjerit sekuat tenaga tidak bisa mengatasi rasa keterkejutannya. Bagaimana tidak? Sebelumnya mereka masih melawan gerombolan Undead di luar ruangan ini dan berada di dalam Dungeon Ambora Temple, namun sekarang mereka memasuki Dungeon baru bernama Chaos Lair yang berlevel 130-an? Itu hal yang sangat fatal dan mengerikan!
"Oi Dunk, kita harus cepat-cepat keluar dari ruangan ini! Ruangan ini levelnya terlalu tinggi untuk kita sekarang!"
"Benarkah?"
"Jangan terlihat sok tenang begitu, otak otot sialan!"
Reus yang sangat panik itu segera mencengkeram kerah baju Dunk dan berlari secepat mungkin keluar dari ruangan sambil menyeret anggota party-nya ini. Namun sesampainya mereka di luar ruangan, semuanya berubah.
Tidak ada monster mob Undead lagi, yang ada hanyalah beberapa makhluk humanoid bertanduk di kepala, memiliki sebuah ekor di atas pinggang, berkulit gelap keunguan, kemudian membawa tombak jenis trisula sedang berjalan-jalan di sekitar.
Melihat hal ini Reus hanya bisa terdiam tidak bisa bergerak sama sekali berkat keterkejutan yang sama sekali tak diharapkan.
"Mampus kita."