Orbis Online

Orbis Online
212. Toko Delima Hitam



Sebagai ibukota, Dragnar merupakan salah satu kota terbesar dan termegah di seluruh Bailendra Kingdom, bahkan mungkin bisa dibilang juga paling kuat dalam segi pertahanan jika melihat betapa tingginya dinding yang mengelilingi kota. Pelancong tidak akan heran melihat suasana Dragnar juga jauh lebih hidup dibanding kota-kota lain.


Namun, apa yang di depan mereka ini sama sekali tak mencerminkan suasana serupa dengan wilayah lain di Dragnar.


   "Ikshan, apa benar ini tempatnya?"


   "Menurut informasi yang kudapatkan memang inilah tokonya."


   "Kau yakin? Ini sih bukan lagi toko melainkan hanya rumah kosong."


Reus, Ikshan, dan Ibane saling melemparkan pendapat tidak bisa melihat bangunan hitam di hadapan mereka sebagai toko perlengkapan. Itu dikarenakan tidak seperti toko lain yang ramai dikunjungi di berbagai sudut Dragnar, toko ini sama sekali tak kedatangan pengunjung.


Jika bukan karena adanya papan tanda bertuliskan 'buka' di dekat pintu maka mereka akan langsung menyimpulkan informasi yang didapatkan Ikshan salah, tidak terkecuali pria yang mendapatkan informasi ini sendiri.


   "Yah, kesampingkan suasana suram di sekitar sini, nama tokonya memang cocok dengan informasi yang kau dapatkan sih."


   "Toko Delima Hitam? Itu nama yang lebih menjauhkan daripada menarik pelanggan."


Ikshan tersenyum kering mendengar perkataan Reus dan Ibane bergantian, dia tidak bisa mengelak fakta tersebut karena ketika mendengar nama toko ini dari informannya Ikshan juga merasa heran.


Mengapa nama toko senjata dan perlengkapan diambil dari nama buah? Itulah yang ada di pikiran ketiganya saat mendengar nama tersebut.


   "Yah, biarpun terlihat seperti ini setidaknya terdapat beberapa senjata terpampang di balik jendela itu."


Reus menunjuk ke sebuah jendela yang terlihat beberapa senjata seperti pedang, tombak, gada, bahkan tameng dipajang khusus untuk menarik pelanggan melalui kaca, hanya saja tidak ada pelanggan yang bisa ditarik di tempat tak strategis seperti ini.


Hanya orang-orang yang berniat datang kemari seperti Reus dan lainnya yang dapat mengetahui tempat ini.


Setelah melihat beberapa perlengkapan dipamerkan di balik kaca jendela, keraguan Ikshan dan Ibane ikut menghilang kemudian mengikuti Reus dari belakang memasuki toko.


Bel pintu berdering ketika Reus mendorong pintu, namun tak ada orang yang menyambut mereka kecuali keheningan. Hal itu membuat dahi Ibane mengerut hebat.


   "Ikshan, kau yakin ini bukan toko terbelangkai yang tiba-tiba ditinggal oleh pemiliknya?"


   "Sebagai pengumpul informasi aku sendiri tidak begitu yakin setelah melihatnya langsung."


Ikshan menggaruk pipinya merasa ragu sekaligus bersalah, baru kali ini dia melihat ada toko tak berpelanggan seperti ini sehingga dia merasa ragu terhadap informasi yang telah dia peroleh sendiri.


Di sisi lain Reus tidak ikut dalam pembicaraan Ikshan dan Ibane, dia memperhatikan bagian dalam toko dengan seksama merasa ada yang aneh. Pandangannya kemudian terpaku pada satu sisi toko yang segera membuatnya meraih pedang di punggungnya.


Melihat hal itu Ikshan mengambil kuda-kuda, sementara Ibane tersenyum tipis menyaksikan kewaspadaan Reus ternyata lebih tinggi dari dugaannya.


   "Kau menyadarinya, Reus?"


   "Ya, begitulah. Kau sendiri pasti sudah menyadari kita telah diwaspadai sejak masuk ke dalam, bukan?"


Ibane mengangkat bahunya tidak mengucapkan sepatah katapun, tetapi baik Reus maupun Ikshan bisa memahami bahwa kemampuan Ibane secara level maupun pengalaman sudah berada di atas mereka. Itu bisa terlihat dari ketenangan Ibane bahkan setelah mengetahui mereka sedang diwaspadai oleh seseorang.


Namun, Ikshan yang notabenenya adalah seseorang berkelas sejenis Ninja, kelas yang mengandalkan serangan diam-diam dan ahli dalam menyusup sendiri sedikit terkejut mengetahui kewaspadaan Ibane yang tidak normal untuk seorang Summoner atau Tamer, padahal dia saja terlambat satu langkah dari Reus dalam mendeteksi keberadaan orang lain di ruangan ini.


   "Posisimu sudah diketahui dan masih tidak berniat menampakkan diri? Apa kau lebih suka kami mengobrak-abrik tempat ini lebih dulu baru keluar?"


Reus dan Ikshan mengerutkan dahi yang tiba-tiba menyerukan sebuah ultimatum, Reus bahkan hampir melempar pedangnya secara spontan melihat tindakan Ibane. Dia kemari untuk mencari tahu apakah Nocht sungguh berada di tempat ini, bukan untuk mencari perkara.


Beruntung jika itu adalah pemilik toko, jika yang menjawab justru musuh bukankah konflik berdarah akan sulit dihindari? Itulah yang ada di benak Reus.


Tepat saat Reus ingin menanyakan maksud Ibane, sesosok makhluk pendek berambut serta berjanggut lebat keluar dari balik meja konter sambil menggenggam sebuah kapak di tangannya, lengkap dengan wajah garang.


   "Berani kau kacaukan tokoku maka akan kucerai-beraikan isi kepalamu di lantai!"


   "Ah, keluar juga."


Reus menaikkan alis melihat sosok tersebut yang sesuai dengan ciri-ciri Nocht, sementara Ibane tertawa kecil menyaksikan makhluk kerdil itu menggeram seakan menahan diri untuk tidak melempar kapak di tangannya.


Reus sebenarnya ingin mengatakan sesuatu terhadap Ibane terlebih dahulu karena mengundang masalah tak diinginkan, tapi dia memutuskan untuk menenangkan Dwarf berkulit gelap yang membawa kapak tersebut.


   "Maafkan atas kelancangan temanku, dia memang sering mengundang kesalahpahaman karena ucapannya."


   "Huh? Aku pikir fisikku yang terlihat seperti manusia yang sering mengundang kesalahpahaman di negeri ini, apa karena kata-kataku? Seingatku aku tak mengatakan sesuatu yang sering membuat orang lain salah paham. Apa aku memang sering berbuat demikian tanpa sadar, Ikshan?"


   "Entahlah, kita baru bertemu kemarin dan tak sempat mengobrol banyak, tapi kurasa tidak juga."


   "Kalian berdua diam dulu!"


Reus sebenarnya ingin melayangkan sebuah jitakan pada ubun-ubun Ibane, namun mengingat situasinya tidak mendukung dia mengurungkan niat tersebut. Dia kembali memandang sang Dwarf yang kini memasang tampang keheranan.


Reus menggaruk pipinya sejenak merasa canggung sebelum kembali mengangkat suaranya setelah berdeham mencairkan suasana.


   "Sebenarnya aku dan temanku sedang mencari seorang Dwarf yang katanya tinggal di Dragnar, lebih tepatnya Blackmoon Dwarf. Apakah benar anda Blackmoon Dwarf pemilik toko ini?"


Sang Dwarf mengerutkan dahinya mendengar perkataan Reus, dia menaikkan kewaspadaan sambil menyiapkan kapak di tangannya menduga hal ini berkaitan dengan hal yang selalu dia hindari selama beberapa tahun terakhir.


   "Benar, namaku Noire, pemilik toko ini. Apa perlu kalian kemari?"


Noire memasang ekspresi tidak bersahabat dan menebarkan aura ketidaksukaan yang tak kasat mata, sukses membuat Reus tersenyum canggung harus berkata apa untuk meyakinkan Blackmoon Dwarf yang satu ini.


Reus menoleh kepada Ibane memberi sinyal agar dirinya keluar sejenak karena sudah ada kesepakatan di antara keduanya bahwa Ibane harus pergi ketika pembicaraan dimulai mengingat ini adalah misi rahasia dari Aulcrat von Lavore Reinberg, Raja Lavore Kingdom.


Ibane tersenyum kecil sebelum mengangguk pelan memahami maksud Reus dan melangkah keluar ruangan sambil melambaikan tangan.


   "Kalau begitu aku akan berjaga di depan pintu masuk saja."


Setelah Ibane keluar dari ruangan, Reus menghela nafas pelan kemudian menatap Noire dengan serius, membuat Noire mengerutkan dahinya melihat perubahan ekspresi Reus yang tiba-tiba.


   "Aku tidak ingin terlalu banyak berbasa-basi, jadi langsung saja kutanyakan. Apakah anda adalah Nocht Alvarion, Blackmoon Dwarf yang merupakan Penempa Kerajaan ternama di Lavore Kingdom?"