Orbis Online

Orbis Online
72. Party Baru



Pertemuan Reus dan Dunk yang diawali oleh sebuah kesalahpahaman itu telah berkembang menjadi hubungan yang bisa dikatakan cukup aneh. Meski sebenarnya Dunk merupakan pemain yang lebih veteran dibandingkan Reus, level dan statusnya masih jauh dibawah Reus dikarenakan penurunan level oleh penalty kematian.


   "Apa kau bisa berhenti mengikutiku?"


   "Tidak! Aku memutuskan untuk mengikutimu, suhu!"


   'Suhu kepalamu!'


Wajah Reus mengerut begitu mendengar sebutan 'suhu' yang disematkan oleh pemain berras Elf rambut kuning pirang ini. Ia tidak suka dipanggil dengan sebutan yang aneh-aneh oleh orang yang tidak atau belum dikenal baik.


Setelah pertemuan klise antara Reus dan Dunk yang diakibatkan sepasang Zombie Knight, Dunk menganggap Reus sebagai penyelamat dan pelindungnya dengan mata dan kekaguman yang berbinar-binar layaknya bintang kejora di kala senja. Hal itu dikarenakan Reus selalu membantai Undead yang ia lihat, namun Dunk menyalahartikan tindakan Reus sebagai bentuk perlindungan kepada dirinya.


Reus yang diikuti oleh Dunk dari belakang itu mulai merasa resah dan tidak nyaman. Ia bukanlah orang yang suka mencari dan menarik perhatian, ia lebih suka menyendiri bahkan diantara kelompok belajarnya di kelas. Ingin dirinya menyuruh Dunk berhenti menatapnya, hanya saja ia terlalu disibukkan oleh gerombolan Undead berlevel 50-an tanpa dibantu oleh Dunk. Tentu itu membuatnya kesal.


Selagi mengistirahatkan tubuh guna memulihkan staminanya, Reus membuat beberapa HP Potion I yang membuat Dunk semakin tidak bisa melepaskan matanya dari pemain berambut perak mengkilap ini.


   "Suhu, bagaimana caramu mendapatkan kemampuan membuat Potion sementara kemampuan bertarungmu sungguh luar biasa?"


   "Aku hanya mendapatkannya secara tak sengaja. Satu hal lagi, jangan panggil aku suhu."


   "Baik, suhu!"


Terlihat semacam pembuluh darah di pelipis Reus, tapi ia menghela nafas berat demi menjaga keseimbangan emosinya yang memuncak di ubun-ubun. Ia tidak begitu suka dan nyaman terhadap kehadiran Dunk yang selalu memperhatikannya dengan penuh semangat dan mata berbinar-binar.


Sesaat kemudian Reus kembali menghela nafas, kemudian menatap balik Dunk.


   "Kenapa kau mengikutiku? Bukankah kau mempunyai tujuan datang kemari? Dan juga, mengapa kau memanggilku suhu?"


Dunk sempat terkejut mendapat pertanyaan yang benar-benar mempertanyakan tentang dirinya dari Reus, tapi ia segera menjawabnya dengan semangat tinggi dan menggebu-gebu.


   "Aku mengikuti suhu karena aku ingin mengikuti suhu! Kalau tujuanku kemari sih hanya untuk meningkatkan level dan kekuatan, tak ada yang lain! Karena suhu adalah orang yang pantas kupanggil suhu!"


   'Pada akhirnya ia hanya menjawab satu dari tiga pertanyaan yang kuberi.'


Reus menghela nafas lagi mendengar jawaban dari Dunk. Ia memasukkan semua HP Potion I yang telah ia buat ke dalam Inventory, lalu mengutak-atik panel semi transparan yang muncul di depannya itu. Dalam sekejap muncullah sebuah panel yang sama di hadapan Dunk yang membuat matanya terbelalak.


   "Su-suhu, apa ini?"


   "Undangan party, kau tak tahu?"


   "Bukan itu. Kenapa suhu ingin bermain dalam satu party bersamaku?"


   "Kita akan berada dalam satu party yang sama hingga dirimu bisa menghadapi beberapa Undead berlevel 80-an sekaligus. Aku sudah menerapkan sistem Exp Split 75%-25% dalam party ini."


Setelah mengatakan itu Reus mengeluarkan belasan HP Potion I dan memberikannya kepada Dunk secara cuma-cuma sehingga membuat pemain berkelas Martial Artist tersebut terbelalak hebat. Bagaimana bisa seorang pemain memberikan belasan HP Potion I begitu saja dengan mudahnya tanpa berkata apa-apa?


   "Su—"


Tanpa menunggu Dunk menyelesaikan kalimatnya, Reus langsung menjawab pertanyaan yang kira-kira dilontarkan oleh pemain yang hampir saja terkena penalty sesaat tadi. Dunk hanya bisa mengangguk dan menyimpan semua HP Potion I pemberian Reus seusai berterima kasih.


***


Beberapa menit setelah beristirahat memulihkan HP dan stamina, Reus kembali bergerak menyusuri Ambora Temple ini—kali ini ia ditemani oleh Dunk yang berjalan tepat di belakangnya. Bersama Dunk perjalanannya menyusuri bagian-bagian kuil berisi Undead ini menjadi lebih mudah.


Semakin dalam mereka memasuki kuil, semakin banyak pula Undead dan perangkap-perangkap yang menyergap mereka. Untungnya Reus sudah sedikit berpengalaman dengan perangkap sehingga tidak terkena sedikitpun. Sebaliknya, Dunk yang notabenenya adalah otak otot langsung menerjang ke depan tanpa mempedulikan kemungkinan perangkap yang ada.


Berkat kebodohannya itu ia hampir beberapa kali dibunuh oleh Reus.


Namun Dunk tidak semerta-merta jatuh ke dalam perangkap, ia menghancurkan perangkap tersebut seketika itu juga menggunakan kemampuan dari Elemental Rune-nya yang berelemenkan api. Karena itu juga ia selalu selamat dari belasan perangkap yang harusnya sudah membunuh pemain biasa sejak tadi.


Melihat kemampuan hebat dari Elemental Rune miliki Dunk, Reus hanya bisa mengelus dada sembari menangis dalam hati dan berkata 'kenapa aku bersusah payah menghindari perangkap itu sedangkan orang ini menghancurkan semua perangkap dengan barbarnya begitu mengetahuinya'.


   "Dunk, boleh aku bertanya?"


   "Apa itu, suhu?"


   "Darimana kau mendapatkan Elemental Rune? Jarang sekali bisa melihatnya."


   "Oh, ini, ya? Aku mendapatkannya di Dungeon Limasa."


   'Dungeon Limasa?!'


Mata Reus terbelalak seketika begitu mendengar nama Dungeon Limasa. Bagaimana tidak? Dungeon Limasa adalah salah satu dari Five Great Dungeon yang notabenenya lima Dungeon tersulit di benua Plainfest. Bagaimana bisa orang selemah dan berlevel rendah seperti Dunk ini bisa memasuki Dungeon Limasa? Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Reus saat ini.


Reus memang tidak terlihat begitu peduli dengan Dunk, tapi ia cukup sering memperhatikan Dunk yang berjalan di belakangnya. Bagaimana caranya bertarung, kuda-kudanya, kewaspadaannya, tekniknya, dan lain sebagainya. Reus tercengang begitu melihat gerakan-gerakan yang kuat nan luwes keluar dari tiap anggota tubuh Dunk.


Dalam seketika itu juga Reus mendapat kesimpulan Dunk bukan hanya seorang pemain semata, tetapi juga seseorang yang berkemampuan di dunia nyata sama seperti dirinya. Meski Reus tidak menganggap dirinya pemain berkemampuan tinggi, setidaknya ia masih mengakui bahwa ia memiliki sedikit kemampuan berpedang yang ia bawa dari dunia nyata.


Reus melihat gerakan Dunk bukan hanya sekedar gerakan liar seperti dirinya, tapi memang benar-benar berteknik. Itu menunjukkan bahwa Dunk di dunia nyata adalah seorang atau mantan atlet beladiri.


Namun, itu tak menjawab pertanyaan bagaimana bisa Dunk mencapai Dungeon Limasa di levelnya yang masih rendah ini.


   "B-bagaimana caramu memeasuki Dungeon Limasa?"


   "Bersama party yang sudah membuangku sekarang."


Reus memiringkan kepalanya sejenak begitu mendengar kata 'party' dan 'sekarang'. Hal itu membuatnya berpikir, apakah Dunk merupakan pemain veteran yang mengalami penurunan level dan kemampuan yang drastis? Jika benar begitu maka sebaiknya hal tersebut jangan ditanyakan terhadap orang yang bersangkutan.


Mengapa? Tentu saja isu sensitif baginya, memangnya apa lagi?


Reus yang seorang Swordsman biasa melawan Dunk yang merupakan pemain berkelas Martial Artist dengan kemampuan Elemental Rune? Meski Reus bisa mengungulinya, tetap saja akan merepotkan jika harus bertarung di tempat sempit dan berbahaya seperti ini.