
Sudah tiga jam lamanya semenjak kedatangan Reus di desa Viredeta menggunakan Viredeta Teleport Scroll. Selama itu pula Reus mengendap-endap ke sana kemari memeriksa tiap-tiap bangunan yang kira-kira mencurigakan menurutnya.
Hasil dari pengamatannya selama ini dapat dipastikan kalau dugaan para pemain tentang desa Viredeta itu memang benar. Sejauh ini Reus telah melihat beberapa Troll, Goblin, Hobgoblin, Werewolf, Wolf, Colossal Wolf, Orc, dan Skeleton berlalu-lalang di jalan-jalan desa.
Berbeda dari Wolf biasa, Colossal Wolf memiliki ukuran tiga kali lebih besar dan level paling rendahnya sekitar 40-an. Karena levelnya berbeda jauh dari Wolf biasa, statusnya juga lebih tinggi sehingga kekuatannya jauh melebihi Wolf biasa.
Biasanya monster mob ini menjadi tunggangan para Orc, Hobgoblin, Ogre, atau jenis-jenis monster yang memiliki kecerdasan tinggi lainnya. Reus juga melihat beberapa Colossal Wolf sedang dinaiki oleh sosok-sosok Orc.
Dari hal tersebut Reus menyimpulkan kalau dalam pasukan monster ini terdapat monster yang menggunakan kelas Tamer—kelas tingkat Silver-Class yang merupakan salah satu kelas lanjutan dari Hunter dan sejenisnya.
Kelas Tamer sendiri adalah kelas yang mampu menjinakkan monster mob tertentu sehingga bisa ditarik menjadi peliharaan, tunggangan, atau bahkan kawan. Pemain berkelas Tamer dapat menaklukkan monster mob sebanyak yang ia bisa dan membuat perjanjian dengan monster-monsternya, lalu menggunakan mereka sebagai pasukan dalam pertarungan.
Berbeda dari Summoner yang bisa memanggil makhluk dari dimensi lain sebagai bawahannya, Tamer harus menjinakkan, membuat perjanjian, mengembangkan, dan memelihara makhluk yang telah berhasil ia jinakkan persis seperti memelihara hewan asli di dunia nyata.
Kembali ke topik.
Saat ini Reus sedang berada di salah satu atap rumah yang terdapat pada desa Viredeta. Ia tengah melihat ke arah satu-satunya peternakan di desa tersebut yang dijaga puluhan monster mob dengan penuh konsentrasi beserta ekspresi yang menampakkan kemurkaannya.
Di tengah peternakan itu berkumpullah NPC-NPC manusia yang diperlakukan seperti hewan oleh para monster. Mereka disuruh makan rumput atau makan makanan bekas, lalu untuk air minumnya diambil dari air seni para monster.
Perlu diketahui, bagi NPC urine dan sisa metabolisme lainnya tidak dinetralisirkan. Sistem netralisir urine hanya diberlakukan untuk pemain yang sadar kalau Orbis Online hanyalah dunia virtual.
Untuk para penduduk asli desa Viredeta yang sedang berada di dalam peternakan tersebut mau tidak mau harus meminum air seni dari para monster agar bisa bertahan hidup. Hal itu tentu sangat tidak sesuai dengan hak hidup seorang manusia sehingga membuat Reus benar-benar naik emosinya.
Ia tidak peduli lagi dengan sisa Byl yang ia miliki, lalu membeli sebuah Item perekam video bernama Video Recorder dari Orbis Forum yang kira-kira seharga 10.000 Byl. Tentu setelah membelinya Reus langsung merekam semua kejadian yang bisa ia rekam dari atap rumah tempatnya berdiam diri sekarang.
'Monster-monster berengsek. Ah tidak, maksudku pengembang berengsek.'
Reus mengatai para tim pengembang Orbis Online yang membuat Event Monstrous Invasion sampai semengerikan ini. Meksipun hanya sebuah game, tetap saja hal ini terlalu realistis bagi seorang pemain seperti dirinya.
Kejadian yang ia lihat sekarang ini bukan lagi perbudakan, tapi sudah pantas dikatakan peternakan manusia yang bahkan tak layak disandingkan dengan peternakan hewan biasanya di dunia nyata.
Reus ingin sekali turun dan menebas semua monster yang berada di sekitar peternakan, namun ia ingat misinya sekarang adalah mengintai bukan membantai. Peluang kesuksesan penyerangan pasukan Raid bergantung pada dirinya, ia tidak bisa melepas tanggung jawabnya hanya karena sebuah dorongan egoisnya sendiri.
Ia hanya bisa diam menonton sembari terus merekam kejadian di peternakan sambil berusaha meredam kemarahannya.
Selang lima menit, Video Recorder yang Reus gunakan untuk merekam mengeluarkan suara kecil yang menandakan bahwa Item tersebut sudah mencapai batasnya. Video Recorder yang Reus beli ini termasuk Item Low-Equip sehingga durasi rekamnya hanya sebatas lima menit saja.
Begitu masa rekamnya habis, Reus mengirimnya kepada Dalon yang ada di perkemahan pasukan Raid yang berjarak kira-kira satu kilometer jauhnya dari desa bersama sebuah pesan berisi informasi tentang jenis-jenis monster dalam desa ini.
Ia tidak begitu tahu jumlah pastinya, namun ada informasi dari tim pengintai sebelumnya terdapat kurang lebih 10.000 monster mob berlevel 30 ke bawah, sedangkan masih ada kira-kira 5.000 monster dengan level 30 ke atas. Hal ini juga ditayangkan di Orbis News sehingga banyak pemain yang mengetahuinya.
'Sudah tiga jam aku mengintai tempat ini, jadi sudah saatnya aku kembali.'
Menggumamkan itu dalam hatinya, Reus mengambil Checkpoint Teleport Scroll dari Inventory-nya. Namun anehnya, ketika ia hendak mengaktifkan Item tersebut dirinya tidak bisa berpindah tempat seperti saat ia datang ke tempat ini menggunakan Viredeta Teleport Scroll. Reus tetap berada di atap rumah yang sejak tadi ia tempati.
"K-kenapa tidak aktif?"
Reus merasa kebingungan mengetahui Checkpoint Teleport Scroll yang ia pegang tak mau aktif meski sudah diaktifkan. Ia memejamkan mata menyentuhkan jari telunjuk kanannya pada dahi kemudian mengingat-ingat kembali apa yang kira-kira terjadi pada Item ini sampai tidak bisa aktif.
Selang beberapa detik, Reus menemukan jawaban dari permasalaahan tersebut. Ternyata jawabannya hanyalah sebuah kegiatan sederhana yang dilupakan oleh Reus.
Menyadari hal itu, Reus hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil melepaskan senyuman masam mengingat betapa bodoh dan pelupanya dirinya ini. Namun, itu tak berlangsung lama.
Sebuah suara ricuh terdengar oleh Reus dari arah pusat desa. Dengan langkah ringan dan hati-hatinya, Reus pun segera bergerak secepat mungkin tanpa menimbulkan banyak suara langkah menuju pusat desa untuk memastikan apa yang menyebabkan suara ricuh itu.
Sesampainya di sana, Reus dapat melihat Goblin, Hobgolin, Orc, Werewolf, Troll, Colossal Wolf, dan Wolf tengah berkumpul di alun-alun desa yang terdapat air mancur sebagai pusatnya. Ia hanya mengamati dari atap sebuah rumah secara diam-diam agar tidak ketahuan.
"Saudara-saudara monsterku sekalian! Hari ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu sejak lama!"
Suara keras tersebut berasal dari seorang Orc berpenampilan kulit ungu kehitaman tebal, berwajah sedikit buruk rupa, hidung yang dua lubang besarnya menghadap depan, sepasang telinga yang sedikit lancip, mengenakan zirah campuran kulit dan besi pada bagian badan serta kakinya, serta sebuah pedang besar dua tangan yang bergantung di punggungnya.
Reus memejamkan matanya dan mengerahkan seluruh konsentrasinya kepada telinganya agar dapat mendengar suara Orc itu lebih jelas lagi.
"Sudah sekian lama kepala kita selalu diburu oleh para warga kerajaan di benua ini untuk ditukarkan menjadi sekantong uang! Hari ini kita akan membalasnya!"
Seruan lantang dari monster-monster mob lainnya menyambut pernyataan dari Orc yang berdiri di dekat air mancur tersebut. Seruan-seruan itu kelihatannya adalah tanggapan persetujuan dan semangat yang membara. Reus terlihat khawatir mendengar ini.
"Aku—Raevolg—pemimpin serangan pada Livetuna yang ditunjuk oleh tuan Maen'ra, akan memimpin kita semua menuju kemenangan!!"
""Woooo!!""
Sorakan penuh kobaran semangat dari kumpulan monster-monster di pusat desa menggetarkan tanah dan udara.
Reus yang mendengarnya dari jarak kurang lebih 50 meter itu menjadi waswas, namun ia segera mengirimkan informasi terbaru yang ia dengar langsung dari pemimpin dari para monster kepada Dalon. Mengingat Reus tidak bisa memakai Checkpoint Teleport Scroll karena kecerobohan dirinya sendiri, ia tak ingin mati di tempat ini.
Setelah merasa informasinya cukup, Reus melompat-lompat dari atap rumah ke atap rumah dengan sangat hati-hati sambil memperhatikan sekitarnya. Tidak ada pilihan lain baginya untuk kembali dengan cara sederhana ini karena tidak ada cara lain.
"Penyusup!!"
Ketika sedang melompati atap rumah demi atap rumah, Reus dapat mendengar seruan dari arah jam satunya. Di sana terlihat sebuah menara pengawas yang di dalamnya terdapat tiga Goblin bersenjatakan busur dan anak panah.
Melihat ini tentu Reus langsung mempercepat dan memperkuat lari serta lompatannya tanpa mempedulikan suara langkah yang diakibatkan dari tapak kakinya. Meski begitu, sambil berlari ia berusaha untuk mengirimkan pesan pada Dalon yang berisi 'sebentar lagi penyerangan'.
Memang Reus memakai Equip yang membuat dirinya terlihat seperti Goblin, tapi apakah ada Goblin yang berlari secepat Reus di atas atap rumah yang bahkan merupakan markasnya sendiri? Tidak, kan?
Para Goblin dari menara pengawas tersebut meluncurkan anak panahnya menargetkan Reus yang tengah berlari secepat mungkin. Satu dari tiga anak panah berhasil mengenai bahu Reus, tapi yang menjadi target seakan tidak peduli dan terus berlari menuju gerbang keluar.
'Sakit!! Terkena anak panah itu sesakit ini, ya!?'
Walau terlihat tak peduli, dalam hatinya Reus menjerit kesakitan sekuat tenaga. Alasan mengapa ia tidak mengeluarkan suaranya karena hal itu hanya akan mengumbar posisi sekaligus membuyarkan konsentrasinya sekarang.
Ketika ia sudah mendekati gerbang keluar, tanpa diduga-duga terlihatlah belasan Orc dengan kapak dua tangan raksasanya masing-masing berbaris menutup satu-satunya jalan keluar bagi Reus. Hal ini membuat Reus secara otomatis menghentikan langkahnya karena ia tak bisa berpikir jalan keluar lainnya.
'Sial, aku benar-benar jatuh tertimpa tangga!'
Menjerit dalam hati, Reus menarik Blackstar dari punggungnya dan juga anak panah yang bersarang di pundak kanannya. Tidak ada jalan keluar lain baginya saat ini. Hanya ada satu jalan keluar, namun itu sudah dihadang oleh belasan Orc berlevel sekitar 40-an ke atas.
"Kalau begini hanya ada satu pilihan! Buat jalan keluar sendiri!"
Sambil menyerukan itu, Reus berlari menerjang Orc-Orc yang berbaris menghadang jalan keluarnya. Meskipun dari segi level serta kuantitas dirinya kalah jauh, sebelum dicoba takkan ada yang tahu pasti hasilnya nanti.