Orbis Online

Orbis Online
70. Kuil Ambora



   "Ambora Temple?"


Ketika menyusuri hutan lebih dalam, Reus menemukan sebuah bangunan dari batuan yang nampak sangat tua dan dipenuhi tanaman-tanaman rambat. Ia bisa melihat nama tempat ini dari panel semi transparan yang baru saja muncul di hadapannya.


---


Ambora Temple


Kuil Ambora yang telah runtuh sejak ratusan tahun lalu yang sekarang dikuasai oleh berbagai Undead


Level : 70


---


Reus tersenyum kecut mendapati level minimal Dungeon satu ini. Meskipun ia mampu berurusan dengan pemain berlevel 80-an di levelnya sekarang sekalipun, ia takkan bisa bertahan melawan banyak monster mob berlevel 70 ke atas sekaligus.


Yah, ia sudah mendapatkan titel Undead Hunter yang membuat damage-nya meningkat sebanyak 10% ketika melawan Undead, tapi itu bukanlah jaminan keselamatan. Dengan banyak pertimbangan Reus duduk di dekat gerbang masuk kuil tersebut.


Ia tidak berniat menjual Potion yang ia buat sebelumnya, tetapi ia lebih memilih untuk menjual Equip-Equip yang ia dapat sebagai drop item dari para Kobold dan Undead sebelumnya. Walaupun Reus orang yang bermata duitan, ia masih bisa memilah mana Equip yang berguna untuk dirinya di situasi ini.


---


Undead's Heart


Memakannya akan meningkatkan status sebanyak 15% dengan menukarkan 5% HP selama 1 menit ketika melawan ras Undead


---


Skeleton Mask


Sebuah topeng yang membuat pengguna terlihat seperti Skeleton


Def : 20


---


Hanya Undead's Heart dan Skeleton Mask saja yang ia anggap bisa membantu dirinya dalam perjalanan di dalam Ambora Temple ini. Reus mengambil Skeleton Mask yang berbentuk topeng tengkorak dan mengenakannya.


Seperti halnya ia menyusup di desa Viredeta yang dipenuhi monster, Reus memakai beberapa Equip Goblin yang bisa menyamarkan dan membuat dirinya tidak diketahui oleh para monster sampai akhirnya terlalu lengah saat ingin kembali ke perkemahan. Kali ini ia juga berharap dirinya akan dikira Undead layaknya monster mob lain meski hanya topeng saja yang ia miliki.


Setelah persiapannya selesai, Reus segera pergi memasuki kuil yang telah runtuh di depannya.


   "{Anda memasuki Dungeon!}"


Meskipun disebut kuil, Ambora Temple ini adalah salah satu Dungeon yang terdapat di dunia Orbis Online. Dungeon di dalam game diartikan tempat tertutup yang dipenuhi monster atau musuh. Karena dipenuhi monster banyak pemain-pemain yang berniat menjelajah dan berburu di dalam Dungeon.


Selain karena banyaknya monster serta kemungkinan-kemungkinan drop item bagus dan exp yang cukup besar, terkadang Dungeon mempunyai suatu harta tersembunyi di beberapa tempat. Hal ini mendorong banyak pemain untuk menyusuri Dungeon agar mendapatkan harta-harta tersembunyi di dalamnya.


Pernyataan tersebut telah terbukti dari banyaknya pemain yang mendapatkan keuntungan dari menjual Equip langka yang mereka temui di dalam Dungeon. Sayangnya Orbis Online tidak menyediakan sistem spawn untuk barang-barang yang ada di Dungeon. Harta yang telah ditemukan dan diambil dari dalam Dungeon akan tetap hilang dan takkan bisa hadir kembali untuk kedua kalinya.


Pemain yang berdedikasikan dirinya pada penjelajahan dan perburuan Dungeon disebut Dungeon Hunter. Mereka tidak berjumlah banyak karena tak adanya sistem spawn pada Item di dalam game.


Reus sendiri memasuki Dungeon Ambora Temple ini bukanlah bermaksud untuk mencari dan mendapatkan harta atau Item langka yang bisa dijual, ia memfokuskan dirinya pada Quest yang ia terima agar mendapatkan Special-Class Neckalce. Setelah menyelesaikan Quest ini barulah Reus mulai berburu harta Dungeon.


***


Denkleit Guhrman, seorang tampan yang disegani banyak pria dan dikagumi oleh sejumlah besar wanita. Di dunia nyata ia merupakan aktor lokal yang cukup ternama dan handal dalam dunia perfilman. Aktingnya sangat hebat dan beberapa adegan-adegan aksi yang mana dilakukan dalam filmnya tidak digantikan oleh stuntman itu membuat hampir seluruh wanita terbius oleh dirinya.


Tubuhnya terlihat sangat atletis dan macho dari semua persepsi orang, itu bisa dilihat hanya dalam sekali pandang fisiknya. Selain tampan dan atletis, Denkleit juga memiliki kehebatan di bidang seni beladiri. Ia pernah beberapa kali menjuarai kejuaraan nasional negaranya, namun ia memilih untuk beralih ke dunia hiburan dan meninggalkan bakat bela dirinya.


Selang beberapa tahun menekuni bidang hiburan menggunakan kemampuan akting luar biasanya yang disertai adegan-adegan aksi dalam film yang ia mainkan, Denkleit mulai merasa hidupnya tidaklah lengkap tanpa kemampuan bela dirinya. Dengan kata lain tubuhnya merindukan sebuah pertarungan yang mengandalkan gerakan tubuh.


Di sela-sela pekerjaannya Denkleit melatih kembali tubuh dan teknik-teknik bela diri yang sudah lama ia tinggalkan. Sayangnya karena telah ditinggal terlalu lama, ia tidak bisa mengembalikan teknik-teknik dan gerakan bela diri yang pernah ia kuasai dulu. Menyesal telah meninggalkan panggilan jalan hidupnya, Denkleit merasa tertekan dan stres berat sehingga peformanya dalam pekerjaan menurun drastis sampai harus diberi waktu libur yang panjang oleh managernya.


Denkleit sadar atas alasan dirinya diliburkan paksa oleh managernya, jadi ia memutuskan untuk beristirahat dari dunia hiburan selama beberapa bulan dan mulai giat melatih tubuhnya kembali agar bisa menguasai teknik dan gerakan bela diri yang sempat ia kuasai dulu.


Di tengah perjalanan itu ia merasa putus asa begitu mendengar salah seorang ahli bela diri menyebutnya 'Juara yang Gagal' setelah mengalahkannya enam kali berturut-turut. Lawan Denkleit bukanlah sembarang orang, ia adalah lawan langganan Denkleit di saat final ataupun semi final turnamen bela diri nasional.


Tentu saja sebagai mantan juara harga dirinya hancur berkeping-keping saat dikalahkan lawan yang dahulu ia kalahkan banyak kali secara beruntun. Ia benar-benar merasa terpukul dan putus asa karena kejadian tersebut.


Di saat dirinya larut dalam keputusasaan, salah seorang temannya memperkenalkan sebuah game virtual-reality yang beberapa bulan ini tengah naik daun. Awalnya Denkleit tidak begitu tertarik dengan game yang dimaksud, namun ketika mendengar dirinya bisa menjadi kuat hingga tak terkalahkan di dunia itu Denkleit merasa kembali bersemangat.


Ia segera membeli perlengkapan yang diperlukan untuk bermain game tersebut walau harganya agak mahal—bagi orang awam tentunya. Untuk aktor sukses seperti dirinya merogoh uang puluhan juta rupiah dalam seminggu atau beberapa hari itu termasuk pengeluaran yang wajar.


Orbis Online merupakan game yang sekarang tengah dimainkan oleh Denkleit dengan semangat membara. Ia memilih kelas Martial Artist dan ras Elf sebagai avatar yang ia mainkan di dalam Orbis Online. Kemampuannya dalam bertarung tangan kosong dan ketampanannya dengan cepat mendorong kepopuleran dirinya di dalam dunia virtual tersebut sehingga beberapa Legion kelas atas mulai meliriknya.


Selain keterampilannya di bidang bertarung tangan kosong, ketampanan yang dapat membuat para wanita terlena, serta kepopulerannya yang sedang memuncak di Orbis Online, Dunk—nama Denkleit di Orbis Online—juga berhasil mendapatkan salah satu Item yang pemain-pemain Orbis Online dambakan.


Dunk berhasil mendapatkan sebuah Elemental Rune yang mampu membuatnya bisa mempelajari skill Magic Arts yang memungkinkan dirinya menggunakan sihir. Ketika mendapat Item ini dan digunakan, Dunk sangat senang karena merasa dirinya telah menjadi pemain terkuat di dunia Orbis Online dan mulai menantang para pemain-pemain top.


Tentu saja hal ini ditanggapi oleh hampir seluruh pemain top Orbis Online dengan cara berduel dan membunuh avatar Dunk tanpa ampun di depan banyak orang. Anggap saja semua Hundred Best Player menghajarnya hingga turun sampai dua level per orangnya. Seratus dikali dua? Dari tantangan atas kesombongan dirinya itu Denkleit kehilangan setidaknya 180 level.


Karena hal itu Dunk kembali terpuruk dan marah atas kesombongannya yang tidak bisa ia ubah selama bertahun-tahun ini, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Oleh karena itu Dunk pergi ke sebuah tempat di mana dirinya bisa sendirian sambil menghabiskan waktu untuk berburu demi meningkatkan level dan kemampuannya.


Saat ini Dunk tengah berhadapan dengan sepasang Zombie Knight berlevel 80-an. Bagi dirinya yang mengulangi level dari awal tanpa me-reset akun, level dan statusnya sekarang tidak mampu digunakan untuk melawan. Selain sudah kehabisan stamina dan HP Potion, HP bar-nya juga sudah menurun drastis dan hanya tinggal 4% poin HP lagi menuju kematian dan penalty.


   "Inferno Roar!"


Sambil berteriak penuh kemarahan, Dunk membuka rahang mulutnya lebar-lebar menghembuskan nafas api besar untuk perlawanan terakhirnya. Sayangnya Zombie Knight ini memiliki Fire Resistance yang membuat Elemental Rune berelemenkan apinya tidak begitu efektif.


  "Hah... hah... hanya sampai sini, kah, perjuanganku hari ini?"


Dunk berusaha mengatur nafasnya, namun ia tidak bisa dikarenakan ketakutan dan trauma yang ia alami sejak pembantaian dirinya oleh Hundred Best Player. Berkat stamina dan traumanya yang berkecamuk di dalam hatinya, Dunk hanya bisa pasrah akan takdir kematian sekali lagi begitu melihat salah satu Zombie Knight tersebut bersiap menebasnya.


Namun sayang sekali, malaikat mautnya kali ini tidak datang menjemputnya.


Sesosok pemain berambut perak mengkilap dengan pedang hitam kelam datang menahan serangan Zombie Knight itu dan mengerahkan beberapa serangan cepat nan kuat kepada dua Undead di hadapannya. Tak sampai lima detik kedua Undead tersebut sudah jatuh tak bisa bergerak di atas tanah.


Melihat aksi yang baru saja terjadi di depan matanya, Dunk tidak percaya kematian tidak datang menjemputnya kali ini.


   "Hei, kau tak apa-apa?"


Saat disibukkan dengan pikiran tak karuannya mengenai kejadian barusan, Dunk disadarkan dari lamunannya berkat suara penolong berambut perangnya tersebut. Sesosok laki-laki yang sangat terang, bercahaya, dan suci, itulah yang dilihat oleh Dunk.