
Dahi Reus mengerut memandangi pria sepuh yang baru saja melantangkan suaranya begitu keras. Seiring suara tersebut menyebar, seluruh prajurit yang mendengarnya menurunkan senjata. Mereka menduk sebelum melangkah mundur.
Reus menurunkan pedangnya agar tidak terlihat terlalu mengancam, dia meminta Crystina serta dua orang lain di belakangnya juga melakukan hal serupa. Ketiganya sempat protes namun tidak berani melawan.
Setelah suasana cukup mereda, Reus mengalihkan pandangannya kepada pria sepuh berjarak sekitar 10 meter di depannya itu.
"Mungkinkah kau adalah raja negeri ini?"
"Lancang sekali pemuda ini! Biar kupotong lidahnya dulu sebelum bicara lebih jauh!"
Salah seorang dari enam penjaga spontan maju membawa senjata berupa kapak besarnya. Ekspresinya akan terlihat begitu murka jika bukan karena pelindung kepalanya yang juga melindungi wajahnya.
"Prajurit, kembali ke tempatmu sekarang!"
Sang pria sepuh kembali berseru hendak menghentikan prajurit tersebut namun sayang, perkataannya tidak diidahkan oleh sang prajurit.
"Rajaku, mereka hanya empat orang! Jika hanya memotong lidah satu orang maka itu bukanlah pekerjaan sulit!"
Prajurit itu mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi ke atas berniat membelah Reus menjadi dua bagian tetapi sebelum dia berhasil melakukannya, kapak raksasa miliknya berhenti di udara membuat matanya terbelalak hebat.
Di sisi lain Reus menghela nafas dan mengangkat suaranya.
"Aku saja yang seorang kriminal di negeri ini sudah menurunkan senjata sesuai yang diminta Rajamu, kenapa kau yang merupakan prajuritnya malah tidak mendengarkan perkataannya?"
Reus tidak menunggu prajurit tersebut menjawab, dia langsung mengerahkan Telekinesis untuk menghempaskan prajurit itu kembali ke tempat sebelumnya berdiri, hanya saja kali ini dengan berguling di tanah bukan berjalan.
Prajurit itu mengerang keras sebelum bangkit berdiri hendak menyerang Reus sekali lagi tetapi belum sempat dia melangkah, tangannya tidak lagi menggenggam kapak besar kebanggaannya.
"Ah, kau mencari ini?"
Reus menunjukkan kapak besar milik prajurit itu di tangannya, memainkannya dengan sebelah tangan seolah-olah kapak raksasa tersebut hanya sebatang tongkat kayu yang sedikit panjang di tangannya.
Prajurit tersebut menjadi murka dan ingin menyerang Reus dengan membabi buta tetapi, dua rekannya menghentikan dan menenangkan dirinya agar tidak membuat masalah lebih besar lagi.
Reus tersenyum puas melihat prajurit itu begitu gelisah, dia berhenti memainkan kapak besar di tangannya dan menancapkan kapak tersebut ke tanah, membuat tanah di sekitar mereka bergetar sejenak.
Crystina melebarkan matanya ketika Reus memainkan kapak besar yang harusnya hanya bisa diangkat dengan dua tangan itu sedemikian rupa. Dia ingin bertanya mengenai hal tersebut namun sebelum menanyakan apapun Crystina mengingat skill Telekinesis milik Reus.
'Orang ini menggunakan kekuatan itu untuk menggertak?'
Tidak pernah terlintas di benak Crystina ada orang seperti Reus yang menggunakan Telekinesis untuk menggertak.
"Maafkan anak buahku, dia tidak tahu apa yang dia perbuat."
"Tidak masalah, tindakannya wajar sebagai seorang Elite Knight mengingat aku memang berbuat lancang terhadap rajanya."
Reus tersenyum sinis memandang sang raja, wajahnya sama sekali tak mencerminkan kata-katanya, membuat keenam Elite Knight penjaga yang menemani raja itu murka.
"Jadi, ada masalah apa sampai seorang raja turun ke medan perang seperti ini? Apa karena kami menghabisi terlalu banyak prajuritmu hingga memanggilmu kemari untuk bernegosiasi, Yang Mulia?"
"Cukup!"
Lagi-lagi para penjaga tidak terima dengan perkataan Reus, padahal kenyataannya tidak jauh meleset. Bedanya penjaga ini berbeda dari prajurit sebelumnya.
"Tidak bisakah kalian diam sejenak? Aku sedang berbicara dengan rajamu, apa perlu aku membungkam yang mulutmu?"
Reus yang tidak senang terhadap para prajurit tersebut kemudian mengerahkan Telekinesis-nya pada penjaga yang tak terima itu, menekan zirah besi yang dipakai olehnya. Prajurit itu segera jatuh ke tanah mengerang kesakitan, tak mengerti apa yang diperbuat oleh Reus.
"Pendekar, mohon hentikan. Kurasa dia sudah cukup mengerti dengan kekuatanmu."
Sang raja mengangkat suara ketika melihat salah satu penjaganya begitu kesakitan, padahal seharusnya terdapat jarak yang cukup jauh dari Reus. Tidak mungkin Reus bisa menyerang sejauh itu sebagai seorang pengguna pedang.
Reus menatap raja tersebut selama beberapa saat sebelum melepaskan Telekinesis-nya dari sang prajurit, dia menghela nafas dan kembali memandang sang raja.
"Baik, langsung saja ke intinya. Apa yang ingin kau negosiasikan denganku, Raja?"
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dari negeri ini? Kenapa kau membunuh begitu banyak prajuritku yang hanya menjalankan tugasnya?"
Perkataan raja tersebut mengundang tawa Reus yang tiba-tiba meledak, memicu para penjaga sang raja mengerutkan dahi sekaligus menyiapkan senjata. Di saat yang sama Crystina juga mengangkat senjatanya beserta dua orang lain di belakang Reus.
"Maafkan aku, aku hanya merasa lucu terhadap perkataanmu Raja."
Sang raja mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud ucapan Reus.
"Apa maksudmu?"
"Hmm? Kau tidak mengerti apa yang kubicarakan?"
Reus kembali tersenyum tipis kepada raja merasa lucu, kali ini mengundang dua penjaga lainnya melangkah maju bersama senjata mereka.
"Cukup sampai di sana, pendekar!"
"Kami tidak bisa membiarkan kau menghina Raja kami!"
Reaksi prajurit tersebut berhasil memancing amarah Reus yang cukup jarang tersulut. Dia menghela nafas sejenak sebelum menghempaskan keenam penjaga tersebut cukup jauh menggunakan Telekinesis, membuat raja terbelalak hebat.
"Tidak bisakah kalian diam dan biarkan aku bicara?! Atau kalian memang sudah tidak sayang nyawa?!"
Reus melepaskan Dragon Aura dan Swordmaster Aura ke arah keenam prajurit tersebut bersamaan dengan amarahnya. Sudah cukup lama Reus tidak murka seperti ini.
"Pendekar, mohon tenangkan dirimu! Kami tidak ingin berselisih denganmu lebih jauh dari ini!"
Setelah berkata demikian, sang raja mengeluarkan aura yang tidak kalah kuatnya untuk menekan aura Reus. Pemuda berambut perak tersebut menyipitkan matanya menyadari raja di hadapannya memiliki skill jenis Aura yang langka, belum lagi mampu menekan gabungan Dragon Aura dan Swordmaster Aura miliknya.
Reus memandang raja itu baik-baik selama beberapa saat sebelum menarik kembali kedua auranya, sang raja juga menarik auranya di saat yang sama.
"Baik, cukup basa-basinya. Apa yang kuinginkan hanyalah pedang hitam yang kalian rampas dariku."
"Pedang hitam?"
"Benar, menurut ingatanku pedang tersebut tersimpan dengan aman di ruang harta kerajaan, bukan?"
Kini giliran sang raja yang menyipitkan matanya mendengar perkataan Reus.
"Dari mana kau tahu akan hal itu?"
"Tidak perlu kau pedulikan tentangku. Kembalikan pedangku dan urusanku di negeri ini selesai."
Setelah berkata demikian Reus mengacungkan pedangnya pada sang raja, dia bisa melihat raja tersebut mengetahui pedang miliknya dan tidak bersedia mengembalikannya, mengingat kemampuan Blackstar yang luar biasa.
"Pendekar, adakah permohonan lain selain itu? Kami tidak bisa membiarkan pedang tersebut keluar dimiliki orang lain apalagi seorang individu, terutama seseorang yang begitu berbahaya seperti dirimu."
Reus tersenyum dingin menanggapi perkataan sang raja, kali ini dia mengeluarkan hawa yang tak mengenakkan bagi semua orang.
"Baik, pilihan setiap orang berada di tangan orang itu sendiri, begitupula konsekuensi di balik pilihan tersebut."
Tidak ingin membuang terlalu banyak waktu, Reus melepaskan Dragon Aura dan Swordmaster Aura kepada pria sepuh itu sekaligus menariknya menggunakan Telekinesis.
Sang raja terkejut terhadap tindakan Reus, dia hendak melawan balik menggunakan aura yang dia miliki namun belum sempat raja mengeluarkan auranya, tubuhnya lebih dulu tertarik ke arah Reus. Lebih tepatnya menuju pucuk Dragon Slayer Sword yang kini menembus dadanya.
Beberapa detik kemudian suara feminim sistem terdengar di kepalanya.
"{Selamat, anda mendapatkan titel The Sovereign Killer.}"
---
Author
Update spesial HUT RI ke-76 \= 5/5 (selesai)