
Setelah menghabisi beberapa monster yang kelihatannya adalah pasukan pengintai dari pihak monster, Reus menonaktifkan Black Form-nya dan duduk beristirahat memulihkan tenaganya yang hilang terpakai dalam pertarungan tadi. Masih ada kemungkinan monster lain yang bersembunyi di sekitar hutan sehingga Reus memutuskan untuk beristirahat menghemat stamina.
Sambil beristirahat, Reus memeriksa isi Inventory-nya yang telah terisi oleh beberapa drop item sampah dari hasil pertarungan sebelumnya. Ketika melihat-lihat, Reus mendapatkan sesuatu yang menarik perhatiannya.
---
Flame Shoot Skill Orb
Mengeluarkan skill sihir Flame Shoot yang tersegel di dalamnya
Chance : 4
Cooldown : 30 detik
---
'Oh, ini bola kaca yang digunakan Goblin tadi, ya?'
Reus memperhatikan bola kaca yang ia pegang dengan seksama. Di bagian tengah bola kaca tersebut terlihat sekuncup api merah kecil yang berkobar. Bola itu benar-benar bola kaca yang tadi dipegang oleh Goblin yang ia kalahkan dalam satu tebasan tadi.
Skill Orb merupakan salah satu Item langka yang sering dicari oleh banyak pemain dalam Orbis Online. Mengapa? Itu karena Skill Orb mampu menyegel skill sihir yang diberikan dan dapat dikeluarkan ketika pengguna menginginkannya.
Berbeda dari Magic Devour milik Blackstar, Skill Orb hanya bisa dipakai kalau Item-nya sudah diberikan skill sihir khusus dan biasanya ini sangat jarang dan sulit untuk dilakukan. Satu-satunya yang bisa mengisi ulang skill sihir pada Skill Orb yang kosong hanya pemain atau NPC berkelas Arcanist—dan tentu saja sistem game.
Arcanist sendiri adalah sebuah kelas tingkat Silver-Class yang merupakan salah satu kelas lanjutan dari Enchanter. Pemain dengan kelas Arcanist mampu memberi Enchant dan efek buff pada berbagai Equip. Kelas ini cukup hebat untuk pemain yang mengisi peran support dan sebenarnya lumayan banyak yang memiliki kelas ini.
Terlebih lagi jika seorang pemain berkelas Arcanist berhasil mencapai tingkat Gold-Class dan menjadi Arcanemaster, pemain bisa memberi efek buff dan Enchant bahkan pada benda mati dan Material biasa seperti kursi, kain, batu, paku, dan lain sebagainya. Sayangnya hanya ada satu pemain yang berhasil menjadi seorang Arcanemaster semenjak Orbis Online dirilis secara resmi dan namanya sangatlah terkenal sebagai salah satu Hundred Best Player.
Playmore, itulah nama satu-satunya pemain pemilik kelas Arcanemaster hingga saat ini. Belum ada yang bisa menandinginya dalam hal skill Arcane Arts-nya yang sudah berlevel maksimal.
Kembali ke topik.
Semakin tinggi level skill Arcane Arts yang dimiliki oleh Arcanist, semakin banyak jumlah Chance yang bisa didapat oleh Skill Orb. Chance yang terdapat pada Skill Orb sendiri adalah jumlah skill yang bisa dikeluarkan oleh Skill Orb, lalu cooldown-nya bukan untuk mengisi ulang Chance tapi sebagai durasi waktu penyiapan melepaskan skill pada Skill Orb.
Karena bentuknya yang berwujud bulat dan terbuat dari kaca, skill yang bisa disegel di dalam Skill Orb hanyalah skill sihir dengan tipe Magic dan Chant. Jadi jika Skill Orb berada di tangan Reus, hal ini akan meningkatkan keefesienannya dalam bertarung.
"Item sekali pakai, ya? Baiklah, kurasa tidak apa-apa karena kelihatannya cukup berguna."
Reus menyimpan Flame Shoot Skill Orb ke dalam Inventory, lalu mengirim pesan kepada Dalon sang ketua Raid yang kelihatannya tidur dengan tenang di perkemahan. Sesudah ia mengirim pesan pada Dalon, ia juga mengirim pesan yang isinya kurang lebih sama kepada Kynel yang berada di sisi kebalikan darinya.
Ia juga mengganti Blackstar-nya dengan Ironforge Sword yang ia dapat dari Level 10 Bonus Treasure Box sebagai penghargaan telah mencapai level 10 dalam Orbis Online. Karena ia tidak ingin pedang hitam berharganya itu mengundang banyak perhatian dan menjadi buruan pemain lain, ia memutuskan untuk menggantinya.
Belum ada lima detik sejak mengganti pedangnya, tiba-tiba Reus mendengar sebuah seruan dari atas.
"Shatter Ground!!"
Blaaaarr!!
Kira-kira sekitar 15 meter dari Reus terciptalah sebuah ledakan yang membuat tanah di sekitarnya sedikit terangkat dan debu-debu berterbangan menutupi wujud apa yang baru saja jatuh itu. Selang beberapa detik, debu yang menutupi pemandangan itu menghilang dan memperlihatkan sesosok makhluk.
Reus dapat melihatnya, itu seorang pemain dengan rambut merah menyala seperti api yang disisir ke kanan, mata yang juga berwarna sama, memiliki tinggi yang kurang lebih sama dengannya, memakai Gloves khusus hitam metalik, dan terlihat bersemangat sekali.
"Ramsey telah tiba! Mana monster yang cari masalah, hah!?"
Pemain tersebut membuat pose tangan kanan mengepal di depan dada sambil meneriakkan kalimat memalukan—bagi Reus. Reus sendiri menatap pemain itu dengan tatapan datar namun memperhatikannya seteliti mungkin.
Ia merasa merasakan sesuatu yang familiar dari pemain ini, dari gaya bahasa dan juga ekspresi. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemain yang menyebut dirinya Ramsey itu sehingga mereka saling melotot satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, keduanya membelalakkan mata mereka secara bersamaan dengan suara agak nyaring yang mengganggu suasana tenang pada malam hari di hutan.
"Haris!?"
Jari telunjuk masing-masing diacungkan ke depan saling menunjuk. Mereka yang sama-sama terkejut bukan kepalang itu secara tak sengaja membuat ekspresi aneh yang tak bisa dijelaskan.
***
"Oh, jadi kau diutus oleh ketua Legion-mu kemari sebagai perwakilan Crimson Castle?"
"Begitulah. Di sini aku orang penting, jadi berterima kasihlah dan layani aku!"
"Lebih baik aku melawan kerumunan Hobgoblin daripada melayanimu."
"Apa katamu, mantan orang patah tangan!?"
"Ngajak berantem, hah!?"
"Sini kau, newbie!"
"Majusini! Kau pikir aku berani, hah!?"
Reus dan Ramsey tertawa setelah saling melemparkan RPJ—Role play joke. Mereka tidak pernah bertemu ataupun memberitahukan nama game dalam Orbis Online, tapi ajaibnya mereka bisa bertemu di dunia yang luas ini.
Ramsey—Haris di dunia nyata—pemain dengan ras Manusia, berambut merah terang menyala, bermata merah gelap, dan ekspresinya terlihat sangat ceria dan bersemangat. Sungguh berkebalikan dari Reus yang sering kali nampak lesu dan tak bersemangat.
Dilihat dari penampilannya, bisa dikatakan Ramsey memilih kelas sejenis Martial Artist yang mengandalkan tubuh dan teknik beladiri dalam pertempuran. Itu bisa diketahui begitu melihat penampilannya yang mengenakan Gloves berwarna hitam, serta zirah dada besi yang melindungi Critical Zone-nya.
Gloves memang berbeda dari Gauntlets dan Boots yang biasanya dipakai oleh pemain berkelas seperti Martial Artist atau Monk, namun fungsi keduanya sebenarnya sama saja. Perbedaan keduanya hanyalah pada status dan berat.
Gloves sekilas tidak bisa menahan dan memberikan serangan besar, tapi beratnya lebih ringan sehingga status Dex pada pemain takkan terganggu ketika memakainya. Berkebalikan dari Equip tersebut, Gauntlets dan Boots lebih menekankan pada status Str dan Def.
Gloves sendiri adalah sarung tangan khusus bagi para pemain dengan gaya bertarung mengandalkan tubuh sendiri. Sarung tangan ini memiliki status Str, Def, serta Dur secara bersamaan seperti halnya Gauntlets dan Boots, lalu menghindarkan berkurangnya HP pemain setiap kali menyerang.
"Ngomong-ngomong, bagaimana caramu muncul dari atas langit? Kau tidak loncat dari area perkemahan, kan? Lalu, kenapa kau bisa tahu ada aku di sini?"
"Oh, tadi aku sedang berjalan kemari menunggangi Gordon dan secara kebetulan melihat kumpulan debu yang membumbung dari sini."
'Me-menunggangi Gordon? Melihat kumpulan debu di malam hari? Kau bercanda?'
Reus menatap Ramsey dengan penuh rasa penasaran. Siapa Gordon? Kenapa temannya di dunia nyata ini bisa melihat kumpulan debu di gelapnya malam seperti ini? Ia penasaran, namun rasa tersebut sudah terjawab—meski hanya pertanyaan pertama.
Dari atas turunlah sesosok makhluk berkaki empat, berbulu cokelat belang garis emas, berkumis, berekor dua, dan memiliki sepasang sayap putih seperti sayap burung dari angkasa. Sosok tersebut mendarat tepat di sebelah Ramsey.
Sosok yang mendarat di samping Ramsey mengambil wujud kucing raksasa bersayap dengan panjang sekitar tujuh meter dari ujung hingga ujung ekor dan tinggi badan kira-kira dua meter. Ramsey mengusap kepala kucing bersayap itu yang seperti meminta belaian kasih sayang dari tuannya.
"Ini Gordon, salah satu dari monster jenis Azure Cath yang termasuk langka. Dia Pet-ku."
"A-ah, Pet, ya? Ada P-Pet begini?"
Reus tidak bisa melontarkan kalimat lain karena baru pertama kali dirinya melihat kucing sebesar ini, apalagi dilengkapi dengan sepasang sayap. Ia benar-benar syok ketika menyaksikan kucing berukuran raksasa seperti Gordon.
"Hmm? Reus, kamu kenapa? Mukamu pucat."
Reus tak bisa bergerak dari tempatnya dan hanya memperlihatkan ekspresi masam yang mulai memucat kehilangan darah. Ramsey yang tiba-tiba panik dan kebingungan itu tidak bisa berbuat apa-apa karena baru kali ini ia melihat sisi lemah Reus—Deus di dunia nyata.
Apa yang kalian pikirkan itu benar, Reus takut kucing.